
Nan Thian tidak menanggapinya, dia hanya berkata pelan,
"Dasar bawel, urus saja Thian Yi mu sana.."
Setelah itu dia langsung melesat menghilang dari samping Kim Kim.
"Hei tunggu kak, mau kemana kamu..!"
Teriak Zi Zi sambil melakukan pengejaran.
Dia tidak menghiraukan sama sekali Omelan yang Nan Thian lepaskan.
Seolah olah sudah biasa dan kebal, justru dia senang bila bisa menganggu dan membuat sahabatnya yang kaku itu kesal.
Semakin kesal Nan Thian , dia semakin suka menggodanya.
Ditempat lain Siao Hung setelah berlari cukup jauh hingga nafas memburu.
Dia akhirnya berhasil kembali kedalam kamar nya.
Siao Hung buru buru menutup pintu dan bersembunyi memunggungi pintu.
Dengan nafas terburu buru Senin Kamis, Siao Hung menggunakan, kedua telapak tangannya.
Menutupi wajahnya sendiri rapat rapat.
Dia benar benar merasa sangat malu dan kehilangan muka. Dia masih terus berdiri bersandar di balik pintu.
Hingga nafasnya sudah kembali teratur, guncangan perasaannya sudah lebih tenang.
Dengan langkah lesu dia akhirnya kembali ke kasurnya.
Dia langsung berbaring, menarik selimut untuk menutupi kepalanya.
Dengan bersembunyi di balik selimut, dia seolah olah ingin menutupi perasaan malunya.
Atas semua kejadian yang berlangsung di taman tadi.
Seumur hidup dia belum pernah merasa dirinya begitu memalukan.
Sialnya lagi semua ini harus terjadi di depan pemuda rambut putih itu pula.
Pemuda yang selalu berhasil merebut perhatian nya dan membuatnya tidak berdaya untuk menolaknya.
Siao Hung yang terus larut dalam pikirannya sendiri akan si kepala kepompongnya.
Akhirnya dia terlelap juga, tapi baru saja dia terlelap.
Tiba tiba dia samar samar mendengar ada suara ketukan di pintu kamarnya.
Karena terlalu berisik, akhirnya Siao Hung dengan sangat terpaksa.
Dia melepaskan selimut yang menutupi kepalanya, kemudian dengan wajah mengantuk dan mata setengah terpejam.
Dia turun dari kasur pembaringannya, lalu berjalan dengan kaki setengah di seret sambil menguap dia pergi membuka pintu kamar.
Ternyata yang berdiri didepan kamarnya adalah ayahnya Sun Jian.
"Siao Hung cepat lah bersiap siap, hari sudah hampir pagi, kita jangan sampai telat.."
__ADS_1
"Tidak enak kalau sampai Tuan Liu menunggu kita.."
Ucap Sun Jian serius.
Siao Hung menanggapinya dengan anggukan pelan, sambil menguap dia menutup kembali pintu kamarnya.
Lalu pergi cuci muka berganti, merapikan diri.
Setelah itu dengan wajah masih sedikit mengantuk, dia mengikuti ayahnya menunggu kedatangan Acuan di halaman depan kamar mereka.
Tidak berselang lama, Siao Hung menanti, Acuan pun tiba,. dengan tubuh terbungkuk bungkuk.
Acuan segera mempersilahkan Sun Jian dan Siao Hung mengikutinya menuju pintu halaman samping,
Di mana di sana saat mereka tiba, ternyata kereta kereta barang sudah terikat rapi suap diberangkatkan.
Acuan segera membawa Sun Jian dan Siao Hung menemui Liu Cong Kuan.
Setelah berhasil menemukan Liu Cong Kuan, yang terlihat sedang sibuk melakukan pemeriksaan terhadap kekuatan tali tali, yang mengikat barang barang di kereta.
Acuan segera membawa Sun Jian dan Siao Hung ikut dengannya menyapa Liu Cong Kuan.
"Liu Cong Kuan, ini perkenalkan Tuan Sun dan nona Sun, mereka ingin ikut dengan ekspedisi kita ke Nan Jing.."
"Mereka ini adalah titipan khusus dari Tai Ping Wang, jadi mohon dibantu jaga dengan baik..tidak boleh ada kesalahan.."
Ucap Acuan menyampaikan sesuai pesan dari Nan Thian .
