
"Tadi aku sudah menyerang mu, dan kamu kelihatan nya baik baik saja."
"Itu sudah terhitung satu jurus, tinggal sisa 4 jurus lagi, kamu sudah bisa memenangkan hadiah utamanya.."
"Bagaimana? apa saudara Tek Hoat berminat..?"
Tek Hoat menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sayangnya aku tidak berminat dengan ilmu pusaka orang lain.."
Wanita itu menatap heran kearah Tek Hoat dan berkata,
"Apa boleh aku tahu alasannya..?"
Tek Hoat sambil tersenyum penuh percaya diri berkata,
"Ilmu pusaka ku sendiri juga masih banyak yang belum berhasil aku kuasai ."
"Buat apa aku pergi mencari dan mempelajari ilmu pusaka orang lain.."
"Itulah jawaban nya, sangat sederhana bukan..?"
Wanita itu mengangguk pelan dan berkata,
"Kalau boleh tahu, bila kitab pusaka, saudara Tek Hoat tidak tertarik."
"Lalu kira kira barang apa, baru bisa membuat saudara Tek Hoat tertarik.."
Tek Hoat tersenyum santai dan berkata,
"Kecuali kamu punya buah persik kahyangan dari Xi Wang Mu.."
"Dan buah 7 kepintaran Ling Long.."
"Di luar itu, aku tidak tertarik.."
"Kalau aku katakan kami punya, apa kamu tertarik untuk mencoba menghadapi kami bertiga..?"
Tanya wanita itu sambil tersenyum penuh percaya diri.
Tiba tiba dari arah bangku penonton sebelah selatan, terlihat seorang wanita berkerudung dan bercadar, bangkit berdiri dan berkata,
"Suami ku cukup,..ayo kita pulang..!"
"Aku tidak akan pernah menerima semua nya, bila kamu terima lagi tantangan mereka..!"
Ucapan suara halus lembut itu ternyata sangat berpengaruh.
Tek Hoat seketika terdiam dan terlihat ragu sejenak.
Sebelum akhirnya dia memilih menjura kearah wanita itu.
Setelah itu dia langsung mengambil semua sumberdaya yang menjadi haknya, dia masukkan kedalam sebuah kantong kain besar.
Selanjutnya tanpa menoleh atau berkata apapun, Tek Hoat langsung menghilang dari hadapan wanita itu.
__ADS_1
Saat muncul lagi, dia sudah membawa wanita berkerudung yang menegurnya bergerak cepat meninggalkan tempat itu.
Pergi dan datang sesuka hati, itulah Tek Hoat, di dunia ini yang mungkin bisa mengontrolnya, mungkin cuma wanita itu.
Wanita pimpinan Sekte Diatas Langit Masih Ada Langit menghela nafas kecewa.
Dia tadi sudah menyaksikan sendiri, kehebatan Tek Hoat, yang membuatnya semakin penasaran adalah Tek Hoat dadanya yang tadinya terlihat lebam.
Hanya dalam satu tarikan nafas saja, luka lebam didada Tek Hoat sudah hilang, dia sudah pulih total.
Kondisi ini yang membuat ketua wanita Sekte Diatas Langit Masih Ada Langit sangat tertarik ingin menahlukkan Tek Hoat, agar tunduk pada Sekte nya.
Tapi sayangnya pancingan nya, telah di gagalkan oleh wanita yang datang bersama Tek Hoat.
Wanita itu sambil menghela nafas panjang, dia segera melesat naik keatas, kembali duduk melayang bermeditasi di angkasa sana.
Sementara itu di sekeliling arena pusat.
4 arena lainnya yang di isi oleh Ketua Genk Naga Hijau, Ketua genk Harimau terbang, ketua sekte air langit dan ketua sekte takdir Langit sudah mulai berlangsung sengit.
Arena pertama yang di isi oleh Hon Bu ketua genk Naga Hijau melawan Petugas Arena Pertama .
Di mulai dengan serangan Hon Bu yang menggunakan golok panjang yang biasanya di sebut Kwan Tao.
Kwan Tao adalah sejenis senjata tongkat dengan bagian ujung di pasangi dengan mata golok besar.
Golok tingkat panjang ini, sangat terkenal, karena di gunakan oleh Kwan Yu, atau Kwan Yun Zhang di era dinasti Han akhir, di jaman tiga negara berperang.
