
Pria yang melempar undangan tidak melarang dua rekannya bergerak menyerang Nan Thian .
Dia hanya duduk diam di atas punggung tunggangan nya, menyaksikan aksi tidak sopan kedua adik seperguruannya.
"Boooommm...!"
Empat bayangan tapak Nan Thian yang penuh dengan energi tiga sumber surgawi.
Berbenturan dahsyat dengan dua pasang tapak dari kedua pria bertubuh kekar yang menyerang nya dari belakang secara tidak sopan.
Akibat benturan keras lawan keras, sepasang kaki Nan Thian yang berdiri diatas tanah.
Membuat tanah di sekitarnya sedikit melesak kedalam, hingga terjadi retakan di sekitarnya.
Sedangkan kedua lawannya sarung tangan hitam yang mereka kenakan pecah berhamburan, begitu pula hiasan pelindung bahu yang terbuat dari kulit juga ikut pecah berhamburan di udara.
Mereka berdua terpental kebelakang,. tapi pria yang melempar undangan ke Nan Thian .
Melompat keudara menyambut punggung kedua adik seperguruannya.
Membawa mereka untuk kembali duduk diatas punggung tunggangan mereka.
Pria pelempar undangan setelah berhasil mendarat diatas punggung kuda tunggangan nya.
Dia segera menjura kearah Nan Thian dan berkata,
"Terimakasih atas pengajarannya, Pendekar Api dan Es Surgawi..!"
"Kami menerima pengajaran ini..!"
"Sampai jumpa..!"
Setelah berkata, dia segera menarik tali kekang kudanya meninggalkan tempat tersebut, diikuti oleh kedua adik seperguruannya.
Sambil bergerak menghilang dari hadapan Nan Thian , terdengar suara yang menggunakan pengerahan Chi.
Berkumandang memenuhi seluruh tempat itu,
"Pantai diatas langit ada langit muncul di dunia..!"
"Berharap jagoan seluruh kolong langit berkumpul menentukan siapa penguasa sebenarnya..!"
"Yang menurut selamat yang tidak menurut musnah..!"
"Ingat jangan abaikan undangannya, atau tanggung sendiri akibatnya..!"
Nan Thian berdiri diam termenung di tempat mendengarkan puisi peringatan yang berkekuatan dahsyat dan penuh ancaman itu.
Dari pertemuan adu tapak tadi, Nan Thian yang awalnya iseng ingin memukul mundur dan memberikan mereka peringatan.
Dia jadi di buat kaget oleh kuatnya serangan kedua lawan nya, saat benturan terjadi.
Dari kurir pengantar undangan saja, mereka memilki kekuatan begitu dahsyat, mungkin tidak di bawah Samsara ataupun Empu Ranubhaya.
__ADS_1
Ini hanya membuktikan ke Nan Thian, bahwa partai yang baru muncul ini, tidak bisa dianggap sepele.
Nan Thian sesaat kemudian menghela nafas panjang dan berkata,
"Pepatah benar, diatas langit masih ada langit.."
"Tidak ada orang yang mampu duduk di puncak tertinggi tanpa tergantikan.."
"Dunia memang tidak ada yang kekal.."
Selesai bergumam sendiri, Nan Thian langsung menghilang dari tempat itu.
Saat muncul lagi, dia sudah berada di dalam kereta kuda nya.
"Paman Jiang lanjutkan lagi perjalanan kita..!"
"Lebih cepat lebih baik..!"
Ucap Nan Thian mengingatkan dari dalam kereta.
Zi Zi menatap kearah suaminya dengan tatapan mata penuh tanda tanya
Ying Ying putri mereka terlihat sedang tertidur di pulas dalam pangkuan ibunya.
"Apa yang terjadi di depan sana ? tadi aku mendengar suara benturan ledakan dahsyat..hingga di sini pun terasa getarannya..?"
"Juga ada suara yang begitu keras yang tidak tahu menyampaikan sejenis pesan ancaman apa, ? yang tidak tahu apa maksud tujuan nya..?"
Tanya Zi Zi dengan suara setengah berbisik.
"Aku menerima surat undangan ini dari mereka, di sini tertera dari partai diatas langit ada langit.."