Liu Cong Kuan mengangguk dan berkata,
"Terimakasih Acuan, aku mengerti."
Acuan mengangguk, setelah mengucapkan pamit ke Sun Jian dan Siao Hung dengan penuh hormat.
Acuan segera berlalu dari sana.
Liu Cong Kuan sambil tersenyum ramah, menatap kearah Sun Jian dan Siao Hung, lalu berkata,
"Nama ku Liu Ta, panggil saja saya Ata, atau paman Ta bebaslah.."
"Mari tuan Sun ..nona Sun, kereta buat tuan sudah saya siapkan ada di sebelah depan sana.."
Ucap Liu Cong Kuan penuh hormat.
Sun Jian dan Siao Hung menanggapinya dengan membalas menjura.
Lalu mereka berdua segera berjalan mengikuti Liu Cong Kuan, menuju kereta yang sudah di persiapkan untuk mereka.
Sepanjang jalan menuju kereta, Siao Hung berulang kali menoleh kebelakang.
Dia sedikit berharap Nan Thian akan muncul di sana mengantar kepergian nya.
Tapi harapan nya sia sia, sampai dia baik keatas kereta, kereta berangkat meninggalkan kediaman Nan Thian .
Hingga keluar dari pintu gerbang sebelah timur kota An Hui.
Nan Thian sama sekali tidak terlihat datang untuk sekedar mengantar kepergiannya.
Saat kereta meninggalkan pintu gerbang kota An Hui, Siao Hung masih sempat menjulurkan kepalanya keluar dari jendela kereta.
__ADS_1
Menoleh kearah belakang, seolah olah hatinya belum rela meninggalkan kota tersebut.
Sun Jian paham tapi dia diam saja, tidak menegurnya.
Dia membiarkan saja, tidak mau mengusik putrinya yang sedang mengalami kekecewaan.
Di tempat lain tepatnya di kediaman Nan Thian, pagi itu Nan Thian dan Kim Kim justru terlihat duduk santai menikmati sarapan pagi.
Mereka ada di Ting tengah kolam yang menjadi tempat favorit mereka bersantai maupun makan.
Sambil menikmati makanan yang hampir memenuhi meja.
Kim Kim sambil menyumpit menu makanan favoritnya.
Dia berkata,
"Kakak kakak tidak pergi mengantar kepergian nya..?"
"Apa tidak sedikit kelewatan..?"
Nan Thian dengan wajah kulkas nya berkata,
"Semalam bukannya kamu bilang jangan suka tebar pesona..?"
"Pakai merasa tidak pantas untuk Zi Zi segala..?"
"Lalu kini kamu ingin aku pergi mengantarnya..?"
"Sebenarnya apa yang kamu mau ? mau lihat aku jadi bahan olok olok mu..?"
Ucap Nan Thian sambil menyumpit sepotong Cai Pao untuk di masukkan kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya dengan sikap tenang.
Kim Kim sambil menahan senyum berkata,
"Ya sudah kalau tidak mau..?"
"Aku kan cuma bertanya, tidak menyuruh mu.."
"Dasar picik.."
Nan Thian langsung menghentikan sumpitnya di udara, melirik kearah sahabatnya dengan alis berkerut.
Tapi Kim Kim malah berpura-pura tidak melihatnya, menoleh kearah lain.
Sambil bersenandung kecil dengan ekspresi wajah yang membuat Nan Thian semakin sebal.
Sementara Nan Thian dan sahabatnya sedang menjalankan rutinitas beradu mulut.
Ditempat lain rombongan Liu Cong Kuan mulai memasuki wilayah kawasan hutan sebelah timur kota An Hui.
Hutan berbukit yang di kelilingi oleh tebing terjal di kanan kiri.
Membuat perjalanan sedikit melambat.
Saat perjalanan sedikit menurun dan memasuki sebuah kawasan celah sempit.
Tiba tiba di depan sana muncul sekelompok orang yang berpakaian hitam dan mengenakan penutup muka menghadang di depan sana .
Sesaat setelah bagian depan di hadang, bagian belakang tepatnya di mulut jalan celah sempit.
__ADS_1
Juga muncul sekolompok orang berpakaian hitam, muncul menutupi jalan mundur Liu Cong Kuan dan rombongannya.