
Nan Thian mengangguk paham dengan cerita Yue Lin, kemudian dia berkata,
"Suatu hari pasti akan terjadi kudeta berdarah dalam keluarga kerajaan tersebut.."
"Kakak ini saran ku, aku juga sudah bosan hidup sebagai pejabat.."
"Bila kakak berkenan, dalam kesempatan ini kebetulan aku ada di kota raja.."
"Besok rencananya aku ingin memohon bertemu dengan kaisar Hong Wu."
"Kakak bisa ikut dengan ku, kita bisa bersama sama mengajukan permohonan pengunduran diri.."
"Kita lepaskan dan kembalikan semuanya ke kaisar Hong Wu,.. bagaimana menurut kakak ."
Yue Lin menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku juga ingin, tapi aku takut ayah mertua ku murka dan kita semua bisa celaka.."
Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,
"Kakak jangan lupa, aku yang membantunya naik tahta.."
"Apa kakak kira aku tidak mampu membuatnya menyusul Kubilai Khan..?"
Yue Lin sangat terkejut mendengar ucapan adiknya yang serius dan penuh ancaman itu.
Dia buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Adik ku, dengarkan kakak.."
"Kakak tidak pernah memohon pada mu.."
"Anggaplah sekali ini kakak mohon pada mu, jangan adik..jangan.."
"Kamu jangan pernah dan tidak boleh ada pemikiran seperti itu.."
"Kini negara baru saja stabil, rakyat baru saja mulai menikmati kehidupan damai dan tentram.."
"Bila kamu lakukan hal itu, maka dunia akan kacau.."
"Apa kamu tega demi kepentingan pribadi, kamu mengorbankan nasib jutaan jiwa rakyat kecil, yang baru mulai ingin menikmati hari tenang tentram dan damai mereka..?"
Ucap Yue Lin dengan mimik wajah serius.
Nan Thian yang tidak pandai urusan politik dan strategi, dia langsung terdiam termenung di tempat sulit berkata-kata.
Setelah beberapa saat terdiam, Nan Thian akhirnya berkata,
"Lalu apa yang sebaiknya bisa aku lakukan..?"
Yue Lin menghela nafas panjang dan berkata,
"Sebaiknya kamu saja yang lebih dulu pamit mengundurkan diri.."
"Sedangkan aku, aku juga cepat lambat akan menyusul mu.."
"Tapi yang jelas bukan saat ini.."
"Aku harus sabar menunggu, menunggu hingga waktu yang tepat.."
"Bila ada waktu yang tepat, aku juga pasti akan mengundurkan diri.."
"Aku akan membawa keluarga ku kembali ke Xu San.."
__ADS_1
"Kamu sendiri, apa rencana mu selanjutnya, setelah mengundurkan diri..?"
Tanya Yue Lin sambil menatap serius kearah adiknya.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Kembali ke rumah lama mertua di puncak Hua San yang tenang, tepatnya Yu Ni Feng.."
"Mungkin di sanalah kami pergi.."
"Tapi semua tergantung pada dia ? karena di sana sempat menjadi tempat kenangan nya bersama suami pertamanya aku takut..."
"Aduhhhhh...!"
Jerit Nan Thian kesakitan tanpa berani melawan.
Karena daging dan kulit di pinggang nya sudah di cubit dengan gemas oleh Zi Zi tanpa ampun.
Suasana ini segera membuat Yue Lin tertawa ngakak.
Yue Lin sambil tertawa berkata,
"Apa semua pendekar sakti pasti takut istri ya..?"
"Ayah juga, Kakek paman guru juga, sekarang kamu juga.."
"Kelihatannya cuma aku yang bukan pendekar ini yang boleh sedikit berbangga.."
Ucap Yue Lin sambil tertawa ngakak.
Nan Thian tidak bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum canggung.
Sedangkan Zi Zi segera menyadari kesalahannya di depan kakak iparnya.
Dia buru buru menarik kembali tangannya, lalu berpura pura seolah olah tidak pernah terjadi apa apa.
Tiba tiba pintu rahasia terbuka dan Mei Mei muncul di sana sambil berkata,
"Ada apa ini, kelihatannya begitu bergembira..?"
"Apa pembicaraan serius sudah selesai..?"
"Aku tadi sepertinya sempat mendengar ada yang sedang sesumbar bahwa dia yang paling hebat dan merasa bangga akan prestasinya..?"
