
.
.
.
Selena duduk di kusi kerja milik Hendrick dan menatap dingin Peter dan William secara bergantian.
“Kenapa kalian berdua bisa disini? Mata-mata?” tanya Selena.
“Ka-kami…”
“Kalian berasal dari kamp mana? Bawahan siapa?”
“Jenderal muda, mereka adalah bawahan dari Jenderal muda Alexa”
“Bawahan Paman Alexa? Dari kamp 2 atau 5?”
“Dari kamp 2” jawab Jenderal Asahi.
“Tinggalkan kami, aku ingin cara 6 mata dengan mereka”
Jenderal Asahi membungkuk dan keluar dari ruangan Hendrick. Selena menyandarkan tubuhnya dan mengetuk-ngetuk meja kerja Hendrick dan pena.
“Mata-mata?”
“Ti-tidak” jawab William.
“Jika kalian bukan mata-mata, baguslah. Jika sampai aku tau ada motif tersembunyi dari masuknya kalian ke kamp militer. Jangan harap bisa hidup lagi. Dan juga, jika sampai dengan keberadaan kalian ada keluarga Georgino yang masuk ke kamp militer. Kalian yang akan menanggung konsekuensinya, kuharap kalian mendengarkan perkataanku. Karena aku…tak suka mengulangi perkataanku 2 kali”
“Dan juga, jika sampai kalian berani membocorkan identitasku…kamp tak akan sanggup melindungi kalian lagi. Kalian bisa pergi”
“Ba-baik…selamat menikmati hari anda Jenderal muda”
Peter dan William segera keluar dari ruangan Hendrick meninggalkan Selena sendirian diruangan itu. Selena menghembuskan nafasnya, Peter dan William ada disini. Hari ini adalah waktu kembalinya semua orang yang hiatus dari kemiliteran. Jika Peter dan William disini, lalu bagaimana dengan Hans? Apa kedua orang itu mengundurkan diri dari sisi Hans? Jika itu benar, baguslah…dan ia harap, secepatnya Gerry juga mengundurkan diri.
Jenderal Asahi masuk kedalam ruangan Hendrick membawa segelas jus untuk Selena.
“Jenderal Asahi, minta orang mengawasi mereka berdua. Dan minta Paman Nahl kemari membawa Lie”
“Saya menerima perintah anda…”
.
.
.
1 minggu kemudian…
Daniel memukuli bantal dengan wajah frustasinya. Sudah 1 minggu!! Ia ingin keluar darisini!! Ia benar-benar tidak tahan lagi disini!! Setiap hari ia harus latihan selama 10 jam ditambah ia harus mengulang pelajaran tentang etika.
Selena tertawa lucu melihat wajah frustasi Daniel, masih 1 minggu apa pria itu ingin menyerah? Tapi wajarlah…meskipun Daniel adalah seorang pembunuh tapi ketika masuk kemiliteran harus mulai dari 0. Dan juga keterampilan Daniel dalam senjata masih bisa dibilang buruk.
“Sudahlah…kedepannya kau juga akan terbiasa. Apa kau mau mengantikan posisiku? Aku 13 jam loh, kau hanya 10 jam” ejek Selena.
“Ya kau kan sudah terbiasa! Aku tidak pernah latihan selama dan seberat ini sebelumnya!” kesal Daniel.
“Heh! Jika kau pikir latihan bukumu akan berhenti dibuku satu jangan harap itu terjadi, karena kau…akan latihan sampai 7 buku dikepalamu”
“Apa?! 7?!”
“Yeahhh…tenang, selama bukan Paman Hendrick yang melatihmu mentalmu akan aman”
“Hei”
“Hm?”
“Kau…bagaimana bisa kau latihan sampai seperti itu?” tanya Daniel. Memanah menggunakan 7 buku diatas kepala dna buku itu tidak bergerak sama sekali, bagaimana cara Selena melakukannya?.
“Ayolah…aku sudah latihan di kamp saat usiaku masih 3 tahun. Papa sendiri yang melatihku, Papa selalu mengedepankan kesempurnaan latihan Okey? Bukuku bergerak saja langsung gagal, belum jatuh itu”
Wajah Daniel berubah muram seketika, pantas saja…dilatih langsung oleh Jenderal besar Nami. Tak heran jika Selena sampai menjadi seperti ini.
