Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (4) : Long Time No see


__ADS_3

.


.


.


Selena menatap datar putranya yang tengah dikerumuni pramugara serta pramugari. Yahhh, putra bungsunya itu memang lebih populer daripada kedua kakaknya karena sifatnya yang mengemaskan sangat berbeda dengan anak kembarnya yang sifatnya hampir sama persis dengannya. Tapi mereka berdua masih bisa diatasi dengan baik berbeda dengannya dulu, itu yang dikatakan Rafindra.


“5 menit lagi kakak akan sampai, Ryu tunggu disini. Mama ingin ke toilet” Kabur lebih baik untuk sekarang.


“Mama!! Ryu mau makan sandwich lagi!”


“Nanti, kita makan dengan kakak ya”


“Baiklah”


Selena berjalan menuju toilet, karena terlalu panik ia menahan hasratnya untuk pergi ke kamar mandi.


Tak berselang lama setelah kepergian Selena, sebuah pesawat bertuliskan Iskandar mendarat membuat penjaga langsung berbaris rapi di sekeliling pesawat. Ryu menatap berninar pesawat itu, kakaknya pulang! Ia bisa main lagi dengan kakaknya!.


“Tuan muda kedua…anda tetap disini saja” cegah salah seorang pramugara menghalau Ryu yang hendak menghampiri area lepas landas.


“Ryu mau ketemu kakak, Ryu mau main dengan kakak”


“Tuan muda dan Nona muda pertama akan segera keluar, anda tetap disini”


Tak berselang lama pintu pesawat terbuka, anak kembar non identik itu turun secara beriringan membuat para penjaga membungkuk hormat.


“Leon, kau lihat di mana bocah rusuh itu?”


“Itu, bisa-bisanya dia sampai terlebih dulu daripada kita”


“Iya, aku kesal karena dia tidak mengabari”


“Cih, bilang saja kau cemburu dia bisa dekat dengan Mama selama sehari”


“Tutup mulutmu Leon” sinis Leona.


Ryu berlari memeluk kedua kakaknya saat anak kembar itu sudah masuk kedalam bandara.


“Kakak kedua…” ucap Ryu pada Leona.


“Apa? Mau apa?”


Leon melepaskan kacamata hitamnya dan hal itu langsung membuat Ryu memasang wajah kesalnya. His….lagi lagi wajah itu…


“Kenapa kau buka kacamatamu?! Pakai!”


“Terserahku lah, kacamataku”


“Hisssss!! Aku kesal melihat wajahmu itu! Bisa-bisanya kau meniruku kakak!”


“Aku kakakmu, jadi kau yang meniruku” jawab Leon tak mau kalah.


“Mana ada! Aku tak pernah meniru kakak pertama! Kakak kedua, lihat itu”


“Leon tidak salah Ryu, dia kakakmu dan kau adiknya”


Ryu melihat kedua tanganya ketika mendengar jawaban dingin dari kakak perempuannya, huh! Sudah meniru! Tidak mau mengaku pula! Inilah kenapa ia sering kesal jika bertemu dengan kakak pertamanya, Leon. Ia lebih suka bersama dengan kakak keduanya karena kakak keduanya itu tidak semenjengkelkan kakak pertamanya.


Ya, meskipun mereka bukanlah anak kembar. Leon dan Ryu mempunyai wajah yang sama persis bagai sebuah pantulan dari sebuah cermin. Dibanding dengan Leona, Leon jauh lebih mirip kepada adiknya…Ryu.


“Di mana Mama?”


“Dikamar mandi, kenapa kakak?”


“Oh”


Selena berjalan mendekati ke-3 anaknya, Leon, Leona dan juga Ryu langsung berhambur memeluk Selena. Selena tersenyum dan menciumi puncak kepala anaknya satu persatu. Sepertinya kedua putranya sudah berdebat…ia lolos.


“Mama pilih kasih…Ryu pulang tidak kabari kami”


“Mama pikir Ryu sudah menghubungi kalaian saat hendak kemari”


“Mana ada, bocah rusuh ini tidak memberi kabar apa-apa”


Selena tersenyum melihat wajah kesal putra pertamanya, Leon tak sedingin Leona yang bagaikan kutub selatan, ia bisa lebih dekat dengan Leon daripada Leona yang bahkan hampir tak bisa menunjukan emosinya. Ia sebenarnya cukup dekat dengan Leona, tapi tidak sedekat dengan Leon…putri pertamaya itu benar-benar dingin. Dia hanya akan berbicara ketika ingin dan bertanya hal yang penting menurutnya. Sedangkan Ryu, ia jarang bisa bersama Ryu karena anak itu pasti akan lebih didominasi oleh sahabat-sahabatnya karena sifatnya yang menggemaskan.


