
"Nan Thian ke ke, kamu kenapa ?"
Teriak Zi Zi panik dan khawatir.
Zi Zi buru buru duduk bersimpuh di samping Nan Thian , lalu dia dengan cepat menarik Nan Thian masuk kedalam pelukannya.
Zi Zi terlihat memeluk Nan Thian erat erat, sambil terus menerus menangis dan mencoba membantu membangunkan Nan Thian dari pingsannya.
Dengan memanggil nama Nan Thian dan menepuk nepuk pelan kedua pipi Nan Thian secara bergantian.
Nan Thian sendiri dalam pingsannya, dia merasa dirinya sebentar seperti berada di dalam kolam lahar panas.
Sebentar kemudian dia merasa dirinya di masukkan kedalam kolam es.
Hal itu terjadi secara berulang ulang dan terus berlangsung secara bergantian, menyiksa Nan Thian dengan hawa dingin dan hawa panas yang silih berganti.
Saat Nan Thian telah mencapai batas puncak daya tahan tubuhnya.
Dimana dia sudah hampir pasrah, menyerah dengan kondisi yang di alaminya saat ini.
Tiba-tiba dari arah dadanya melayang keluar sebuah kristal, yang memancarkan cahaya panca warna.
Dari kristal tersebut melesat keluar sesosok bayangan, yang seluruh tubuhnya memancarkan cahaya panca warna.
Sosok tanpa wajah tersebut berkata pelan,
"Anak muda, untuk mengontrol Hawa Api dan Es surgawi mu secara total.."
"Tehnik ilmu pengendalian kekuatan alam semesta itu, belum lah cukup..'
"Tehnik itu hanya bersifat menghambat dan mengekang kedua kekuatan itu saja."
"Tehnik itu meski berhasil mengekangnya, tapi secara tidak langsung, tehnik itu justru menghilangkan esensi puncak kekuatan batu api dan batu es surgawi, yang sudah lama, menyatu kedalam tubuh mu.."
Nan Thian bersujud di hadapan bayangan tersebut dan berkata,
"Senior maafkan kebodohan junior.."
"Mohon Sudi kiranya, senior bisa memberikan petunjuk berharga kepada junior.."
"Agar junior bisa terlepas dari segala siksaan kedua kekuatan, yang saling bertentangan itu."
Bayangan tidak berwajah, itu mengangguk pelan, dan berkata,
"Untuk menyatukan kedua kekuatan itu, tanpa mengekang ataupun menghambat puncak kekuatan nya ."
"Itu bukan hal yang mustahil, tapi juga bukan pekerjaan yang mudah ."
"Baiklah, aku akan berikan petunjuk itu untuk mu."
"Tapi bisa atau tidak nya, itu semua tergantung pada kemauan ataupun tekad dirimu sendiri.."
Nan Thian mengangguk patuh dan berkata,
"Terimakasih senior, junior akan berusaha untuk itu.."
Bayangan itu mengangguk pelan, kemudian dia mulai menjelaskan nya ke Nan Thian .
__ADS_1
"Untuk bisa mengendalikan kedua kekuatan yang saling bertentangan tersebut..'
"Karena mereka adalah kekuatan kahyangan.."
"Maka agar tubuh mu mampu mengendalikan nya dengan baik, tanpa menghambat pancaran kekuatan puncak nya."
"Pertama Tama, kamu harus menempa dirimu, memiliki tubuh dewa.."
"Cara agar kamu mendapatkan tubuh dewa, kamu harus lebur batu panca warna, batu api dan es kedalam tubuh mu.."
"Cara meleburnya, kamu bisa gunakan ketiga Kekuatan yang saat ini ada dalam tubuh mu itu, untuk memurnikan SumSum tulangmu.."
"Memurnikan darah mu, memurnikan kekuatan otot mu, dan menempa ulang seluruh struktur tulang didalam tubuh mu.."
"Setelah semua proses itu selesai, seraplah ketiga kekuatan itu, hingga menyatu kedalam aliran darah, otot, tulang dan Sum Sum mu.."
"Seraplah hingga ketiga batu itu hancur, kemudian melebur kedalam seluruh bagian di dalam tubuh mu.."
"Biarkan ketiga kekuatan itu memenuhi seluruh meridian di dalam tubuh mu.."
"Biarkan dia memenuhi seluruh tulang mu, darah mu, sum sum mu, otot mu.."
