
*** _ *** _ *** _ ***
Selena menatap sendu suaminya yang menjadi dingin dipagi hari. Entah kenapa ia merasa suaminya sedang banyak pikiran hari ini. Apa suaminya menganggap serius ucapannya tadi malam?. Padahal ia mengucapkan hal itu agar tidak mengatakan bahwa ia memimpikan Mamanya dan membuat Hans kembali khawatir.
“Hans…” panggil Selena lembut.
“Ya?” datar Hans.
Selena mencoba bangkit dari tidurnya namun Hans sontak menahan tubuh Selena ditempat tidur menggunakan tangan kanannya.
“Jangan banyak bergerak, lukamu bisa berdarah lagi nanti”
“Aku lapar…”
Hans menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Selena. Selena menatap perutnya, dengan perlahan ia membuka selimutnya dan membuka kancing bajunya. Ia menyentuh luka yang masih diperban. Sebenarnya, siapa yang sudah melakukan hal ini kepadanya? Ia tau Hans adalah pria yang kasar, namun Hans tak mungkin yang melakukan ini kepadanya.
Tak berselang lama Hans datang membawa semangkuk bubur ditangannya. Hans duduk tepi ranjang Selena dan dengan telaten memasukan sendok demi sendok kedalam mulut istrinya. Perkataan istrinya semalam benar-benar menancap sempurna di dadanya. Entah kenapa, rasanya ia sangat membenci Selena jika istrinya ini menyinggung masalah perceraian. Dan ini adalah pertama kalinya Selena mengatakan sesuatu yang mampu hingga mengenai mentalnya.
Selena menggenggam tangan Hans membuat Hans menatap mata istrinya lekat-lekat.
“Hans…kau marah?”
“Tidak”
“Lalu kenapa kau dingin lagi kepadaku?”
“……” Hans diam tak mau menjawab pertanyaan Selena. Tanpa perlu ia jawab sepertinya istrinya juga tau hal apa yang membuatnya dingin seperti ini.
“Hans…” panggil Selena.
“…” Masih diam tanpa menjawab apa-apa.
“Hans…” panggil Selena lagi.
“……”
Selena menghembuskan nafasnya melihat kebisuan suaminya. Sepertinya perkataannya kemarin malam benar-benar membuat suaminya marah.
Selena mengambil mangkuk bubur dari tangan Hans dan meletakannya di kabinet. Hans menatap bingung istrinya, baru 3 suap kenapa sudah ditaruh?.
Selena merangkup kedua pipi Hans, Hans langsung menopang punggung istrinya menggunakan tangannya. Istrinya mau kemana?.
“Mau ke-”
__ADS_1
Chuuuuuuup~
Selena mencium bibir Hans dengan lembut. Hans langsung terdiam membatu dibuatnya. Ini pertama kalinya, Selena menciumnya terlebih dulu dalam keadaan sadarkan diri.
“Sayang…jangan marah lagi dong…” ucap Selena dengan suara imut.
“Shit…” guman Hans.
Hans menahan kepala Selena dan mencium bibir Selena rakus. Selena dengan lembut membalas setiap ******* yang diberikan Hans kepadanya. Ia memeluk leher Hans membuat pria itu semakin memperdalam ciumannya.
“Siapa yang mengajarimu membujukku dengan cara seperti ini hmmm?” tanya Hans sembari tersenyum. Ia mencubit hidung mancung nan mungil milik istrinya.
“Sudah tidak marah lagi?” tanya Selena dengan wajah memelas.
“Hah…kau mengemaskan begini bagaimana aku bisa marah?”
Selena tersenyum membuat Hans mengacak pelan rambut istrinya. Bisa-bisanya amarahnya langsung surut hanya dengan cara seperti ini. Tapi ia juga harus memikirkan efek sampingnya jika sampai Selena terus-terusan membujuknya seperti ini.
Hans membaringkan tubuh Selena dengan perlahan.
“Aku akan mandi sebentar, istirahatlah” ucap Hans langsung masuk kedalam kamar mandi.
“?”
Hans mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Ia menyibakan rambutnya kebelakang, sudah tak terhitung jumlahnya ia dibuat tegang oleh istrinya sendiri. Ia bingung, bagaimana bisa seorang gadis polos nan manis bisa menjadi begitu menggoda dimatanya?. Sekarang lihat, bagaimana penderitaannya jika terus seperti ini?.
Hans menyambar bathrobe dan keluar dari kamar mandi setelah adiknya tertidur. Ia harus menahan diri untuk tidak menghukum Selena terlebih dulu. Ia harus membuat keadaan istrinya baik-baik saja.
“Kenapa?” tanya Hans menyentuh puncak kepala Selena yang tengah melihat perban diperutnya.
“Kalau ada bekas luka pasti jelek…” Selena berucap dengan nada sedih membuat Hans memaksakan bibirnya untuk tersenyum agar tidak membuat istrinya semakin sedih.
“Jangan khawatir…kalau lukanya sudah sembuh. Aku janji akan membawamu ke rumah sakit lain agar bekas lukanya bisa hilang”
“Memang kau tidak sibuk? Kau kan selalu sibuk, mana ada waktu untukku” jawab Selena memalingkan wajahnya tak mau melihat suaminya.
“Sa-sayang…kenapa bicara begitu? Aku pasti punya waktu untukmu…” jawab Hans, ia baru ingat jika ia sering mengingkari janjinya saat akan menemani istrinya. Istrinya pasti sudah tidak percaya kepadanya jika ia mengatakan bahwa akan menemani istrinya dirumah.
“Bohong…”
Hans menelan ludahnya kasar, sekarang ia harus melakukan apa agar Selena mau percaya dengan ucapannya?. Terpikirkan 1 ide membuat Hans langsung menghubunggi Assistantnya.
“Gerry”
__ADS_1
“Ya Tuan muda?” ~ Assistant Gerry.
“2 minggu lagi, istriku akan keluar dari rumah sakit. Setelahnya aku berencana membawa istriku untuk jalan-jalan keluar negeri. Bisa kau atur cuti untukku?” ucap Hans sembari tersenyum kearah Selena.
Mata Selena diam-diam melirik kearah Hans, Hans yang melihat itu hanya bisa tersenyum mendapati kelucuan istrinya.
“Hm, apa ini terhitung bulan madu Tuan?” ~ Assistant Gerry.
Bluuussssss…
Pipi Hans langsung merona mendengar ucapan Assistantnya. Ia baru ingat jika belum melakukan bulan madu bersama istrinya.
“Sayang, kau mau bulan madu?” Tanya Hans.
“Bulan madu?” ucap Selena memiringkan kepalanya. Otaknya langsung berpikir kesembarang hal, bulan + madu. Butuh berapa ton madu untuk melumuri bulan dengan madu? Apa suaminya sudah gila mengajaknya melakukan itu?.
“Tidak mau, pasti melelahkan. Apalagi kita pasti tidak bisa istirahat nanti” kata Selena sembari memikirkan saat-saat bagaimana ia tidur dibulan. Pasti ia akan melayang-layang nanti.
Hans langsung tercengang mendengar ucapan istrinya. Bagaimana bisa istrinya mengatakan hal seperti itu? Ia tau istrinya adalah seorang gadis yang polos. Lalu bagaimana dia bisa tau jika hal ‘Itu’ melelahkan?.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
__ADS_1
.
.