PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
SINDIRAN KIM KIM


__ADS_3

"Sudah tahu jelek masih berani mempertunjukkannya untuk cari uang..!"


Ucap seseorang sambil berjalan keluar dari balik kerumunan penonton.


Seorang pemuda yang bermata elang, hidung bengkok mirip paruh elang, memelihara jenggot kambing.


Dengan wajah sekitar bibir hingga kedua sisi pipi di penuhi brewok yang pendek kasar.


Sekali lihat wajah dan penampilan nya saja, orang bisa mengenalinya dengan jelas.


Dia bukan orang yang berasal dari daratan China.


Dari pakaian yang dia kenakan mirip daster panjang, dengan kancing di bagian tengah dada membelah kebawah.


Di tambah dengan kain yang di lilitkan di kepalanya, orang yang paham, tentu akan mengenalinya sebagai orang Persia.


Gadis cantik baju merah yang sedang melakukan pertunjukan akrobatik.


Dia segera menghentikan pergerakan nya, menyimpan piring nya satu persatu keatas meja kecil, yang dia gelar di tempat tersebut.


Dia kemudian berjalan menghampiri pria setengah tua yang kini sedang berhadap hadapan dengan pemuda usil itu.


"Maaf tuan,.. bila anda tidak menyukai pertunjukan ini tidak apa apa.."


"Tuan tidak mau memberikan sumbangan pun tidak apa apa.."


"Kami di sini hanya mencari ongkos perjalanan dengan cara lurus, tidak memaksa, juga tidak mengganggu siapapun.."


"Tuan boleh silahkan saja.."


Ucap pria setengah tua itu sabar, sambil mempersilahkan pemuda itu pergi dari sana.


Gadis baju merah sudah tiba di samping pria setengah tua itu dan berkata,


"Ada masalah apa ayah.."


Pria setengah tua itu menepuk lembut punggung tangan putrinya dan berkata,


"Tidak,..tidak ada masalah,.."


"Kamu kembali saja ketempat mu.."


"Masalah ini, biar ayah saja yang menanganinya cukup.."


Gadis itu belum mau beranjak, dia menatap kearah pemuda itu dengan tatapan mata tajam, yang terlihat kurang senang.


Pemuda asing itu menanggapinya dengan tersenyum mengejek, dan berkata,


"Kalau aku tidak mau pergi kalian mau apa..?"


"Apa kalian ingin memukul dan mengusir ku dari jalan umum ini..?"


Pria tua itu menghela nafas panjang, menahan sabar tidak mau mencari ribut.


Dia segera memegang tangan putrinya dan berkata,


"Ayo Siao Hung, kita ringkas barang kita dan pergi dari sini.."


"Tapi ayah..!"


Bantah gadis baju merah yang di panggil Siao Hung kurang puas.


"Sudahlah..ayo kita pergi saja.."

__ADS_1


"Rejeki di mana mana ada, bukan cuma di sini saja.."


Ucap pria setengah tua itu sambil menarik tangan putrinya, sedikit memaksa.


Pria tua itu ingin secepatnya meninggalkan tempat tersebut, tidak mau terlibat dalam keributan tidak perlu.


Pria setengah tua itu berpikir mengurangi masalah akan jauh lebih baik dari pada menambah masalah.


Tapi tindakan pria setengah tua itu, malah membuat si pemuda asing itu jadi besar kepala.


Sambil tersenyum mengejek penuh kemenangan dua berkata,


"Hei pak tua tunggu dulu..!"


"Aku lihat putri mu ini cantik juga,..!"


"Berikan harganya, biar aku beli, untuk di jadikan istri ke empat belas ku."


"Kebetulan aku di rumah belum punya koleksi istri negeri ini.."


Siao Hung yang mendengar ucapan pemuda asing itu, yang semakin kelewatan.


Sepasang alisnya yang indah langsung berkerut.


Dengan wajah merah padam, dia segera mengibaskan tangan ayahnya.


Tanpa banyak kata, dia segera berbalik melangkah menghampiri pemuda asing itu.


"Tarik kembali ucapan mu bangsat..!"


Bentak Siao Hung marah, sambil menunjuk ujung hidung bengkok pemuda asing itu, dengan jari telunjuknya yang lentik.