Makanya golok panjang jenis ini di sebut dengan Kwan Tao, atau Golok Kwan.
Dia langsung memberikan tebasan garang dari atas kebawah dalam jarak 2 meteran kearah Petugas Arena Pertama .
Petugas Arena Pertama pertama menanggapi serangan tersebut dengan menggeser kakinya kesamping.
Sehingga serangan pun jatuh menimpa kearah lantai arena, yang terlindungi oleh energi formasi mantra.
Sehingga lantai arena tetap mulus meski di hantam oleh kekuatan senjata golok panjang Hon Bu.
Tapi Hon Bu yang ahli memainkan golok panjang, serangannya tentunya tidak hanya berhenti di sana.
Begitu tebasan golok panjang nya kehilangan sasaran, dia langsung membelokkan goloknya melakukan tebasan kesamping. Mengejar Petugas Arena Pertama yang bergerak menghindar kesamping.
Tapi lagi lagi tebasan nya kehilangan sasaran karena Petugas Arena Pertama sudah menghindar dengan menarik tubuhnya kebawah.
Sambil bergerak memberikan sapuan keras di bawah menyerang lutut kaki Hon Bu.
Serangan yang mendatangkan angin berkesiur dan cahaya kuning terang.
Lewat di bawah kaki Hon Bu yang sudah melompat keatas, sambil memberikan Tebasan Golok panjang ke bawah.
Petugas Arena Pertama tidak takut dengan Tebasan mata golok Hon Bu.
Dengan menekan sepasang telapak tangan nya ke lantai arena.
Tubuhnya melesat keatas kaki kanan menyambut sambungan mata golok.
__ADS_1
Sedangkan kaki kiri terus meluncur keatas mengancam pusaka rahasia Hon Bu.
Bila terkena tendangan tersebut Hon Bu auto menjadi Kasim, alias pria kemayu.
Tapi ada yang aneh, Hon Bu yang jelas melihat ada serangan kaki mengincar bagian pusaka nya.
Hon Bu tidak menghindar ataupun menangkis.
Golok panjangnya yang tertahan oleh tendangan kaki Petugas Arena Pertama .
Dia belokkan untuk menebas kaki Hon Bu yang mengincar senjata pusaka nya.
"Desss...!"
"Brettt...!"
Petugas Arena Pertama sangat kaget, saat tendangan nya tiba, dia hanya mengenai daging lembek.
Pusaka Hon Bu lenyap dari posisi itu, dalam kagetnya kaki Petugas Arena Pertama sudah terkena tebasan golok panjang Hon Bu.
Untungnya kakinya terlindung oleh energi cahaya kuning yang membungkusnya.
Sehingga Golok panjang Hon Bu tidak sampai menyebabkan kaki putus ataupun terluka.
Di saat Hon Bu di kagetkan oleh kekebalan Petugas Arena Pertama .
Sebuah tendangan keras dari kaki Petugas Arena Pertama , sudah mendarat di perut Hon Bu.
Membuat Hon Bu terpental keudara.
Di saat posis Hon Bu sedang terpental itulah, Petugas Arena Pertama melepaskan tebasan kuat cahaya kuning berbentuk golok menyerang Hon Bu.
Hon Bu yang merasa isi perutnya di buat jungkir balik oleh tendangan tersebut.
Sehingga mendatangkan rasa mules dan nyeri yang membuat dirinya bercucuran keringat dingin.
Kini dengan datangnya serangan cahaya kuning berbentuk golok mengejarnya.
Hon Bu dalam posisi terdesak dia hanya bisa melintangkan golok panjangnya untuk menahan serangan tersebut.
"Crasssh...!"
Golok panjang terbelah dua, Hon Bu juga terpental seperti layangan putus.
Sebelum akhirnya jatuh tergeletak di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Anak buah Hon Bu segera maju menggotong nya kembali ke tempat duduk mereka.
Hon Bu selain mengalami luka robek dari perut ke dada, bagian organ dalamnya juga sedikit terguncang.
Rasa sakit luar biasa, membuatnya kehilangan kesadaran diri.
Tapi setelah di bantu minumkan pil teratai salju dari Sekte Diatas Langit Masih Ada Langit.
Keadaan Hon Bu akhirnya berangsur angsur membaik.
__ADS_1