
"Kakak aku sungguh merasa puas, setelah melihat mereka menerima ganjarannya.."
Ucap Siao Hung sambil tersenyum manis, menatap kearah Nan Thian .
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Sama sama terlahir sebagai manusia, hanya tempat lahir saja yang berbeda ."
"Bahkan terhadap mahluk hidup lainnya pun, bila tidak di butuhkan untuk mengisi perut yang lapar, seharusnya tidak boleh sembarangan membunuh.."
"Bukankah begitu, dalam kitab kitab filsafat orang suci bijaksana jaman dulu dulu sekali mengajarkan ?"
"Mengapa kini harus ada etnis ini bantai etnis itu, etnis itu bantai etnis ini..?"
"Mengapa..?"
Ucap Nan Thian pelan seperti mengingatkan dirinya sendiri, tapi juga mengingatkan Siao Hung.
Siao Hung terdiam menatap bingung kearah Nan Thian dan berkata,
"Lalu bagaimana kita harus bersikap, apakah harus biarkan mereka hidup..?"
"Membiarkan mereka kembali menindas rakyat Han yang teraniaya ?"
Nan Thian mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya,
"Entahlah,.. kita lakukan sesuai situasi saja.."
"Bila bisa ampuni, ampunilah sebisanya..."
"Bila tidak ya kita bantu langit menindak kejahatan dan ketidak benaran.."
"Tapi kita harus jaga hati tetap netral, yang kita tindak adalah perbuatan mereka.."
"Yang kita hukum adalah perbuatan mereka.."
"Bukan karena etnis suku ataupun lain sebagainya.."
"Karena manusia pada dasarnya sama ada baik ada jahat, ada siang ada malam, ada hitam ada putih."
"Baik dan jahat perbedaan nya setipis rambut, kita harus hati hati sebelum menjatuhkan vonis ke orang lain.."
Siao Hung menatap Nan Thian dengan sepasang mata terbelalak lebar dan berkata,
"Kakak ucapan mu sangat membingungkan.."
"Kakak seperti pendeta tua atau pertapa yang sudah lama tidak hidup di dunia fana saja.."
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Aku hanya meniru dari kitab yang pernah ku baca, untuk di terapkan dalam kehidupan nyata.."
"Bukan aku yang menciptakan nya, kamu tidak perlu kaget begitu.."
"Ayo kita jalan..'
Ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah depan.
Siao Hung segera menyusulnya, dalam perjalanan mereka selama beberapa hari ini.
Siao Hung merasa sangat menyenangkan, dia malah berharap kalau bisa mereka tidak pernah sampai ke kota An Hui, menyelesaikan tugas mereka di sana.
Beberapa saat berlari cepat, Nan Thian dan Siao Hung kembali menemukan kelompok pasukan Mongolia yang jauh lebih besar.
Sedang melakukan perbuatan kejam mereka, membunuh membakar, merampas menculik dan memerkosa di satu kota kecil yang berdiri tidak jauh di hadapan mereka.
"Thian Ke ke lihat di depan sana ada lagi ketidakadilan sedang berlangsung ?"
"Ayo kita kesana.."
Ucap Siao Hung sambil menunjuk kearah kota kecil di depan sana.
__ADS_1
Nan Thian mengangguk, dia segera membawa, Siao Hung melesat cepat kedepan.
Suasana seperti ini yang Siao Hung sangat menyukainya.
Dalam suasana seperti ini, dia merasa seperti sedang di peluk oleh Nan Thian .
Jarak diantara mereka hampir tiada, mereka begitu dekat dan saling bersentuhan, selain itu dia juga bisa menatap wajah Nan Thian dari jarak begitu dekat hingga puas.
Nan Thian tidak menyadari apa yang sedang Siao Hung pikirkan, di pikiran Nan Thian dia hanya ingin cepat cepat tiba ditempat tujuan.
Makanya dia harus melakukan hal ini, tidak ada sedikitpun terlintas di pikiran nya, tentang hal lainnya.
Segera begitu tiba di kota yang sedang mengalami penindasan oleh pasukan Mongolia.
Nan Thian langsung bertindak, menggunakan tapak pemecah karang.
Untuk menghajar pasukan Mongolia yang. berani datang menyerang nya.
"Singggg..!"
"Prakkk...!"