"Bukan begitu suami ku..?"
"Fei Fei putri mu sangat nakal, kini sedang menjalani hukuman.."
"Apa kamu ingin menyusulnya..?"
Tanya Mei Mei yang wajahnya tiba tiba berubah dingin dan galak.
Yue Lin seketika senyap suara ketawanya, kini bahkan bernafas pun dia harus berhati-hati, apalagi berbunyi .
Melihat keadaan Kakak nya, kini giliran Nan Thian yang tertawa ngakak.
Dia segera mengajak Zi Zi yang sedang menutupi mulutnya sendiri berusaha menahan tawa, untuk segera mengikutinya meninggalkan ruangan tersebut.
Mereka tidak berani berlama lama, karena kesombongan Yue Lin tadi tanpa sengaja telah memicu sumbu pendek istrinya yang setiap saat bisa meledakkan semua nya.
Setelah Nan Thian suami istri pergi , nasib tragis Yue Lin pun dimulai.
Segera Nan Thian dan Zi Zi mendengar suara jerit tertahan Yue Lin dari dalam ruangan rahasia.
__ADS_1
Mereka berdua hanya bisa menahan tawa, sambil buru buru meninggalkan tempat itu, pergi menemukan buah hati mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam ruang rahasia sana.
Hanya Yue Lin istrinya dan Thian yang tahu nasib yang menimpa Yue Lin di dalam sana.
Bisa jadi sepasang lato lato nya jadi taruhan..
Tidak lama kemudian Nan Thian dan Zi Zi segera menemukan Ying Ying dan kakak misannya Fei Fei sedang berlatih silat bersama.
Kedua anak yang satu besar yang satu kecil, mereka terlihat sedang beradu tanding.
Tapi kelihatannya malah yang besar yang sering kebingungan dan terlihat jelas lebih tertekan oleh yang kecil.
Fei Fei yang jauh lebih besar, terlihat lebih mengandalkan pukulan kuatnya yang menderu deru untuk menekan Ying Ying.
Tapi Ying Ying yang bertubuh kecil, justru menang lincah dan memang ilmu perubahan suling bambunya yang pergerakan nya sulit di tebak dan selalu berhasil membuat Fei Fei kesulitan.
Fei Fei yang mengandalkan pukulan keras dan kuat juga membuat dirinya lebih cepat terkuras tenaga nya.
Saat tenaganya terkuras, otomatis pernafasannya mulai terganggu.
Semakin pernafasannya terganggu, pergerakannya pun mulai kacau.
Sehingga lebih banyak lagi tempat yang terbuka, yang bisa menjadi sasaran empuk tusukan suling bambu di tangan Ying Ying.
Melihat keadaan tersebut, Nan Thian segera turun tangan memberi petunjuk ke Fei Fei keponakannya.
"Fei Fei..awas jaga ketiak mu..!"
"Menyerang tangan sedikit di tekuk, saat suling datang tahan dengan siku mu..!"
"Lalu cengkram tangannya putar seperti ini.."
"Berikan tendangan rendah di pahanya rebut sulingnya..!"
Mendengar petunjuk dari pamannya, dengan gembira Fei Fei segera mengikutinya.
Segera suling ditangan Ying Ying berhasil di rebut oleh Fei Fei.
Fei Fei setelah berhasil merebut suling Ying Ying, dia tidak meneruskan serangannya lagi.
Melainkan melompat mundur sambil tersenyum gembira.
Sebaliknya Ying Ying sambil berkacak pinggang menunjuk kearah ayahnya dengan wajah marah.
"Ayah curang...!"
"Kakak curang..!"
"Ying Ying marah ..! Ying Ying tidak mau berteman dengan kalian lagi..!"
Teriak Ying Ying kesal.
Wajahnya terlihat mewek mewek mau menangis, sepasang matanya mulai berkaca-kaca.
Nan Thian sambil tersenyum sabar berkata,
"Memang kalah dalam berlatih bukan yang terpenting .."
"Yang terpenting adalah jamu tahu, di mana letak kekalahan mu, kelemahan mu.."
"Memperbaikinya agar kelak bisa lebih baik lagi.."
__ADS_1
"Apa Ying Ying paham maksud ayah..,?"
Tanya Nan Thian lembut.