
Nan Thian dan istrinya masing masing duduk di sana memesan semangkuk mie dan se poci teh.
Akhir akhir ini setelah mereka kehilangan Ying Ying yang di culik orang dari partai Diatas Langit Masih Ada Langit.
Mereka berdua kurang berselera makan, sebenarnya mereka hanya ingin numpang duduk di sana, sambil mengawasi situasi.
Tapi karena merasa tidak enak hati, bila hanya numpang duduk saja.
Makanya Nan Thian memesan semangkuk mie dan se poci teh, agar kehadiran mereka di sana tidak terlalu mencolok.
Sesekali Nan Thian akan makan mie satu mangkok berdua secara bergantian dengan Zi Zi, sambil mengawasi orang orang dunia persilatan yang berlalu lalang di hadapan mereka.
Selagi Nan Thian sedang menikmati teh hangat.
Dari arah jalan terlihat seorang pria berkepala botak berpakaian biksu.
Sedang ribut dengan 5 orang pria bertubuh tinggi besar .
Tidak jelas apa yang mereka perdebatkan, sesaat kemudian terjadilah perkelahian berat sebelah satu lawan Lima.
Lebih para lagi, biksu itu bertangan kosong, tapi dia harus menghadapi 5 orang pengeroyok, yang membawa senjata bergolok besar.
Dalam gebrakan awal salah satu dari 5 orang pria itu, orang pertama yang menyerang biksu itu dengan tebasan golok besarnya.
Serangan nya, masih berhasil di hindarkan oleh biksu itu, sehingga Golok besarnya lewat di samping biksu itu.
Menghantam meja dagangan pedagang dipinggir jalan sana.
Meja tersebut langsung terbelah dagangan di pinggir jalan itu langsung jatuh berserakan.
Si pria golok besar belum juga puas, dia menggunakan kakinya menahan meja.
Lalu berusaha mencabut golok.nya yang menempel erat, di potongan kayu meja yang terbelah.
Begitu golok tercabut, dia segera bergerak mengejar kearah biksu berkepala botak, yang sedang bergerak mundur menjauh.
Golok besar kembali dia ayunkan untuk membacok kepala dan bahu biksu itu.
.
Tapi lagi lagi bacokan nya berhasil di hindari oleh biksu itu dengan gerakan langkah ringan..
Golok yang tidak menemui sasaran kembali menghantam tempat kosong.
Sekali ini muncul bunga api berpijar, saat golok bertemu dengan lantai batu di jalan raya yang keras.
Biksu yang sudah dua kali menghindari sengaja tidak membalas.
Kini dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak turun tangan memberikan pelajaran kepada pria yang sedang menyerang tempat kosong itu.
"Bukkkk...!"
__ADS_1
Satu pukulan keras mendarat di wajah pria yang menggunakan golok besar itu hingga beberapa giginya tanggal.
Wajahnya terdorong miring kesamping sebelum roboh tidak sadarkan diri.
Melihat keadaan rekan mereka, keempat pria bertubuh tinggi besar lainnya.
Segera maju menghujani biksu itu dengan tebasan golok besar mereka yang berseliweran di sekitar tubuh biksu itu.
Biksu itu menjadi sibuk menghindar kesana kemari, berusaha mempertahankan diri agar jangan sampai terkena tebasan yang datang bagaikan hujan mengurung pergerakan nya.
Di saat dia sedang sibuk menghindar,
"Bukkkk...!"
Sebuah tendangan kuat dari arah belakang, mengenai punggungnya,.
Sehingga membuat biksu itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung-huyung maju kedepan.
Di saat dia sedang terhuyung-huyung kedepan, sebuah tendangan lain mampir di dagunya.
Biksu malang itu langsung terdongak keatas kepalanya.
Bagian dadanya yang terbuka, karena posisi kepalanya yang terdorong keatas.
"Wuttttttt...!"
"Bressss...!'
Sebuah hantamkan golok besar tepat menghantam dada biksu malang itu.
