PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
STRATEGI ZHANG SHIYIN


__ADS_3

"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"


Terjadi tiga ledakan beruntun, Im Jian San Koai terpental bagaikan daun kering tersapu angin.


Masing masing menyemburkan darah dari mulut mereka, wajah mereka terluka goresan panjang melintang.


Darah bercucuran membasahi wajah dan pakaian mereka.


Bayangan Hantu yang memberikan mereka dukungan semuanya sirna hilang tak berbekas.


Hawa kegelapan yang mereka kumpulkan pun buyar, begitu pula dengan roh kegelapan.


Semuanya buyar menghilang kesegala arah, saat matahari kembali bersinar menerangi dunia, mengusir kegelapan malam.


Im Jian San Koai di saat bersamaan juga ikut menghilang menjadi kabut asap.


Energi tebasan pedang tanpa perasaan, yang tidak mendeteksi keberadaan mereka bertiga


Segera bergerak kembali menyatu dengan tubuh Nan Thian.


Hal ini terjadi bukan karena jurus itu gagal melaksanakan tugas nya.


Tapi hal ini terjadi karena Im Jian San Koai tiga mahluk aneh itu, sudah lama memutuskan ikatan perasaan dunia fana.


Jadi jurus ini saat berhadapan dengan mereka, dari awal telah kehilangan keunikan spesial nya.


Bila yang di lepaskan oleh Nan Thian adalah jurus ketiga, mereka bertiga tidak mungkin akan bisa meloloskan diri.


Ketiga kakek itu saat muncul lagi, mereka terlihat sudah berada diatas punggung burung Condor berkepala botak.


Melesat jauh meninggalkan benteng pertahanan kota Nan Jing.


Nan Thian menghela nafas panjang dia telah gagal menewaskan ketiga kakek itu.


Ada sedikit rasa sesal, karena mereka akan menjadi batu sandungan nya kelak.


Ilmu mereka sangat mengerikan, bila tidak ada ilmu rahasia dari kakek paman guru nya.


Dia mungkin bukan lawan ketiga kakek itu.


Tapi apa mau di kata, saat ini dia masih ada beban tugas lebih penting, tidak mungkin pergi mengejar mereka.


Menjaga ibukota Nan Jing tetap aman dan terkendali itu yang paling penting.


Bila terjadi sesuatu di Nan Jing, saat dia pergi mengejar ketiga kakek itu.


Itu akan lebih celaka, bagaimana dia mau pertanggungjawabannya pada kakak nya Yue Lin, juga kakak iparnya.


Sambil menghela nafas panjang, Nan Thian menyimpan pedang panca warna kedalam cincin penyimpanan nya.

__ADS_1


Setelah itu dia dengan ringan melayang keatas tembok kota Nan Jing.


Kedatangan Nan Thian langsung di sambut dengan penuh hormat oleh komandan jaga yang sedang bertugas.


Nan Thian hanya berkata singkat,


"Awasi terus, bila ada pasukan besar datang segera laporkan..'


"Aku ada di menara Pagoda.."


"Siap tuan Yue.."


Jawab kepala komandan itu cepat .


Seluruh pasukan di kota Nan Jing sangat menghormati Nan Thian , kemampuan yang Nan Thian tunjukkan selama beberapa hari ini.


Sudah lebih dari cukup bagi mereka semua untuk tunduk dan patuh sepenuhnya pada Nan Thian .


Kota mereka masih bisa bertahan sampai sekarang, semua berkat kehadiran Nan Thian , hal itu sudah tidak perlu di ragukan lagi.


Setelah meninggalkan pesan, Nan Thian pun melayang pergi meninggalkan tembok kota.


Melayang ringan muncul dan menghilang di atas wuwungan rumah penduduk.


Beberapa saat kemudian dia sudah kembali ke menara Pagoda, di mana Kim Kim sedang tidur pulas dalam posisi menyamping.


Nan Thian tidak bisa menahan senyum melihat gaya tidur sahabatnya yang santai tanpa beban itu.


Wajahnya terlihat begitu tenang, saat tidur.


Nan Thian mengeluarkan sebuah jubah kulit harimau untuk di selimut kan ke tubuh sahabatnya itu.


