
.
.
.
Daniel dan Leo menatap tak percaya peti mati Jennifer yang mulai tertimbun tanah. Mereka tidak sedang bermimpi bukan? Semua ini rasanya seperti mimpi mengingat bagaimana kuatnya Jennifer selama ini.
“Bibi kecil baik-baik saja?” tanya Derian.
“Kami belum memberitaunya, kuharap…kau bisa menutup mulutmu juga” jawab Daniel.
Jeff menepuk bahu Wei beberapa kali mencoba menguatkan pria itu. Ia tau pasti Wei tak terima dengan kematian Jennifer, apalagi Wei menganggap Jennifer seperti kakaknya sendiri.
Drttttt drtttttt…
Ponsel Daniel berdering, Daniel seketika membeku ketika mengetahui bahwa Selena menelfonnya. Ia menatap Leo dan para Alexandra meminta jawaban, mereka sedang berada di Belanda…mereka meninggalkan Selena bersama dengan Joe dan Hendrick di Brazil.
“Y-ya Selena?”
“Hei Daniel! Apa kau sedang bersama suamiku?” tanya Selena.
“Y-ya, dia ada disebelahku. Kenapa?”
“Berikan ponselmu kepadanya”
Daniel memberikan ponselnya kepada Leo, Leo menghembukan nafasnya dan berbicara kepada istrinya. Deon meletakkan jari telunjuknya di bibir untuk tidak memperbolehkan siapapun berbicara sepatah katapun.
“Sayang! Apa kau tau?! Dosen bilang aku bisa wisuda besok! Aku akan lulus besok!!”
“Serius? Kau akan wisuda besok?” tanya Leo tak percaya.
“Iya! Dosen bilang semua materi yang ada di S1 sudah kuselesaikan semua, dosen juga bilang aku tidak perlu mengerjakan skripsi. Jadi aku bisa langsung ke S2! Aku tak sabar memberitau Mama tentang hal ini! Oh ya, apa kau tau kenapa Mama tidak bisa dihubunggi? Apa Mama masih sakit?”
Degh!!
Leo seketika terdiam, tuhan…ia harus menjawab apa sekarang? Ia tak mau berbohong kepada istrinya. Ia tak mau membuat calon Ibu dari anak-anaknya kembali meneteskan air mata.
Deon menggelengkan kepalanya tak mau saat Leo menyodorkan ponsel Daniel kepadanya. Leo menatap Daniel meminta bantuan, Daniel menghembuskan nafasnya dan mengambil ponselnya kembali.
“Kami sedang sangat sibuk sekarang, apa kau menginginkan sesuatu saat kami kembali nanti?”
“Hmmmmmm apa ya…aku ingin kue bulan! Nanti bawakan ya saat pulang”
“Hanya itu? Tidak ada yang lain?”
“Tidak ada, oh ya! Katakan kepada Leo, jika sudah tidak sibuk pulang. Jangan keluyuran”
“Iya…”
Tut…
“Istrimu bilang, kau harus pulang jika ini sudah selesai. Kau tidak boleh keluyuran kemana-mana”
“Hmmm…”
__ADS_1
.
.
.
Leo membuka pintu mansion Hendrick dengan perlahan, Selena yang melihat itu langsung berlari memeluk suaminya.
“Kenapa lari-lari? Nanti kalau jatuh bagaimana?” tanya Leo menggendong istrinya.
“Aku sangat merindukanmu” jawab Selena.
“Hmmmm serius?” tanya Leo tersenyum.
“Iya!”
“Hmmm sekarang sudah malam, kenapa belum tidur? Besok katanya wisuda”
“Tidak bisa tidur, tunggu suami pulang” jawab Selena tersenyum sembari mengalungkan tangannya di leher Leo.
Leo seketika tersenyum malu mendengar ucapan istrinya.
“Teman-temanmu tidak jadi datang hm?” tanya Leo.
“Tidak, mereka tidak jadi datang. Mereka bilang mau disana saja, lagipula besok kan aku kembali ke A.S”
Leo hanya tersenyum dan mengecup lembut bibir istrinya, ia membawa istrinya kedalam kamar untuk mengemasi barang-barang dan langsung terbang ke A.S, istrinya harus terlihat segar saat wisuda besok.
Leo mengemasi seluruh barang-barang istrinya dan dia masukan kedalam koper tak lupaia memasukkan vitamin dan beberapa obat didalam koper itu.
“Sudah, ayo ke bandara sekarang. Kau bisa istirahat didalam pesawat”
“Mereka juga ikut, mereka akan menyusul. Ayo duluan”
Leo menggendong istrinya menggunakan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyeret koper keluar dari mansion. Hendrick yang berada didalam mobil meneteskan air matanya mengingat betapa pilunya tangisan Selena ketika Ruvelis dan Jenssica tiada. Dan sekarang, ia tak sanggup jika harus mendengar tangisan itu lagi.
*****
Leo tersenyum lembut sembari membelai kepala istrinya yang terlelap dengan damainya. Ia mengecup lama dahi istrinya, sampai ia mati…ia hanya akan mencintai wanita disampingnya ini. Wanita paling sempurna dimatanya, dan ia yakin…istrinya akan menjadi Ibu terbaik di mata anak-anaknya kelak.
