
Di tempat lain, baik Kim Kim maupun suami nya Thian Yi.
Mereka bersyukur mengikuti peringatan Nan Thian .
Bila tidak, mungkin mereka bisa terhisap dan terlempar ke ruang hampa di angkasa sana.
Setelah situasi mereda, YeSe Bu Hua yang melihat pasukannya berantakan.
Dia segera berkata,
"Kakek guru, paman kakek guru...!"
"Tolong tahan lawan, aku akan membawa sisa pasukan mundur membenahi keadaan mereka.."
Kedua Padri Tua itu mengangguk dan berkata,
"Tidak masalah tuan Putri.."
"Di sini percayakan pada kami saja ."
"Bawalah pasukan mu mundur.."
YeSe Bu Hua memberi hormat kepada kedua Padri Tua itu, setelah itu dia segera pergi meninggalkan tempat itu.
YeSe Bu Hua setelah berlalu dari sana, dia segera memberikan instruksi kepada komandan pasukan bawahan nya.
Agar segera mengatur barisan pasukan mereka bergerak mundur dari sana.
Yang terluka dan masih bisa di selamatkan, segera di bantu oleh rekan rekan mereka yang sehat, untuk di bawa pergi dari tempat itu.
Sedangkan sisanya, membentuk barisan mengawal di belakang, perlahan lahan mundur dari tempat tersebut.
Di tempat lain, Nan Thian yang melihat langkah yang di ambil oleh YeSe Bu Hua.
Dia segera melepaskan kode kembang api ke udara.
Lalu dia kembali mengirim pesan suara ke Kim Kim,
"Kim Kim kedua Padri tua ini, biar aku yang urus."
"Kamu dan Thian Yi pergilah bantu Lan Yu, Zhang Yuchun, dan Tang He..menyergap pasukan Mongolia.."
"Tapi ingat kamu jangan makan orang, cukup lumpuhkan saja mereka.."
Ucap Nan Thian mengingatkan Kim Kim.
Kim Kim berubah menjadi wujud manusia dan menjawab Nan Thian ,
"Baik kak.."
Setelah itu dia menoleh kearah Thian Yi dan berkata,
"Ayo kita pergi bergabung dengan barisan pendam di Lang Ya Ku, Lembah Taring Serigala.
Thian Yi tidak banyak bicara hanya mengangguk saja.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah melesat melakukan pengejaran kearah YeSe Bu Hua dan pasukannya mundur.
Melihat pergerakan Thian Yi dan Kim Kim, tentu saja kedua Padri tua langsung bergerak.
Tapi pergerakan mereka berdua tertahan oleh Tebasan Pedang Tanpa Wujud yang Nan Thian lepaskan.
Mereka terpaksa menghentikan langkahnya, lalu membentuk perisai Genta hitam untuk menahan serangan Nan Thian.
"Tangggg..!"
"Tangggg..!"
__ADS_1
"Tangggg..!"
"Tangggg..!"
Serangan dari Nan Thian hanya menimbulkan suara berdentangan.
Tidak ada satupun serangan yang berhasil mengenai lawan nya.
Nan Thian sadar serangan nya, memang tidak mungkin bisa melukai kedua tokoh Kosen dari Tibet itu.
Tapi setidaknya serangan nya, akan menganggu langkah mereka, yang hendak menghadang Thian Yi dan Kim Kim.
Kedua biksu itu setelah berhasil , menahan serangan Nan Thian .
Mereka segera melesat kedua jurusan terpisah, Padri Ananta menerjang kearah Nan Thian dengan sepasang telapak tangan terbuka.
"Wussshh...!"
Bayangan Tapak yang mengeluarkan cahaya hitam datang mengurung Nan Thian .
Sedangkan Padri Vindika, dia mengambil jurusan berlawanan.
Melesat pergi menyusul kearah Kim Kim.
Nan Thian yang tidak bisa mencegah Vindika, karena dia sendiri menghadapi kurungan serangan tapak dari Padri Ananta.
Dia terpaksa memutar Pedang Panca Warna, melindungi diri, sambil mengirim pesa suara ke Kim Kim.
"Kim Kim hati hati, salah satu Padri tua menyusul kearah kalian.."
Kim Kim yang mendengar bisikan dari Nan Thian ,
Dia segera menoleh kearah suaminya dan berkata,
"Thian Yi ke ke, kamu saja yang pergi bantu barisan pendam.."
