
Saat Nan Thian menghentakkan kekuatan perisai nya, semua anak panah langsung membalik arah ke masing masing orang yang melepaskan anak panah itu.
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Semua anak panah tersebut langsung di retur balik kembali ke masing-masing pemiliknya.
"Arggghhh..!"
Terdengar suara teriakan kesakitan berkumandang di mana mana.
Sesaat kemudian terdengar suara,
"Brukkk..! Brukkk..! Brukkk..!"
"Brukkk..! Brukkk..! Brukkk..!"
"Brukkk..! Brukkk..! Brukkk..!"
"Brukkk..! Brukkk..! Brukkk..!"
Silih berganti satu persatu jatuh dari tempat ketinggian tergeletak di atas lantai, mengerang ngerang kesakitan.
Setelah menghancurkan pasukan pemanah Mongolia, Nan Thian kembali melesat kedepan.
Dia kembali bersiap menebaskan pedang nya.
Di pihak lain Jose juga sudah terbang melesat kedepan dengan tongkat yang ujungnya ada batu berlian hijau besar.
Siap menyambut serangan dari Nan Thian .
"Wuttttttt...!"
Nan Thian lagi lagi melepaskan tebasan pedang yang memunculkan seekor mahluk gabungan Naga Es dan Phoenix Api melesat kedepan.
Menerjang kearah Jose jagoan tua dari Persia itu.
Jose terlihat berkomat Kamit mulutnya, lalu dia berteriak keras, sambil mendorongkan ujung tongkat yang ada permata berlian hijau kearah Nan Thian .
"Hiaaahh...!"
"Zzzzzzzzt..,!"
Seberkas cahaya petir hijau menyambar kedepan, menyambut datangnya mahluk gabungan, yang Nan Thian lepaskan.
"Blaaarrrr...!"
Terjadi Ledakan dahsyat di udara, yang menimbulkan ledakan kekuatan di sekitar sana.
"Boooommm..!"
Boooommm..!"
Boooommm..!"
Boooommm..!"
Boooommm..!"
Pasukan Tameng yang berada di sekitar sana, pada terpental berhamburan di udara.
Menyusul ledakan dahsyat pertemuan kedua kekuatan dahsyat itu.
Jose terpental mundur hampir menabrak kearah Do Ku, bila punggung tidak di tahan oleh kedua rekannya yang lain.
Di tempat lainnya Nan Thian masih melayang di udara, sedangkan mahluk gabungan tersebut masih berlanjut menerjang ke arah Do Ku.
Melihat hal tersebut kakek asing lainnya segera melesat ke udara, dengan senjata golok panjang berbentuk bulan sabit di tangan.
__ADS_1
Dia memberikan tebasan menyilang yang memunculkan cahaya kuning berkilauan menyambut datangnya serangan Nan Thian .
"Singgg..!"
Singgg..!"
"Blaaarrrr...!"
Lagi lagi terjadi Ledakan dahsyat yang memporak-porandakan pengepungan pasukan Mongolia yang hadir disana.
"Boooommm..!"
Boooommm..!"
Boooommm..!"
Boooommm..!"
Tubuh pasukan Mongolia kembali terpental di udara, akibat ledakan dahsyat yang muncul di area lainnya.
Kepungan jadi semakin terbuka lebar di bawah sana.
Siao Hung belum berani bergerak, dia masih melihat situasi.
Ketiga kakek Persia itu masih terlalu sakti untuk nya
Dia tidak akan sanggup menghadapi mereka.
Jadi saat ini yang terbaik adalah diam melihat situasi dan perkembangan.
Jangan menganggu konsentrasi Nan Thian yang sedang menghadapi lawan berbahaya.
Dalam pertemuan kedua ini, serangan kakek Persia kedua, yang mengandalkan sepasang pedang bulan sabitnya, ternyata berhasil menghancurkan dan mematahkan serangan mahluk gabungan Nan Thian .
Selanjutnya Kakek tua kedua ini, kembali memberikan dua tebasan Pedang bulan sabit secara .menyilang kearah Nan Thian.
Nan Thian menghilang dari posisinya, sehingga serangan kakek kedua dari Persia itu, nyasar menghantam dinding tembok benteng di belakang Nan Thian .
"Crack..!"
"Crack..!"
Batu pasir berguguran kebawah, akibat dinding tembok yang di hancurkan oleh serangan kakek kedua dari persia tersebut.
Nan Thian Setelah menghindar dari serangan kakek itu, dia muncul diatas kepala kakek itu, langsung memberikan satu tebasan pedang tanpa wujudnya.
"Abidal awas hati hati...!"