“Bagimana kabar kalian? Baik-baik saja bukan?”


“Kami baik, gurunya juga baik” jawab Leona.


“Benarkah? Kalian sudah belajar apa saja selama di London?”


“Banyak, tapi lupa”


“Benar Mama! Kami belajar banyak sekali!” ucap Leon menyahuti perkataan adiknya.


“Mama…Ryu juga ingin dengan kakak”


“Kau kan sudah di Kanada, kenapa mau ikut ke London?” tanya Leona mengerutkan keningnya.


“Aku tidak punya teman baik di Kanada, boleh ya Mama”


“Tidak, bukannya belajar kalian malah akan bertengkar saat disana” jawab Selena, sejak ke-3 anaknya bisa


berjalan… apartemenya sudah bagaikan medan perang. Setiap hari acak-acakan, terlebih lagi jika Leon dan Ryu sudah membahas siapa yang meniru satu sama lain.


“Sudah, mau pulang sekarang?”


“Tidak mau” jawab ketiganya dengan serempak.


“Kenapa?”


“Mau main dulu, boleh Mama?”


“Baiklah, Mama akan menunggu kalian disana. Kalau sudah lelah bilang, kita pulang”


“Iya!”


Selena berjalan meninggalkan ketiga anaknya yang sudah mulai mengeksplor bandara. Akan butuh waktu 3 jam untuk membuat mereka kelalahan, jadi ia bisa duduk sembari mengerjakan pekerjaannya. Leon dan Leona…anak kembarnya itu akan berulang tahun yang ke-3 minggu depan dan satu bulan setelahnya ulang tahun Ryu. Hah…benar-benar melelahkan ketika mengingat bagaimana ia belajar mengurus ketiga anaknya.


Disamping ia mengerjakan pekerjannya mata Selena diam-diam melirik ke-3 anaknya yang tengah bermain, memastikan bahwa mereka berada dalam kondisi yang aman. Mereka ber-3 mempunyasi sifat yang sama, sama-sama ceroboh yang menurun darinya. Jika tidak diawasi dengan baik, mereka akan terluka nantinya.


“Kakak!! Bagi sedikit makanannya!! Ryu juga mau!!”


“Enak saja, ambil sendiri sana. masih banyak juga”


“Punya kakak lebih enak, minta sedikit saja” ucap Ryu merengek meminta Leon untuk membagi snack yang diberikan salah seorang pramugara.


“Leon, kasih sedikit ke adiknya sayang”


“Mama…tapi disana masih banyak, Ryu aja yang cari masalah”


“Ryu, ambil sendiri sayang”

__ADS_1


“Tidak mau…Ryu mau punya kakak”


Selena menghembuskan nasnya membiarkan kedua putranya berdebat, mereka berdua sama-sama keras kepala. Apa mereka tidak melihat Leona yang tengah berjalan-jalan dengan santainya tak memperdulikan kakak dan adiknya yang tengah bertengkar karena makanan?.


Leon mengejek Ryu yang tidak bisa mendapatkan snack yang ada di tangannya, ternyata seru juga mengerjai adiknya ini. Pantas saja Leona sering tertawa ketika berhasil membuat Ryu menangis.


“Kakak!!”


Ryu meloncat dan mengambil snack dari Leon lalu membawanya berlari, Leon tak tinggal diam. Dia langsung mengejar adiknya yang berlari tak tentu arah. Jangan pikirkan paniknya bodyguard yang berlarian kesana kemari meladeni ke-2 Tuan mereka.


Rafindra hanya tersenyum lucu melihat tingkah ke-3 anak Tuannya. Mereka benar-benar mirip dengan Nonanya dulu, Ryu adalah Nonanya jika bersama Tuannya, Leona adalah Nonanya saat berada di keluarga Leonardo, sedangkan Leon adalah Nonanya ketika sedang bersama para Alexandra, yahhh buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


“Apa ada yang lucu, Paman?”


“Tidak Nona, hanya saja saya berpikir mereka mereka mirip dengan anda”


“Tidak, Leon dan Ryu mirip dengan Papanya. Leona baru aku”


“Tidak, mereka bertiga adalah anda disituasi yang berbeda”


“Tidak”


“Saya serius”


“Paman pasti bercanda”


“Saya tidak bercanda Nona, lihat…Tuan muda kedua adalah anda saat bersama mendiang Tuan”


“…, terserah Paman saja” jawab Selena pada akhirnya dan hal itu membuat membuat Rafindra tertawa lembut.