Leo menurunkan selimut istrinya, ia memandang lekat-lekat perut datar istrinya.
“Ryu…dengarkan Papa ya sayang, Ryu akan tumbuh semakin besar didalam perut Mama. Jangan menyusahkan Mama ya sayang? Kalau Mama sedang tidur, Ryu jangan banyak bergerak kasihan Mamanya. Kalau Ryu sudah lahir nanti…Ryu boleh bermain sepuasnya dengan Mama. Tapi kalau Mama sedang tidur Ryu tidak boleh berisik…Ryu juga harus ikut istirahat, Mama sedang lelah jadi Ryu tidak boleh mengganggu. Dan juga, nanti kalau Ryu sudah besar jangan panggil Paman Daniel dengan sebutan ‘Paman’ ya sayang…Ryu harus panggil Paman Daniel ‘Papa’ Ryu tidak boleh panggil Paman…nanti kalau Ryu sudah lahir Ryu akan tumbuh bersama dengan kakak Leon dan Leona. Ryu harus jadi adik yang baik ya, patuh dengan ucapan kakaknya. Sehat-sehat ya sayang, Papa sayang Ryu…” ucap Leo sembari mencium lama perut istrinya.
.
.
.
Selena tersenyum cerah menerima sertifikat kelulusannya. Rektor tersenyum melihat wajah senang murid kebanggannya, bukan tanpa alasan ia memutuskan untuk melakukan wisuda khusus untuk Selena. Selena murid yang jenius, semua materi dikuasainya dengan baik, para dosen pun setuju untuk langsung meluluskan Selena tanpa menunggu sidang skripsi.
“Rektor! Curang! Kami kuliah 4 tahun belum juga lulus tapi Selena belum 1 tahun kenapa sudah diluluskan?!” kesal teman-teman Selena.
“Kalian ingin lulus?”
__ADS_1
“Tentu saja!”
“Baik, saya akan meluluskan kalian. Jika kalian sudah sangat memahami semua materi yang diberikan dosen kepada kalian. Dan raih nilai sempurna disemua materi yang kalian pelajari”
Senior Seo dan lainnya langsung memasang wajah muram seketika, ya…tak heran mengapa Selena bisa diluluskan secepat ini. tapi ada satu yang membuat mereka heran, kenapa Selena bisa menjawab semua soal dan memahami semua materi dengan begitu mudah?! Mereka saja butuh waktu yang lama memahami 1 materi saja.
“Selena! Beritau kami kenapa kau bisa pintar seperti ini”
“Belajar” jawab Selena singkat.
“Ya aku tau! Tapi mana mungkin dengan belajar saja kau seperti ini?!” senior Seo.
Selena hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan seniornya. Haha…mau jujur tapi malu…kalau dijawab nanti mental mereka terguncang bagaimana?.
Leo dan Daniel turun dari mobil mereka membawa sebucket bunga ditangannya. Selena tersenyum dan berjalan kearah Daniel dan Leo. para mahasiswi histeris sendiri melihat Leo dan Daniel yang memberikan bucket bunga kepada Selena.
Leo dan Daniel saling menatap, mereka harus terlihat baik-baik saja. mereka tidak boleh membuat Selena curiga karena gadis ini bisa membaca isi otak mereka hanya dengan melihat perubahan ekspresi.
“Ahhhhh terima kasih”
“Selamat ya sayang atas kelulusanmu” ucap Leo mencium dahi istrinya.
“Baguslah kau sudah lulus, mau lanjut kuliah di mana? Jerman atau Inggris?” tanya Daniel.
“Hmmmmm…tetap disini saja, lagipula aku masih harus berkuliah di UDI” jawab Selena.
“Yakin tidak mau pindah?” tanya Leo.
Selena menganggukkan kepalanya dengan yakin, ia lumayan nyaman berada di kampus ini meskipun ia sedikit takut jika tiba-tiba Hans datang kemari. Entah kenapa, setiap kali Hans berada dekat dengannya…rasa takut secara perlahan menjalar ditubuhnya.
“Mau merayakan kelulusan?” tanya Daniel.
“Mau!”
“Ayo, kita berlibur ke pantai” ucap Daniel tersenyum.
“Tapi, tumben kau memberikanku bucket bunga”
“Tumben? Bukankah sebelumnya sudah pernah kubelikan?”
“Ya! Karena kau baru 3 kali memberiku bucket bunga” jawab Selena tersenyum senang. Leo menahan tawanya melihat wajah syock Daniel. Ternyata pria ini baru beberapa kali memberikan bunga kepada istrinya.
“Kau kalah telak denganku, adik…” bisik Leo.
“Jika aku yang pertama kali bertemu dengan Selena, aku akan memberikannya bunga setiap hari, kakak…” bisik Daniel.
“Heh, mana mungkin bisa? Saat aku berumur 3 tahun kau masih menjadi seorang bayi yang baru lahir. Dan pertama kali kau bertemu dengan istriku…usiamu baru 6 tahun”
“Kau ini!!” kesal Daniel.
“Daniel, Leo! Sudah! Kalian seperti anak kecil saja” ucap Selena.
“Suamimu dulu!” jawab Daniel dan Leo hanya menjulurkan lidahnya mengejek Daniel.
.
__ADS_1
.
.