
.
.
.
Selena dan Joe kini tampak mengerjakan tugas bersama disebuah café. Setelah dari UDI mengambil soal Joe meminta Selena untuk membantunya menyelesaikan soal-soal nya. Selena dengan serius mencoba membuat
Joe paham tentang materi yang ada.
Joe rasanya ingin menangis melihat Selena yang begitu pintar. Bagaimana bisa otak Selena begitu encer padahal Selena tidak mengambil fakultas yang sama dengannya.
“Pa…anakmu ini iri…” Joe berucap dalam hatinya. Adarasa iri dihatinya, padahal sebelumnya ia tidak pernah merasa seperti ini. Ia tak pernah iri kepada siapapun sebelumnya.
“Ini, tugasmu sudah selesai” kata Selena sembari memberikan buku didepannya kepada pemiliknya.
Joe menatap tugas-tugas nya tak percaya. Pantas saja dosen-dosen lalu membicarakan kepintaran Selena. Sekarang ia tak mau lagi meragukan murid kesayangan dosen yang satu ini.
“Hei! Bagaimana kalau kuajak kau kerumahku?”
“Maaf aku tidak bisa, aku harus pulang sebentar lagi”
“Yah…” murung Joe.
Joe pun mengantarkan Selena pulang. Namun Selena meminta Joe untuk menurunkan nya di halte bus, Joe menurunkan Selena di halte bus tanpa bertanya untuk apa. Joe melajukan mobilnya untuk pulang. Sedangkan Selena berjalan ke rumahnya.
Selena membuka pintu ia segera meletakan tugasnya didalam kamar dan membereskan rumah. Sebentar lagi Hans akan pulang dan ia harus segera menyiapkan makan siang. Ia tak mau sampai melihat kemarahan Hans lagi.
Hans membuka pintu, ia menatap Selena sekilas dan langsung masuk kedalam kamarnya. Setelah menganti pakaian Hans langsung turun ke meja makan dan menyantap makanan nya.
“Hari ini kau kemana saja?” tanya Hans sembari menikmati makanan nya.
“Sa-saya pergi ke kampus setelah itu mengerjakan tugas bersama Joe di café”
__ADS_1
Hans langsung menghentikan acara makannya. Selena kembali menciut, ia tidak berani berkata apa-apa lagi. Jika ia berkata ia takut Hans akan melakukan apa yang dia lakukan kemarin malam.
“Jangan menemuinya lagi!”
“Ta-tapi ke-kenapa?”
“Kubilang jangan ya jangan!!!” bentak Hans.
Hans menarik tangan Selena menuju kamar. Selena mencoba melepaskan tangan nya cari cengkraman kuat Hans namun upaya nya lagi-lagi menjadi sia-sia.
Hans memojokan Selena, tanpa babibu ia langsung menyambar bibir Selena. Selena hanya bisa diam dan menangis. Jika ia memberontak Hans pasti akan melukainya lagi. Entah kenapa hatinya selalu sakit ketikan Hans melakukan ini kepadanya.
Selena memukuli dada Hans, ia kehabisan hafas. Hans melepaskan ciuman nya, nafas keduanya sama-sama tersengal-sengal. Hans membelai pipi Selena dan kembali mencium bibir kecil itu.
Beberapa menit berlalu Hans melepaskan ciumannya, Selena langsung terduduk lemas dilantai.
“Aku suamimu, jadi apa yang kukatakan kau itu yang harus kau lakukan” ujar Hans keluar dari kamar.
“Pa…ma…aku merindukan kalian hiks…”
Ponsel Selena berdering, Selena langsung menangkatnya karena itu berasal dari salah satu dosen nya.
“Iya?”
“Nona Selena, bisa anda datang ke kampus sekarang? Ada hal mendesak yang perlu kami bicarakan dengan anda” ~ Dosen
“O-oh, ba-baiklah…”
Tut…
Selena membenarkan pakaian nya, ia segera keluar dari kamar. Hans mengerutkan keningnya melihat Selena yang terburu-buru seperti itu. Pemandangan langka melihat Selena yang tergesa-gesa seperti itu.
Selena langsung masuk kesalah satu ruangan, dan diruangan itu ternyata ia sudah ditunggu oleh dosen-dosen nya.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Selena.
“Nona Selena, kampus akan mengadakan acara beberapa hari lagi. Kami ingin anda dan Nona Joe yang menjadi panitia kali ini”
“Ta-tapi kenapa harus saya?”
“Nilai akademik anda yang paling bagus disini, jadi saya ingin anda bisa mengatur untuk acara itu bersama Nona Joe…”
“Ba-baiklah…”
Selena keluar dari ruangan itu. Joe langsung berhambur memeluk Selena, Selena tersenyum tipis. Apa ia bisa tidak bertemu dengan Joe jika Joe seperti ini?.
“Mari kita persiapkan semuanya!!!” kata Joe.
Selena menganggukkan kepalanya. Ia senang namun juga sedih, Hans suaminya. Apa ia harus mengikuti apa perkataan Hans untuk menjauhi Joe?. Joe adalah teman pertamanya, ia juga nyaman berada didekat Joe. Ia terlalu lemah, itulah kekurangan terbesarnya.
“Joe, ayo makan siang bersama…”
“Ayo! Nanti saja data muridnya”
Selena dan Joe pun menuju kantin dan memesan makanan. Joe mantap Selena yang tampak ragu untuk berbicara.
“Katakanlah ada apa…”
“Joe, sebenarnya aku punya suami…”
Jedarrrr!!
.
.
.
__ADS_1