“Tuan muda kedua!! Didepan anda!!”


“!!”


Puk!!


Ryu langsung terduduk di lantai sembari memegangi dahinya yang terasa sakit karena membentur sesuatu. Selena yang melihat itu langsung berlari kearah putranya, Leon berjongkok dan membelai kepala adiknya agar tidak menangis.


“Tak pa…jangan menangis, kau laki-laki jadi jangan cengeng”


“Wahhhhh…ini sakit kakak…” rintih Ryu.


“Kau baik-baik saja?”


Seorang pria membungkuk dan menggendong Ryu, Ryu yang sudah berkaca-kaca menatap takut kepada pria itu. Mata Ryu berbinar setelah sesaat memancakan ketakutan, wahhhh pria yang tampan.


“Sayang!! Kalian baik-baik saja?” Selena langsung menggendong Leon dan memeriksa apa putranya itu baik-baik saja, tapi di mana putra keduanya?.


Selena mendongkakkan kepalanya, matanya langsung membulat melihat siapa pria yang tengah menggendong Ryu saat ini.


“Wahhhh Mama…sakit…”


Selena langsung menurunkan Leon dan mengambil alih Ryu, Selena meniup dahi putranya dan menggosoknya pelan.


“Tidak masalah sayang, hanya merah sedikit…nanti tidak sakit lagi”


“Lama tidak bertemu…Selena”


“Lama tidak bertemu, Daniel…”


Selena menurunkan putranya dan meminta kedua putranya itu menghampri Leona, kedua anak itu mematuhi ucapan Mamanya dan segera pergi mencari Leona.


“Mereka…?”


“Anakmu, Leon dan Ryu”


“Bagaimana kabarmu, Daniel?”


“Aku baik, kau bagaimana?”


“Aku ba…!! Leon!!! Ryu!!! Jangan kesana!! Hei!! Ryu!! Jangan pukul kakaknya!!” Selena langsung pergi meninggalkan Daniel dan menghampiri kedua putranya yang lagi-lagi bertengkar. Baru bentar akur kenapa sudah bertengkar lagi!!


“Dasar cengeng! Tertabrak begitu saja menangis! Lemah!”


“Mama!! Lihat kakak!!”


“Bisakah kalian berdua diam? Sejak tadi kalian benar-benar berisik, Leon! Bisa tidak mengalah kepada Ryu?! Dan kau Ryu! Bisa tidak jika tidak mengganggu kakakmu?! Kalian berdua membuat kepalaku sakit! Jadi diam sekarang!” omel Leona.


“Ya maaf…” ucap Leon dan Ryu bersamaan ketika mendapat amarah dari Leona.


Selena menghembuskan nafasnya, untunglah Leona benar-benar membantunya menghadapi kedua anak ini. Kedua anak ini jarang mau mendengarkannya, tapi sekali Leona berbicara mau tidak mau mereka harus patuh dan berhenti membuat masalah. Inilah kenapa jarang ada yang bisa dekat dengan putrinya Leona.


“Putrimu sudah dewasa di usianya yang menginjak 3 tahun, Selena” Daniel berkata sembari tertawa pelan, putrinya didewasakan oleh keadaan ditambah didikan keras dari ke-3 keluarga besar.


“Ah?” ucap Selena.


“Ma, siapa orang ini? Mama kenal?” tanya Leona tak suka menatap Daniel.


Daniel hanya bisa tersenyum melihat wajah tak suka dari Leona, sangat mirip dengan Selena tapi dengan wajah Leo. Ahhhh sayang sekali…ia banyak melewatkan waktu bersama ke-3 anaknya.


“Ryu, Ryu kenal tidak dengan Paman ini?” tanya Selena. Aih? Kenapa ia menanyakan pertanyaan konyol ini kepada anaknya? Mana mungkin anaknya mengenal Daniel.


“Ryu…kemarilah, biar Papa memelukmu”


Ryu yang mendengar suara lembut Daniel langsung berbinar, wahhh…suara ini…


“Papa!!!”


Ryu langsung berlari memeluk kaki Daniel, Daniel tertawa dan menggendong Ryu dan menciumi wajah manis anak itu. Leon dan Leona mengerutkan kening, hah? Apa-apaan pria itu? Apa pria itu berniat merebut perhatian dari adik mereka untuk mereka?.


