PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
BERITA DARI AN HUI


__ADS_3

Tapi begitu sepasang matanya terbuka, dia melihat suatu pemandangan indah.


Di mana Siao Hung yang sedang tidur pulas tanpa sengaja selimutnya tersingkap.


Sehingga menampilkan sepasang bukit indah nya, yang menjulang tinggi keatas.


Meski tertutup pakaian lengkap, tetap saja pemandangan indah tersebut membuat Nan Thian gagal fokus.


Nan Thian buru buru memejamkan matanya dan menghapus mimisan yang mengalir dari sepasang lubang hidungnya.


Setelah mata di pejamkan, malah muncul bayangan saat Siao Hung di temukan dalam keadaan kurang pantas di tengah hutan sana.


Terbayang hal tersebut, mimisan Nan Thian kembali mengucur turun.


"Aihh ini, ada apa dengan ku, mengapa jadi aneh begitu.."


"Aihhhhh ini pasti gara gara ulah si Thian Tu, Keparat hawa aneh ini.."


"Ahhh tidak aku harus tinggal kan ruangan ini.."


Nan Thian buru buru melesat meninggalkan kamar tersebut, lalu melayang naik keatas atap menara.


Di sana dia duduk menenangkan pikiran, setelah semalam suntuk berjuang.


Saat matahari mulai terbit, hawa aneh itupun perlahan-lahan lenyap.


Perkakas Nan Thian yang berdiri semalaman mengamuk, akhirnya tertidur lemas .


Nan Thian juga terlihat sangat kelelahan, seluruh pakaiannya basah keringat, seperti habis terjatuh kedalam sungai.


Setelah agak tenang, Nan Thian baru melesat masuk kedalam kamar.


Melihat Kim Kim masih pulas tidur nya, Nan Thian yang tidak ingin menganggu tidurnya.


Hanya meninggalkan secarik kertas kecil di atas meja.


Setelah itu, dia segera pergi meninggalkan puncak menara.


Nan Thian pergi ke kamar mandi umum yang di sediakan tidak jauh dari lokasi menara Pagoda tersebut.


Setelah berada di dalam kamar mandi, Nan Thian segera menggunakan air dingin untuk mengguyur kepalanya.


Nan Thian berusaha mandi membersihkan diri, sekaligus membantunya menekan hawa aneh yang kembali bergolak hebat.


Begitu dia melepaskan pakaian nya dan berusaha membersihkan diri.


Hawa yang tadinya tertidur kini kembali bergolak, sehingga perkakasnya kembali berdiri .


"Aihhh dasar gila.."


Umpat Nan Thian , lalu dia segera menguyur tubuhnya terus menerus dengan air dingin di dalam kamar mandi tersebut.


Kamar mandinya di dekat dekat tidak terlalu besar, tapi bak mandinya adalah sebuah kolam panjang yang terhubung jadi satu.


15 kamar mandi kecil menggunakan sebuah bak mandi panjang yang saling terhubung.


Saat itu hari masih pagi, sehingga belum ada penghuni biara yang datang.

__ADS_1


Hanya ada Nan Thian seorang diri yang sedang mengguyur tubuh dan kepala nya, secara terus menerus tanpa henti, menggunakan air bak yang dingin nya seperti air es .


Nan Thian baru menghentikan kegiatan mandinya, setelah hawa aneh tersebut kembali tidur.


"Hufff ..!"


Keluh Nan Thian dalam hati.


Diam diam Nan Thian sedang berpikir bila tidak ada masalah berarti.


Dia harus segera pergi menemui tabib Hua, agar hawa aneh dari Thian Tu yang masuk kedalam tubuhnya bisa di keluarkan.


Bila tidak, cepat lambat dia bisa berubah menjadi monster yang bisa mendatangkan bahaya yang tidak kecil bagi dirinya.


Nan Thian sambil berpikir, dua berganti pakaian baru.


Setelah rapi dia baru keluar dari kamar mandi.


Saat bertemu dengan seorang biarawan muda penjaga kuil yang ingin ke kamar mandi.


Nan Thian segera berkata,


"Siao Se Fu harap tunggu sebentar.."


"Ya Ta Sia,..apa ada yang ingin anda sampaikan..?"


Tanya biarawan muda itu sambil memberi hormat dengan sopan.