"Bunyi benturan dahsyat itu, berasal dari benturan tenaga ku dengan dua diantara pengantar undangan ini, yang mencoba menyerang ku.."
"Ternyata kemampuan mereka cukup hebat, mungkin tidak di bawah Samsara Padri iblis itu.."
"Sedangkan suara ancaman itu berasal dari rekan mereka yang memberi undangan pada ku ."
"Mungkin karena aku menolak hadir, jadi dia menebarkan kalimat ancaman itu. "
Ucap Nan Thian menjelaskan.
Zi Zi mengangguk paham dan berkata,
"Partai ini akan mendatangkan ancaman baru bagi dunia persilatan.."
"Tidak tahu kekacauan seperti apa yang akan kembali di timbulkan nya.."
Ucap Zi Zi dengan suara sebisa mungkin di pelankan, agar tidak menganggu tidur putri tunggalnya yang baru saja pulas.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Biarlah, biar angkatan muda berikutnya yang mengurusnya.."
__ADS_1
"Aku sudah bosan dengan saling bersaing, saling pukul, saling bunuh, di dunia persilatan.."
"Aku hanya ingin melewati hari hari dengan tenang bersama kalian.."
Ucap Nan Thian sambil mengulurkan tangannya membelai kepala istri dan anaknya dengan lembut secara bergantian.
Zi Zi tersenyum dan berkata,
"Siapa yang tidak tahu, ambisi mu kecil.."
"Tapi nasib juga lah yang sering membuat mu terlibat.."
"Semoga sekali ini Thian berbaik hati, tidak lagi membiarkan mu ikut terlibat.."
"Kita bertiga bisa hidup tenang itu sudah lebih dari cukup."
"Meski harus tinggal di pulau ataupun gunung yang sepi, hidup sederhana, asal bersama mu, aku tetap bahagia.."
Ucap Zi Zi pelan sambil tersenyum manis.
Nan Thian tiba tiba di buat mematung oleh senyum istrinya.
Dia menatap istrinya seperti orang bodoh.
Zi Zi menutupi mulutnya menahan tawa, melihat tingkah suaminya.
Meski telah sekian lama mereka bersama, Nan Thian tetap tidak berubah.
Setiap kali bila dia tersenyum manis, Nan Thian pasti akan berkelakuan seperti itu.
Agak konyol untuk seorang pahlawan dan pendekar besar seperti Nan Thian .
Dia totalitas terlihat seperti orang bodoh, tapi Zi Zi justru sangat suka dan bahagia hatinya bila bisa membuat suami nya seperti itu, saat mereka sedang berdua seperti saat ini.
Setelah kejadian penghadangan tersebut perjalanan Nan Thian selanjutnya berjalan dengan cukup lancar.
Setelah sempat singgah dan melewati beberapa kota, mereka akhirnya tiba juga di pusat ibukota Beijing yang penuh dengan bangun besar dan megah.
Dengan plakat tanda pengenal dirinya, sebagai Ping An Wang, Nan Thian bisa langsung melewati pintu gerbang kota dengan mudah tanpa pemeriksaan.
Sehingga dia bisa lebih cepat sampai ke rumah kediaman panglima Xu Da, yang sedang berduka cita.
Seluruh bangunan di kediaman Xu Da terlihat penuh dengan hiasan ornamen putih tanda sedang berkabung, berduka cita.
Sebenarnya dari pintu gerbang hingga setiap bangunan yang terletak di jalan besar.
Semua orang pada memasang lampion dan ornamen tanda berduka cita.
Hebatnya lagi semua itu di lakukan secara suka rela, tidak ada surat perintah atau paksaan dari pemerintah.
Pemerintah hanya mewajibkan di komplek istana dan di setiap pintu gerbang kota Beijing, tapi tidak mewajibkan rakyatnya untuk ikut berkabung.
Dari sini saja sudah bisa terlihat bagaimana popularitas Panglima ini di mata seluruh lapisan masyarakat, tentu saja di luar etnis Monggolia.
__ADS_1
Karena di etnis Mongolia, Xu Da dan Zhu Yuan Zhang adalah dua setan pencabut nyawa yang paling ganas dan mengerikan.
Mereka tidak akan segan segan membantai satu kelompok itu, hingga tanpa sisa, bila mereka di temukan saat operasi militer mereka sedang berlangsung.