
Zee yang merasa terus di desak dan di kejar oleh 4 energi pedang panca warna.
Dia dengan kesal, segera mengerahkan kekuatan tinju es nya, lalu dia hantamkan keatas tanah.
"Hyaaaaaat...!"
"Blaaarrrr...!"
Terdengar suara ledakan keras diatas tanah yang menimbulkan seluruh area di sekitarnya mengalami pembekuan.
Termasuk udara di sekitarnya pun ikut membeku, sehingga empat energi pedang panca warna di buat membeku di udara.
Menggantung di udara, tidak mampu bergerak mengejar Zee lagi.
Setelah terbebas dari kejaran energi pedang Panca Warna, Zee langsung terbang kearah Nan Thian dengan sepasang tinju nya yang mengandung hawa es membekukan darah dan tulang.
Siap dilepaskan untuk membuat Nan Thian tewas menjadi patung es.
Tapi inilah kesalahan Zee, dia tidak tahu Nan Thian memilki kekuatan api dan es surgawi yang memilki tingkat jauh di atasnya.
Baik dalam kekuatan panas maupun kekuatan dingin.
Melihat kedatangan Zee, Nan Thian langsung menyambutnya dengan dorongan telapak tangan kiri terbuka yang memunculkan hawa es surgawi yang jauh lebih dahsyat.
Di tempat lain Musashi yang juga mengalami kejaran tiada berhenti dari energi pedang panca warna.
Tiba tiba dia melepaskan 4 tebasan kuat cahaya merah.
"Trangggg..,!"
Trangggg..,!"
Trangggg..,!"
Trangggg..,!"
Keempat energi pedang berhasil dia pentalkan menjauh dari dirinya.
Musashi kemudian melemparkan sesuatu di depan kakinya.
"Boooommm..!"
Terjadi ledakan asap putih menutupi keberadaannya.
Musashi sudah tidak terlihat berada di tempat, dia menghilang kebawah tanah.
Berubah menjadi gundukan tanah yang bergerak cepat mengejar kearah Nan Thian .
Buat orang lain, mungkin trik Musashi berhasil, tapi buat energi pedang pancawarna.
Musashi mustahil bisa menghindari kejaran mereka.
Selama dia masih punya perasaan.
Energi pedang itu tidak mungkin bisa di hentikan oleh trik kecilnya itu.
Empat energi pedang pancawarna segera bergerak cepat mengejarnya.
Tapi Musashi tidak sempat memperhatikan nya, dia kini fokus untuk menyerang Nan Thian dari bawah.
Tepat saat Nan Thian sedang mendorongkan tapak es surgawi kedepan.
Musashi tiba tiba muncul dari bawah tanah memberikan tebasan cahaya merah diarahkan secara menyilang dari bahu atas hingga berakhir di pinggang bawah.
__ADS_1
Bila terkena tebasan ini, tubuh Nan Thian akan terbelah dua dalam posisi miring dari atas kebawah.
Tapi sayangnya tidak semudah itu, ingin membunuh Nan Thian .
Nan Thian memberikan sebuah tangkisan kuat dengan pedang panca warna di tangan nya.
Kekuatan gabungan api es surgawi, di padu dengan kekuatan batu pancawarna.
Memenuhi pedang Panca Warna, kekuatan pengendali jagad raya.
Di gunakan untuk menangkis pedang satu mata sisi Musashi.
Ini terlalu kuat untuk bisa Musashi tahan.
"Trangggg...!"
Pedang di tangan Musashi Patang menjadi dua.
Musashi belum menyerah, dia mencabut sebatang pedang yang lebih pendek untuk di tusukkan kearah dada Nan Thian .
Tapi tidak tahu dengan putaran pedang seperti apa, tahu tahu pedang pendek dan telapak tangan Musashi terpental keudara.
Pergelangan tangan nya terpotong oleh pedang Panca Warna ditangan Nan Thian .
"Crasssh...!"
"Arggghhh..!"
Jerit Musashi kaget bercampur kesakitan.
Di saat Musashi sedang kesakitan, 4 energi pedang panca warna menembus tubuhnya dari belakang tanpa ampun.
Tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan kesakitan lagi, Musashi jatuh tergeletak di atas tanah, dalam keadaan berkelenjotan, seperti ayam habis di potong.
