
.
.
.
“Kyahahahaha”
Mikayra menatap lembut Daniel yang tengah bermain bersama dengan kedua cicitnya, aura lembut yang bisa membuat kedua bayi itu nyaman bersama dengan Paman mereka. Bahkan Leona yang biasanya susah untuk diajak bercanda bisa tertawa seperti itu dengan Daniel,
“Ahhhh…kalian menggemaskan sekali, lihat…Papa bawa mainan baru untuk kalian…”
“Haihhhhh apa kalian Ayah dan anak? Kenapa sifatmu berbeda sekali dengan sifat Papamu? Dulu Papamu adalah pria yang jarang bisa dekat dengan anak kecil, tapi kau malah bisa sedekat ini dengan Leon dan Leona” ucap Mikayra teringat akan Jordan yang benar-benar tidak bisa menangani anak kecil, tapi hernanya….cucunya bisa dekat dengan Jordan.
Zachery menatap cucunya yang tampak murung, sudah 3 minggu sejak persidangan keluarga Georgino selesai cucunya ini tampak murung entah karena masalah Apa. apa masih belum puas menyiksa keluarga Georgino? Seharusnya sudah, Yeni saja sudah dibuat gila.
“Ada masalah lagi? Ceritakan kepada Opa”
“Tidak ada masalah, Opa tidak perlu khawatir”
“Aku akan menyiapkan ASI untuk kembar”
Selena berdiri dan masuk kedalam lift menuju kamar Leon dan Leona sekaligus kamar yang ditempati Daniel. Daniel menatap Selena yang masuk kedalam lift, ia ingin bertanya tapi lebih baik ia tahan karena melihat suasana hati Selena yang sepertinya sedang tidak bersahabat selama 3 minggu terakhir ini.
Selena membuka kamar itu dan menguncinya, ia menatap kamar yang didominasi oleh warna putih, biru dan juga abu-abu. Selena duduk di sisi ranjang dan menghembuskan nafasnya, melihat kedekatan kedua anaknya dengan Daniel membuatnya harus berpikir ratusan kali untuk mendapatkan jawaban dari permintaan Hendrick 3 minggu yang lalu. Jika tidak disetujui ia pasti harus mencari ibu susuan untuk anak-anaknya, tapi jika disetujui ia yang akan kerepotan.
“Jika Daniel pergi pasti anak-anak akan sedih, tapi jika Daniel tidak pergi…damn it…”
Ting!
Selena mendongkakan kepalanya, menatap sebuah ponsel mahal yang tergeletak diatas tempat tidur. Sekali lihat ia tau jika itu adalah ponsel Daniel, Selena dengan ragu mengambil ponsel itu dan membukanya. Matanya langsung membulat tak percaya melihat wallpaper ponsel Daniel adalah fotonya. A-apa-apaan ini?.
Dengan tangan gemetar Selena membuka grup percakaan Daniel dengan teman-temannya. Grup itu beranggotakan teman-teman Daniel dari angkatan mana saja. pesan berurutan mulai masuk ke ponsel Daniel, Selena membacanya dengan seksama berharap mendapatkan jawaban kenapa Daniel memakai fotonya sebagai wallpaper ponselnya. Apa itu dilakukannya agar terlihat seperti pria yang sudah tidak sigle? Tapi kenapa tidak pakai foto gadis yang dicintainya saja?.
|| @You, kau kemana saja sialn? Tak pernah aktif di grup, telfon tdiak diangkat, tidak mau diajak bertemu. Apa kau ini masih menganggap kami temanmu?!* ||
|| Benar, kau kemana saja? Kau seperti hilang ditelan bumi, kami sudah datangi apartementmu. Tapi kosong, katakan di mana kau sekarang? ||
|| @You\, ayolah sial*n. Susah sekali diajak bertemu ||
|| Hahahaha, kalian seperti tidak tau saja Daniel di mana dan dengan siapa ||
Kali ini Selena terdiam sejenak ketika melihat username bersama Alex yang membalas salah satu pesan dari teman Daniel.
