
Kedua kakak beradik itu saling pandang mereka sangat heran dan tidak percaya dengan keputusan mengejutkan kakak nya ini.
Tapi mereka juga tidak berani banyak membantah dan bertanya.
Mereka segera memberi hormat dan berkata,
"Siap laksanakan Yang Mulia.."
Zhang Shiyi dan Zhang Shide, sesaat kemudian terlihat mundur meninggalkan ruangan tersebut.
Wajar saja Zhang Shiyi dan Zhang Shide kaget dengan keputusan kakak mereka tersebut.
Karena keputusan seperti itu, bukan keputusan yang dapat di buat main main.
Memobilisasi pasukan sebesar itu, maju mundur tanpa hasil, itu kerugian yang sangat tidak main main.
Belum lagi mental pasukan yang akan menurun karena nya.
Untuk menstabilkan keadaan, pihak kerajaan harus merogoh kocek yang cukup besar.
Harga yang harus di bayar sangatlah tinggi.
Tapi keputusan Zhang Shizheng sudah bulat, dia tentu punya pertimbangan nya sendiri.
Sesuai instruksi Zhang Shizheng, sesaat kemudian kapal kapal perang, kerajaan Zhou, mulai berputar arah, bergerak kembali ketepian sungai Wu Jiang di sebelah Utara .
Pasukan besar mereka di tarik mundur, kembali lagi ke markas pusat di Su Zhou.
Di tempat lain, Yue Lin yang mendapatkan kabar tersebut dari mata mata nya, dia agak sedikit tidak percaya.
Dia masih terus bertahan di sana, sambil mengirim mata mata nya, untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap.
Baru setelah dia mendapatkan kabar dari mata mata nya, Zhang Shizheng dan pasukan besarnya benar kembali ke markas pusat di Su Zhou.
Dia baru berani memimpin rombongan nya untuk bergerak kembali ke Nan Jing .
Rombongan Yue Lin melakukan perjalanan kembali dengan penuh suka cita.
Mereka yang hanya bermodalkan 50.000 pasukan, berhasil memaksa Zhang Shizheng yang membawa kekuatan 300.000 pasukan, untuk menarik mundur pasukannya.
Ini adalah suatu prestasi besar, tidak ada yang tidak bergembira, dengan hasil pencapaian yang mereka lakukan ini.
Nan Thian dan Kim Kim adalah yang paling di elu elu kan oleh semua orang, dalam kemenangan ini.
__ADS_1
Saat mereka bertemu dengan rombongan Xu Da, rombongan Xu Da juga sangat bergembira dan sangat meng elu elu kan Nan Thian dan Kim Kim.
Kepulangan rombongan besar itu, di sambut dengan meriah oleh seluruh rakyat kota Nan Jing.
Zhu Yuan Zhang dan istrinya, juga ikut hadir menyambut gembira kepulangan rombongan Yue Lin.
Pesta perjamuan sederhana kembali di lanjutkan, semua orang ikut merayakan dengan penuh kegembiraan.
Nan Thian dan Kim Kim semakin di hormati oleh semua orang, termasuk kelima jendral andalan Zhu Yuan Zhang.
Mereka semua sangat menghormati Nan Thian .
3 Hari setelah kepulangan Yue Lin dengan kemenangan besar nya, sesuai perkiraan Perdana menteri Li Po.
Zhu Yuan Zhang dalam sidang istana, memutuskan tidak akan menyerang Su Zhou.
Dia ingin menstabilkan keadaan di dalam negerinya dulu, baik ekonomi militer dan politik.
Setelah stabil, dia baru akan bergerak kembali untuk menarget Su Zhou. Untuk itu dia paling cepat perlu menghabiskan waktu 6 bulan sampai satu tahun.
Setelah keputusan di ambil, suasana pun kembali kondusif.
Meski Nan Thian dan beberapa jendral tidak puas dan kurang setuju dengan keputusan Zhu Yuan Zhang.
Lagi lagi sesuai dengan dugaan perdana menteri Li Po, gosip yang di sebarkan oleh mata mata nya.
Dalam sekejab sudah berhasil membuat nama Nan Thian dan Kim Kim, dalam waktu singkat menjadi bahan pembicaraan semua rakyat kerajaan Ming.
