
.
.
.
Selena tersenyum sinis melihat wajah terkejut orang-orang dihadannya ini. Mereka hanya berjumlah sekitar 200-300
orang saja, lumayan…ia sudah lama tidak melatih kemampuannya. Dan setelah ini…ia akan membereskan keluarga Chu, ia tidak ingin mengundur waktu lagi membereskan orang-orang itu.
“Begini saja…jika aku berhasil membunuh semua anak buahmu, aku akan mengunakan darahmu untuk mencuci kepalaku. Bagaimana? Kau setuju?”
“Cih! Jangan sombong! Tangkap dia!”
Selena mengambil ancang-ancang ketika melihat beberapa pria mengepungnya dengan menodongkan pistol. Ia merebut salah satu pistol itu dan menembaki orang-orang itu. Ia tau mana pistol yang memiliki peluru dan tidak. Mau menggertaknya dengan pistol tanpa peluru? Mustahil mengelabuhinya dalam hal ini.
“Pistol yang kalian pegang adalah pistol yang dirancang khusus oleh Vivian, hanya ada 50 buah dan pelurunya hanya terdapat 200 buah didunia. Jadi…diantara kalian semua…hanya ada 39 orang yang memegang pistol asli dengan 44 peluru”
Pria itu seketika menelan ludahnya, bagaimana bisa gadis itubisa mengetahui triknya!? Ia sudah menduplikat pistol itu dengan sempurna! Bagaimana bisa gadis itu mengetahuinya?!.
“Jika aku bilang…aku adalah Jenderal muda bagaimana?” tanya Selena membuat semua pria-pria itu langsung tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
“Kau bilang apa?! Jenderal muda?! Gadis 18 tahun sepertimu adalah Jenderal muda?! Jangan membual!”
“Tidak percaya ya sudah”
Tanpa basa-basi lagi Selena menembaki orang-orang itu tanpa membiarkan orang-orang itu meletupkan peluru terlebih dulu. Ia menatap datar pulihan pria yang sudah terkapar tak bernyawa.
Dor!
Dor!
Dor!
3 tembakan mengarah kepada Selena, surut bibir Selena terangkat. Selena menatap dingin peluru-peluru itu, dengan kemampuan menembak seburuk itu ingin membunuhnya? Jangan harap!.
“Me-meleset?”
“Sudah cukup main-mainnya? Foreplay tidak diperlukan lagi, mari bermain ke inti”
Selena mengeluarkan pisau dari sakunya dan melemparkannya tepat menancap di dada seorang pria. Pria itu langsung tergeletak di lantai.
“Ka-kau! Se-sebenarnya siapa kau?!”
“Putri kesayangan dari Aznovera Naomi Ruvelis Anderson Devano Alexandra, aku satu-satunya Jenderal muda dari kamp utama”
“A-apa?! Ti-tidak mungkin!! Jenderal besar Ruvelis tidak mempunyai seorang anak!! Istrinya tidak bisa mengandung!!!” geram pria itu sembari mengeraskan rahangnya.
Selena tersenyum sinis, ia mengacak rambutnya dan melepaskan lensa matanya membuat pria-pria itu tercengang
seketika. Dion langsung terduduk lemas dilantai, senyuman, tatapan, dan bentuk wajah itu…benar-benar mirip dengan Jenderal besarnya!.
“Tidak…ini tidak mungkin…Jenderal besar tidak mempunyai seorang anak…kau pasti bohong!!! Banyak orang yang mirip di dunia ini! Ya! Kau pasti sedang berbohong”
__ADS_1
“Dengan tangan mana kau melakukannya? Sudah bosan hidup ya? Potong lidahmu atau potong tangan kananmu?. Diantara ke-3 kalimat itu, mana yang pernah kau dengar? Seharusnya…kau pernah mendengar kalimat yang pertama” ucap Selena sembari memberatkan suaranya.
Pria itu langsung lemas, tenaganya seketika diserap habis oleh sesuatu. Itu adalah kata-kata keramat dari Jenderal besar Ruvelis jika benar-benar marah dengan seseorang. Jadi…gadis didepannya ini adalah…‘Warisan’ yang dimaksud Jenderal besar Hendrick 7 tahun lalu?! Warisan kemiliteran adalah gadis didepannya ini?!.
“Jenderal muda Nara dari kamp utama, gadis kecil yang membuat Jenderal besar Hendrick menghancurkan kamp beberapa tahun lalu, hanya karena apa? Hanya karena terkena demam saat disana”
“Je-jenderal muda Nara?”
Pria itu terdiam bungkam, ia pernah mendengar nama ‘Nara’ sebelumnya. Benar! Itu adalah nama yang sering diucapkan Jenderal besar Ruvelis ketika sedang senang!.
“Jika nanti…aku mempunyai seorang putri aku akan memberikannya nama Nara…aku ingin seorang anak perempuan yang manis dan cantik!”
Perkataan itu seketika terngiang-ngiang dikepalanya, tidak mungkin…ini tidak mungkin! Ia sama sekali tidak tau jika keluarga Alexandra masih mempunyai penerus setelah para Tuan muda Alexandra bersumpah tidak akan pernah menikah dan mengabdikan hidupnya untuk kemiliteran dan keluarga Alexandra!.