"Singggg..!"
"Prakkk...!"
"Singggg..!"
"Prakkk...!"
Setiap sabetan golok pasukan Mongolia itu, tidak menemui sasaran.
Kepala mereka yang menjadi sasaran telapak tangan Nan Thian pasti pecah ataupun remuk wajahnya.
Semua kejadian berlangsung dengan begitu cepat, sehingga dalam waktu singkat, sudah ada puluhan orang pasukan Mongolia yang terkapar dengan kepala pecah ataupun remuk.
Di samping Nan Thian suara dentingan pedang beradu dan kain kulit daging robek juga terdengar jelas.
Suara teriakan kesakitan juga memenuhi tempat tersebut.
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
Siao Hung bergerak lincah dengan pedangnya, membabat leher semua lawan di dekatnya.
Melihat korban berjatuhan di pihak nya, pimpinan pasukan tersebut.
Segera berteriak agar pasukannya berkumpul semuanya, fokus menghadapi Nan Thian dan Siao Hung.
Pasukan Monggolia segera berkonsentrasi jadi satu, bergerak menerjang kearah Nan Thian dan Siao Hung sambil berteriak teriak untuk meningkatkan semangat dan nyali mereka.
Melihat hal ini, Nan Thian kembali melepaskan jurus,
"Naga Keluar Dari Sarang...!"
Kini yang melesat kedepan dan meraung marah, bayangan Naga Emas nya jauh lebih banyak.
Total mencapai 18 ekor, semua nya meliuk liuk diudara, bergerak cepat menabrak pasukan Monggolia, yang sedang berusaha mendekati Nan Thian dan Siao Hung .
"Brakkkk...!"
"Brakkkk...!"
__ADS_1
"Brakkkk...!"
"Brakkkk...!"
"Brakkkk...!"
"Ahhhhhhh..!"
Tubuh pasukan Mongolia pada terpental keudara, masing masing berteriak kaget bercampur ngeri dan kesakitan.
Saat terbanting jatuh keatas tanah, tidak ada yang mampu bangkit berdiri lagi.
Mereka hanya merintih rintih kesakitan diatas tanah.
Setelah melepaskan puluhan kali serangannya dengan jurus yang sama dan di ulang ulang.
Akhirnya habislah pasukan yang berusaha menerjang kearah Nan Thian dan Siao Hung .
Pimpinan pasukan Mongolia belum putus asa, dia segera memberi perintah kepada pasukannya agar membalas menyerang dengan anak panah.
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Kini anak panah berhamburan di udara kemudian jatuh kebawah bagaikan hujan turun dari langit.
Tapi semua anak panah tertahan oleh energi pelindung yang Nan Thian ciptakan.
Panah panah tersebut terhisap masuk kedalam perisai, tapi sesaat kemudian semua anak panah itu, diretur kembali oleh Nan Thian .
Langsung di kembalikan kearah pasukan kerajaan Mongolia, yang di tugaskan untuk menembakkan anak panah tersebut ke arah Nan Thian dan Siao Hung .
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Ahhhhhhh..!"
Ahhhhhhh..!"
Ahhhhhhh..!"
Terdengar suara jerit dan teriak kesakitan anak buah pasukan Mongolia yang di tugaskan untuk melepaskan anak panah.
Alhasil, bukan Nan Thian dan Siao Hung yang berteriak kesakitan.
Justru pasukan Mongolia lah yang pada terpental kebelakang menjerit kesakitan.
Dengan tubuh terkena panah returan mereka sendiri.
Pimpinan pasukan dan beberapa pengawalnya, memilih melarikan diri.
Saat mereka melihat, pasukan mereka, tidak akan bisa menandingi Nan Thian dan Siao Hung lebih jauh lagi.
Nan Thian tentu tidak Sudi melepaskan nya begitu saja.
Dengan menghentakkan kakinya keatas tanah.
Hingga bebatuan di bawah sana terpental naik keatas. Nan Thian mendorong kedua tangannya kearah bebatuan itu dan berteriak "Naga Menabrak Langit..!'
"Arggghhh...!"
Terdengar suara jerit ngeri pimpinan pasukan dan beberapa pengawal nya.
__ADS_1
Mereka secara hampir bersamaan, langsung terjatuh dari atas punggung kuda tunggangan mereka.