Teriak kakek Persia yang lainnya.
Saat dia melihat Nan Thian melepaskan tebasan pedang, yang tidak kasat mata, maupun tidak terdeteksi angin berkesiur nya.
Kakek kedua yang bernama Abidal tersebut, buru buru mengakar sepasang golok bulan sabit nya,.
Di silangkan di atas kepala, bersiap menyambut tebasan pedang tanpa wujud dari Nan Thian .
"Cranggg...!"
"Brakkkk..!"
Tidak kuat menahan kekuatan tebasan pedang tanpa wujud Nan Thian .
Tubuh Abidal jatuh terbanting kebawah, hingga lantai melesak kedalam.
Abidal hanya kaget, dia dalam keadaan baik baik saja, dia segera melenting keatas.
Lalu melesat kembali menerjang kearah Nan Thian, dengan sabetan sabetan golok bulan sabit nya, yang berubah menjadi gulungan cahaya emas mengejar Nan Thian .
"Trangggg..,!"
"Tringgg..!"
"Trangggg..,!"
__ADS_1
"Tringgg..!"
"Trangggg..,!"
"Tringgg..!"
"Trangggg..,!"
"Tringgg..!"
Tubuh Nan Thian muncul dan menghilang di kejar kejar oleh Abidal, yang terus menyerangnya tanpa henti dengan gerakan yang memiliki kecepatan luar biasa.
Suara benturan pedang Nan Thian menangkis golok bulan sabit Abidal, memenuhi arena pertarungan.
Bunga api berpijar, setiap sepasang senjata mereka bertemu keras lawan keras di udara.
Setelah puluhan jurus berlalu, Nan Thian hanya melayaninya dengan menangkis dan menghindar.
Dalam satu kesempatan sebelum Tebasan sepasang golok bulan sabit Abidal tiba
Tusukan pedang panca warna, tiba tiba muncul menusuk kearah tenggorokan Abidal.
Abidal sangat kaget, dia segera membatalkan serangan nya, membuang diri kebelakang.
Saat tubuhnya berputaran kebelakang, Abidal masih menyempatkan diri memberikan dua tebasan energi golok bulan sabit, menerjang kearah Nan Thian .
Abidal ingin menutupi rasa malunya, dengan memberikan serangan kejutan balasan ke Nan Thian .
Abidal sangat marah dan tidak terima, meski berhasil selamat, jenggot kambingnya, terpapas oleh pedang panca warna Nan Thian .
Jadi memanfaatkan posisi jungkir balik, dia menyempatkan diri memberikan tebasan energi golok bulan sabit berpasangan.
Untuk memberikan balasan setimpal ke Nan Thian untuk menutupi rasa malunya.
Tapi Abidal harus kecewa karena serangan dahsyat nya, lagi lagi gagal menyentuh Nan Thian .
Karena Nan Thian sudah berputaran terbang seperti gasing naik keatas, menghindari serangan Abidal.
Serangan Abidal yang melintas lewat di bawah kaki Nan Thian , lagi lagi menghantam tembok benteng kota dengan keras.
"Crackkkkk..!"
Crackkkkk..!"
Dinding tembok meledak jebol sebagian, oleh tebasan energi golok kembar bulan sabit Abidal.
Nan Thian dari atas sana, tanpa memperdulikan akibat dari serangan Abidal yang meleset.
Dia memberikan tebasan pedang tanpa perasaan menyerang Abidal.
"Singggg..,!"
Abidal buru buru menggerakkan kedua golok bulan sabit nya untuk menangkis serangan Nan Thian .
Tapi serangan kedua Nan Thian ajaib, Abidal tidak sanggup menahan nya.
Energi pedang Nan Thian yang mengeluarkan cahaya panca warna melintas lewat begitu saja.
Melewati sepasang Golok kembar nya yang di silangkan di atas kepalanya.
Cahaya pedang pancawarna melintas melewati tubuh Abidal dari atas kebawah .
Sesaat Abidal terdiam di udara.
Kedua rekan nya di bawah sana berteriak cemas.
"Abidalllllll...,!'
Abidal menoleh kearah kedua sahabatnya tersenyum aneh mirip mengernyit menahan nyeri luar biasa.
Tatapan matanya seolah olah menyampaikan perpisahan, meminta mereka membantunya membalaskan dendam ke Nan Thian .
"Pyaaarrr...!"
__ADS_1
Tubuh Abidal meledak terbelah menjadi dua bagian, mirip di tarik oleh dua ekor kuda ke kiri dan ke kanan.
Di mana kedua potongan tubuhnya terpisahkan di udara saling menjauhi.