PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENUJU KEDIAMAN KAKAK NYA


__ADS_3

Pemikiran Nan Thian ini, membuat dia tanpa sadar membantu perdana menteri Li Po melarikan diri.


Perdana menteri Li Po berhasil meloloskan diri, dengan cara menyamar menjadi prajurit dan berbaur dengan prajurit yang berserabutan melarikan diri.


Setelah berhasil kabur dari arena pertempuran, saat tiba di tepi sungai Wu Jiang, Li Po berhasil kabur dengan mendayung perahu kecil, kembali ke kapal induknya yang menanti di tengah sungai Wu Jiang.


Sementara perdana menteri Li Po berhasil meloloskan diri, Nan Thian sudah kembali ke puncak menara.


Saat tiba di sana, dia menyaksikan Tabib Hua Sin, sedang berusaha memeriksa keadaan Zhu Yuan Zhang.


Lalu secara bergantian memeriksa Tang He dan Zhang Yu Chun.


Setelah beberapa waktu melakukan pemeriksaan, Tabib Hua Sin pun mulai memberi petunjuk kepada cucunya.


Untuk membantunya menyiapkan berbagai bahan obat obatan herbal, yang di perlukan untuk menetralisir racun, yang di sebarkan oleh saudara seperguruan nya Thian Tu.


Nan Thian dan yang lainnya segera ikut membantu Hua Lung menyiapkan bahan dan mengolah obat obatan tersebut dalam jumlah besar.


Setelah obat siap tahap berikutnya adalah memberi obat itu, untuk di minumkan keseluruh pasukan dan penduduk kota Nan Jing yang terjangkit virus tersebut.


Untuk yang belum kambuh racunnya lebih mudah di obati nya, mereka bisa menerima pengobatan tanpa melakukan perlawanan.


Yang sulit adalah mereka yang sudah kambuh jadi kesurupan tak terkendali.


Terhadap mereka pada awalnya hanya Nan Thian Kim Kim dan Thian Yi yang bisa menanganinya.


Mereka terlebih dahulu di lumpuhkan dengan totokkan, baru obat di cekokokin kedalam mulut mereka secara paksa.


Tapi seiring berjalannya waktu cara itu kurang efektif dan lambat.


Tang He dan Zhang Yu Chun mengambil inisiatif membuat kayu dan tali jerat bersama Pasukannya yang sudah sembuh.


Setiap orang yang kesurupan akan di tangani oleh 4 orang prajurit,.dua menjerat dan menahan pergerakan tangan orang yang kesurupan.


Satu lagi menjerat leher nya menahannya di sana, satu yang terakhir bertugas mencekokoki obat secara paksa.


Dengan cara ini proses penyembuhan bisa lebih cepat.


Nan Thian tinggal fokus membebaskan belenggu es yang mengunci kaki mereka.


Dengan bekerja sama beramai ramai antara penduduk dan pasukan kerajaan Ming.


Proses penyembuhan menjadi jauh lebih cepat, semakin lama semakin cepat.


Karena semua orang saling membantu secara bergotong royong.


Akhirnya seluruh penduduk dan pasukan di kota Nan Jing, berhasil di sembuhkan dari keracunan.


Hingga matahari terbit, pekerjaan membebaskan wabah dari seluruh penghuni kota Nan Jing baru bisa di tuntaskan sepenuhnya.


Setelah proses pembebasan wabah racun Thian Tu tuntas.

__ADS_1


Kim Kim segera membawa tabib Hua Sin dan Hua Lung kembali ketempat kediaman mereka, yang tersembunyi dan tidak ingin di ketahui orang lain.


Tabib Hua Sin tidak mau terlibat dalam hubungan politik dan kekuasaan.


Dia sudah memandang tawar akan hal itu, dia juga melarang cucunya untuk ikut terlibat.


Makanya begitu tugas selesai, secara diam diam tanpa pamit ke Zhu Yuan Zhang.


Tabib Hua Sin segera meminta Kim Kim untuk mengantarnya pulang.


Saat menjelang tengah hari, semuanya berkumpul di ruangan aula pertemuan Istana.


Zhu Yuan Zhang baru bertanya dengan heran,


"Thian Sau Sia,.. kemana tabib Hua Sin dan cucunya, juga nona Kim Kim..?"


