PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Keputusan Nan Thian


__ADS_3

"Ayah ibu.


kalian telah datang.."


Ucap Nan Thian sambil melompat turun dari kereta nya.


Ye Hong Yi menatap Nan Thian penuh teguran dan berkata,


"Kami tadi malam sudah bahas dengan ayah mu.."


"Pagi pagi kami pergi mencari mu.."


"kamu tidak ada, menurut Zi Zi kamu mungkin ada di sini.."


"Ternyata kamu benar ada di sini.."


"Dasar bocah edan, tidak jaga anak istri,


malah kemari jaga kuda.."


Nan Thian hanya tertunduk diam tidak berkata kata.


"Dia sadar ucapan ibunya benar.."


"Dia berbuat begini, agak bersalah pada Zi Zi.."


"Tapi dia juga tidak mau seperti ini, hanya saja kondisi membuatnya harus memilih."


Nan Thian yang tidak pandai bicara hanya bisa tertunduk di tegur oleh ibunya.


Melihat hal ini, Yue Feng pun maju menengahi dan berkata,


"Sudahlah dia sudah besar, Thian Er pasti ada pertimbangan nya sendiri.."


"Pagi pagi jangan ribut di sini.."


"Tidak enak di lihat..'


"Lebih baik, kita berbicara bertiga di sebelah sana.."


"Di sana suasana lebih tenang dan nyaman.."


Ye Hong Yi mengangguk pelan, mencoba untuk mengerti dan tidak memperpanjang nya lagi.


Dia juga paham putranya yang pendiam dan terlihat penurut itu, sebenarnya adalah yang paling kepala batu dan paling membuatnya khawatir.


Dia juga sebenarnya sangat kasihan dengan nasib putranya ini.


Seumur hidupnya selalu dirundung cobaan berat yang tiada putusnya.


Nan Thian dengan kepala tertunduk mengikuti ayah ibunya dari belakang menuju deretan hutan bambu rindang yang tumbuh di tepi jurang sana.


Saat tiba di lokasi yang sepi, Yue Feng dan Ye Hong Yi pun menghentikan langkahnya.


Yue Feng tidak berkata apa apa, dia membiarkan istrinya yang berbicara.

__ADS_1


Menyampaikan kesepakatan yang mereka ambil bersama semalam.


Setelah dia menceritakan semua nya ke Istri nya, tentang kondisi keadaan Nan Thian , serta hubungan nya dengan Siao Hung yang kini telah meninggal dan Siao Lung cucu laki laki mereka yang hilang tanpa jejak yang jelas.


Ye Hong Yi menatap putranya lekat lekat dan berkata,


"Thian er yang pergi tidak akan kembali, saat ini yang terpenting adalah kamu menjaga dan memberikan perhatian pada mereka yang ada di sisi mu.."


"Jangan sampai bila terjadi sesuatu pada mereka kamu baru menyesal.."


"Kamu mengerti kan maksud ibu..?"


Nan Thian mengangguk pelan, dia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk saja.


Memang begitulah sifatnya, bila di hadapan ibunya, dia tidak pernah banyak bicara.


Dia cenderung menghindar berbicara banyak, agar tidak membuat ibu nya emosi.


Ini memang sifat bawaan Ye Hong Yi yang tidak bisa sabar dan penuh emosi.


Ini sudah berlangsung sejak gadis sampai sekarang, dia masih sama, tidak pernah berubah.


Mungkin inilah yang di katakan, Sungai dan gunung bisa di ubah, sifat dasar manusia itu sulit.


Untungnya dia punya suami Yue Feng yang penyabar dan sangat pengertian.


Jadi selama ini, setelah sekian puluh tahun bersama, mereka jarang bertengkar.


Boleh di bilang hampir tidak pernah bertengkar karena Yue Feng selalu mengalah.


Yue Feng tentu pernah mendengarnya, hanya saja dia pura pura tidak mendengarnya.


Kalaupun ada yang berkata di depan nya, mencelanya takut istri.


Dia hanya berkilah dengan bukan takut istri tapi dia menghormati istri.


