
Nan Thian tersenyum sabar dan berkata,
"Sudahlah bukankah cuma ikan,? ayo kita kembali ke rumah dulu.."
"Nanti baru kita pikirkan lagi.."
Ping Ping menghela nafas lesu dan berkata,
"Baiklah kelihatannya memang hanya bisa seperti itu.."
"Mau melawan juga tidak mungkin."
Nan Thian tidak berkata apa-apa, dia segera menemani Ping Ping membereskan berbagai peralatan menangkap ikan, yang masih berada diatas perahu.
Setelah selesai, Nan Thian membantu Ping Ping membawa jala dan Joran pancing.
Sedangkan Ping Ping membawa tempat makan kosong, dan beberapa tempat menaruh umpan dan batang batang kecil lainnya, seperti mata kail dan lainnya.
Ping Ping berjalan di depan dengan langkah lesu, sedangkan Nan Thian dia mengikuti dari belakang tanpa berkata-kata.
Beberapa saat menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah pekarangan pondok yang sangat sangat sederhana.
Rumah itu begitu sederhana, hingga terlihat begitu reyot dan hampir roboh.
Dari bentuk tempat tinggal nya saja, sudah terbayang bagaimana kesulitan hidup yang di alami oleh Ping Ping dan kakeknya.
Baru memasuki pekarangan rumah, sudah terdengar suara batuk batuk dari dalam pondok.
Mendengar suara batuk itu, Ping Ping segera bergegas masuk kedalam rumah.
Nan Thian yang menyusul di belakang, dia meletakkan dulu peralatan menangkap ikan yang di bawanya, di depan teras rumah
Setelah itu dia baru menyusul masuk kedalam pondok sederhana itu.
Di dalam sebuah bilik kamar yang sumpek, dan berbau pengab.
Nan Thian melihat Ping Ping sedang membantu kakeknya bangun duduk untuk minum.
Nan Thian yakin itu bukan obat, itu tentu hanya air putih.
Melihat keadaan Ping Ping dan kakeknya.
Tanpa sadar Nan Thian secara reflek meraba raba bagian kantong bajunya sendiri.
Di sana Nan Thian menemukan sebuah bungkusan kain, Nan Thian segera mengeluarkannya .
Lalu dia membuka pengikat nya, begitu pengikat terbuka.
Nan Thian melihat di dalam nya penuh dengan uang emas dan perak.
Nan Thian segera membawanya menghampiri Ping Ping dan berkata,
"Ping Ping kamu lihat apa barang barang ini bisa berguna..?"
"Aku barusan menemukan nya, di dalam saku baju ku.."
Ucap Nan Thian polos.
Ping Ping mencoba memeriksa nya, begitu melihat isi di dalamnya, Ping Ping dan kakeknya langsung terbelalak kaget.
Seumur hidup mereka belum pernah lihat uang sebanyak itu, jangankan uang emas sebanyak itu.
Bahkan uang perak sekalipun, mereka tidak pernah melihat ada yang sebanyak itu.
Mereka berdua kini menatap kearah Nan Thian dengan tatapan melongo.
__ADS_1
Mereka serasa melihat sebuah bank berjalan sedang parkir di hadapan mereka.
Melihat reaksi Ping Ping dan kakeknya dengan polos Nan Thian bertanya,
"Bagaimana? cukup tidak..?"
Kakek Ping Ping sampai lupa untuk batuk, kini dia menatap kearah cucunya dan berkata,
"Cucu ku, siapa tuan muda ini ?"
"Darimana tempat asalnya..?"
"Bagaimana kalian bisa bersama ?"
Ping Ping tanpa menghiraukan pertanyaan kakeknya, dia segera berdiri.
Lalu dia menarik tangan Nan Thian keluar dari kamar kakeknya.
Tiba di luar kamar, Ping Ping menatap wajah Nan Thian dengan serius.
Dengan tangan masih memegang kantung berat berisi uang yang tak terhitung jumlahnya.
Ping Ping menyodorkan tangan nya yang memegang kantung uang itu kehadapan Nan Thian dan berkata,
"Kakak dari mana uang ini kamu dapatkan ?"
"Siapa kakak sebenarnya..?"
"Orang biasa tidak mungkin bisa punya uang sebanyak ini.."
Nan Thian dengan wajah bingung dan polos, dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku tidak tahu,.. aku hanya menemukan nya di dalam kantung baju ini.."