Meski mereka sering ribut mulut, tapi Nan Thian tidak pernah memasukkan nya kedalam hati.


Sebaliknya dia sebenarnya sangat lah menyayangi sahabatnya ini, Nan Thian seumur hidup tidak akan pernah lupa.


Bila bukan karena pertolongan sahabatnya ini, mungkin dia selama nya hanya akan menjadi seorang cacat tiada guna.


Setelah menyelimuti Kim Kim, Nan Thian memilih duduk di pinggiran pagar pembatas menara Pagoda, menikmati hembusan angin pagi yang sejuk sambil melamun.


Di tempat lain Zhang Shiyin yang berkemah di tepi sungai Wu Jiang.


Di dalam kemah militernya yang cukup besar, dia duduk di balik meja, sedang mendengarkan laporan dari mata mata nya, yang di utus untuk mengawasi kota Nan Jing dan sekitarnya.


"Jadi Lu Wan sudah tewas dan ketiga kakek paman gurunya, kini telah hilang tanpa kabar berita.?"


Tanya Zhang Shiyin sekali lagi mencari kepastian berita informasi dari bawahannya..


Mata mata itu mengangguk cepat dan berkata,


"Begitulah kabar informasi yang ada."


Zhang Shiyin terdiam sejenak mendengar berita kurang baik yang di bawa oleh mata matanya.

__ADS_1


Sesaat kemudian dia baru berkata,


"Baiklah kamu boleh kembali ke posisi mu, untuk melanjutkan pengawasan.."


"Baik Panglima.."


Jawab prajurit mata mata itu cepat.


Lalu dia segera mengundurkan diri dari sana.


Setelah mata mata itu pergi, Zhang Shiyin menoleh kearah ketiga Jendral kepercayaan nya yang hadir di sana.


"Huang Fu Song, Huang Ying dan Huang Gai, kalian bertiga masing masing pimpin 10.000 personil, ambil jalan memutar, kemudian menyerang dari pintu timur barat dan selatan secara serentak."


"Aku sendiri akan mencoba menahan mereka berkonsentrasi di pintu gerbang Utara."


"Kita harus bergerak cepat, tengah malam ini kita sudah harus melaksanakan rencana kita.."


"Baik Panglima.."


Jawab mereka bertiga sambil memberi hormat kearah Zhang Shiyin.


Setelah itu mereka bertiga segera meninggalkan kemah Zhang Shiyin pergi bersiap siap untuk menjalankan tugas yang sudah di berikan.


Mereka harus bergerak lebih cepat, agar bisa tiba di lokasi tepat waktu, karena mereka harus melakukan perjalanan memutar.


Zhang Shiyin sendiri setelah menulis sepucuk surat, kemudian meminta bawahan nya, untuk di kirimkan ke Su Zhou tempat kakak nya berada.


Dia segera pergi meninggalkan kemah, untuk mempersiapkan Pasukannya berangkat menuju Nan Jing.


Menjelang tengah malam, Nan Thian yang sedang duduk santai di tepi pagar pembatas menara Pagoda.


Melihat seorang prajurit berlari dengan sangat terburu buru menuju halaman pagoda.


Melihat hal itu, Nan Thian segera melayang turun kebawah dari bagian atas puncak menara .


Nan Thian mendarat ringan di hadapan prajurit itu dan berkata,


"Ada kabar penting apa yang kamu bawa..?"


Prajurit itu segera memberi hormat dan berkata cepat,


"Maaf tuan Yue, Jendral Wu Nan meminta ku untuk mengundang tuan Yue ke menara pengawas gerbang kota sebelah Utara.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Baiklah terimakasih, aku akan segera pergi lihat kesana.."


Prajurit itu segera memberi hormat, lalu berlari mengundurkan diri dari sana.


Nan Thian menoleh kearah menara sejenak.


Setelah itu dia langsung melesat kearah Utara tanpa membangunkan temannya yang sedang tidur.

__ADS_1


Tapi setelah Nan Thian pergi, Kim Kim yang sedang tidur dalam posisi miring, membuka matanya, sambil tersenyum nakal dia berkata,


"Mau menghindar dari ku, tidak akan semudah itu.."


__ADS_2