PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
NAN THIAN KEMBALI MERENDAH


__ADS_3

Dia tidak lagi menambahkan tebasan susulan, dia yakin akan kemampuan jurus unik tersebut.


Buddha Iblis yang awalnya membeku di udara, akhirnya mulai muncul retakan di seluruh bagian tubuh nya.


Bias cahaya panca warna mulai merembes keluar dari tubuhnya yang mengalami retakan.


"Pyaaarrr...!"


Terjadi ledakan dahsyat di udara, tubuh Buddha Iblis besar dan kecil semuanya meledak hancur berkeping-keping.


Di susul dengan potongan pecahan bekuan yang menyebar ke segala arah, tiba tiba di selimuti oleh api putih terang.


Sebelum kemudian habis terbakar menguap di udara tanpa sisa.


Begitu Buddha Iblis meledak hancur berkeping-keping.


Padri Tua Ananta juga mengalami nasib serupa.


Tubuhnya yang awalnya terbungkus es akhir meledak oleh cahaya panca warna.


Sebelum akhirnya potongan tubuhnya, di bakar habis oleh api surgawi yang panas luar biasa.


Setelah menghabisi Padri Tua Ananta, Nan Thian langsung melesat menuju arena pertempuran lainnya.


Di mana Kim Kim dan Thian Yi sedang bertarung seru melawan Padri Tua Vindika.


Saat Nan Thian tiba di lokasi, karena menyadari bahayanya kekuatan yang di miliki oleh Padri Tua Vindika.


Begitu muncul Nan Thian langsung menyerangnya dengan Tebasan Pedang Tiada awal tiada akhir.


Seberkas energi pedang bersinar hitam putih, dengan bagian luar diselimuti cahaya Panca Warna.


Segera melesat cepat menghantam Genta hitam pelindung tubuh Padri Tua Vindika.


Genta hitam seketika membeku, sebelum kemudian mengalami retak-retak dengan bias cahaya panca warna melesat keluar dari retakan.


Genta hitam terlihat bergetar keras dan bergerak gerak sendiri.


"Krakkkk..!"


"Kreekkk..!"


Krakkkk..!"


"Kreekkk..!"


Krakkkk..!"


"Kreekkk..!"


"Pyaaarrr...!"


Genta Hitam pecah hancur berantakan, potongan pecahan nya. Menguap di udara terbakar oleh api putih yang berasal dari energi api surgawi.


Tubuh Padri Tua Vindika yang terlindung di dalam Genta hitam yang meledak.


Kini terbelah dua, terlihat tergolek diatas tanah diam tidak bergerak dengan darah menggenang.


Bayangan Buddha Iblis yang hampir bertabrakan dengan serangan penentuan Thian Yi dan Kim Kim.


Kini ikut lenyap tak berbekas, seiring dengan kematian Padri Tua Vindika.

__ADS_1


Baik Thian Yi maupun Kim Kim mereka berdua sama sama menghela nafas lega.


Sambil menarik kembali kekuatan yang hampir mereka lepaskan.


Bila sampai beradu kekuatan dahsyat itu, mereka juga tidak tahu efek apa yang akan timbul.


Bagaimana keadaan alam sekitar, bagaimana nasib mereka berdua setelah pertemuan benturan itu.


Mereka tidak ada satupun yang tahu jawabannya.


Mereka hanya bisa bersyukur benturan tersebut tidak sampai terjadi.


Kim Kim sudah kembali ke bentuk manusia nya, wajahnya yang cantik mengalami beberapa luka lebam dan bengkak.


Akibat di hajar oleh Buddha Iblis ciptaan Vindika.


Thian Yi tidak berani berkomentar, dia hanya menatap kearah wajah istri nya dengan prihatin.


"Thian Yi ke ke,.. wajah ku sakit sakit.."


"Luka di wajah ku parah ya..?"


Tanya Kim Kim sambil meringis menahan rasa nyeri disudut bibir, pipi dan disudut matanya, yang mengalami luka robek dan lebam.


Nan Thian segera menghampiri Kim Kim, dia berkata pelan.


"Pejamkan matamu, biar aku bantu pulihkan luka di wajah mu.."


Kim Kim mengangguk patuh, memejamkan matanya tidak banyak membantah.


Beberapa saat kemudian setelah wajahnya di tempel oleh telapak tangan Nan Thian yang sebentar dingin sebentar hangat.


