
.
.
.
Selena menatap dirinya di cermin. Ia menyentuh bekas merah yang ditinggalkan Hans kemarin malam, tubuhnya gemetar. Sungguh ia merasa dirinya menjijikan sekarang.
Selena memeluk tubuhnya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melawan, ia benci kelemahan nya. Ia menyentuh pipinya yang masih memerah, hatinya lebih sakit daripada rasa sakit di pipinya.
Setelah berdiam diri cukup lama Selena segera turun untuk menyiapkan makanan. Kebisuan kembali terjadi, Selena memasak dengan rambut yang terurai tidak seperti biasanya. Gerah ia rasakan tapi itu semua ia lakukan untuk menutupi bekas tamparan Hans kemarin malam.
Hans berjalan mendekati Selena, tangan nya menyibakan rambut yang menutupi pipi Selena. Ia terdiam sejenak melihat bekas merah dipipi mulus Selena.
“Obati itu, jangan sampai aku melihatnya lagi” kata Hans.
Selena hanya menganggukkan kepala nya. Setelah selesai membuat makanan Selena segera menganti baju untuk pergi ke kampus dan melanjutkan apa yang tertunda kemarin. Saat sudah sampai dihalte bus ia terkejut karena melihat Joe yang sudah menunggunya.
“Ah…maafkan aku, apa kau menunggu lama?”
“Tidak, aku baru 5 menit disini…ayo berangkat sekarang, semakin lama semakin larut juga kita pulang nanti”
Selena tersenyum dan masuk kedalam mobil Joe. Mereka langsung menuju kampus tanpa mau berhenti untuk membeli camilan seperti biasanya. Saat sampai mereka langsung berdiskusi kepada para dosen untuk acara
yang akan berlangsung 3 hari lagi.
“Terima kasih untuk kerja keras kalian…”
“Sama-sama…”
Joe dan Selena pergi dan menuju café untuk mendiskusikan apa sja yang diperlukan selama acara. Joe merasa ada yang aneh dengan Selena, tangan nya menyibakan rambut Selena. Ia membeku melihat pipi teman nya memerah seperti baru ditampar.
__ADS_1
“Siapa yang menamparmu? Apa suamimu yang melakukan ini?” tanya Joe serius.
“Tidak…kemarin ada nyamuk, dan aku memukulnya terlalu keras” jawab Selena.
“Serius?”
“Iya…”
Joe menatap kesal Selena. Memangnya ia buta sampai-sampai tidak bisa membedakan yang mana benar dan yang mana salah?. Selena ini selalu saja menyembunyikan kesedihan nya dan menutupinya dengan senyuman. Ingin sekali ia melihat Selena yang terbuka kepada nya. Ia tau mereka baru saja saling mengenal, namun ia yakin Selena adalah gadis baik-baik.
“Selena, jika kau butuh apapun jangan sungkan menghubunggiku. Kita teman, berbagilah penderitaanmu kepadaku. Terlalu lama bersedih hanya akan merusak mentalmu” kata Joe.
“Terima kasih…cukup kau selalu ada disampingku itu sudah sangat cukup untukku” jawab Selena.
Joe menganggukkan kepalanya. Ia tak habis pikir, dari informasi bawahannya Selena dijual oleh ibu tirinya dan dibeli oleh seseorang. Ia hanya berpikir, bagaimana bisa gadis cantik, baik, dan pintar seperti Selena dijual?. Jika tau Selena dijual ia akan membelinya dulu. Sial*n!. Ia kalah cepat!.
“Pa!!!! Belikan Selena untukku!!!! Angkat dia menjadi adikku!!!!!” Joe berteriak dalam hatinya.
Ponsel Selena berdering dan Selena langsung mengangkatnya.
“Maaf ya, aku izin ke toilet sebentar”
Selena segera pergi ke toilet.
“I-iya?”
“Kau dimana? Sedang apa?” ~ Hans.
“Sa-saya sedang di café…”
“Pulang sekarang!! Habis kau nanti!!” ~ Hans.
__ADS_1
Tut…
Telfon dimatikan begitu saja. Selena menghembuskan nafasnya, sejak kejadian kemarin malam ketakutannya kepada Hans semakin bertambah. Jika ia pulang Hans pasti marah, jika ia tidak pulang ia benar-benar akan dihabisi oleh Hans. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini?.
Akhirnya Selena kembali menangis didalam kamar mandi. Sedangkan Joe sudah berada didepan kamar mandi, tangan nya mengepal penuh kegeraman. Laki-laki yang suka memaksa tidak pantas mendapatkan temannya. Tidak! Ia tidak bisa diam saja!.
Sebelum Selena keluar Joe terlebih dulu pergi dari kamar mandi. Selena sangat rapuh, hanya dengan sentuhan halus itu bisa memecahkan nya. Pria itu berani menyakiti teman nya bahkan sampai membuatnya menangis seperti ini. Jika ia tidak bisa menghabisi pria itu maka ia bisa membuat Selena pergi dari pria itu.
“Cari tau siapa suami Selena, aku mau hari ini juga aku mendapatkan informasi itu”
“Baik Nona muda”
Selena kembali mejanya dengan mata yang sedikit sembab. Joe tidak bertanya apapun karena ia sudah tau, hanya akan ada 2 pilihan yang akan ia berikan nanti. Ditinggalkan atau meninggalkan.
Joe dan Selena kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Joe tak berbicara apapun membuat Selena menjadi canggung akan situasi yang ada.
*
Hans melemparkan ponselnya kesembarang arah, geram. Gadis itu sudah mulai membangkang. Dan beraninya gadis itu mengabaikan ucapannya!.
“Malam ini jangan ganggu aku, aku akan memberikan gadis itu pelajaran karena sudah berani mengabaikan ucapanku” kata Hans.
“Baik Tuan…”
Hans mengeluarkan sebutir obat dari sakunya. Hari ini, ia tidak akan mengampuni Selena.
.
.
.
__ADS_1