
Di saat Lai Fu sedang kesakitan karena pergelangan tangannya di remukkan.
Di saat itu pula, tendangan keras dari samping yang di lancarkan oleh petugas arena ketiga.
Tepat mengenai sisi kepala dan leher Lai Fu, hingga Lai Fu tubuhnya terpental meluncur deras kebawah dengan kepala mendarat duluan diatas lantai.
"Prakkkk..!"
Tengkorak kepala Lai Fu pecah menghantam tanah, otak berceceran keluar.
Lai Fu setelah berkelenjotan beberapa kali, dia langsung diam tak bergerak, tewas ditempat.
Kini suasana tidak lagi berisik cenderung hening.
Diarena keempat seorang pemuda tampan yang membawa sebatang kipas besi di tangan.
Dia hanya melirik sekilas kearah mayat Lai Fu, lalu dia menjura kearah petugas arena keempat dan berkata,
"Aku Kipas angin badai, Jin Song memohon petunjuk.."
Setelah berkata kipas langsung di buka melebar, kemudian bergerak bercuitan menyambar kearah wajah petugas arena keempat.
Saat sudah dekat kipas yang menghalangi pandangan petugas arena keempat, langsung bergerak ke bawah mengancam leher.
Petugas keempat dengan santai mengunakan sepasang telapak tangan terbuka, menahan kipas itu dengan tenaga sakti.nya.
Sehingga kipas dan tangan Jin Song tertahan di udara.
Sebelum dia sempat menarik tangan dan kipas nya kembali.
Petugas arena keempat sudah melakukan gerak memutar mutarnya.
Sehingga tubuh Jin Song di bawa berputaran di udara mengikuti arah putaran tangan petugas arena keempat.
"Prakkk...!"
Disaat Jin Song tubuh'nya sedang d buat seperti baling baling berputaran di udara.
Kepalanya di bagian ubun-ubun terkena tamparan keras, hingga tubuh itu, kembali terbang keluar arena dengan posisi kepala hancur berantakan.
Setelah Jin Song juga di tewaskan dengan secara begitu mudah dan sadis.
Kini secara bersamaan di keempat arena melayang 4 sosok dari kursi bagian depan.
Arena pertama di isi oleh ketua partai pengemis Ma Liang.
Seorang kakek dengan pakaian compang camping rambut riap riapan.
Tapi jari jempol nya di sematkan sebuah cincin giok hijau tua.
Tangannya juga memegang sebatang tongkat giok hijau yang mengeluarkan cahaya terang.
__ADS_1
Di arena kedua melayang seorang pemuda tampan yang memelihara kumis tipis diatas bibirnya.
Bentuk kumis diatas bibir itu begitu rapi dan halus sama persis dengan sepasang alis yang menaungi sepasang matanya yang bersinar tajam tapi selalu tersenyum ramah.
Dialah pendekar empat alis yang di dunia persilatan terkenal sangat Flamboyan.
Karena disisinya selain di kelilingi oleh 4 istri cantik dan 4 pelayan muda seksi.
Kemanapun dia pergi asal ada wanita cantik dia tetap akan selalu tebar kharisma dan pesonanya.
Tapi dia memang punya modal itu, senyumnya sangat menawan giginya berderet rapi seperti biji jagung.
Jadi wajar wanita cantik, rata rata akan sulit untuk tidak terpesona oleh penampilan si Flamboyan pendekar 4 alis Lu Siao Fung.
Di arena ketiga melayang seorang pemuda yang berpakaian sederhana, mengenakan celana setengah tiang. tidak memakai sepatu, dengan sepasang kaki telanjang .
Dialah si jari maut dari pulau neraka, namanya Tek Hoat.
Dia jarang muncul di dunia persilatan, meski wajahnya terlihat halus tampan, sikap dan tutur katanya sopan.
Tapi sifat aslinya telengas, siapapun yang menjadi lawannya jarang ada yang selamat.
Sekali dia hadir di sini, karena dia membutuhkan tawaran barang barang langka untuk mengobati istrinya.
Di arena keempat yang muncul keatas arena adalah seorang kakek berusia 65 tahun.
Dia lah ketua Khong Tong Pai, Ciu Lung.