|| Lex, kau berkata seperti itu seperti kau tau di mana Daniel. Di mana dia memangnya? Aku tanya ke Joe dia tidak tau di mana Daniel ||
|| Selain bersama wanita yang dicintainya dia bisa kemana? Sudah jelas dia bersama wanita yang dicintainya dan menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak mereka ||
|| Wahhhh gila, Daniel punya anak?! Kau yang benar saja! ||
|| Sudah sampai punya anak kenapa tidak langsung dinikahi saja hahahaha ||
|| Dia Bibi kecilku sialn, mana bisa Daniel menikahinya?!* ||
Kali ini, pesan Derrian langsung membuat sekujur tubuh Selena gemetar. A-apa? I-ia tidak salah baca kan?.
|| Seriusan?! Dia Bibimu?! Wah! Ternyata Daniel menyukai istri orang hahahahaha ||
|| Tunggu…Bibimu? Itu berarti, dia Nyonya Iskandar? ||
Seketika itu juga, grup chat yang sebelumnya ramai mendadak hening namun tak berselang lama kembali ramat dengan pesan yang rata-rata isinya adalah ‘APA?!’
|| Gila!! Konsepnya gimana nih?!! ||
|| Jika wanita yang dicintai Daniel adalah istri Tuan muda Iskandar lalu bagaimana bisa Daniel mendapatkan anak darinya?! ||
|| Ya anak-anak itu adalah sepupuku!! Pamanku dengan Daniel adalah adik kakak, Ibu mereka adalah anak kembar. Jadi Daniel adalah Paman dari sepupuku!! Bukan Ayah biologis mereka!! ||
|| Lah! Lalu Alex tadi kenapa bilang jika itu anaknya Daniel?! Kan Tuan muda Iskandar masih hidup! ||
|| Hei Daniel!! Jangan hanya membaca!! Balas dong!! ||
Tak tahan lagi kini Selena mengetik pesan di grup itu yang isinya…
| Ini aku\, Selena. Daniel sedang sibuk\, ada pesan tambahan? |
Seketika itu juga, semua penghubi grup yang tersebar diseluruh penjuru dunia langsung terdiam membeku. Selena meletakkan ponsel Daniel dan mengusap rambutnya kebelakang. Tidak tidak tidak, mereka pasti sedang beranda. Mana mungkin Daniel menyukainya, Daniel bilang dia sudah punya wanita yang dicintainya…tapi…jangan-jangan wanita yang dimaksud itu adalah dirinya?.
“Tidak…tidak mungkin…”
Selena mengeluarkan ponselnya dan menelfon Daniel, ponsel Daniel seketika berdering dan lagi-lagi Selena membeku melihat nama siapa yang tertulis di ponsel Daniel. Bukan Selena, melainkan ‘My Perfect Girl Nara’.
Tubuh Selena seketika lemas, ponselnya jatuh ke lantai…pupil mata Selena bergetar, ia benar-benar tak bisa mencerna semua ini. Jadi selama ini Daniel menyukainya?! Tapi sejak kapan?! Dan apa alasan pria itu menyukainya?! Ia harus menanyakan ini kepada si empu.
Selena mengambil ponsel Daniel dan membawa ponsel itu untuk menemui pemiliknya.
“Daniel!”
“Ya?” Daniel yang tengah bermain bersama Leon langsung mendongkakan kepalanya menatap Selena.
“Katakan kepadaku, siapa wanita yang kau cintai”
__ADS_1
Degh!
Daniel langsung tersentak mendengar pertanyaan Selena, kenapa Selena tiba-tiba menanyakan hal ini? Apa Selena sudah mulai sadar dengan sikapnya terhadap Selena?.
“A-ah, ke-kenapa kau be-bertanya?”
“Aku hanya bertanya, kenapa kau gugup seperti itu?”
“A-aku”
“My Perfect Girl Nara, kenapa kontakku kau beri nama itu?”
