
Sepasang bayangan Naga bergerak cepat, meliuk liuk di udara, mengejar kearah kakek tua itu.
Kakek tua tersebut terlihat tersenyum tenang, menanggapi datangnya serangan Nan Thian .
"Blaaarrrr...!"
Terjadi.ledakan kuat, saat sepasang Naga itu menabrak, kabut pelindung tipis, yang kakek itu ciptakan.
Kakek itu dan kabut tipisnya, terlihat diam tidak bergeming sama sekali.
Adalah sepasang naga yang ganas itu yang di buat terpental membalik kearah Nan Thian .
Nan Thian diam diam kaget melihat kemampuan kakek tua itu.
Dewasa ini akan jarang dan sedikit sekali, orang yang mampu bertahan dari serangan nya tadi.
Kakek tua itu adalah salah satu diantara sedikit orang yang mampu itu.
Samsara yang sebelumnya mampu, tapi dengan kekuatan barunya.
Nan Thian yakin Samsara belum tentu mampu bertahan dari serangannya barusan.
Karena serangannya di balikkan kembali, Nan Thian buru buru menyerapnya kembali, kekuatan nya yang membalik.
Lalu dia kembali melepaskan jurus lain yang lebih dahsyat.
Nan Thian melesat naik keatas, lalu dari atas dua meluncur tegak lurus turun kebawah...
Sambil mendorongkan telapak tangan nya yang sarat energi gabungan tiga kekuatan.
Menerjang kearah kakek tua yang berada di bawah sana.
"Naga Menabrak bumi..!"
Bentak Nan Thian sambil melepaskan kekuatan serangannya.
"Rooaaarrrrrrr...!"
Lagi lagi terdengar suara raungan Naga marah meluncur dari atas kebawah, menerjang kearah perisai pelindung, yang menyelimuti seluruh tubuh kakek itu.
"Blaaarrrr...!"
Kembali terjadi ledakan dahsyat, tapi sekali ini, bukan hanya bayangan Naga panca warna yang di buat terpental.
Nan Thian pun ikut di buat terpental.
Di saat Nan Thian terpental, kakek itu menghilang dari tempatnya.
Saat muncul lagi , dia sudah ada di depan Nan Thian , memberikan serangan tinju yang mengeluarkan cahaya merah, terarah ke kepala Nan Thian .
Nan Thian melakukan gerakan bersalto di udara, serangan itu lewat diatas tubuh nya yang sedang melekung ke belakang.
Sebagai balasannya,sepasang kaki Nan Thian saat bersalto, melakukan gerakan menendang kuat, satu menendang kearah sambungan siku kakek tua itu.
Satu lagi menendang kearah dada kakek itu.
"Takkkkk...!"
"Deesss...!"
Terjadi benturan kuat, siku tangan kakek tua yang dia tekuk kebawah dengan tapak sepatu Nan Thian .
Di susul dengan benturan tapak sepatu Nan Thian yang lain dengan tinju tangan kiri kakek itu.
Mereka berdua pun terpisahkan belasan meter, kakek itu kembali ke posisinya mendarat ringan diatas tanah.
Dia terlihat mengigil, dengan seluruh tubuh terbungkus lapisan es.
__ADS_1
Sedangkan Nan Thian terpental keatas, tapi Nan Thian dalam keadaan biasa saja.
Kakek itu di bawah sana segera berkomat Kamit membaca mantra.
Lalu dia bergerak gerak sendiri dengan menggeser geser kedua kakinya sambil mengerak gerakan kedua tangannya seperti sedang bersilat sendiri.
Sesaat kemudian lapisan es yang membungkus tubuhnya pun rontok tak bersisa.
Nan Thian yang melayang di atas sana hanya mengamati saja, sebelum dia mengeluarkan pedang Panca Warna di tangan nya.
"Senior sekali lagi aku ingatkan ke anda, hendaklah tidak ikut campur ..!"
"Apapun itu alasannya,..!"
"Kembalilah ke negri mu, atau aku tidak akan bersungkan lagi..!"
Ucap Nan Thian sekali lagi mengingatkan.
Kakek itu tersenyum kecut dan berkata,
"Silahkan saja anak muda, aku sudah siap..!"
Selesai berkata kakek itu menggosok gosok kedua telapak tangan nya, yang mengeluarkan suara ledakan memekakkan telinga.
