
Hartawan Coa tertawa bergelak dan berkata,
"Keliatannya kamu mau andalkan pak tua ini."
"Boleh,.. boleh,.. kamu boleh mencobanya.."
Selesai berkata, Hartawan Coa langsung melangkah mundur kebelakang, sambil memberi kode kepada tulang pukul nya agar maju menghabisi Nan Thian .
Jagoan jagoan bayaran yang menjadi centeng Hartawan Coa untuk menindas orang.
Mereka segera maju kedepan dengan berbagai macam senjata terhunus di tangan.
Tanpa banyak basa basi sambil berteriak keras, mereka segera maju menyerang Nan Thian dengan senjata di tangan mereka.
"Wuttttttt..!"
Sebatang tongkat nunca sambungan tiga, yang paling pertama datang menyerang kearah kepala Nan Thian .
Meski Nan Thian lupa ingatan, tapi ilmu silat yang sudah dilatih hingga mendarah daging.
Sedikitpun tidak ada yang dia lupakan, semua bergerak secara otomatis, tanpa perlu berpikir.
Bagi orang lain serangan tersebut tentu sangat cepat dan kuat.
Tapi bagi Nan Thian serangan itu sangatlah lambat.
Sekali lihat dia sudah tahu kemana arah gerakan serangan tersebut.
Dimana titik lemahnya dari rangkai serangan tersebut, sehingga begitu serangan tersebut tiba.
Nan Thian hanya menggeser kakinya ke samping belakang, serangan itu pun lewat begitu saja di hadapan Nan Thian .
"Brakkkk...!"
Tongkat nunca menghajar lantai, persis didepan kaki Nan Thian. Hingga lantai tersebut meledak hancur berkeping-keping.
Tapi sesaat kemudian wajah penyerang itu langsung berubah, saat tongkat Nunca nya, bisa di lepaskan untuk menyerang.
Tapi tidak berhasil untuk di tarik kembali, karena Nunca nya yang tadi menghantam lantai hingga meledak.
Kini terinjak oleh kaki Nan Thian, yang seolah olah telah mengakar di atas lantai tersebut.
Bagaimana pun dia berusaha menarik maupun mendorongnya, tongkat Nunca tersebut tetaplah tidak bergeming.
"Hyaaahhh..!'
"Hyaaahhh..!'
"Hyaattt..!"
Bagaimana pun dia berteriak sambil mengerahkan tenaganya, tongkat nunca nya, bergeming sedikitpun tidak.
Seluruh wajah hingga badannya telah penuh keringat, tapi tetap saja, Nunca nya tertahan di sana.
Melihat rekannya dalam kesulitan, seorang yang bersenjata tombak dan seorang yang bersenjata golok segera maju membantu.
"Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!"
"Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!"
"Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!" Cuittt..!"
Tombak penyerang kedua bergerak ganas menikam kearah kepala leher dada perut hingga kearah kaki Nan Thian yang sedang menginjak Nunca penyerang pertama.
Nan Thian dengan gerakan tenang memiringkan kepala, badan dan mengempiskan perut.
Sehingga tusukan tombak itu gagal.
Saat tombak itu datang mengincar kakinya.
Nan Thian menggunakan kakinya yang lain, untuk menendang dan menangkis mata tombak yang datang menyerang kaki nya.
"Trangggg,..!"
"Tak...!" "Tak...!" "Tak...!" "Tak...!"
"Trangggg..!"
"Tappp...!"
Tombak yang mengincar kaki Nan Thian, kini ikut tertahan oleh injakan kaki Nan Thian .
__ADS_1
Saat dia mencoba menarik tombaknya kembali, dia pun mengalami nasib yang sama dengan rekannya yang menggunakan nunca.
Mata tombaknya tertahan oleh injakan kaki Nan Thian yang lainnya.
Kini kedua senjata dari dua penyerang pertama dan keduanya, sama sama tidak bisa di tarik balik.
Tertahan di bawah tapak sepatu Nan Thian , yang seperti mengakar pada lantai.
Melihat hal itu penyerang ketiga langsung datang dengan tebasan golok besar nya.
"Wuttttttt...!"
Golok nya melakukan tebasan miring dari atas kebawah, ingin membelah tubuh Nan Thian menjadi dua .
Tapi Nan Thian hanya memiringkan sedikit tubuhnya kesamping.
Tanpa menggeser posisi kedua kakinya, tebasan golok besar itupun luput dari sasaran.
Saat melewati samping tubuh Nan Thian , Nan Thian langsung memberikan sentilan jari tengahnya kearah badan golok besar itu.
"Tringg...!"
Tanpa bisa di cegah golok besar itu, langsung terpental.
Kemudian menghantam wajah pemiliknya sendiri dari samping.
"Pangggg..!"
"Aduhhh..!"