“Sudah larut malam, istirahatlah. Besok kau harus latihan berkuda, aku yakin kau bisa langsung lulus besok”
“Ya karena aku sudah belajar sejak kecil! Kalau aku tidak bisa berkuda, aku benar-benar akan gila disini”
Selena mematikan lampu dan keluar dari kamar Daniel. Daniel menghembuskan nafasnya dan tersenyum tipis, ia membaringkan tubuhnya. Jika ia tidak lulus bukankah akan semakin lama waktunya bersama dengan Selena?.
…
Tengah malam…
Daniel menuju dapur sembari mengendap-endap agar tidak tertangkap oleh menjaga. Saat sudah sampai didapur ia terkejut mendengar pintu kulkas dibuka, dengan spontan ia menyalakan lampu.
“Selena?!”
“Shuttttt…nanti ketahuan…” ucap Selena meletakkan jari telunjuk di bibirnya, Daniel langsung menutup rapat-rapat mulutnya dan menghampiri Selena yang tengah mengambil ice cream. Akhir-akhir ini Selena suka sekali memakan ice cream.
“Kau kenapa kesini?”
“Kau juga kenapa kesini?” tanya Selena balik.
“Hehe, aku lapar…aku ingin makan sesuatu”
“Hmmmm mau kumasakan? Kau mau makan apa?” tanya Selena.
“Tidak perlu, biar aku yang masak. Mau sekalian?”
“Boleh?”
“Tentu”
“Aku ingin spaghetti, bisa?”
“Mudah, tunggu sebentar ya”
Beberapa saat kemudian Daniel meletakkan 2 piring spaghetti diatas meja, Selena menyingkirkan ice creamnya dan beralih ke spaghetti buatan Daniel.
“Cobalah”
Selena menganggukkan kepalanya dan memakan masakan buatan Daniel.
“Wah! Enak!”
Daniel hanya tersenyum mendengar ucapan Selena dan ikut memakan makanannya. Selena mengusap perutnya membuat Daniel mengerutkan keningnya.
“Ada apa? Perutmu tidak enak?” tanya Daniel.
“Tidak…hanya saja sepertinya Ryu merindukan Papanya”
__ADS_1
“Ahhhhh…wajar sih, kaukan sedang hamil muda. Apalagi Leo juga sedang tidak ada disini”
“Sayang…sabar dulu ya sayang nanti pasti Ryu ketemu dengan Papa. Sekarang Ryu dengan Mama dulu ya…”
“Apa kau ingin sesuatu yang lain?”
“Tidak perlu, ini sudah cukup”
“Cepat habiskan makananmu, setelah itu istirahat. Jangan begadang”
“Iya” jawab Selena.
*******
Selena dan Daniel menatap dingin Lie yang seperti orang gila mengamuk dan menghancurkan barang. Selena menatap Daniel, apa ia sudah keterlaluan kali ini sampai membuat anak orang gila seperti ini?.
“Sudah, kembalikan saja dia. Aku kesal melihatnya lama-lama disini”
“Sama, besok kirim Lie kembali. Dan jangan lupa katakan kepadaku bagaimana reaksi Yeni melihat anak kesayangannya yang gila seperti ini”
“Baik…”
Peter dan William saling melirik, Okey…melihat ini membuat mereka benar-benar tidak akan berani mengganggu Selena. Peter dan William masih ada disini karena perintah langsung dari Alexa yang meminta kedua orang itu menjaga Selena dan Daniel di kamp utama.
“Daniel, hari ini kau latihan dengan Paman Raf dulu. Aku akan ikut Paman Hendrick mengunjungi kediaman utama”
“Ahhhh…apa kau akan lama?”
“Tidak, mungkin lusa kembali. Dan kuharap saat aku kembali, kau sudah sampai dibuku 3”
Glek…
“I-iya…”
Hendrick memberikan coat kepada Selena, Selena memakainya dan segera pergi bersama Hendrick. Rafindra berjalan kearah Daniel dan segera mengajak pria itu untuk latihan
.