“Tolong bunuh saya! Bunuh saya! Ampuni kebodohan saya yang tidak menyadari anda! Tolong bunuh saya!” pria itu berucap dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia lebih baik mati dengan apa yang sudah ia lakukan, ia benar-benar tak menyangka...gadis yang ingin dibunuh keluarga Georgino adalah putri tunggal dari mendiang Jenderal besar kamp utama. Ia benar-benar malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Seharusnya saat tes menembak kemarin ia bisa menyadari jika gadis didepannya ini adalah putri dari Jenderal besarnya, karena…tak seorangpun bisa menggunakan pistol itu dengan baik selain mendiang Jenderal besar Ruvelis dan Jenderal besar Hendrick.
Pria itu membuka sebuah peti dan mengeluarkan sebuah pedang dari sana. Prta-pria yang lain seketika bertulut dihadapan Selena.
“Tolong bunuh kami juga Jenderal muda!!”
Selena mendekati pria itu, ia mengambil pedang itu. Sesuai aturan kamp utama, yang berkhianat akan dipenggal.
“Tolong bunuh saya…” lirih pria itu sekali lagi.
Selena menatap dingin pedang itu lalu membuang pedang itu ke laut membuat pria itu seketika mendongkakan kepalanya. Lagi-lagi…egonya kalah dengan hati nuraninya. Muak? Terkadang…terkadang ia muak dengan hati nuraninya.
“Ke-kenapa?”
“Kau punya seorang anak…aku tak ingin…merebut ayahnya dari mereka. Anak-anakmu masih membutuhkanmu, karena aku tau…bagaimana rasanya kehilangan orang tua diusia muda. Jangan sampai anakmu merasakan apa yang kurasakan” ucap Selena sembari tersenyum.
“Tolong maafkan saya , saya pantas mati!!”
“Apa yang membuatmu pantas mati? Kau ingin meninggalkan anak-anakmu? Aku tidak mengizinkannya”
“Tolong katakan, tolong katakan kepada saya…apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya”
“Kau yakin?”
“Ya! Apapun itu!” pria-pria itu bekata serempak.
“Maka aku ingin kalian…”
“…”
“Baik-baik! Kami akan melakukannya!” ucap pria-pria itu menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Jika melakukan itu bisa menebus kesalahan mereka, mereka akan melakukannya.
“Kalian bisa pergi, ada jet ski? Jika ada bisa kupinjam?”
“A-ada, saya akan mengeluarkannya untuk anda”
Sebuah jet ski diturunkan, Selena meloncat dari kapal itu dan menaiki jet skinya. Ia menatap para mahasiswa yang naik keatas kapal pesiar yang tak jauh dari tempatnya.
“Itu…kapal pesiar keluarga Jasson” ucap Selena menatap kelangit, melihat beberapa helicopter yang terbang diatasnya. Ia menunjukan jari telunjuknya membuat helicopter itu terbang menjauh.
__ADS_1
Selena memejamkan matanya, untuk pertama kalinya…ia sanggup menahan puncak emosinya, juga untuk pertama kalinya…ia bisa mengalahkan jiwa iblis didalam tubuhnya, ini juga pertama kalinya ia melepaskan seseorang yang ingin membunuhnya saat sudah didepan mata. Terima kasih tuhan sudah memberikan kemampuan mengendalikan diri kepadanya hari ini.
“Selena!!! Disini!!!” teriak Joe melambaikan tangannya dengan pakaian yang basah kuyup.
“Hei Joe!!! Kau tidak mau main jet ski denganku?!!!” teriak Selena.
“Jangan macam-macam kau!!! Cepat naik kesini!!!!!” teriak Daniel. Untung saja Selena tidak kenapa-napa, jika tadi Selena terluka kan ia yang terkena amukan Papa dan Mamanya.
“Iya iya!” ucap Selena sembari memajukan bibirnya.
Saat sudah sampai di bawah kapal pesiar Daniel, Daniel turun menggunakan sebuah tali dan mengangkat tubuh Selena keatas kapal.
“Hatchu!”
“Aduh…cepat ganti bajumu, jangan sampai kau demam” ucap Daniel mengosok rambut Selena dengan handuk membuat para mahasiswa beserta dosen menutup mulut mereka. Apa ada hubungan spesial antara Tuan muda Jasson dan mahkota kampus mereka?.
Joe menarik tangan Selena masuk sebuah ruangan untuk menganti baju. Jika tadi Selena tidak keluar dari kapal itu dengan Selamat, ia pastikan…ia akan meledakkan semua kapal yang ada disekitar disini.
“Oh ya Selena, kau tau siapa pria tadi?”
“Bukan siapa-siapa, jangan memikirkannya. Ayo ganti baju! Aku ingin makan gurita bakar!” ucap Selena.
“Gurita bakar?! Benar! Aku juga sudah lama tidak makan itu!”
“Daniel!!!! Aku mau gurita bakar dan gurita asam manis!!!” teriak Joe.
“Masak sendiri!!!!”
Teriakan Daniel langsung membuat Joe memajukan bibirnya, Selena tertawa lucu dibuatnya. Entah Daniel mempunyai dendam apa kepada Joe sampai-sampai bersikap seperti itu kepada adiknya sendiri.
“Daniel…aku ingin makan gurita bakar…bisakah aku mendapatkannya?”
“Ha??? Apa???” tanya Daniel masuk keruang ganti baju.
“Aku ingin gurita bakar, buatkan ya?” ucap Selena dengan senyum manisnya.
“Ohhhh…Okey…aku akan menangkap guritanya dulu”
“Ha?! Apa?! Tangkap?!”
“Iya” jawab Daniel pergi begitu saja.
.
.
.
"Saya diam bukan berarti saya kalah, tapi saya sedang mengontrol iblis didalam tubuh saya agar tidak menang dengan segala cara"
.
.
__ADS_1
.