
.
.
.
Jenssica membuka pintu mansionnya dengan keras mengejutkan semua orang yang berada di dalam sana. Jenssica dengan nafas yang tersengal-sengal menatap Papa, Mama, kakek, nenek, adik, dan para bawahan keluarganya.
“Pa! Ma! Aku ingin menikah!! Aku ingin menikah!!!”
“Ha? Kau kerasukan apa tiba-tiba mau menikah?” Jennifer berbicara dengan nada tak percaya mendengar ucapan kakaknya.
“Sayang, apa yang kau katakan? Menikah? Umurmu belum genap 17 tahun”
“Aku mau menikah ma! Jika umurku sudah genap 17 tahun aku akan menikah!”
“Hah…memangnya kau punya calonnya?”
“Punya!”
“Benarkah?! Siapa?!” tanya semuanya bersamaan.
“Ruvelis! Tuan muda pertama keluaga Alexandra! Aku akan menikah dengan Jenderal muda Nami!”
Ucapan Jenssica langsung membekukan semua orang yang berada diruangan itu. Jenssica bilang apa? Tuan muda pertama keluarga Alexandra? Jenderal muda Nami? Pemuda berumur 19 tahun yang akan menghabisi siapapun yang menghalangi tanpa belas kasihan itu akan menjadi suami Jenssica?!.
“Kak, sepertinya kau sudah gila karena terlalu lama melajang. Mana mungkin Jenderal muda sepertinya tertarik kepadamu?” cibir Jennifer, sejujurnya ia tidak rela jika kakaknya menikah diumur muda seperti ini. Ia masih ingin di traktir oleh kakaknya saat kakaknya mendapatkan gaji.
“Kau mengejekku?! Besok Ruvelis akan mengajakku bertemu dengan keluarganya!”
Tuan dan Nyonya Leonardo menatap sendu putri mereka, benarkah apa yang dikatakan oleh putri mereka ini? Jenssica tidak bisa mengandung, keluarga Alexandra adalah keluarga yang sangat terpandang dan disegani dari segi manapun. Mereka sangat membutuhkan seorang pewaris untuk keluarga mereka.
“Sayang…tapi…apakah Jenderal muda sudah mengetahuinya?”
“Sudah! Aku sudah mengatakan kepadanya tadi, dan dia bilang dia tetap ingin menikahiku”
Tuan dan Nyonya Leonardo memaksakan bibir mereka untuk tersenyum. Sedangkan Jennifer langsung blank. Psycohpath gila itu…beraninya mau mengambil kakaknya darinya! Tidak! Tidak bisa! Ia akan menemui pria itu hari ini juga!.
“Jangan berbuat hal yang aneh Jennifer! Awas kau macam-macam!” ancam Jenssica.
Jennifer memajukan bibirnya dengan kesal mendengar ucapan kakaknya.
.
__ADS_1
.
.
Jenssica menatap gugup Ruvelis yang tengah fokus menyetir ke kediaman Alexandra. Dengan erat ia menggenggam gaun yang tengah ia kenakan, gugup…ia sangat gugup. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke kediaman Alexandra.
“Jangan khawatir, Papa dan Mamaku menyukaimu” datar Ruvelis.
“Ta-tapi, a-apa mereka a-akan bi-bisa me-menerimaku?”
“Jangan khawatirkan apapun, 5 menit lagi kita sampai”
“Hm? Ta-tapi ke-kenapa sejak tadi ti-tidak ada satu rumahpun disini? Ki-kita su-sudah 30 menit be-berkendara”
“Ini perkarangan keluargaku, dari jalan utama membutuhkan 35 menit untuk sampai. Didepan tadi ada 3 gerbang utama sebelum masuk kemari, jika kau ingin kemari sendiri bawa kartu yang kuberikan kemarin. Jadi mereka tidak akan mencegahmu masuk”
Jenssica menelan ludahnya, 35 menit baru bisa sampai dikediaman dari jalan utama dan itu menggunakan mobil? Sebesar apa perkarangan keluarga Alexandra?.
“Wajar jika lama, bukan sembarang orang bisa masuk kemari. Penjagaan benar-benar ketat, anggota keluargaku tidak pernah terekspos sekalipun. Banyak mata-mata yang mengintai gerak-gerikku, sebagai calon Nyonya Alexandra kau harus mengetahui semua tentang keluarga Alexandra. Itu salah satu syaratnya”
“S-syarat?”