“Ryu sudah besar…Papa hampir tidak bisa mengenali Ryu”


“Hehehe, Papa kemana saja? Ryu rindu Papa”


“Papa juga merindukan Ryu…”


Jangankan Leon dan Leona, kini Selena pun ikut mengerutkan kening atas respons mengejutkan dari Ryu. Ryu mengenali Daniel? Tapi kapan mereka bertemu? Mereka belum pernah bertemu sejak Daniel pergi ke kamp 6. Lalu bagimana Ryu bisa mengenali Daniel?.


“Ryu turun, dia orang asing” dingin Leon.


“Dia Papa kakak!! Ini Papa! Ryu tidak mau turun”


“Turun!”


“Tidak!”


“Turun!”


“Tidak mau!”


Daniel tertawa lembut melihat wajah pasrah dari Selena, sepertinya Selena sudah menjalani hati-hati yang sulit selama 3 tahun ini. Dan juga sepertinya…Leon dan Ryu adalah anak yang nakal.


“Jhon Frederick Nahendra Danielle Ryu Iskandar!! Turun kau sekarang juga!!”


Mendengar panggilan mematikan dari Leona membuat Ryu langsung turun dari gendongan Daniel dan memeluk Leon dengan erat. Ia paling takut jika Leona memanggilnya dengan nama lengkap seperti itu.

__ADS_1


“Kembar tidak mengenaliku Selena…”


“Tapi Ryu mengenalimu”


“Kau harus tetap bertanggung jawab karena Leon dan Leona…tidak mengenaliku”


“Dengan apa aku harus bertanggung jawab?”


“Menikahlah denganku!”


“!!”


.


.


.


Selena merenggangkan badannya yang kaku setelah seharian meladeni keaktifan anak-anaknya, namun kali ini ia terbantu dengan kedatangan Daniel yang bisa menangani Ryu…jadi ia bisa fokus kepada Leon dan Leona.


“Bisa kita bicara?”


“Duduklah Daniel”


Daniel duduk disebelah Selena, kecanggungan terjadi diantara mereka berdua. Daniel menggaruk pipinya yang tidak gatal, 3 tahun di kamp 6 triknya untuk memulai percakapan hilang entah kemana. Mungkin ini karena lingkungan disana yang orang-orangnya bagaikan kutub selatan.


“Kau…” ucap Selena dan Daniel bersamaan.


“Kau duluan”


“Tidak, kau duluan”


Keheningan kembali terjadi, mata Selena bergulir menatap jari tangah Daniel yang dihiasi oleh sebuah cincin. Ahhhh…Daniel memakai cincin itu ternyata.


“Kau…memakainya?”


“Aku tak pernah melepasnya”


“Kau…”


“Berhenti membahas hal yang tidak penting, sekarang tepati janjimu. Menikahlah denganku”


Selena menghembuskan nafasnya, sebenarnya apa yang membuat Daniel masih bersikukuh ingin menikah dengannya? Daniel adalah pria yang baik, dan ia bukan wanita yang tepat untuknya. Daniel pasti bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.


“Aku tidak bisa Daniel”


“Kenapa? Bukankah kau sudah berjanji jika aku bisa mendapatkan gelar Jenderal mudaku kau mau menikah denganku?” ucap Daniel mulai kesal.


“Daniel…kenapa kau masih bersikukuh ingin menikahiku? Aku bukan wanita yang tepat untukmu”


“Sudah kubilang aku mencintaimu! Harus berapa kali aku mengatakan itu! Aku mencintaimu dan aku ingin menikahimu! Aku ingin bertanggung jawab terhadap anak-anak!” ucap Daniel.


“Haha, sepertinya rencanaku gagal” ucap Selena menyandarkan punggungnya di sofa.


“Apa…maksudmu?”


“Ada alasan lain kenapa aku mengirimmu ke kamp 6 Daniel”


“Aku tau alasanmu itu! Kau berharap aku melupakanmu dan berhenti mencintaimu karena kesibukan yang ada di kamp 6 bukan?! Ditambah pelatihan yang kujalani 17 jam lamanya! Tapi aku tidak bisa! Entah kenapa setiap hari aku memikiranmu! Aku sudah mencoba untuk melupakanmu saat sedang menjalani latihan! Tapi tidak bisa! Bayanganmu muncul begitu saja dipikiraku!”


Selena seketika terdiam mendengar perkataan Daniel, Daniel tidak bisa? Padahal Leo saja bisa fokus kepada latihannya dan tak memikirkannya saat sedang latihan. Lalu kenapa Daniel tidak bisa? Jika seperti itu, pasti Daniel menerima banyak hukuman dari Hendrick maupun Jenderal kamp 6.