.
.
Selena membuka pintu kediaman Alexandra dengan keras dan berhambur memeluk seorang pria yang cukup berumur yang tengah berbicara dengan beberapa orang.
“Opa!!! Aku merindukan Opa!!”
“Kami memberi hormat kepada Jenderal muda Nara”
Pria-pria itu segera berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk hormat.
“Hmmmm Nara sudah pulang? Bagaimana sayang?”
“Aku punya banyak hal yang akan kuceritakan kepada Opa!! Opa! Apa Opa tau?”
“Apa itu sayang?” tanya Zachery sembari membelai lembut kepala cucu kesayangannya.
“Rahasia…nanti kuberitau. Di mana Oma, Opa?”
“Omamu sedang ada ditaman, disini saja dulu dengan Opa. Opa merindukanmu, dengan Omanya besok saja”
“Tidak mau, Nara mau cari Oma. Nara ingin makan pancake buatan Oma”
“Hendrick, hal apa yang membuatmu datang kemari?”
“Tuan besar, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada anda”
“Duduk dan katakanlah, kalian bisa pergi. Kita lanjutkan nanti”
“Baik Tuan besar…”
Hendrick duduk dihadapan Zachery, Zachery meminum tehnya sembari menunggu Hendrick membicarakan apa yang dia ingin bicarakan sampai-sampai harus langsung datang kemari.
“Tuan besar…seperti yang anda tau bahwa kematian Jennifer disebabkan oleh keluarga Georgino”
“Ya aku tau itu, jadi?”
“Setelah kematian Alice saya selidiki ulang, ternyata ada sesuatu yang salah dari hasil laporan polisi”
“Maksudmu?”
“Pembunuh Alice adalah orang bertangan kidal, sedangkan Jennifer…bukanlah orang bertangan kidal”
Ucapan Hendrick langsung membuat Zachery meletakkan tehnya, pembunuh Alice adalah orang bertangan kidal?. Tapi dari hasil penyelidikan polisi tidak mencantumkan hal ini sama sekali. Alice bagian dari kelaurga Georgino, itu yang membuat hal sepele ini terlihat begitu besar.
“Dan…tersangka dari penyelidikan saya, Selena lah yang menjadi tersangkanya”
Ucapan Hendrick langsung membekukan Zachery, cucunya…menjadi tersangka kasus pembunuh ini? Bagaimana bisa Hendrick berpikiran bahwa Selena lah yang membunuh Alice? Ditambah lagi, itu adalah kejadian 9 tahun lalu dan cucunya masih berusia 9 tahun. Jika tiba-tiba ia membuka kembali kasus ini, pastinya akan menyebabkan konflik besar.
Mata Zachery menatap cucunya yang sedang menemani istrinya memasak pancake, ya tuhan…jika benar cucunya yang melakukan pembunuhan itu, apa motif tersembunyinya?.
“Kita bicarakan ini lagi nanti saat makan malam, kudengar Daniel sudah masuk kamp. Apa itu benar?”
“Benar”
“Minta dia kemari, aku membunuhkan kemampuannya”
“Baik…”
“Jika memang benar cucuku…”
“Pancanke buatan Oma memang yang terbaik!”
“Mulutmu manis sekali sayang…sudah sana makan dengan Opamu. Oma akan menyiapkan pudding kesukaanmu”
Selena membawa pancake itu kepada Zachery, dengan tenang ia duduk dan menyantap pancake itu disamping Opanya. Zachery tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala cucunya. Hampir 1 tahun lamanya ia tidak melihat cucu kesayangannya.
“Kau lulus tes terakhirmu sebagai pewaris”
“Benarkah?! Tapi Opa belum memberitauku tes apa itu, dan kenapa aku bisa lulus?”
“Tesnya, kau pergi dari kediaman Alexandra dan hidup mandiri di Negara lain. Berbaur dengan banyak orang tanpa menimbulkan kecurigaan dan kau juga berhasil pergi dari kediaman tanpa membawa nama keluarga”
“Owhhhh jadi tesnya dimulai saat Mama mengajakku ke A.S?”
