PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Jadi meski dia bersikap seperti tidak perduli, tidak ada satupun yang hadir berani mencemoohnya.


Bahkan di dalam hati sekalipun, tidak ada yang berkomentar miring atas sikap nya.


Mereka semua sangat menghormatinya, justru mereka menganggap sikap Nan Thian adalah seorang yang tahu menghargai pendapat orang lain..


Sikap rendah hati, yang menyimpan kemampuan dahsyat yang tidak terukur lagi.


Hanya satu kata yang pantas untuk Nan Thian, dia lah sang legenda yang sebenarnya dalam perjuangan mengusir penjajah.


Setelah perundingan dan pembagian tugas selesai acara pertemuan pun di bubarkan.


Zhu Yuan Zhang sendiri melanjutkan dengan pembahasan dengan menteri dan kepala daerahnya.


Mengenai cara menstabilkan dan memakmurkan rakyat di wilayah yang sudah mereka taklukan.


Karena di bagian tersebut, justru adalah bagian yang pembahasan dan pekerjaan nya tidak pernah ada selesainya.


Tapi justru bagian itulah kunci kesuksesan mereka dalam langkah selanjutnya, dan kunci untuk menjaga dinasti baru, setelah mereka berhasil mengusir penjajah.


Rombongan Nan Thian dan rombongan militer mereka tidak ikut terlibat.


Mereka semua langsung meninggalkan ruangan tersebut pergi menjalankan tugas yang sudah Zhu Yuan Zhang bagi bagi tadi.


Strategi sudah di putuskan, mereka hanya menunggu, tidak berangkat pergi menghadang datangnya pasukan berkuda Mongolia.


Semuanya juga sudah tahu, dari informasi mata mata mereka yang akurat, pimpinan pasukan Mongolia yang datang adalah Panglima wanita Putri YeSe Bu Hua, di dukung oleh Jendral Yo Ku.


Di samping itu juga ada tiga tokoh sakti misterius, yang tidak berhasil di ketahui dengan jelas oleh mata mata Zhu Yuan Zhang di Beijing.


Mereka hanya tahu satu tokoh misterius berasal dari Persia, dua yang lainnya berasal dari Tibet.


Dengan demikian Nan Thian memperkirakan tokoh Tibet kemungkinan berhubungan dengan Samsara.


Sedangkan tokoh dari Persia, Nan Thian tidak bisa menebaknya.


Karena dia yakin pihak Mongolia, tidak akan mungkin mengirim tokoh Persia, yang ada hubungannya dengan beberapa tokoh Persia sebelum nya, yang kualitas ilmu nya termasuk biasa biasa saja.


Sekali ini yang datang, Nan Thian yakin, pasti kemampuan mereka berada diatas kemampuan tokoh Jawa Empu Ranubhaya.


Mengenai kenapa tokoh itu tidak di ajak turut serta, ini juga merupakan satu tanda tanya besar buat Nan Thian .


Sementara yang lainnya sibuk, Nan Thian, Zi Zi, Kim Kim dan Thian Yi mereka malah santai.

__ADS_1


Hari hari mereka habiskan dengan melancong mengunjungi berbagai tempat wisata yang menjadi andalan kota Kai Feng.


Hingga akhirnya hari itu tiba, di mana dari atas benteng pertahanan kota Kai Feng terdengar suara tambur yang di pukul secara bertalu talu.


Sedangkan seluruh kota Kai Feng bisa merasakan getaran yang di akibatkan oleh serap langkah kaki kuda tunggangan pasukan Mongolia yang datang mengepung pintu gerbang kota Kai Feng bagian Utara.


Barisan terdepan pasukan Mongolia, terlihat muncul dari balik perbukitan, yang berjarak sekitar 3 Li dari Benteng pertahanan Kota Kai Feng.


Mereka belum bergerak maju, hanya duduk diatas punggung tunggangan mereka, melakukan pengamatan jarak jauh.


Sambil menunggu perintah dari atasan mereka untuk bergerak.


Dari bagian paling tinggi dinding pertahanan kota, hanya terlihat ada barisan memanjang, yang menempati seluruh perbukitan di depan benteng kota, bagian Utara.


Tapi tidak ada yang melihat lautan manusia yang berbaris rapi, berkumpul di belakang bukit sana.