"Mengapa mereka tidak ada yang terlihat hadir di sini..?"


Nan Thian maju memberi hormat dan berkata,


"Tabib Hua tidak suka dengan kehidupan dunia ramai.."


"Dia hanya ingin hidup tenang, di kediaman nya ."


"Sekali ini turun ke dunia ramai, juga karena ingin menolong orang sakit.."


"Makanya beliau hanya menitipkan salam dan permohonan maaf nya ke Yang Mulia dan lainnya.."


Zhu Yuan Zhang yang cerdik tentu langsung bisa menangkap maksud dan pemikiran tabib Hua.


Beliau Sudi datang membantu mengatasi bencana di Nan Jing, itu sudah sangat baik.


Dia tidak mungkin bisa memaksa naga sakti seperti itu, untuk mengabdi padanya.


Zhu Yuan Zhang segera mengangguk mengerti dan berkata,


"Baiklah kita harus hargai keputusan dan keinginan tabib Hua.."


"Biarlah jasa besar tabib Hua aku catat saja, kelak bila perjuangan kita berhasil.."


"Aku baru akan membayar Budi besarnya ini.."


"Terimakasih semuanya mari kita bersulang..!"


Ucap Zhu Yuan Zhang sambil mengangkat cawan di tangannya tinggi tinggi.


Dia berdiri di hadapan semua nya, dan bersulang kesemua yang hadir disana.


Semua yang hadir dengan gembira lalu bangkit berdiri dan ikut bersulang.


Setelah itu pesta pun kembali di lanjutkan dengan meriah.

__ADS_1


Nan Thian sendiri hanya mengikuti sebentar saja pesta tersebut.


Selagi semua nya sedang larut dalam kegembiraan, Nan Thian diam diam sudah menghilang dari sana.


Selain Nan Thian Siao Hung juga ikut mengundurkan diri dari sana, diam diam dia menyusul Nan Thian meninggalkan tempat tersebut.


Zhu Yuan Zhang yang bermata jeli, dan selalu memperhatikan Nan Thian .


Dia tentu menyadari hal tersebut, tapi dia tidak berkata apa-apa, pura pura tidak tahu saja.


Karena dia paham, orang sakti seperti Nan Thian bisa mendapatkan bantuan nya selama ini.


Dia sudah harus bersyukur, dia tidak mungkin bisa menahan Nan Thian untuk mengabdi secara penuh padanya.


Orang orang sakti seperti Nan Thian biasanya mereka memiliki pemikiran sendiri yang sulit di tebak dan akan selalu menjadi misteri.


Nan Thian yang baru saja keluar dari ruangan pesta, langsung mendengar suara langkah kaki pelan mengikutinya di belakang.


"Thian ke ke kamu mau pergi ke mana, Siao Hung ikut ya..?"


Tegur Siao Hung dari belakang punggung Nan Thian .


Nan Thian terpaksa menghentikan langkahnya sejenak dan berkata,


"Aku ingin pergi mengunjungi dan menjenguk kakak ku yang sedang terluka.."


"Bila kamu merasa nyaman untuk ikut, maka ikutlah.."


Siao Hung langsung tersenyum gembira dan berkata,


"Terimakasih Thian ke ke, kalau begitu ayo kita segera pergi kunjungi kakak mu.."


Nan Thian mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan meninggalkan tempat pesta, yang masih berlangsung dengan meriah.


Yue Lin tidak ikut datang menghadiri pesta, karena dia masih mengalami luka yang cukup parah.


Dia belum bebas bergerak, Zhu Ying Mei istrinya juga tidak ikut hadir di pesta, dia memilih menemani suami dan putri nya, di kediaman mereka.


Di kediaman Yue Lin, Yue Lin terlihat duduk setengah berbaring, di temani oleh istrinya.


Yue Lin menatap istrinya dan berkata,


"Sayang Le Le putri kita apakah sudah tidur..?"


Ying Mei tersenyum lembut membelai punggung tangan suaminya dan berkata,


"Sudah putri kita dia sudah tidur.."


"Aku tadi selesai menidurkannya baru kemari.."


"Bagaimana luka mu ? apa ada yang terasa kurang nyaman..?"

__ADS_1


__ADS_2