Kilatan listrik terlihat sambar menyambar diantara kedua telapak tangan nya yang di gosok gosokan itu.
Melihat sikap tegas dan keras kepala kakek itu, Nan Thian sadar dia tidak akan bisa membujuknya.
Tiada cara lain, Nan Thian pun bersiap mengeluarkan Ilmu pedang andalannya yang jarang gagal dan sudah banyak menewaskan lawan nya.
"Senior keluarkan lah senjata mu, agar jangan ada penyesalan..!"
Kakek itu tersenyum dan berkata,
"Silahkan saja, senjata ku tidak ada bersama ku saat ini.."
"Bila berjodoh nantinya, biar kelak murid ku saja yang menunjukkan nya.."
Selesai berkata kakek yang seluruh tubuhnya d selimuti kabut energi tipis.
Sudah kembali melesat keangkasa, bersiap menyerang Nan Thian dengan kedua telapak tangan nya yang mengeluarkan kilatan listrik sambar menyambar.
Nan Thian meluncur turun sambil membentak.
"Tebasan Pedang Tanpa Wujud..!"
Tebasan Pedang Tanpa Perasaan..!"
"Tebasan Pedang Tanpa Keinginan..!"
Tebasan Pedang Tanpa Nama...!"
Empat tebasan di lepaskan sekaligus oleh Nan Thian yang berubah menjadi 4 orang.
Satu orang melepaskan satu jurus dahsyat.
"Singggg..!"
"Singggg..!"
"Singggg..!"
"Singggg..!"
"Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"
__ADS_1
Kakek itu dengan tapak kilat petir nya membalas menyerang Nan Thian .
Sedangkan serangan tebasan pedang Nan Thian , dengan berani. Kakek itu membiarkan kabut tipis energi pelindung nya, yang menahan dan melontarkan kembali seluruh rangkaian serangan pedang Nan Thian .
"Blaaarrrr...!"
"Blaaarrrr...!"
"Blaaarrrr...!"
"Blaaarrrr...!"
Kembali terjadi 4 kali benturan dahsyat di udara, antara tapak kiri Nan Thian, yang di gunakan untuk menyambut tapak petir kakek itu.
Sedangkan Tebasan Pedang Nan Thian semuanya berhasil di pentalkan oleh kakek itu dengan energi kabut tipisnya yang luar biasa kuat.
Mereka berdua kembali berpisah belasan meter, kakek itu saat terjatuh keatas tanah.
Seluruh tubuhnya terbungkus oleh bongkahan es besar.
Sedangkan Nan Thian, dia terlihat di kelilingi oleh kilatan listrik di sekitar tubuhnya.
Tapi hanya butuh satu detik energi petir itu sudah di serap kembali oleh Nan Thian .
Sedangkan serangan pedang nya yang terpental balik kearah Nan Thian , semuanya terserap balik kedalam tubuh Nan Thian .
Sebelum Nan Thian kemudian melepaskan tebasan pedang dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat lagi.
Nan Thian kembali berubah menjadi 4 dan kembali menyerang dengan jurus yang sama tapi dengan kekuatan yang jauh lebih ganas lagi.
Sebelum kakek itu, sempat melepaskan es beku yang membungkus dirinya.
Serangan Nan Thian sudah kembali datang.
"Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..!"
Es tebal yang membungkus tubuh kakek tua itu, terlihat pecah hancur berantakan.
Menghadapi serangan tebasan pedang susulan yang Nan Thian lepaskan.
Sekali ini, energi pelindung kabut tipis kakek tersebut, akhirnya tidak berhasil di pertahankan lagi.
Kakek tua itu terpental belasan meter, dengan sekujur tubuh di penuhi luka tebasan pedang.
Darah mengucur deras dari lukanya yang terbuka.
Tapi kakek itu masih belum mau kalah, dia kembali bangkit berdiri.
Lalu mulutnya kembali berkomat Kamit membaca mantra .
Sesaat kemudian saat ada angin kuat berhembus melewati tubuhnya.
Secara ajaib seluruh luka di tubuh kakek tua itu, langsung pulih kembali, seperti sedia kala.
Bahkan setitik garis luka pun tidak terlihat lagi, semuanya sudah sembuh total.
Kakek tersenyum sabar dan berkata,
"Anak muda tak perlu sungkan keluarkan lah ilmu terbaik mu.."
"Aku sudah lebih dari siap untuk itu.."
__ADS_1