"Juga termasuk seluruh organ penting di dalam tubuh mu, seperti jantung, paru paru, otak, hati, Limpa, ginjal, lambung dan usus."
"Semuanya biarkan ketiga kekuatan itu memenuhinya, sisanya baru kamu simpan kedalam Dan Tian mu .."
"Segeralah lakukan, sebelum tubuh mu di ledakan oleh kedua kekuatan itu.."
Ucap bayangan tersebut.
Sebelum dia menghilang kedalam batu kristal panca warna, kemudian kembali masuk kedalam dada Nan Thian .
Nan Thian segera mengambil sikap duduk bersila bunga teratai.
Sambil duduk bersila, Nan Thian segera mengumpulkan ketiga kekuatannya.
Dengan menggunakan tehnik pengendali kekuatan alam semesta.
Nan Thian berusaha melakukan petunjuk yang di berikan oleh bayangan, yang berasal dari roh di dalam batu kristal panca warna.
Nan Thian melakukan semua proses itu, secara bertahap.
Proses itu tidak lah mudah.
Terutama rasa sakit, yang Nan Thian derita dalam berbagai proses tersebut, itu sungguh sulit di katakan, maupun di lukiskan lagi.
Tapi berkat tekad nya, yang kuat, selangkah demi selangkah Nan Thian akhirnya berhasil melaluinya.
Nan Thian terus menyerap kekuatan ketiga batu itu, untuk di lebur kedalam tubuh nya, hingga akhirnya ketiga batu itu pecah hancur berkeping-keping.
Tidak lagi terlihat wujudnya di dalam tubuh Nan Thian , kini semuanya telah menyebar merata di dalam tubuh Nan Thian .
Sementara di dalam sana, Nan Thian terus berproses.
Di luar sana, keadaan sebaliknya justru terjadi tanpa sepengetahuan Nan Thian .
Zi Zi yang memeluk erat tubuh Nan Thian, sambil duduk di sana menangis sedih.
__ADS_1
Dia terus berusaha menyadarkan Nan Thian, tapi usahanya sia sia.
Tubuh Nan Thian semakin lama semakin dingin.
Nafas dan denyut nadinya semakin lama semakin melemah hingga akhirnya berhenti semuanya.
Nan Thian yang awalnya masih bisa mengeluarkan syara keluhan kesakitan.
Akhirnya berhenti sama sekali, tidak ada lagi suara keluhan yang terdengar.
Bing Han yang ikut menemani di sana, terlihat sangat prihatin dengan keadaan Zi Zi.
"Zi Zi,.. dia telah tiada.."
"Orang yang telah tiada, tidak mungkin bisa kembali lagi.."
"Kamu harus belajar merelakan dan menerima kenyataan nya.."
"Ini demi kebaikan semua nya, kamu juga harus ingat dan jaga kesehatan mu sendiri.."
Ucap Bing Han dengan suara prihatin.
Zi Zi mengangguk pelan dan berkata,
"Terimakasih Han ke ke, aku paham dan mengerti.."
"Aku paham teori itu.."
"Tapi aku tidak akan pernah tinggalkan dia.."
Bing Han menghela nafas panjang dan berkata,
"Zi Zi bila dia masih hidup, asalkan bersama nya kamu hidup bahagia.."
"Aku tentu tidak akan berkomentar apapun.."
"Tapi kamu lihat sendiri, dia sudah tiada.."
"Apapun yang kamu lakukan, tidak mungkin bisa mengubah kenyataan ini.."
Zi Zi dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya, menatap kearah Bing Han .
Dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Han ke ke maafkan Zi Zi, Zi Zi paham perasaan dan perhatian Han ke ke.."
"Maaf Zi Zi tidak bisa membalasnya, Budi dan perhatian Han ke ke.."
"Zi Zi hanya bisa menerimanya di dalam hati.."
"Han ke ke anggaplah ini permohonan Zi Zi yang terakhir "
"Permohonan Zi Zi yang sangat tidak pantas dan tidak tahu diri.."
"Bila Han ke ke tidak berkeberatan,.."
"Tolong bantu Carikan sebuah peti mati yang bisa muat dua orang di dalam nya.."
__ADS_1
"Tolong bantu kuburkan lah Zi Zi bersama nya.."
Ucap Zi Zi sambil menatap kearah Bing Han dengan tatapan mata penuh permohonan.