"Brakkkk...!"
Penyerang ketiga langsung roboh keatas lantai seperti batang pisang ambruk.
Karena badan goloknya yang di sentil oleh Nan Thian berbalik menghantam wajahnya dari samping.
Akibat terkena syarat di bawah telinga, penyerang ketiga langsung kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Dia langsung roboh keatas lantai pingsan tidak sadarkan.
Melihat orang ketiga kembali berhasil di robohkan oleh Nan Thian dengan sangat mudah.
Hartawan Coa, langsung hilang senyum di wajahnya, dia segera berteriak.
"Maju semuanya,..!"
"Dasar bodoh..! jadikan dia perkedel,! jangan dikasih ampun...!"
Teriak hartawan Coa mencak mencak di belakang sana.
Melihat tiga anak buahnya di buat lelucon oleh Nan Thian .
Sesaat setelah Hartawan Coa berteriak marah marah, kini pedang, golok, parang , Kampak.
Semuanya berdesing membelah udara langsung menghujam kearah Nan Thian .
Semua senjata itu tiba tiba tertahan di udara .
Saat Nan Thian mengakar kedua tangannya keatas.
Sesaat kemudian terdengar suara raungan Naga marah,.saat kedua tangan Nan Thian di dorongkan kedepan.
Tanpa Nan Thian sadari di saat semua pengeroyoknya maju, dia secara reflek melepaskan pukulan.
"Naga Keluar Dari Sarang..!"
Seekor bayangan Naga raksasa yang mengeluarkan suara raungan dahsyat melesat kedepan.
"Groowaaarrrrrrr..!"
Melibas siapapun yang berada di hadapan nya.
Hingga pada terpelanting tunggang langgang di hajar oleh serangan dahsyat Nan Thian .
"Ahhhhh...!"
"Aduhhh..!"
"Arggggghhh..!"
"Mampus aku..!"
__ADS_1
"Mati aku..!"
"Tolongggg..!"
"Brakkkk...!"
Masing masing pada berteriak kaget, saat tubuh mereka terlempar keudara.
Sebelum kemudian satu persatu terbanting keras keatas tanah.
Sedangkan senjata mereka yang pada terlepas dari pegangan tangan mereka.
Kini semuanya terhisap dalam satu lingkaran cahaya kuning keemasan.
Senjata mereka pada tertahan di dalam lingkaran cahaya energi itu.
Sebelum kemudian oleh Nan Thian di ledakkan kearah Hartawan Coa dan para begundalnya.
"Wutttt..!"
Wutttt..!"
Wutttt..!"
"Singggg..!"
"Singggg..!"
"Singggg..!"
"Cuittt...!"
"Cuittt...!"
"Cuittt...!"
"Creebbbb,..! Creebbbb,..!"
"Creebbbb,..! Creebbbb,..!"
"Creebbbb,..! Creebbbb,..!"
"Creebbbb,..! Creebbbb,..!"
"Ahhhhh..! Ahhhhh..! Ahhhhh..!"
"Ahhhhh..! Ahhhhh..! Ahhhhh..!"
"Ahhhhh..! Ahhhhh..! Ahhhhh..!"
Suara senjata yang terhempas balik, berseliweran menyerang Hartawan Coa dan begundalnya yang sedang terpelanting .
Sesaat kemudian segera terdengar suara senjata mengenai sasaran dan suara teriakan penuh kesakitan segera memenuhi tempat itu.
Sesaat kemudian tidak ada satupun yang mampu berdiri, mereka semua jatuh malang melintang merintih rintih diatas tanah, tidak ada yang mampu bangkit lagi.
Hartawan Coa yang ada di posisi paling belakang, dia juga terpental, menabrak gerobak dan keranjang ikan.
Tapi karena dia berlindung di belakang para centeng nya, dia tidak sampai tersambar senjata membalik.
Dia hanya mengalami benjol di belakang kepala dan lecet lecet saja.
Diam diam di saat kekacauan sedang terjadi, dia berusaha merangkak, ingin melarikan diri dari sana.
Ping Ping yang dari tadi bengong melihat aksi Nan Thian yang seperti tukang sulap.
Setelah semua centeng Hartawan Coa rebah, melihat Hartawan Coa ingin melarikan diri.
Dia segera berteriak sambil menunjuk kearah Hartawan Coa.
"Kakak lihat babi tengik itu mau melarikan diri.!"
Nan Thian tentu melihatnya, dengan gerakan santai Nan Thian menghentakkan kakinya keatas tanah.
"Plakkkk...!"
"Wusssshhh..!"
"Creebbbb..!"
Tombak diatas lantai yang di injak Nan Thian sebelumnya, tiba-tiba terbang keatas.
__ADS_1
Dengan satu kibasan tangan, Tombak itu meluncur deras kedepan.