
.
.
.
Hans membuka pintu rumahnya dan membawa Selena masuk kedalam kamar. Selena terkejut mendapati kamarnya menjadi semakin besar dari sebelumnya.
“Saat kau ada dirumah sakit, aku menyewa beberapa orang untuk menyatukan kamar kita. Dengan begini juga aku bisa leluasa merawatmu”
Selena hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Hans tersenyum, untung istrinya tidak menolak hal ini. Jika tidak ia bisa kerepotan jika harus memindahkan kamar ini seperti semula.
Hans dengan perlahan membantu Selena berbaring ditempat tidur. Ia meletakan sekotak buah peach yang dia beli tadi dicabinet agar Selena bisa mudah mengambilnya.
Tok tok tok!
Seorang wanita paruh baya mengetuk pintu dan membungkuk hormat membuat tanda tanya begitu besar dikepala Selena.
“Dia Bibi Na, seterusnya dialah yang akan membantumu mengurus pekerjaan rumah. Tapi…karena kau maish sakit, biar Bibi Na yang membereskan semuanya”
“Hans…sungguh, itu tidak perlu. Aku masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian”
“Jangan membantahku, kau sedang sakit. Jika nanti lukanya berdarah lagi, itu bisa membuatmu masuk kerumah sakit”
“Hans…tapi…”
Chupppp~
Hans mencium bibir Selena lembut agar istri kecilnya ini bisa berhenti bicara dan tak lagi menolak apa yang sudah menjadi keputusannya.
“Hans…”
“Apa?” tanya Hans sembari tersenyum.
“Cium lagi…”
Bibi Na yang mendengar itu langsung undur diri tak lupa untuk menutup pintu. Hans tersenyum tipis melihat kelucuan istrinya ini.
“Tidur”
“Kan belum dicium”
“Tidur…”
Selena memajukan bibirnya, ia menarik dasi Hans dan mencium singkat bibir suaminya lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Hans menyentuh bibirnya lalu tersenyum, ia berbaring disebelah Selena dan memeluk tubuh istrinya yang terbungkus selimut.
“Nanti…kalau kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu jalan-jalan”
“Oh ya? Kemana?”
Selena membuka selimutnya dan menatap wajah suaminya lekat-lekat. 2 minggu ia menginap dirumah sakit membuatnya benar-benar bisa dekat dengan suaminya ini.
“Kau mau kemana?” tanya Hans mengecup pipi Selena.
“Hmmm…terserah”
“Okey…”
__ADS_1
“Lusa, kita berangkat ke Jerman”
“Hgh? Kenapa?”
“Katanya tidak mau ada bekas luka, aku punya kenalan dokter di Jerman. Dia akan membantumu menyembuhkan luka ini” kata Hans sembari menyentuh lembut perut istrinya.
Selena tersenyum dan memeluk tubuh Hans erat lalu perlahan terlelap. Hans tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap, tiba-tiba ia teringat perkataan Mamanya yang menyalahkan istrinya atas kejadian yang menimpa adiknya.
Hans menghembuskan nafas, ia tidak boleh percaya begitu saja dengan ucapan Mamanya. Mamanya pasti membenci Selena dan mengatakan itu untuk membuatnya menjauhi Selena. Ia tau bagaimana sifat istrinya, bagaimana bisa istrinya menyakiti adiknya jika ia selalu menemani Selena selama dirumah sakit?. Apalagi ia tak membawa ponsel istrinya, jika memang istrinya yang merencanakan hal ini, untuk apa Selena melakukan hal ini? Bagaimana juga caranya bagi Selena merencanakan ini. Mamanya ada-ada saja mengarang hal tak masuk akal seperti itu.
Hans kembali menatap wajah tidur istrinya.
“Imutnya…”
“Hanya tinggal 7 bulan lagi…bisakah kau mencintaiku sebelum kita bercerai?” guman Hans sembari menyentuh wajah Selena.
*
Hans menusuk-nusuk pipi istrinya yang masih tidur dengan nyenyak tanpa tau pesawat sudah lepas landas. Selena dengan perlahan membuka matanya, ia tersentak kaget mendapati tidur bukan dikamarnya.