“Yah, menantu Alexandra harus mempunyai pekerjaan tetap. Harus dokter atau pengacara, itu sudah menjadi peraturan keluarga. Kami dijuluki keluarga Jenderal, jadi menantunya harus mempunyai bakat yang bisa membantu kemiliteran kedepannya”
“Kau seorang calon dokter, belajarlah dengan rajin. Aku tak ingin calon istriku dipandang sebelah mata”
“Kau tenang saja! Aku tak akan membuat keluargamu malu! Aku akan berusaha agar pantas diterima keluaga Alexandra!” jawab Jenssica dengan senyum cerianya.
Ruvelis tersenyum tipis mendengar ucapan Jenssica, ini yang ia sukai dari Jenssica. Seorang gadis yang penuh dengan energi dan gairah untuk menggapai sesuatu. Ia harap, anaknya kelak akan ceria dan penuh rasa semangat seperti Jenssica.
“Hm…kenapa banyak bangunan disini?” tanya Jenssica yang melihat restaurant dan beberapa bangunan pelengkap lain. Ini mirip sebuah kota! Bukan pekarangan!.
“Papa membangun semua fasilitas yang kami butuhkan disini. Papa overprotective kepada anak-anaknya, dia tidak memperbolehkan anak-anaknya memakan makanan dari luar jadi dia membangun fasilitas lengkap disini”
“Ka-kami? A-anak-anak?” tanya Jenssica.
“Aku punya 8 adik, sifatnya berbeda-beda. Ucapan mereka sarkasme, jadi hindari bicara banyak kepada mereka”
“Oh ya? Aku juga punya adik yang ucapannya sarkasme!”
“Jennifer kan? Wanita itu tadi ingin mencari masalah denganku”
“Hem? Kenapa Jennifer menemuimu?”
__ADS_1
“Sama sekali tidak penting, entah bagaimana kau bisa punya adik seperti itu” ucap Ruvelis sembari mengerutkan keningnya. bagaimana ia tidak kenal Jennifer?! Gadis gila itu selalu saja mencari masalah dengannya, bisa-bisanya seorang gadis berumur 16 tahun menjadi Mafia yang menjadi buronan banyak Negara terkemuka.
Ruvelis menghentikan mobilnya didepan sebuah mansion yang begitu megah. Kegugupan kembali menyelimuti Jenssica, Ruvelis keluar dari mobil bersama dengan Jenssica.
“Selamat datang Tuan muda pertama” para pengaja membungkuk hormat melihat kedatangan Tuan muda pertama mereka.
“Aku gugup…”
“Jangan takut, relax…aku akan membantumu bicara”
Ruvelis membawa Jenssica masuk kedalam mansion megah itu, seketika itu juga semua orang yang berada diruang tamu menoleh kearah pintu. Dengan tatapan dingin mereka, mereka menatap Ruvelis dan Jenssica.
Kegugupan Jenssica semakin bertambah melihat pria-pria berpakaian Jenderal tengah duduk disana. Ini pertama kalinya ia melihat anggota keluarga Alexandra selengkap ini, biasanya ia hanya melihat Ruvelis kalau tidak ya Deon karena mereka sering bertemu di café secara tidak sengaja.
“Pa, Ma. Ini Jenssica, calon istriku”
“Hahahaha!! Bagus sayang! Kau mendapatkan menantu yang cantik untuk Mama!” Nyonya Alexandra berlari memeluk Jenssica membuat gadis itu seketika terdiam terpaku ditempatnya.
“Ma…kau membuatnya ketakutan” kesal Ruvelis.
“Gadis cantik, siapa namamu? Berapa umurmu? Kuliah di mana saat ini?”
“Ha-hallo, na-nama saya Jenssica Yunki Maria Leonardo. Saya berumur 16 tahun”
“16 tahun? Wahhhh!! Kau hebat sayang! Begitu muda dan cantik! Ayo ikut aku”
Nyonya Alexandra menarik tangan Jenssica menuju kekamarnya. Ruvelis menepuk dahinya begitupun dengan Tuan Alexandra.
“Pa…kau harus menjaga istrimu dengan baik” ucap Ruvelis menatap kesal Papanya.
“Itu tadi calon istrimu? Yakin kau mau menikahinya? Kudengar dia tidak bisa hamil” ucap Jeff.
“Jaga bicaramu Jeff, itu hanya prediksi dokter. Tidak ada yang tau kedepannya bagaimana”
“Yah yah yah, terserahmu saja…jika kau mencintainya. Jaga dia baik-baik, dia cantik dan mempesona. Sekali kedip pria lain bisa terpana” ucap Jeff meminum tehnya dengan santai.
Jenssica yang berada didalam kamar duduk dengan canggung disebelah calon Mama mertuanya. Kenapa calon Mama mertuanya masih terlihat muda begini?! Ia minder jika seperti ini!.
“Apa kau tau? Putra pertamaku Ruvelis…dia mepunyai kepribadian ganda…”
.
.
__ADS_1
.