Ye Hong Yi yang melihat Nan Thian diam saja. Dia kembali melanjutkan berkata,


"Thian er mengenai Siao Hung dan putra mu Siao Lung ibu juga turut prihatin.."


"Kamu ingin membangun pondok untuk nya di Xu Shan bukannya tidak boleh.."


"Tapi karena tempat ini sebenarnya adalah hak paman guru Li Fei Yang.."


"Tanpa persetujuan darinya, ibu tidak berani ambil keputusan.."


"Saran ibu, sebaiknya kamu rundingkan dulu dengan Zi Zi bila dia setuju.."


"Kalian harus ijin dulu ke paman guru Li Fei Yang, bila beliau setuju ibu tidak ada pendapat.."


"Ibu harap kamu mengerti posisi kami di sini hanya mewakili paman guru mengurus perguruan dan tempat ini.."


Nan Thian tidak menyela,.dia juga tidak berkata apa-apa, selain menganggukkan kepalanya.


Meski tidak berkata apapun, tapi Nan Thian di dalam hati sudah mengambil keputusan.

__ADS_1


Dia tidak akan jadi meneruskan rencana yang ribet dan berentet kemana mana.


Nan Thian sudah ambil keputusan, dia akan tinggal beberapa hari di Xu Shan.


dan mencoba pergi menemui tabib dewa, membawa sample darah Siao Hung.


Setelah itu dia akan langsung menuju Hua San.


Dia akan membawa rombongan keluarga nya mengunjungi puncak Yu Ni Feng yang merupakan kediaman hadiah dari gurunya.


Nan Thian berencana menggunakan Goa Api Surgawi, Goa yang dia temukan sendiri.


Gia itu sepenuhnya adalah milik nya, Nan Thian akan buatkan tempat peristirahatan untuk Siao Hung di sana.


Di sana tentu aman, tidak akan ada yang melarang juga menganggu ketenangan Siao Hung .


Setelah mendengarkan wejangan panjang lebar dari ibunya, di mana Nan Thian hanya menanggapi dengan anggukan dan kepala tertunduk.


Setelah ibunya capek sendiri dan menghentikan ocehannya.


Nan Thian akhirnya buka suara juga,


"Ibu apa ada hal lainnya..?"


"Bila tidak ada Thian er mau pergi melihat keadaan Zi Zi dan Ying Ying.."


Ye Hong Yi, dengan wajah yang menunjukkan perasaannya yang campur aduk dan sulit dia ungkapkan.


dia akhirnya mengangguk dan berkata,


"Baiklah kamu pergilah.."


Nan Thian memberi hormat, lalu berlalu dari sana.


Saat berpapasan dengan ayah'nya yang pura pura cuek tidak mau terlibat.


Nan Thian sengaja mengirim pesan suara yang hanya bisa terdengar oleh ayahnya.


"Ayah Thian er minta tolong, selama beberapa hari ini.."


"Tolong tugaskan orang untuk membantu Thian er menjaga jasad Siao Hung .."


Yue Feng mengangguk pelan, tanpa di pesan pun dia memang akan meminta penjaga pos untuk mengawasi kereta Nan Thian .


Melihat anggukan ayahnya, Nan Thian pun melangkah pergi dengan hati tenang.


Dia segera kembali kesisi anak istrinya, untuk menebus perasaan bersalah nya.


Beberapa hari kemudian Nan Thian benar benar membawa rombongan keluarga nya meninggalkan Xu Shan.


Bagaimana ibunya melarang, dia tetap dengan tekad nya. Alasannya Nan Thian yang paling kuat dan tak terbantahkan adalah dia ingin mengunjungi Li Fei Yang.


Alasan ini adalah senjata sakti untuk membungkam ibunya, karena saat ini orang yang paling di segani di dunia ini ya hanya tinggal Li Fei Yang mertuanya itu.


Zi Zi sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan sikap dan jalan pikiran suaminya.

__ADS_1


Bagi dia yang penting bisa selalu mendampingi kemanapun Nan Thian pergi dia sudah puas, tidak akan menuntut hal lainya.


__ADS_2