Selain pasukan berkuda juga ada mesin pelontar batu, mesin anak panah raksasa, menara pemanah, yang juga bisa di fungsikan untuk membantu pasukan Mongolia menguasai bagian atas tembok pertahanan kota.


Selain beberapa mesin alat berat itu masih ada mesin Ram yang berupa sebatang balok besar yang bisa di gunakan untuk mendobrak pintu gerbang hingga terbuka.


Di atas pintu gerbang kota, di bagian menara pengawas gerbang.


Terlihat Zhu Yuan Zhang, Yue Lin, Xu Da hadir di sana bersama Nan Thian, Zi Zi, Kim Kim dan Thian Yi.


Ketiga Jendral besar itu tidak terlihat turut hadir di sana.


"Mengapa mereka belum juga bergerak kemari,.. apa yang mereka tunggu..?"


"Apa mereka akan membuat kemah di lembah belakang bukit sana..?"


Ucap Zhu Yuan Zhang mengungkapkan rasa heran nya.


Tidak ada yang mampu menjawabnya, jawabannya tentu saja hanya pimpinan pasukan Mongolia itu lah yang tahu.


Jadi semua yang hadir di sana, hanya berdiri diam di tempat.


Tidak ada yang bisa menjawab ungkapan rasa heran Zhu Yuan Zhang, akan sikap pasukan lawan.


Tapi beberapa saat kemudian, saat tiga titik hitam kecil, yang terdiri dari dua orang Padri tua dan Seorang kakek ompong.


Mereka bertiga melesat seperti sedang melayang di udara, menghampiri gerbang Utara.


Jawaban atas keheranan Zhu Yuan Zhang segera terjawab sudah.

__ADS_1


Kedua Padri itu adalah Padri Ananta dan Padri Pindika.


Sedangkan kakek ompong itu, tentu saja adalah Empu Jayabaya.


Baik Nan Thian ,Zi Zi, Kim Kim, maupun Thian Yi.


Meski lawan masih di kejauhan sana.


Mereka bisa melihat dengan jelas, wajah ketiga orang itu yang sedang bergerak menuju ketempat mereka.


Nan Thian yang paling pertama melayang turun dari atas benteng kota, kemudian melesat menghampiri ketiga orang itu.


Nan Thian terlihat melayang di udara, seolah olah gravitasi bumi tidak lagi berpengaruh bagi dirinya.


Seluruh tubuhnya di kelilingi oleh pancaran gabungan tiga energi dewa.


Melihat Nan Thian sudah bergerak Kim Kim dan Thian Yi pun menyusul.


Kim Kim langsung berubah menjadi wujud aslinya seekor Naga Emas Raksasa yang di tunggangi oleh Thian Yi suaminya.


Zi Zi tidak mengikuti mereka, pertama musuh hanya tiga, kedua dari pergerakan mereka Zi Zi jelas bukan tandingan mereka.


Ketiga dia mendapatkan bisikan pesan suara, agar melindungi Zhu Yuan Zhang.


Zi Zi meski tidak ikut maju, tapi suling giok hijau sudah berada dalam genggaman tangannya.


Zhu Yuan Zhang yang sadar akan kemampuan dirinya, dia bergerak mundur teratur.


Berlindung di belakang Zi Zi, Yue Lin, Xu Da.


Di tempat berlawanan, Kakek ompong terlihat bergembira, dia segera berkata,


"Anak muda paling depan bagian ku, kalian berdua urus Naga dan yang duduk di punggung nya saja.."


Kedua Padri Tua mengangguk pelan dengan wajah santai.


Mereka tidak mau melayani sikap arogan dari Empu Jayabaya.


Sepanjang perjalanan mereka juga tahu sifat dan tingkah laku kakek ompong yang suka memandang rendah orang lain.


Over acting dan over percaya diri, kedua Padri Tua itu bisa melihat justru Nan Thian adalah yang paling berbahaya.


Mereka justru ingin menonton, apa yang akan terjadi dengan Empu sombong itu setelah berhadapan dengan Nan Thian .

__ADS_1


Mereka di dalam hati, justru berharap Nan Thian membungkam mulut besar kakek sombong itu.


__ADS_2