Blarrrrrr!!
Daniel langsung terdiam membeku, Mikayra menutup mulutnya tak percaya. Cucunya…sudah tau jika Daniel menyukainya? Duh, sekarang apa yang akan dilakukan cucunya kepada Daniel mengingat betapa tak sukanya cucunya kepada orang yang mengungkapkan perasaannya terlebih dulu, apalagi jika ketahuan diam-diam mencintai seperti ini.
“A-ah”
“Kau…menyukaiku?”
Mendengar itu Daniel langsung menundukan kepalanya, Selena mengepalkan tangannya dan melemparkan ponsel Daniel kepada pemiliknya. Daniel menatap ponselnya yang dimasuki oleh puluhan panggilan suara tak terjawab.
“Kau…sudah mengetahuinya ternyata”
“Jika bukan karena teman-temanmu, aku tak akan tau. Sejak kapan?”
“Sejak di supermarket hari itu”
Mendengar hal itu Selena langsung memalingkan wajahnya dan menyibakkan rambutnya kebelakang. Ternyata selama ini…Daniel menyukainya? Bahkan pria itu sudah menyukainya sejak ia masih bersama dengan Hans? Dan bodohnya, kenapa ia tidak bisa menyadari hal itu?.
“Bawa anak-anak kekamarnya”
“Se-selena…”
Rafindra dan Deon membawa Leon dan Leona ke kamar, Daniel menelan ludahnya. Sudah seperti ini…apa yang akan dilakukan Selena sekarang?.
“Kenapa kau harus jatuh cinta kepadaku? Kenapa kau jatuh cinta kepadaku, yang statusnya adalah istri orang?”
“Okey aku salah! Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadamu! Lalu kau mau apa sekarang?” tanya Daniel sembari berdiri dan mendekati Selena.
“Jadi, semua sikapmu kepadaku selama ini…”
“Kau tak pernah menyadarinya…entah aku harus senang atau sedih sekarang karena akhirnya kau tau aku mencintaimu”
“Ada banyak wanita lajang diluar sana Daniel! Kenapa kau harus jatuh cinta kepadaku! Ada banyak wanita cantik yang berada disampingmu bahkan tergila-gila kepadamu jadi kenapa kau harus mencintaiku?! Apa kau sudah gila?!”
Daniel terdiam, ternyata ini alasan Leo tak memperbolehkannya mengungkapkan perasaannya kepada Selena. Tapi ia tidak peduli, Selena sudah tau…dan ia akan mencoba untuk mendapatkan hati Selena yang sudah membeku.
“Ya”
“Fuck…aku tak habis pikir denganmu”
“Lalu?! Apa aku salah jatuh cinta kepadamu?! Aku juga tak tau mengapa aku jatuh cinta kepadamu, yang aku tau…aku tak pernah menyesal mencintaimu meskipun kau bukan milikku”
“Kau gila!”
“Ya! Ya! Aku gila! Aku akui itu, aku mati-matian mencoba menahan perasaanku kepadamu sampai rasanya aku akan gila jika menahannya lagi! Sekarang kau sudah tau, lalu bagaimana?”
“Pergilah”
“A-apa?”
“Pergilah ke kamp 6 minggu depan, jalani pelatihanmu disana selama 3 tahun. Dapatkan gelar Jenderal mudamu disana, dan jangan hubungi aku dalam kurun waktu 3 tahun itu”
Ucapan Selena kini tak hanya membekukan Daniel melainkan Mikayra, Zachery dan para Alexandra. Selena membalik badannya namun Daniel langsung membalik tubuh itu hingga berhadapan dengan tubuh Daniel.
“Kau sudah tau aku mencintaimu! Jadi karena alasan itu kau mau mendorongku untuk menjauh darimu?! Kau kejam! Kenapa kau harus membuatku menjauhimu dan meninggalkan anak-anak?!”