“Benar…”
Selena tersenyum senang dan kembali memakan pancakenya. Zachery kembali menatap cucunya, cucunya sedang mengandung sekarang. Jika sampai benar bahwa Selena adalah orang yang sudah membunuh Alice dan terjadi ancaman dari keluarga Georgino. Maka ia tak punya solusi lain selain mempublikasikan gelar cucunya.
“Oh ya sayang, Opa dengar…kau menyekap anak dari keluarga Georgino. Apa itu benar?”
“Ahhhhhh darimana Opa tau? Padahal aku akan katakan nanti…”
__ADS_1
“Jadi benar ya? Tak pa…Opa tidak marah kepadamu. Tapi lain kali kalau ingin membawa musuh ke markas, setidaknya beritau Opa atau Oma dulu ya. Kan Opa jadi sedih nanti jika Nara tiba-tiba kenapa-napa”
“Iya…Nara tidak akan ulangi lagi…”
*********
Selena keluar dari kamarnya untuk makan malam, namun saat menuruni tangga langkahnya terhenti melihat Paman-Pamannya serta Daniel yang berada diruang tamu. Hm? Ada apa ini?.
“Daniel? Kenapa kau disini?”
“Kemarilah, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan kepadamu” Alexa dengan lembut memanggil keponakannya. Selena menganggukkan kepalanya dan menghampiri keluarganya. Ia duduk disebelah Daniel dan mengambil pudding yang disiapkan Omanya.
“Ada yang ingin Paman tanyakan kepadamu, tapi kau harus menjawbanya dengan jujur”
“Paman berani berapa sampai mau aku jujur?” tanya Selena kepada Hendrick.
Hendrick hanya menghembuskan nafasnya, ia meletakkan Blackcard serta sertifikat didepan Selena. Ia sadar, ia perlu membayar mahal untuk satu kejujuran yang keluar dari mulut Selena.
“Paman ingin menanyakan apa?”
“Kau..kenal dengan Alice. Adik Hans?”
“Tidak” jawab Selena.
Semuanya saling melirik, benarkah Selena tidak tau siapa itu Alice mengingat Selena pernah menghafal nama-nama dari anggota keluarga Iskandar sampai keluarga besar yang ke-20?.
“Oh, jika kau tidak mengenal Alice. Apa kau mengenal gadis difoto ini?” tanya Louis mengeluarkan sebuah foto dari saku jaznya dan menunjukkannya kepada Selena. Keponakannya adalah orang yang pelupa tentang nama seseorang namun keponakannya ingat dengan jelas orang-orang yang pernah dia temui.
Selena mengambil foto itu dan melihatnya, hm? Wanita ini bukankah…
“Apa kau mengenalnya?” tanya Jeff.
“Ya aku mengenalnya” jawab Selena dengan nada dinginnya.
“Apa kau tau siapa dia?” tanya Hendrick.
“Aku tidak tau dia siapa, aku hanya tau…dia adalah wanita yang lebih memuakkan daripada Yeni”
“Paman tanya sekali lagi kepadamu, bagaimana kau bisa tau wanita didalam foto ini?”
“Aku yang membunuhnya, 9 tahun lalu di Canberra. Kenapa?”
Blarrrrrr
Semua orang yang berada disana seketika membeku, sedangkan Selena masih memakan puddingnya dengan santai tak memperdulikan raut wajah semua orang yang tengah menatapnya.
“Ka-kau yang membunuhnya?” ucap Daniel dan Hendrick bersamaan.
“Ya, dia wanita yang memuakkan. Dan aku benar-benar membencinya, jadi berhentilah membahasnya”
“Kenapa…kenapa kau membunuhnya? Apa kau tau siapa dia?” tanya Lewis.
“Aku tidak tau dia, jadi aku membunuhnya tanpa sedikitpun rasa hormat”
“Dia adalah Alice, adik Hans…” ucap Liekai langsung membekukan Selena.
Selena tak mampu berkata apa-apa, wanita didalam foto itu adalah adik Hans? Yang membuat keluarga Georgino begitu membencinya dan Mamanya.