Di tempat lain di waktu yang hampir bersamaan dengan datangnya serangan Musashi dari bawah tanah.
"Booommm..!"
Terjadi ledakan kuat sepasang tinju Zee, berbenturan dengan telapak tangan kiri Nan Thian .
Zee seluruh tubuhnya langsung berubah menjadi patung es, dan terhempas jauh kebelakang.
Sebelum tubuhnya jatuh terbanting keatas tanah, 4 energi pedang Panca Warna, yang berhasil membebaskan diri dari kurungan hawa es.
Keempat energi pedang pancawarna dengan cepat bergerak menembus punggung Zee yang sedang membeku.
'Blaaarrrr..!"
'Blaaarrrr..!"
'Blaaarrrr..!"
'Blaaarrrr..!"
Terjadi 4 Ledakan energi pedang pancawarna menembus tubuh Zee yang terbungkus es beku.
Sesaat kemudian kembali terjadi Ledakan di udara.
"Blaaarrrr...!"
Tubuh Zee hancur berkeping-keping menjadi serpihan es yang berserakan di atas tanah.
Dengan demikian berakhirlah perlawanan kedua jago andalan YeSe Bu Hua.
__ADS_1
Nan Thian kini menatap kearah YeSe Bu Hua dengan dingin dan berkata,
"Bagaimana siap selanjutnya ?"
"Atau kamu ingin gunakan pasukan besar mu...?"
"Coba saja.."
Ucap Nan Thian santai.
YeSe Bu Hua sambil tersenyum mengejek melepaskan kembang api ke udara dan berkata,
"Jangan terlalu cepat senang dulu.."
"Tontonan menarik di belakang masih banyak.."
Belum selesai ucapan YeSe Bu Hua.
Di sampingnya muncul dua orang aneh, yang satu adalah pria bertubuh tinggi besar, dengan wajah penuh brewok kepalanya gundul plontos.
Dia mengenakan jubah merah kuning yang panjang dan lebar.
Di lehernya dikalungi dengan tasbih berukuran besar.
Sekilas itu adalah tasbih, tapi bila di teliti, itu bukan lah tasbih, melainkan tengkorak bayi yang baru lahir.
Sepasang matanya lebar jelalatan menatap kearah Nan Thian , seperti orang yang agak terganggu pikirannya.
Orang kedua adalah seorang kakek berjenggot putih pendek.
Rambut nya sebagian putih sebagian hitam bercampur padu jadi satu. Sehingga rambutnya terlihat berwarna abu abu.
Di kepala kakek itu ada sebuah pita merah yang di pasang di keningnya, bagian ujungnya diikat di belakang kepala.
Pita merah itu mungkin berfungsi menahan rambutnya tidak jatuh menutupi pandangan nya.
Kakek itu tidak mengenakan baju dan alas kaki.
Hanya celana hitam sepanjang lutut yang dia kenakan, untuk menutupi bagian pinggang kebawah.
Ada akar Bahar berwarna hitam terlihat melilit di kedua pergelangan tangan dan di kedua lengan atasnya.
Sedangkan di sepasang kakinya di pasangi perhiasan perak yang ada kelenengan kecil.
Setiap kaki nya bergerak akan menimbulkan suara berisik.
Orang pertama yang berkepala gundul bertubuh tinggi besar dia adalah seorang Padri dari Tibet dengan Nama Samsara.
Sedangkan orang kedua kakek bergigi ompong itu, dua adalah jagoan legendaris dari tanah Jawa, namanya Mpu Ranubhaya .
Bersamaan dengan munculnya kedua orang itu, Nan Thian melihat dari arah timur muncul rombongan yang terdiri dari puluhan prajurit berseragam Monggolia.
Diantara mereka Nan Thian melihat Jendral Do Ku, ikut hadir di tengah tengah prajurit Mongolia itu dengan seragam yang sama.
Melihat kemunculan Do Ku masih berada di jarak yang cukup jauh dari posisinya.
Sehingga hanya dia yang bisa melihat dengan jelas.
Sedangkan Do Ku dan bawahannya tidak ada yang bisa melihat dengan jelas keberadaan Nan Thian .
Nan Thian langsung melesat mengejar kearah Do Ku dan rombongannya berada.
Dia tidak perduli dengan dua tokoh baru, yang diundang oleh YeSe Bu Hua untuk menghadapi nya.
__ADS_1