PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
WU DANG


__ADS_3

Siangkoan Li yang tersentak maju kedepan, dengan terpaksa, dia menggunakan kedua tangannya yang mengeluarkan cahaya emas menyambut tinju udara kosong dari Khong Sim He Shang .


"Blaaarrrr...!"


Siangkoan Li di buat terpental mundur dengan cambuk tertahan di tangan Khong Sim He Shang .


Dengan demikian Siangkoan Li harus akui, bahwa Khong Sim He Shang jauh lebih unggul dari nya.


Siangkoan Li menjura kearah Khong Sim He Shang dan berkata,


"Aku telah kalah sesuai janji kami, ketua berhak mendapatkan hadiah yang menjadi hak setiap pemenang.."


"Silahkan saja."


Ucap Siangkoan Li .


Dia kemudian memunculkan senjata pusaka langka, memberi kesempatan kepada Khong Sim He Shang untuk memilihnya.


Khong Sim He Shang langsung memilih sepasang gelang, yang bisa berubah menjadi 10 gelang, juga bisa berubah kembali menjadi dua gelang.


Semua sesuai keinginan si pengguna nya.


Khong Sim He Shang menggunakan gelang itu lengan kanan kirinya.


Setelah dia menerima sejumlah sumberdaya langka,.dia segera mengucapkan terimakasih kepada Siangkoan Li .


Saat Khong Sim He Shang hendak meninggalkan arena pimpinan kedua dari 3 orang yang duduk bersila melayang di udara berkata,


"Ketua harap tunggu sebentar..!"


Selesai berkata, orangnya sudah mendarat ringan di belakang Khong Sim He Shang .


Khong Sim He Shang terpaksa menghentikan langkahnya, dia lalu membalikkan badannya menghadap kearah orang yang menegurnya dan berkata,


"Apa ada petunjuk dari ketua sekte buat saya..?"


Ketua sekte kedua menjura kearah Khong Sim He Shang dan berkata,


"Apa ketua tidak tertarik untuk mengikuti acara puncak.."


"Menerima lima jurus dari saya,.apabila ketua mampu bertahan.."


"Maka kitab pusaka ini boleh saya kembalikan ke ketua.."


Khong Sim He Shang sepasang matanya langsung membelalak kaget sulit percaya.


Saat dia melihat tulisan di sampul depan halaman buku yang di tunjukkan sekilas oleh ketua sekte kedua.


"Siapa kamu, bagaimana kitab itu bisa ada di tangan mu..!?"


Tanya Khong Sim He Shang serius.


Ketua Sekte kedua sambil tersenyum tenang berkata,


"Kalian menghilangkan, kami menemukan hanya itu saja.."


"Bila saat ini kamu tertarik ingin kitab ini kembali.."

__ADS_1


"Kamu boleh coba maju menerima 5 jurus dari ku.."


"Bila berhasil kitab ini boleh jadi milik mu.."


"Bagaimana..?"


Khong Sim He Shang tanpa berpikir panjang langsung berkata,


"Sepakat.."


"Kita mulai saja.."


Khong Sim He Shang segera memasang kuda kuda dengan sikap yang lebih serius.


Dia sudah tidak seperti sebelumnya, dia segera melindungi diri nya dengan ilmu lonceng emas dan tenaga sakti Ilmu pengendali nadi dan otot.


Khong Sim He Shang bersikap membuat pertahanan kuat.


Dia berpikir cukup bertahan 5 jurus saja.


Asalkan bisa bertahan lima jurus, maka kitab peninggalan leluhur perguruan mereka biksu Dharma, yang pernah hilang bisa dia kembalikan.


Itu juga sudah lebih dari cukup, bahkan harus mengorbankan nyawa nya, dia juga tidak berkeberatan.


Ketua Sekte kedua segera menghimpun kekuatan nya, seluruh tubuh nya, mengeluarkan cahaya merah biru.


Lalu dia melesat kedepan, menyerang Khong Sim He Shang dengan sepasang telapak tangan terbuka.


"Cahaya Buddha memerangi jagad...!"


Ribuan cahaya yang membentuk jarum jarum cahaya emas, melesat cepat menerjang kearah Khong Sim He Shang .


Genta emas yang melindungi dirinya hancur pecah berkeping keping.


Khong Sim He Shang sendiri ikut terpental keluar dari arena.