"Siao Se Fu, aku mau minta tolong.."


"Apabila nanti, teman saya yang menginap di atas menara lantai sembilan mencari saya..'


Biarawati muda itu mengangguk cepat dan berkata,


"Baiklah Ta Sia, kami nanti akan sampaikan padanya, bila bertemu.."


Nan Thian mengangguk dan memberi hormat.


"Terimakasih banyak Siao Se Fu, aku permisi dulu.."


"Silahkan Ta Sia.."


Jawab biarawan itu mempersilahkan Nan Thian berjalan duluan pergi dari sana, dengan sikap sopan dan penuh hormat.


Seluruh kita Nan Jing, besar kecil tua muda, hingga ke anak anak sekalipun.


Tidak ada yang tidak kenal dengan pemuda rambut putih yang di panggil dengan titisan putra langit itu.


Semua orang sangat menghormati Nan Thian , makanya wajar biarawan muda itu begitu menghormati Nan Thian .


Nan Thian setelah meninggalkan pesan, dia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Nan Thian sekarang mulai khawatir dengan penyakit anehnya, sehingga sebisa mungkin dia ingin menghindari berdekat dekatan dengan Siao Hung yang dalam pandangan nya saat ini, sangatlah menarik dan menggoda.


Nan Thian khawatir bila satu ketika dia kelepasan dan melakukan hal memalukan.


Tentu semuanya akan jadi kacau, kedepannya dia tentu akan kesulitan tidak punya muka untuk bertemu dan berbicara lagi dengan gadis tersebut.

__ADS_1


Pagi pagi Nan Thian sudah melintasi jalan raya yang mulai ramai.


Nan Thian menyempatkan diri membeli beberapa butir bakpao, untuk dia bawa keatas menara pengawas.


Dia ingin mencari tempat santai dan tenang untuk menikmati sarapannya sendirian tanpa ada yang menganggu nya.


Nan Thian dengan santai menaiki undakan tangga menuju bagian atas tembok.


Setiap prajurit jaga dan patroli yang bertemu dengan nya, pasti akan memberi hormat.


Nan Thian terpaksa membalas penghormatan mereka berulang kali, dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Saat tiba di atas tembok kota, Nan Thian sedikit kaget melihat kakaknya juga hadir di sana.


Kakaknya seperti sedang mendengarkan laporan serius dari bawahannya.


Melihat hal itu, Nan Thian segera mempercepat langkahnya pergi menghampiri kakak nya.


"Selamat pagi kak.."


"Kakak pagi sekali.."


Ucap Nan Thian .


Yue Lin mengangguk sambil tersenyum tipis dia berkata,


"Ayo kita ngobrol sambil sarapan di atas sana.."


Yue Lin menunjukkan bungkusan bekal yang di bawanya.


Nan Thian sambil tersenyum juga menunjukkan bekal bakpao di tangan nya.


Sesaat kemudian kedua kakak beradik itu sambil tertawa bersama.


Mereka segera bergerak menuju puncak menara, dengan satu lompatan ringan.


Mereka berdua sudah tiba di puncak menara pengawas tertinggi.


Di sana mereka berdua duduk, sambil membiarkan kaki menggantung di udara bebas.


Mereka masing masing membuka bekal yang mereka bawa.


Sambil bertukar bekal, mereka berdua duduk santai menikmati sarapan bersama.


Setelah menghabiskan sebutir Pao dan minum air segar, dari sebuah kantung kulit yang di bawa Nan Thian .


Yue Lin menatap serius ke adiknya dan berkata,


"Adik barusan datang kabar cepat dari kota An Hui.."


"Katanya kota tersebut setelah kamu pergi langsung mendapat serangan dari kerajaan Mongolia.."


"Jendral Do Ku dan beberapa orang jagoan dari negeri Persia, yang di tugaskan untuk melakukan pengepungan tersebut.."


Nan Thian menatap kearah kakak nya dengan wajah kaget dan berkata,


"Lalu bagaimana dengan keadaan kota tersebut, apa mereka berhasil bertahan..?'

__ADS_1


Nan Thian di dalam hati juga paham, kemungkinan itu 1/100 peluangnya.


Tapi dia benar benar masih berharap akan keajaiban tersebut.


__ADS_2