Pemuda asing itu tidak terlihat takut, sambil tersenyum ceriwis.


"Wah galak sekali,.. kuda binal ini aku suka.."


Siao Hung secara reflek langsung menarik kembali tangannya, dia tentu tidak ingin jari nya di pegangi tangan kasar dan penuh bulu di lengannya itu.


Siao Hung sambil menarik kembali tangannya, dia juga mundur selangkah kebelakang, memasang kuda kuda siaga menyerang balik.


Pemuda asing yang tidak tahu diri itu, sambil tersenyum mesum dia melangkah maju dan berkata,


"Kuda binal bila di tunggangi tentu rasanya akan lebih mantab.."


Sambil berbicara a nonoh, dia mengulurkan tangannya, ingin menyentuh dagu Siao Hung.


Sekali ini Siao Hung tidak lagi mundur dan bersungkan dengan nya.


"Plakkkk..!"


"Dukkkk...!


Dengan gerakan cepat dan tak terduga tangan pemuda asing itu di tangkis oleh lutut kiri Siao Hung yang melesat keatas.


Sedangkan lutut kiri Siao Hung tepat masuk menghantam dagu, dan bawah leher pemuda asing itu.


Sehingga pemuda itu, langsung menggunakan kedua tangannya memegangi lehernya.


Dia berusaha mundur menjauh dengan tubuh terbungkuk bungkuk, dan terbatuk batuk, karena kesulitan bernafas.


Siao Hung tidak berhenti di sana, dia berlari maju kemudian melompat ke udara melancarkan tendangan Bruce Lee tepat kearah wajah pemuda itu.


"Dessss..!"

__ADS_1


Pemuda itu langsung terjengkang kebelakang, dia di buat jungkir balik, oleh tendangan terbang Siao Hung, yang mendarat telak di sisi wajah kanannya.


Siao Hung sendiri setelah berhasil melepaskan tendangan terbang nya, dia mendarat kembali keatas tanah dengan gerakan sempurna .


Siao Hung langsung menuai tepuk tangan para penonton yang pro dengannya.


Mereka juga tidak suka dan tidak puas dengan tingkah laku orang asing yang congkak dan sombong itu .


Pemuda asing itu sambil memegangi pipinya yang terlihat lebam.


Dia menunjuk.kearah Siao Hung dan berkata,


"Kuda binal kamu tunggu saja..!"


"Awas kamu,..!"


"Masalah ini tidak akan selesai begitu saja..!"


Siao Hung berpura pura ingin maju menghajar nya lagi.


Pemuda itu langsung lari terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.


Penonton di sekitar sana pada menertawainya, sebagai anjing yang lari terbirit birit, setalah di pukuli.


Pemuda asing itu sambil menahan malu dan marah, dia langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.


Kakek setengah tua itu, terlihat menggeleng gelengkan kepalanya dengan kurang senang dan berkata,


"Putri ku,.. kamu kembali bikin masalah lagi.."


"Sekali ini, tidak tahu kamu menyinggung siapa lagi.."


"Ayo cepat beres beres, kita harus segera pergi dari sini.."


Siao Hung memberi hormat kearah para penonton dengan sepasang tangan di kepalanya jadi satu.


Setelah itu dia segera buru buru memenuhi permintaan ayahnya.


Sesaat kemudian ayah dan anak itu terlihat sudah pergi dari tempat tersebut.


Penonton yang berkerumun pun terlihat satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut.


Kim Kim yang menonton di lantai dua restoran sana, bersama Nan Thian .


Dia segera berkata,


"Kecewa ya pasti,? sirambut putih belum sempat turun tangan tebar pesona.."


"Acara sudah berakhir.."


Ucap Kim Kim sambil menutupi mulutnya menahan tawa.


Nan Thian melirik kearah Kim Kim dan berkata,


"Kamu sehari tidak bicara, tidak ada yang anggap kamu bisu.."


Selesai melontarkan kata-kata nya, Nan Thian langsung berlalu dari jendela.


Dia memasukkan suapan terakhir pangsit kedalam mulutnya.


Lalu mangkok dan sumpit nya dia lemparkan secara sembarang kearah meja .


Tapi ajaibnya mangkok dan sumpit dapat mendarat rapi di sana, tanpa mengeluarkan suara sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2