Melihat kejadian ini, Nan Thian yang tadinya tidak ingin ikut campur.
Terpaksa dia turun tangan ikut campur, Nan Thian mengulurkan tangannya kanannya kedepan.
Sebuah energi tidak kasat mata, segera menahan punggung biksu malang itu.
Lalu tubuh'nya yang terluka parah oleh Nan Thian di pindahkan kearah lain.
Sedangkan keempat manusia kasar pembuat onar itu, mereka masing masing terlihat jatuh bertekuk lutut, tidak mampu berdiri.
Saat Zi Zi ujung jarinya yang mengeluarkan sinar merah, melesat cepat melewati sambungan lutut keempat orang kasar itu.
Keempat orang itu terlihat meringis kesakitan, mereka menggunakan golok besar ditangan untuk bertumpu, agar tubuh mereka tidak sampai roboh terguling.
Tapi selain bertahan dan mendelik marah kearah Nan Thian dan Zi Zi tidak ada yang mampu mereka lakukan.
Bagaimana mereka mau membalas, bila untuk berdiri saja sulit.
Sesaat kemudian biksu yang dadanya berlumuran darah, dia terlihat menjura kearah Nan Thian dan Zi Zi.
"Terimakasih banyak atas pertolongan pendekar berdua."
__ADS_1
"Aku Li Kong tidak akan pernah melupakan Budi baik ini.."
"Maaf boleh kah aku tahu, sedang berhadapan dengan ?"
Nan Thian segera membalas menjura dan berkata,
"Nama ku Yue Nan Thian ,.dan dia ini istriku Li Meng Zi.."
"Guru tak perlu berterima kasih segala, ini hanya kebetulan saja.."
"Lebih baik guru segera pergi rawat luka guru itu.."
Ucap Nan Thian membalas memberi hormat dengan sopan.
Biksu itu sekali lagi menjura kearah Nan Thian dan Zi Zi.
Setelah itu dia dengan langkah terhuyung-huyung segera berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kota ini setiap hari ada kerubutan, Nan Thian dan Zi Zi tentu tidak ingin terlibat bila tidak terpaksa.
Kini dengan kejadian ini, tempat itu pun di rasa kurang nyaman lagi.
Sehingga Nan Thian setelah meletakkan kepingan uang perak di atas meja.
Dia dan Zi Zi segera bergerak meninggalkan tempat itu.
Setelah Nan Thian dan Zi Zi pergi dari sana, tidak lama kemudian keempat orang yang kehilangan gengsi dan muka .
Mereka juga merangkak meninggalkan tempat itu dengan cara saling bantu.
Orang pertama yang sempat pingsan terkena tinju si biksu, begitu sadarkan diri.
Dia segera membantu keempat saudaranya pergi dari tempat itu.
Tempat itu kembali normal dan melanjutkan keramaian nya.
Tapi semua itu tidak berlangsung lama.
lagi lagi muncul kerubutan lain, menyusul di sana.
Kembali terjadi dua kelompok dengan pakaian berbeda saling serang.
Mereka seperti sedang tawuran masal, sehingga orang di sekitar tempat itu pada menyingkir menjauhi lokasi kejadian.
Pasukan keamanan kota dan pemimpin mereka, mereka hanya bisa menyaksikan dari jauh tanpa ada upaya ataupun usaha untuk menertibkan nya.
Di tempat lain Nan Thian dan Zi Zi setelah meninggalkan tempat tersebut, mereka memilih berjalan berkeliling kota.
Sambil mengawasi orang di sekitar mereka, berada di antara lautan manusia, mereka tidak pantang menyerah.
Meski pencarian mereka seperti sedang mencari jarum diantara tumpukan jerami.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mencari kesana kemari, akhirnya langkah kaki mereka berdua terhenti di depan sebuah restoran besar dan mewah.
Di mana di lantai dua terlihat seorang anak kecil berusia 8 tahun, sedang menghadapi keroyokan 10 orang pria dewasa yang semuanya membawa senjata tajam di tangan.