PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENGUNJUNGI TABIB HUA


__ADS_3

Setiap orang di sekitar yang di lewati oleh es tipis diatas lantai yang menyebar luas dengan sangat cepat langsung membeku, bagian kaki sampai pinggang.


Sehingga mereka pada tertahan di tempat, tidak bisa bergerak kemana mana.


Hanya bisa meraung dan mencakar kesana kemari, tapi tidak bisa bergerak kemanapun mereka mau.


Nan Thian terus bergerak dari satu area pindah kearea lain, secara terus menerus.


Sambil melakukan trik yang sama, akhirnya seluruh kota Nan Jing, di buat menjadi lautan es beku.


Kota tersebut tersegel es beku berserta isinya, tidak ada satu orang pun yang lolos dari pembekuan tersebut.


Baik yang terjangkit ataupun tidak, bagi mereka yang kakinya bersentuhan dengan lantai, seketika di buat tidak mampu bergerak.


Dengan bagian pinggang kebawah membeku di selimuti es tebal.


Sambil bergerak kesana kemari,Nan Thian berkata,


"Kim Kim segera berangkat ke Xu San, Jemputlah tabib Hua kemari..!


"Aku rasa hanya dia yang tahu caranya, mengatasi semua ini..!"


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Baik Kak..,!"


Dia kemudian langsung melesat meninggalkan tempat tersebut, dia paham benar berapa seriusnya masalah saat ini.


Jadi tidak berani menundanya sama sekali.


Kim Kim terbang dengan sangat cepat menuju Xu San yang terletak di antara deretan pegunungan Kun Lun Dan di sebelah barat.


Sedangkan Nan Thian setelah menyelesaikan tugas nya, dia memilih duduk bersila di atas puncak tertinggi pagoda lantai 9.


Tidak ada yang bisa dia lakukan di sana selain menunggu kedatangan tabib Hua.


Sementara itu Kim Kim setelah berjuang keras, akhirnya dia tiba juga di puncak gunung Xuan Wu, salah satu dari 4 puncak yang mengelilingi Xu San.


Di puncak Xuan Wu di sebuah tempat rahasia yang di kelilingi oleh barisan bebatuan gunung.


Di sanalah tabib Hua Sin, tabib dewa yang sudah pensiun mengundurkan diri.


Tabib Hua Sin ini, adalah kakak seperguruan nya Thian Tu.


Kemampuan ilmu pengobatan yang di milikinya, sudah tidak perlu di ragukan lagi..


Kim Kim yang sudah beberapa kali datang berkunjung ketempat ini.


Dia tanpa kesulitan segera mengajak Siao Hung dan Thian Yi mengikutinya.


Melewati jalan rahasia, hingga tiba di depan pondok sederhana yang merupakan tempat tinggal Tabib Hua Sin dan cucunya Hua Lung .


Huang Lung yang sedang menyiram tanaman obat obatan, melihat kedatangan Kim Kim .


Dia merasa sangat gembira dan surprise, karena diam diam Hua Lung menaruh perasaan terhadap Kim Kim.

__ADS_1


Tapi Hua Lung saat melihat kedatangan Kim Kim kali ini, membawa dua tamu lainnya.


Terutama sikap Kim Kim terhadap Thian Yi, Hua Lung segera menyadari, dirinya tidak akan punya kesempatan lagi.


Dia harus menerima kenyataan bahwa perasaan nya hanya terjadi satu pihak saja.


Alias bertepuk tangan sebelah, Hua Lung dengan sedikit tersenyum pahit.


Dia segera menghentikan kegiatannya, lalu dia segera berjalan menghampiri Kim Kim dan berkata,


"Adik Kim Kim bagaimana kabar mu.."


"Tumben tiba tiba kamu kemari, mana adik Thian ? kenapa tidak terlihat bersama mu..?"


"Dan mereka ini..?"


Tanya Hua Lung mencoba bersikap senormal mungkin.


Berusaha berlapang dada, mengerti dan siap menerima kenyataan


Tapi saat dengar Kim Kim menjawabnya dengan polos,


"Kenalkan ini Thian Yi kekasih ku..!"


"Sedangkan yang ini, dua adalah adik Siao Hung teman perjalanan aku dan Nan Thian ke ke.."