"Biar aku di sini menahan padri sesat yang datang menyusul.."
"Ada kesempatan habisi, jangan kasih ampun.."
Pesan Kim Kim sebelum memisahkan diri dari Thian Yi.
Thian Yi mengangguk pelan dan berkata,
"Kamu hati hati, aku akan secepatnya kembali..."
Kim Kim mengangguk pelan, dan berkata,
"Kamu juga hati hati.."
Setelah saling berpesan mereka berdua pun berpisah.
Kim Kim bersiaga menunggu kedatangan Padri Vindika.
Sedangkan Thian Yi, terus bergerak seperti terbang melesat melakukan pengejaran kearah YeSe Bu Hua yang sedang memimpin pasukan berkuda nya bergerak mundur.
YeSe Bu Hua yang sedang memimpin pasukan nya bergerak mundur dia dan pasukannya di kagetkan oleh serangan bola bola hitam besar yang di lepaskan dari arah kiri kanan tebing di lembah taring serigala.
Selain itu dari arah depan jalan mundur mereka juga terlihat panah api di lepaskan menerjang kearah mereka.
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
__ADS_1
"Booom..! Booom..! Booom..!"
"Booom..! Booom..! Booom..!"
"Booom..! Booom..! Booom..!"
Segera terdengar suara tembakan meriam memekakkan telinga, melepaskan bola bola hitam memenuhi udara menyerang kearah YeSe Bu Hua dan pasukannya.
Saat bola bola hitam itu mendarat di atas tanah.
"Booom..! Booom..! Booom..!"
"Booom..! Booom..! Booom..!"
"Booom..! Booom..! Booom..!"
Segera terdengar suara yang jauh lebih dahsyat memenuhi seluruh lembah Taring Serigala.
Pasukan Mongolia dan kuda tunggangannya yang terkena efek ledakan, pada bertumbangan dan terpental ke udara.
Di saat keadaan semakin kacau dan panik, panah api menyusul datang.
Menambah kepanikan kuda tunggangan pasukan Monggolia. Sehingga korban berjatuhan di pihak pasukan Mongolia semakin besar.
YeSe Bu Hua sendiri juga terlihat bingung oleh situasi yang di luar prediksi itu.
Dia hanya bisa menginstruksikan pasukannya, bertahan dengan tameng, menghindari serangan anak panah api yang datang dari arah depan.
Di saat kekacauan masih berlangsung di pihak pasukan Monggolia.
Dari tiga arah, terlihat Tang He Lan Yu dan Zhang Yu Chun memimpin pasukan Ming yang tidak kurang dari 200.000 personil. Datang melakukan serangan kejutan.
Melihat kedatangan musuh, YeSe Bu Hua dengan gagah berani, segera memimpin pasukannya untuk menyambut kedatangan pasukan kerajaan Ming.
Meski pasukan Mongolia sudah banyak yang tewas dan terluka.
Tapi jumlah dan kekuatan mereka masih sangat besar.
Termasuk tidak mudah, bila ingin menghancurkan kekuatan pasukan Monggolia.
Pasukan kerajaan Ming yang terlatih, segera bertemu dengan pasukan kerajaan yang kuat gagah perkasa dan pemberani dalam pertempuran.
Bila Thian Yi tidak datang membantu, tentu akan sulit bagi pihak kerajaan Ming ingin menahlukkan perlawanan pasukan Mongolia
.
Begitu tiba, Thian Yi segera melepaskan energi pedang, yang datangnya bagaikan sapuan gelombang samudra.
Beberapa komandan pasukan Mongolia dan pasukan di belakangnya, langsung tewas diterjang serangan Thian Yi .
Beberapa komandan yang selamat, segera membantu YeSe Bu menyelamatkan diri meninggalkan lokasi pertempuran yang semrawut.
"Singggg..!"
"Sraaat...!"
"Sreeettt..!"
"Sraaat...!"
"Sreeettt..!"
"Sraaat...!"
"Sreeettt..!"
Sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya terang.
__ADS_1
Bergerak datang melintasi leher beberapa komandan dan pasukan pengawal Monggolia, yang sedang melindungi YeSe Bu Hua bergerak meninggalkan tempat itu .
Di mana mereka terlihat sedang mundur ke sebuah jalan kecil yang akan membawa mereka menembus ke tepi sungai kuning.