Dia segera mengambil sikap posisi duduk bersila, untuk menenangkan guncangan di bagian internal nya .


Khong Sim He Shang berulang kali menahan batuk dan menelan darahnya yang bergolak keluar dari tenggorokannya.


Sesaat kemudian Khong Sim He Shang terlihat di bantu oleh muridnya di bawa pergi dari sana, kembali ketempat duduknya.


Untuk mendapatkan sebutir pil teratai salju dari pihak tuan rumah.


Setelah meminum pil itu, dan menggunakan energi internalnya untuk menenangkan guncangan di dalam sana.


Berangsur angsur keadaan Khong Sim He Shang pun terlihat mulai membaik.


Setelah keadaan nya membaik, beberapa tetua Shaolin segera berkata,


"Ketua apa yang membuat mu mau melayani tantangannya.."


"Ini agak sedikit di luar kebiasaan ketua.."


Khong Sim He Shang tersenyum pahit dan berkata,


"Dia memiliki kitab tapak Buddha perguruan kita,. kitab itu adalah warisan leluhur kita.."

__ADS_1


"Kitab itu hilang dari tangan kita, tadi aku diberi kesempatan untuk mendapatkan nya kembali.."


"Tentu saja, aku tidak bisa menolaknya begitu saja.."


"Sayangnya keinginan ada tenaga tidak mencukupi.."


Ucap Khong Sim He Shang dengan wajah menyesal dan agak berduka.


Beberapa tetua di sampingnya segera menyemangatinya, mereka mengatakan dia sudah berusaha maksimal jadi tidak perlu ada penyesalan lagi.


Kitab pusaka hilang dari perpustakaan saat terjadi kebakaran tidak ada yang mau.


Itu musibah tak terduga, tidak ada yang bisa di persalahkan.


Ucap mereka berusaha menghibur Khong Sim He Shang yang terlihat kecewa dan agak menyesali dirinya.


Sementara pihak Shaolin sudah berjuang hingga titik maksimal.


Pihak Wu Dang justru baru terlihat mulai memasuki arena kedua.


"Ji Lian Chu memohon pengajaran.."


Ucap ketua perguruan Wu Dang yang baru memberi hormat ke Petugas Arena Kedua.


Petugas Arena Kedua memberi hormat, lalu dia juga bersiap-siap dengan sebatang pedang yang di selimuti oleh cahaya merah.


Ji Lian Chu juga bersiap dengan sebatang pedang di tangan, siap menghadapi serangan dari lawan.


Dari pembukaan pergerakan yang di lakukan dengan lambat tapi setiap pergerakan terlihat kokoh dan kuat.


Semua orang yang menonton pertandingan, segera mengenali. itulah jurus pedang Tai Chi yang menjadi kebanggaan perguruan Wu Dang.


Karena ilmu ini adalah ilmu ciptaan terakhir Zhang San Feng, sebelum orang sakti itu tutup usia di umur yang seratus tahun lebih.


Petugas Arena Kedua setelah beberapa saat mengamati pergerakan jurus pertahanan pedang Tai Chi dari Ji Lian Chu.


Dia segera menggerakkan pedangnya yang di selimuti energi cahaya merah.


menyerang cepat kearah leher Ji Lian Chu.


"Trangggg..!"


Pedang Petugas Arena Kedua tertangkis melenceng kesamping, oleh tangkisan di badan pedangnya yang tidak tajam.


Dengan memanfaatkan data pental dari benturan senjata mereka.


Pedang Ji Lian Chu melejit cepat memberikan tikaman balik kearah leher Petugas Arena Kedua .


Petugas Arena Kedua buru buru menundukkan kepalanya kebawah sehingga tusukan pedang Ji Lian Chu lewat diatas tengkuknya.


Sambil menunduk Petugas Arena Kedua langsung menarik kembali pedangnya yang kehilangan sasaran.


Untuk di tebaskan kearah mata kaki Ji Lian Chu.


"Trangggg..!"


Lagi lagi pedang tertangkis melenceng mengikuti kekuatan arah geraknya.

__ADS_1


Lalu pedang Ji Lian Chu dengan cepat, begitu habis berbenturan langsung menusuk kearah ulu hati Petugas Arena Kedua .


Petugas Arena Kedua kedua kembali di buat kelabakan oleh pergerakan serangan balik Ji Lian Chu yang cepat tepat dan tidak terduga.


__ADS_2