“Jadi kumohon…berhentilah membuatku untuk melupakanmu…karena semakin aku mencoba, semakin aku tidak bisa…” ucap Daniel sembari meletakkan kepalanya di bahu sempit Selena.


“Aku tak percaya Daniel, Leo bisa fokus kepada latihannya di kamp 6…dia bisa fokus tanpa memikirkanku”


“Tapi aku tidak bisa! Harus dengan cara apa lagi aku menjelaskannya…” lirih Daniel.


“Mama…”


Selena langsung mendorong tubuh Daniel ketika mendengar suara putra keduanya, Daniel mengusap kasar air matanya yang hendak jatuh. Ryu berjalan menghampiri Selena dengan sempoyongan karena mengantuk.


“Sayang, kenapa masih bangun?”


“Mama bilang Mama akan temani Ryu tidur malam ini, jadi Ryu tunggu Mama tapi Mama tidak datang-datang”


“Kemarilah, Mama akan memeluk Ryu sampai tertidur”


Ryu mengangguk dan naik keatas pangkuan Selena, Selena tersenyum lembut dan memeluk erat putranya sembari memngelus pelan punggung kecil itu.


“Mama…apa ini Papa yang Mama berikan untuk kami?”


“Hm?”


“Mama bilang kalau Mama akan berikan Papa untuk Ryu kan? Jadi dia Papa Ryu?”


Kini Selena tak tau harus berbicara apa, Ryu tidak tau sama sekali mengenai Leo maupun Daniel. Jika Leon dan Leona sudah pernah ia ceritakan tentang Papa mereka Leo, tapi ia tak berani menceritakan tentang Leo kepada Ryu mengingat Ryu lebih sensitive daripada anak kembarnya.


“Iya, kenapa? Ryu tidak mengenali Papa lagi?” tanya Daniel sembari tersenyum, sudahlah…masalahnya dengan Selena ia selesaikan nanti saja. Sekarang lebih baik ia menikmati waktunya bersama Ryu.


“Ryu…bagaimana Ryu bisa mengenali dia adalah Papa Ryu?” tanya Selena.


“Ryu sering mendengar suaranya dulu Mama…tapi Ryu lupa di mana, Ryu tidak ingat. Tapi dia selalu bilang agar Ryu patuh Mama dan tidak menyusahkan Mama jika Mama sedang istirahat. Apa itu hanya khayalan Ryu?”


Kini Selena dan Daniel sama-sama terdiam, Ryu bisa mengenali Daniel dari suaranya?. Selena menutup mulutnya, Ryu bisa mengenali Daniel adalah Papanya karena Daniel lah yang sering menemaninya selama kehamilannya. Bahkan pria pertama yang menggendong Ryu adalah Daniel.


“Anak pintar…kau mengenali Papa ternyata” ucap Daniel sembari membelai kepala Ryu.


“Tapi…Papa benar Papa Ryu?”


“Tentu saja, Ryu tidak percaya?”


“Hmmmmm…Mama?” ucap Ryu mendongkakan kepalanya menatap Mamanya yang hanya diam saja.


“Iya…dia Papamu, namanya Daniel”


“Jadi Ryu sekarang sudah punya Papa?”


“Ya”


Ryu langsung mengulurkan tangannya kepada Daniel, Daniel tersenyum dan mengambil Ryu dari pangkuan Selena. Selena hanya bisa tersenyum tipis melihat Ryu yang langsung akrab dengan Daniel. Sepertinya ia akan kesulitan menjelaskan tentang Leo kepada Ryu, ya tuhan…ia tak ingin membuat putra keduanya ini bersedih.


“Bisakah Papa temani Ryu tidur malam ini?”


“Tentu saja, tidurlah…Papa akan menjaga Ryu”


Selena memalingkan wajahnya ketika melihat Daniel yang mencoba menidurkan putranya. Tak berlang lama Ryu akhirnya tertidur, Daniel tersenyum dan membawa Ryu masuk kedalam kamar Leon dan Leona lalu kembali menemui Selena.


“Kita bicarakan ini besok pagi, aku ingin istirahat”


Daniel menarik tangan Selena hingga tubuh itu jatuh kedalam pangkuannya, wajah Selena dan Daniel saling berhadapan.


“Mau pergi kemana?” ucap Daniel dengan suara beratnya. Nafas hangat menyapu wajah Selena.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2