Popularitas Nan Thian dan Kim Kim, dalam waktu singkat. Meningkat dengan pesat di mata rakyat kerajaan Ming.
Tapi ada yang di luar prediksi Perdana menteri Li Po, Zhu Yuan Zhang setelah berbicara dengan istrinya nyonya Ma.
Dia mendengarkan usul dan nasehat istri nya, dia tidak jadi menantang berterang, ataupun berusaha menjatuhkan popularitas Nan Thian dan Kim Kim.
Sebaliknya dia memberikan dukungan dengan mengangkat Nan Thian, dengan gelar bangsawan sebagai Tai Ping Wang, Pangeran perdamaian dan Kim Kim diangkat sebagai Tai Ping Kong Cu, putri perdamaian.
Selain itu, mereka berdua juga di anugerahi wilayah An Hui, yang merupakan kota perbatasan, yang berbatasan langsung dengan kota kota besar wilayah kerajaan Yuan.
Dengan cara ini, Zhu Yuan Zhang pertama bisa mendorong Nan Thian dan Kim Kim untuk membantunya menjaga kota perbatasan itu, dari gangguan pasukan Yuan.
Kedua dia bisa menunjukkan ke rakyat nya, bahwa dia adalah seorang pimpinan yang bijaksana.
Hal ini membawa dampak yang positif buat popularitas nya di mata rakyat.
__ADS_1
Sehingga semakin banyak orang pintar dari berbagai penjuru negeri, datang mengabdi padanya.
Dengan ini, dia tidak akan pernah kekurangan sumberdaya manusia.
Dalam masa tenang ini, Zhu Yuan Zhang benar benar memanfaatkan waktu dengan baik, Dia terus fokus meningkatkan kemajuan negerinya dalam segala sektor.
Zhu Yuan Zhang bahkan dalam hal militer, diam diam dia mengandalkan para cendekiawan, yang di rekrut nya. Untuk melakukan riset senjata api dan meriam.
Dia mendaya gunakan bubuk mesiu di petasan, sebagai peletak dasar untuk menciptakan senjata berbahaya itu, agar bisa meningkatkan kualitas kekuatan militernya.
Sedangkan di pihak Zhang Shizheng, perdana menteri Li Po sendiri yang berangkat ke Beijing.
Dia mengambil tugas untuk melakukan negosiasi gencatan senjata, dengan kerajaan Yuan.
Dengan menggunakan sogokan besar ke orang tua selir kesayangan Kubilai Khan.
Perdana menteri Li Po berhasil menarik simpati dari selir tersebut.
Selanjutnya dengan mengandalkan kekuasaan selir tersebut.
Dia berhasil di pertemukan dengan Kubilai Khan.
Dengan berbagai alasan masuk akal, dan mendapatkan bantuan dari selir kesayangan Kubilai Khan.
Perdana menteri yang pintar bicara dan halus tutur katanya, dia akhirnya berhasil meyakinkan Kubilai Khan untuk menandatangani dua buah surat perjanjian.
Pertama surat perjanjian gencatan senjata, kedua surat perjanjian kerjasama, dalam menghancurkan pemberontak Zhu Yuan Zhang.
Dengan adanya kerjasama ini, bukan hal sulit lagi, bagi perdana menteri Li Po, untuk mengundang tokoh tokoh sakti dari pihak monggolia, dengan iming iming bayaran tinggi, dan hidup mewah.
Agar mereka mau pindah ke Su Zhou, membantunya mempertahankan Su Zhou.
Diantaranya yang berhasil dia bujuk adalah Thian Tu, dan Kam Hong.
Kedua raja itu, yang satu raja racun, yang satu raja pedang, mereka berdua tertarik dengan penawaran dari perdana menteri Li Po.
Sehingga mereka berdua mengikuti Li Po kembali ke Su Zhou.
Di Beijing mereka sudah mulai kurang mendapatkan tempat, apalagi setelah kegagalan mereka membunuh Legenda negeri barat, Ping Huo Ta Sia.
Posisi mereka mulai di geser oleh
kedatangan beberapa orang sakti dari negara Persia, Tibet, Thailand, bahkan ada seorang kakek sepuh dari tanah Jawa.
__ADS_1