Saat Nan Thian melepaskan telapak tangannya dari wajah Kim Kim.


Wajahnya sudah kembali mulus seperti semula lagi.


"Thian Yi ke ke bagaimana keadaan wajah ku sekarang..?"


tanya Kim Kim sambil menatap kearah suaminya.


Thian Yi sambil tersenyum lega,


berkata,


"Sudah normal kembali.."


"Terimakasih Nan Thian .."


Ucap Thian Yi sambil menjura memberi hormat dengan tulus.


Nan Thian segera menahan tangan Thian Yi yang hendak menjura kearahnya.


"Tidak perlu, Kim Kim adalah adik ku sudah seharusnya aku membantunya."


"Apalagi kalian jadi susah karena membantu ku, jadi sudah wajar aku membantu kesembuhannya.."


"Itu bukan masalah besar.."


Ucap Nan Thian sambil tersenyum hangat.


Tapi sesaat kemudian, dia segera bertanya dengan serius,

__ADS_1


"Ohh ya hampir lupa.. bagaimana dengan keadaan pasukan barisan pendam kita..?"


"Apa mereka berhasil menyergap sisa pasukan YeSe Bu Hua..?"


"Bagaimana dengan YeSe Bu Hua sendiri apa berhasil di tangkap..?"


Tanya Nan Thian sambil menatap kearah Kim Kim dan Thian Yi secara bergantian.


Thian Yi tersenyum kecut sambil menatap kearah Nan Thian dan Kim Kim yang sedang menanti jawabannya.


Thian Yi berkata pelan,


"Rombongan baris pendam cukup berhasil, mungkin sebentar lagi mereka sudah bisa mengendalikan situasi.."


"Mengenai YeSe Bu Hua maaf aku tidak berhasil menangkapnya.."


"Dia terjatuh ke bawah tebing dan terbawa oleh arus sungai kuning yang sangat deras.."


"Jasadnya hilang tertelan oleh arus sungai kuning.."


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,


"Tidak apa apa, mungkin itu sudah di atur takdir nya.."


"Jangan terlalu di sesali, itu bukan salah siapapun.."


Baru selesai Nan Thian berkata, dari kejauhan sudah terlihat Tang He, Lan Yu, Zhang Yuchun mereka bertiga memimpin pasukan kerajaan Ming, yang membawa tawanan pasukan Mongolia yang jumlahnya tidak sedikit.


Kini mereka semua sudah menyerah, dengan kedua tangan terikat, kepala tertunduk lesu.


Kegarangan mereka selama ini, dalam menindas rakyat Han, kini telah lenyap tak berbekas.


Tergantikan dengan wajah cemas penuh ketakutan, menghadapi keputusan hukuman yang akan di jatuhkan ke mereka semua.


Pintu gerbang kota Kai Feng terlihat mulai di buka dari dalam.


Sesaat kemudian Zhu Yuan Zhang pribadi, di kawal oleh Xu Da, Yue Lin dan Zi Zi .


Mereka berjalan keluar dari balik pintu gerbang, keluar dari dalam sana untuk menyambut kepulangan Nan Thian dan yang lainnya, yang berhasil memenangkan peperangan ini dengan sangat memuaskan.


"Ping An Wang,.. Ping An Kung Cu dan Pendekar Ming Yue Shan.."


"Hari ini kalian kembali mencatatkan sumbangsih jasa besar buat perjuangan kita..."


"Ini benar benar sangat luar biasa mengagumkan, aku Zhu Yuan Zhang dan seluruh rakyat Han, selain hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih.."


"Kami benar benar tidak tahu lagi, bagaimana harus membalas budi besar kalian bertiga.."


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Yang Mulia tidak perlu bersungkan dengan kami.."


"Kira adalah satu keluarga, dengan tujuan sama, saling bantu itu sudah wajar .."


"Lagipula hari ini jelas bukan jasa kami saja, bila hari ini tidak ada bantuan dan perjuangan patriotik Jendral Lan Yu, Zhang Yuchun dan Tang He, beserta seluruh pasukannya.."


"Aku rasa kita juga tidak akan bisa meraih kesuksesan besar ini.."


Ucap Nan Thian merendah.


Tang He dengan cepat menjawabnya,

__ADS_1


"Kalau itu kami tidak berani, karena tanpa pengaturan strategi yang bagus dari Yang Mulia.."


"Kami orang orang kasar ini bisa apa..?"


__ADS_2