“Ahhhhh…sepertinya, aku membunuh orang yang tepat…”
“Opa mengenal baik dirimu sayang, katakan kepada kami apa alasanmu membunuhnya”
“Wanita itu…adalah orang yang menyabotase pesawat Papa George. Ia membuat Leo bersedih…jadi aku membunuhnya untuk menghibur Leo. Papa George tiada karenanya, jadi aku merenggut nyawanya sebagai ganti rugi”
Semua orang yang berada disana tercengang, bagaimana…bagaimana Selena tau jika kematian George disebababkan oleh pesawat yang hilang kendali?.
“Dia…yang menyabotase pesawat George?” ucap Deon tak percaya.
“Apa Paman baru tau? Apa Papa tidak memberitau Paman?”
“Lalu…lalu bagaimana Jennifer yang ditetapkan sebagai tersangka”
“Masalah itu…Paman Raf. Bawa semua polisi yang menagani masalah ini hari itu, dan juga…panggil detektif yang terlibat. Aku akan membuat mereka mengakui kebenarannya”
“Ba-baik…”
“Ahhhhh…sangat menyenangkan ketika mengingat bagaimana cara wanita itu berteriak memohon ampunan saat berada dibawah kakiku. Mau lihat videonya? Aku merekamnya menggunakan kamera Papa, sepertinya ada dikamar Papa”
“Ti-tidak perlu…su-sungguh tidak perlu”
Selena hanya menganggukkan kepalanya, keluarga Georgino membunuh banyak anggota keluarganya, mulai dari Neneknya, Papa George, anaknya, dan juga Mamanya. Dan ia masih membunuh satu anak di keluarga Georgino, ia masih punya banyak nyawa lagi untuk dihilangkan.
Selena mengambil ponselnya dan menelfon Yeni.
“Hallo Nyonya…bagaimana? Sudah terima kiriman dariku?”
“Ka-kau!! Wanita jalag!! Apa yang kau perbuat sampai putraku menjadi seperti ini hah?!!!”*
“Tak banyak, aku hanya menghilangkan kelaminnya dan membuatnya gila saja”
“Kau!!! Jika sampai kau berani macam-macam lagi kepada keluargaku!! Aku benar-benar akan membunuhmu”
“Membunuhku? Yakin bisa? Kau berulang kali gagal membunuhku Nyonya…malaikat maut saja sampai bosan melihatku. Dan seharusnya…kata-kata itu ditujukan untuk keluargamu. Jika sampai keluargamu macam-macam lagi denganku, siapkan tempat tinggal jika keluargamu…tiba-tiba didepak keluar”
Tut…
Selena mematikan sambungan telfon itu dan memeluk erat lengan Opanya. Zachery menghembuskan nafasnya, pasti cucunya ini ada maunya sampai seperti ini.
“Mau apa?”
“Lapar…mau makan kacang…”
“Kacang? Yakin kenyang?”
“Habisnya bosan makan daging terus…jika tidak, Nara makan kue kacang boleh? Kue kacang buatan Opa yang terbaik”
Zachery menghembuskan naasnya lalu tersenyum. Cucunya benar-benar sangat mirip dengan mendiang putra tertuanya, sama-sama menyukai kue kacang buatnnya walaupun istrinya selalu mengatakan jika kue kacangnya terasa seperti racun. Dan juga…mana mungkin ia bisa kesal dengan cucunya jika cucunya mengemaskan seperti ini.
“Tunggu sebentar…Opa buatkan untukmu ya”
Zachery berdiri dan pergi menuju dapur, Mikayra menatap cucu tunggalnya dengan perasaan campur aduk. Apa…cucunya juga mempunyai kepribadian ganda seperti putra tertuanya? Ya tuhan…jika itu benar-benar terjadi…
“Oma kenapa? Oma terlihat sedih…”
“Oma hanya berpikir…hal apa yang dilakukan Papamu sampai mendapatkan putri seperti ini. Lihat, rupa dan sifat kalian berdua benar-benar mirip. Oma tidak punya permintaan apa-apa lagi selain berharap tuhan memberikan kesehatan dan kebahagiaan kepadamu. Oma tidak ingin cucu kesayangan Oma ini menangis lagi…”
.
.
.
__ADS_1