“Aku bisa membesarkan mereka sendiri”
“Kau tidak bisa! Aku tau bagaimana sifatmu! Bisakah kau bersabar menghadapi ke-3 anakmu setiap hari?! Kumohon…jangan mendorongku untuk menjauh darimu…” ucap Daniel meletakkan kepalanya di bahu Selena.
“Kau harus tetap pergi, ini sudah menjadi keputusanku”
Daniel mendongkakan kepalanya, menatap sendu wajah Selena namun setelah beberapa saat wajah itu kembali menjadi tegas.
“Aku punya hak untuk menolak”
“Kau tak punya”
“Aku punya!! Aku punya alasan untuk menolaknya! Jika itu keputusanmu aku bisa menolaknya karena aku tak ingin pergi meninggalkanmu!”
“Ini perintah! Kau tak bisa menolak perintah dari atasanmu Daniel!” tegas Selena.
Daniel memundurkan langkahnya, Selena menatap Daniel dengan sorot yang tak bisa dibaca.
“Hahahaha, kau kejam…kau kejam…”
“Kau akan bersama Paman Hendrick dan X disana, jangan khawatir tentang anak-anak”
.
__ADS_1
.
.
.
Daniel meminum alkoholnya dengan cepat, entah sudah berapa botol ia habiskan sendiri. Alex, Bei, Micle dan juga Derrian menatap sendu Daniel. Ini pertama kalinya Daniel begitu tertekan sampai meminum alkohol.
“Sudah cukup, kau bisa overdosis”
“Menyingkir!!” bentak Daniel menghempaskan tangan Alex yang mencoba menarik lengannya.
“Jangan seperti ini Daniel, kau harus menjaga kesehatanmu”
“Shut up!! Tinggalkan aku sendiri!”
“Bibi kecil pasti punya alasan mengirimmu ke kamp 6 Daniel, jangan seperti ini” ucap Derrian.
“Sudah kubilang berulang kali!! Jangan membahas Selena di grup chat!! Ponselku sering dipegang olehnya!!”
“Maaf…kami lupa”
“Arghhhhh!! Persetan!!!”
Daniel membanting botol wine ke lantai dengan keras hingga botol kaca itu hancur berkeping-keping. Tanpa aba-aba air matanya luruh begitu saja, Alex menatap sendu atasannya…ini pertama kalinya ia melihat Daniel yang begitu putus asa, pria yang selalu terlihat sempurna dan berwibawa bisa menjaid seperti ini?.
“Kenapa dia harus menolakku dengan cara seperti ini…”
“Bibi kecil pasti punya alasan yang kuat kenapa dia mengirimmu kesana. Tidak mungkin Bibi kecil mengirimmu tanpa alasan yang pasti”
“Aku tau!! Tapi haruskan dia melakukannya disaat yang seperti ini?! Kesehatannya sedang tidak baik-baik saja! Minggu depan Ryu juga akan keluar dari rumah sakit! Bisakah dia mengurus ke-3 anaknya?! Meskipun dia sangat menyukai anak kecil tapi dia masih tetap seorang Ibu baru yang tidak punya pengalaman! Bahkan saat Leo tidak ada dia enggan untuk menemui anaknya! Kau bukan aku Derrian! Jadi jangan katakan apapun lagi!”
“Aku akan membawamu kembali! Ayo!” ucap Derrian langsung memapah tubuh Daniel keluar dari bar yang penghuninya sudah tak bernyawa semua karena ulah Daniel.
********
Derrian menatap tak percaya kediaman Alexandra didepan matanya ini, wahhhhh tempat yang benar-benar megah. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke kediaman utama Alexandra.
“Kau tetaplah disini, aku akan bawa Daniel masuk”
Micle keluar dari mobil sembari memapah Daniel, karena peraturan ketat keluarga Alexandra tak sembarang orang bisa masuk kedalam kediaman ini, penjaga langsung membuka pintu ketika melihat Micle yang datang membawa Tuan muda Jasson.
Selena yang sedang terduduk cemas di sofa langsung beridri ketika mendengar suara pintu terbuka. Matanya membulat melihat Micle yang datang membawa Daniel yang sudah tak sadarkan diri.