“Kita ada di mana?!”
“Perjalanan menuju Jerman sayang…”
Selena blank, bagaimana bisa ia tidur dengan nyenyak tanpa terganggu pesawat take off. Hans tertawa pelan melihat wajah blank istrinya.
“Perjalanan masih 8 jam lagi, istirahatlah lagi”
Selena menganggukkan kepalanya perlahan. Ia memeluk erat leher Hans, Hans membenarkan posisinya agar Selena bisa merasa nyaman untuk tidur.
“Nanti kalau pulang beli kebab ya?” ucap Selena.
“Hm, boleh?”
“Tentu saja, kenapa tidak” Hans memeluk erat Selena sembari tersenyum. Kalau seperti ini, mana mungkin ia rela melepaskan Selena?.
***
Hans dan Selena dengan cermat mendengarkan apa yang dikatakan dokter Micle tentang merawat luka Selena.
“Nah Tuan, luka yang dialami Nyonya memang luka serius. Namun bekas luka masih bisa dihilangkan karena belum lama, perawatan menghilangkan luka bisa dilakukan jika kondisi Nyonya muda baik-baik saja”
“Terima kasih Micle atas waktumu, kalau boleh tau. Luka istriku bisa hilang berapa lama?”
“Tidak akan lama asalkan rutin melakukan perawatan, jika kondisi kulit Nyonya juga baik-baik saja. Mungkin 2 minggu sudah bisa hilang”
“2 minggu ya…”
“Hans…aku kan masih harus kuliah…” ucap Selena sedih.
“Tak pa, nanti tugasmu biar diantar Gerry. Kita akan disini sampai lukamu hilang”
Dokter Micle tersenyum melihat kedekatan Hans dan Selena. Ia menatap Selena lekat-lekat, ia benar-benar familiar dengan suara yang dimiliki Selena. Tapi ia yakin ia belum pernah bertemu dengan Selena sebelumnya.
“Micle, ada apa? Kenapa menatap istriku seperti itu?” tanya Hans tidak suka.
“Hans, aku pernah mendengar suara mirip istrimu sebelumnya. Tapi kita tidak pernah bertemu, coba kuingat-ingat”
__ADS_1
Selena tersenyum lembut mendengar ucapan rekan suaminya.
“Saya memiliki suara yang sama dengan ibu saya”
“Ah! Mendiang Dokter Jenssica Yunki Maria Leonardo?! Anda putrinya?! Selena Yunki Leonardo?!”
“Benar!” jawab Selena sembari tersenyum.
“Wahhhh pantas saja, wah saya tak menyangka bisa bertemu putri mendiang dokter Jenssica”
Hans menatap kesal temannya yang tiba-tiba akrab dengan istrinya. Micle menyingkirkan tangan Hans yang mencoba menutupi matanya yang tengah melihat Selena.
“Kau itu jangan pelit-pelit!”
“Bodo! Ini istriku! Jangan macam-macam kau”
“Aduh…sebentar saja, biarkan aku berbicara dengan istrimu”
“Tidak! Sayang, ayo pulang”
Selena hanya bisa tersenyum melihat raut wajah kesal suaminya. Hans membawa istrinya keluar dari ruangan Micle, Micle mengendus kesal melihat tingkah temannya itu. Ia benar-benar tak menyangka bisa bertemu putri mendiang Jenssica. Ia harus mendapatkan cara agar bisa mengobrol dengan Selena. Walaupun harus memancing kemarahan Hans nanti.
Selena tertawa pelan melihat Hans yang mengemudi dengan wajah yang ditekuk. Ia memegang lengan Hans membuat Hans langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalanan yang sepi.
“Micle apa-apaan sih! Buat kesal saja!”
“Hans…sudah dong, jangan marah lagi”
“Micle membuatku kesal sayang, kenapa kau malah membelanya? ” kata Hans cemberut.
“Sudah…ayo pergi beli kebab”
Hans menganggukkan kepalanya dan segera menyetir menuju bandara untuk terbang ke Istanbul. Entah kenapa ia benar-benar kesal dengan temannya yang tiba-tiba akrab dengan istrinya.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
__ADS_1
.
.