"Aku siapa, ? siapa aku..? aku tidak tahu, kamu tahu itu.."
"Kakak coba kamu pikirkan lagi, siapa tahu ada petunjuknya.."
Tanya Ping Ping sedikit mendesak, karena dia masih penasaran.
Nan Thian mengangguk pelan, lalu dia coba coba mengingat nya kembali.
"Siapa aku,...? aku siapa sebenarnya..? darimana asal ku..?"
"Ahhh aku tidak bisa mengingatnya.."
"Mengapa aku tidak bisa mengingatnya? apa yang terjadi dengan ku..?"
"Ahhhh aku sungguh bingung..?"
Gumam Nan Thian seorang diri.
Nan Thian berusaha mencoba untuk terus mengingatnya, dia berpikir keras untuk mengingatnya.
Tiba-tiba Nan Thian memegangi kepalanya sendiri.
"Arggghhh ! aduh..! kepala ku..!"
"Sakit sekali,.. Arggggghhh..!"
Tiba tiba Nan Thian berteriak keras, sambil memegangi dan memukul mukul kepalanya sendiri dengan kuat .
Muncul sedikit bayangan Padri setan yang menjadi lawan terakhirnya.
Juga ada sedikit kilas balik pertarungan mereka.
Tapi segera semua kembali putih, lalu gelap, dan kepalanya kini merasakan nyeri yang lebih luar biasa sakitnya, jauh lebih hebat daripada sebelum ini.
__ADS_1
"Arggghhh..!"
Teriak Nan Thian sambil memegangi kepalanya yang serasa mau meledak.
Nan Thian langsung terjatuh bergulingan diatas lantai, dia tidak lagi sempat memperhatikan Ping Ping yang terus memanggil manggil diri nya dengan khawatir.
Nan Thian terus berteriak kesakitan sambil bergulingan di atas lantai rumah.
Apapun yang ada di sekitarnya langsung dia tabrak, dia tidak lagi mampu mengontrol dirinya.
Ping Ping yang berusaha mendekatinya juga ikut terhempas mundur menjauhi nya.
Kakek Ping Ping yang mendengar suara ribut ribut di luar kamar.
Dia segera keluar dari dalam kamarnya, untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.
Begitu keluar dari dalam kamar nya, dia kebetulan melihat Ping Ping sedang terlempar mundur oleh dorongan Nan Thian, yang terus bergulingan diatas lantai sambil berteriak teriak kesakitan.
Kakek Ping Ping segera maju menyambut tubuh cucu nya, mereka berdua akhirnya jatuh terduduk didepan kamar.
"Kakek kamu tidak apa-apa..?"
Tanya Ping Ping, saat menyadari yang menahan dirinya, agar tidak terbanting ke lantai adalah kakek nya, yang sedang kurang sehat.
Kakek Ping Ping menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kakek tidak apa apa, kenapa dia ?"
"Apa yang terjadi..?"
Belum sempat Ping Ping menjawab kakek nya.
Nan Thian terlihat melompat berdiri.
Sesaat kemudian dia langsung berlari keluar dari dalam rumah, dengan gerakan cepat .
Melihat hal itu, Ping Ping langsung bangkit berdiri, lalu dia berlari menyusul Nan Thian dari arah belakang.
"Ping Ping jangan di kejar..!"
Teriak kakek nya dari belakang dengan cemas .
Tapi Ping Ping tidak menghiraukan peringatan kakek nya.
Sesaat kemudian dia sudah menghilang dari pandangan kakek nya.
"Uhukkk..!" "Uhukkk..!"
"Uhukkk..!" "Uhukkk..!"
"Uhukkk..!" "Uhukkk..!"
Kakek Ping Ping kembali batuk batuk, semakin lama semakin keras dan tidak berhenti-henti.
Akhirnya orang tua yang kurang sehat itu, jatuh tergeletak pingsan tidak sadarkan diri.
Di luar sana Nan Thian terus berlari cepat tanpa arah dan tujuan, yang jelas.
Hingga akhirnya dia sampai ditepi laut.
Nan Thian berdiri di tepi bibir pantai itu, sambil memegangi kepalanya sendiri, yang masih terasa berdenyut denyut dan terasa sakit luar biasa.
Nan Thian mengeluarkan suara teriakan keras.
"Arggggghhh...!"
"Arggggghhh...!"
__ADS_1
"Arggggghhh...!"