“Ada apa ini Micle?!”
“Daniel mabuk berat”
Micle memberikan Daniel kepada Selena, Selena langsung menerima tubuh Daniel. Tubuh Daniel tiba-tiba bereaksi dengan memeluk tubuh Selena dengan erat.
“Tuan dan Nyonya besar…di mana?” ucap Micle tak enak, mereka pasti marah jika melihat Daniel sperti ini.
“Sudah istirahat, kau kembalilah. Biar aku yang bawa Daniel kekamar”
Micle mengangguk dan pergi dari kediaman itu bersama dengan Derrian.
“Kau ini, sudah tau bukan peminum masih saja meminum alkohol”
“Ahhhh…bau Selena…”
Daniel mengeratkan pelukannya dan mencium dalam-dalam wangi tubuh Selena. Selena hanya diam, jika ia bergerak…ia tak tau apa yang akan Daniel lakukan kepadanya dalam keadaan mabuk seperti ini.
“Kenapa kau harus mendorongku pergi…jika kau tidak menyukaiku bilang saja…tapi jangan memintaku menjauhimu, Aku tak bisa…aku tak bisa melakukannya, aku mencintaimu…tapi jika kau tidak mencintaiku tak pa…asalkan jangan memintaku menjauhimu...”
Selena menggigit bibir bawahnya sembari mengepalkan tangannya mendengar lirihan halus Daniel. Ia tidak boleh goyah…ia tidak boleh membatalkan keputusannya.
“Kau sudah mabuk berat, akan kuantar kau kekamar”
“Kau rumahku…jika kau memintaku pergi kemana lagi aku harus tinggal? Aku tidak mau tidur di kantor lagi…aku ingin tinggal satu rumah denganmu…jika kau tak suka caraku memperlakukanmu maka aku akan berhenti, tapi tolong jangan memintaku untuk berhenti mencintaimu…”
Selena menghembuskan nafasnya, ia membawa Daniel ke sofa dan menidurkannya disana. Selena melepaskan sepatu serta melepaskan dasi Daniel setelah itu pergi untuk mengambil bantal dan selimut.
Selena duduk di sofa setelah melihat Daniel yang sudah mulai tenang tak lagi meracau hal yang tidak-tidak. Selena menatap Daniel lekat-lekat, apa pria itu pikir ia mengirim Daniel pergi karena mencintainya? Tapi biarlah pria itu berpikir seperti itu, akan ia biarkan kesalah pahaman ini berlanjut dan nantinya Daniel akan tau sendiri alasannya mengirim pria itu ke kamp 6.
“Aku bukan wanita yang tepat untukmu Daniel…carilah wanita lain yang lebih sempurna dariku”
“Sayang, kenapa masih belum tidur? Jangan begadang, tidak baik”
Selena mendongkakkan kepalanya menatap Omanya yang menuruni tangga dan menghampirinya. Mikayra membelai lembut kepala cucunya, hm? Kenapa Daniel tidur disini? Dan kapan pria ini kembali?.
“Daniel mabuk berat, biarkan dia tidur disini Oma. Aku akan lihat kembar”
“Oma baru saja melihat mereka, mereka sudah terlelap…popoknya juga sudah diganti. Kau istirahatlah, biar Pamanmu yang bergantian menjaga mereka”
“Baiklah”
Selena berjalan masuk kedalam lift untuk menuju kamar Papanya. Ia ingin minum sekarang, minum adalah salah satu kebiasannya bersama dengan Papanya jika sedang dalam suasana hati yang buruk dan tidak bisa dilampiskan kepada seseorang. Dulu saat suaminya masih ada jika ia dalam suasana hati yang buruk pasti ia lampiaskan kepada suaminya. Sekarang mau dilampiaskan kepada siapa? Jika harus menghajar knightnya lagi…lupakan, ia tak mau makan jamur lagi.
.
.
__ADS_1
.