Tinju tujuh luka adalah sejenis ilmu langka dari pencipta perguruan Khong Tong yang terkenal.
Ilmu ini, bila di lakukan latihan hingga titik sempurna seperti yang di kuasai oleh pencipta ilmu tersebut.
Ilmu ini adalah ilmu yang sangat dahsyat.
Tapi oleh karena penerusnya tidak ada yang bisa mencapai kesempurnaan seperti pencipta jurus itu .
Maka jurus ini meski dahsyat, akan mendatangkan luka pada tubuh orang, yang memainkan jurus dahsyat ini.
Secara bersamaan di 4 arena kini mulai saling bergebrak antara 4 perwakilan sekte Diatas Langit Masih Ada Langit dengan 4 jagoan dari dunia persilatan daratan tengah dengan latar belakang berbeda-beda.
Di mulai dari arena pertama di mana pengemis tua itu, dengan tongkat giok hijau ditangan.
Dia terlihat memainkan jurus tongkat pemukul anjing, ilmu turun temurun dari golongan partai pengemis.
Dimana ilmu itu hanya di wariskan khusus untuk Ketuanya saja.
"Mengusir anjing masuk gang..!"
Bentak si kakek pengemis Ma Liang, tongkat berubah menjadi putaran cahaya hijau memukul cepat kearah mata kaki petugas arena pertama.
Petugas arena pertama langsung mengerahkan energi pelindung untuk menahan datangnya serangan gulungan cahaya hijau itu.
__ADS_1
Tapi sayangnya energi pelindung petugas arena pertama, berhasil di robek robek oleh ujung tongkat giok hijau Ma Liang dengan sangat mudah.
Sehingga petugas arena pertama terpaksa berlompatan mundur menghindari serangan kearah mata kaki itu.
"Anjing diatas ******..!"
Bentak kakek itu sambil melancarkan serangan jurus keduanya secara berkesinambungan.
Kini tongkatnya di tebaskan mengarah ke sambungan lutut petugas arena pertama yang sedang berlompatan menghindari serangan kearah mata kaki
Petugas pertama buru buru menjejakkan kedua kakinya keatas lantai arena.
Tubuhnya melayang keatas, dari bagian atas sana, petugas arena pertama langsung mendorongkan sepasang tapaknya yang mengeluarkan cahaya kuning menyerang Ma Liang di bawah sana
Na Liang langsung merunduk menghindar seperti seekor anjing sedang meringkuk ketakutan di bawah sana .
Tapi justru pergerakan ini, membuat jurus petugas arena pertama gagal menemui sasaran.
Dia hanya menghantam arena di belakang Ma Liang hingga menimbulkan suara ledakan keras.
Tapi arena dengan ajaibnya tetaplah utuh.
Ma Liang sendiri sambil meringkuk, dia menggulingkan tubuhnya mendekati.
Di mana posisi petugas arena pertama sepasang kakinya akan mendarat.
Sebelum petugas arena pertama sempat mendarat, Ma Liang dengan tongkat Giok hijaunya sudah datang menyerang sepasang lato lato di ************ Ma Liang.
"Menggebuk sepasang anjing...!"
Sambil menyerang sepasang lato lato Petugas arena pertama dengan tongkat pemukul anjing'nya.
Ma Liang tangan kirinya, memainkan satu pukulan tapak dahsyat.
"Naga menggerung menyesal..!"
"Roaarrr...!"
Terdengar bunyi suara raungan Naga marah.
Sebelum kemudian sesosok bayangan Naga emas muncul bergerak menerjang kearah petugas arena pertama.
Petugas arena pertama memang Kosen, di serang dengan dua jurus dahsyat secara beruntun.
Dia tidak terlihat panik, dengan sikap tenang dia menggunakan sepasang tangan nya menangkis serangan tongkat pemukul anjing kakek Ma Liang.
"Dessss...!"
Memanfaatkan tenaga benturan tersebut petugas arena pertama, tubuhnya membal keatas, melakukan salto dua kali di udara.
Menghindari serangan energi tapak dahsyat dari kakek Ma Liang.
__ADS_1
Dengan cara itu, petugas arena pertama berhasil mendarat dengan baik di atas arena