Hua Lung mengangguk pelan, ke Thian Yi dan Siao Hung sambil menjura memberi hormat.


Mereka segera saling menjura memberi hormat.


"Kakak Lung, mana kakek mu,? kami membutuhkan bantuan nya.."


"Paman guru mu Thian Tu, kini muncul di daerah Nan Jing.."


"Dia meracuni seluruh penduduk kota tersebut.."


"Kamu berharap kakek mu mau turun tangan membantu.."


Hua Lung mengangguk cepat dan berkata,


"Kakek ada di dalam pondok mari saya antar kedalam.."


Kim Kim mengangguk pelan, lalu dia segera mengikuti Hua Lung berjalan masuk kedalam pondok.


Sedangkan Thian Yi dan Siao Hung, mereka mengikuti di belakang Kim Kim, tanpa banyak bicara.


Saat memasuki pondok kediaman Hua Sin, bau obat yang menyengat segera bisa mereka bertiga rasakan.


Mereka bertiga berdiri diam di sana, tidak ada yang berani bersuara.


Hanya menatap lurus kedepan, di mana Hua Sin terlihat sedang fokus dengan seekor kelinci yang tergeletak tidak bergerak sama sekali.


Hua Lung juga tidak berani bersuara menegur kakek nya


Dia hanya berdiri diam di tempat.

__ADS_1


Menunggu kakeknya menyelesaikan tugas nya.


Hua Sin dengan hati hati menusukkan sebatang jarum perak halus, tepat di bagian kepala kelinci yang tidak bergerak lagi.


Jarum tepat di tusukan di bagian tengah tengah dahi, yang terletak di tengah tengah sepasang mata kelinci yang sedang terpejam rapat.


Begitu jarum di tusukkan, secara ajaib, kedua kaki belakang kelinci itu tiba tiba bergerak.


Tapi hanya sedetik saja, sedetik kemudian kedua kaki belakang kelinci tersebut kembali diam tidak bergerak.


Hingga jarum di tengah keningnya, di cabut oleh tabib Hua.


Sesaat kemudian sepasang kaki belakang kelinci itu kembali bergerak gerak.


Perutnya kembali mengembang mengempis dengan teratur,pertanda dia sudah mulai bisa bernafas.


Tidak butuh waktu lama, kelinci tersebut sudah bisa melompat bangun.


Kemudian dia menatap sekitarnya sesaat dengan bingung.


Tapi tidak lama kemudian kelinci itu segera berlompatan cepat, meninggalkan tempat tersebut lewat jendela.


Kakek Hua tersenyum puas, lalu dia menoleh kearah Kim Kim dan yang lainnya.


"Hai nona Kim Kim apa kabar mu..?"


"Kenapa kamu tiba tiba kemari..?"


"Mana Yue Nan Thian Ta Sia..?"


tanya Tabib Hua sambil membereskan peralatan yang dia pergunakan sebelumnya.


"Terimakasih tabib Hua, aku baik baik saja.."


"kedatangan ku kali ini atas permintaan kakak ku Nan Thian.."


"Dia sendiri ada di kota Nan Jing tidak kemari."


"Dia minta aku kemari untuk menjemput Tabib Hua, karena hampir seluruh penduduk kota tersebut kini sedang dalam masalah.."


Ucap Kim Kim menjelaskan dengan cepat.


"Masalah apa ? coba jelaskan ?"


Tanya Tabib Hua dengan alis berkerut.


"Maaf tabib Hua, ini menyangkut adik seperguruan anda Thian Tu.."


"Dia saat ini sedang berada di sekitar kota Nan Jing, dia berada diantara pasukan Zhang Shide."


"Dia membantu Zhang Shide, menggunakan mayat pasukan Zhu Yuan Zhang yang gugur di Medan perang. Untuk di beri racun wabah menular.."


"Kemudian mayat mayat itu, di lemparkan masuk kedalam kota Nan Jing, dengan mesin pelontar batu.


"Sehingga kini seluruh kota terjangkit wabah, yang membuat manusia kehilangan akal sehat. saling menyerang seperti binatang kelaparan."

__ADS_1


"Nan Thian ke ke berpikir, selain tabib Hua yang turun tangan sendiri. Tidak akan ada lagi, tabib lain yang sanggup menangani masalah ini.."


__ADS_2