
Seminggu menempuh perjalanan akhirnya Nan Thian bersama istri dan putrinya, mereka terlihat memasuki kota Chang An yang terlihat sangat ramai.
Melihat di barisan antrian begitu banyak orang dari dunia persilatan yang berbaris mengantri tanpa putus seperti ular panjang.
Nan Thian yang tidak ingin keluarganya mengantri terlalu lama, karena bila terlalu lama putrinya Ying Ying bisa rewel.
Nan Thian mengarahkan keretanya langsung menuju pintu gerbang kota.
Di mana terlihat barisan keamanan kota sedang melakukan pemeriksaan, terhadap setiap pengunjung yang ingin masuk kekota Chang An dengan sangat hati hati.
Nan Thian langsung membawa kereta nya mendekati barisan pasukan keamanan itu.
Begitu melihat Nan Thian dan keretanya datang tanpa mengantri.
Satu regu pasukan keamanan kota, segera bergerak maju dengan senjata tombak di tangan.
Mereka langsung menghalau kuda Nan Thian agar tidak terus bergerak maju.
"Berhenti..!"
Teriak pimpinan komandan regu kecil tersebut menghardik kearah Nan Thian .
Nan Thian terpaksa menahan tali kekang nya, dan mengeluarkan suara untuk menenangkan kuda penarik keretanya yang agak panik, karena mereka di halau dengan tombak tajam teracung kedepan.
Setelah berhasil mengendalikan dan memenangkan kudanya, Nan Thian mencoba untuk tersenyum sabar kearah komandan regu itu, yang terlihat sedang menatap kearah nya dengan wajah galak kurang bersahabat.
"Cepat putar balik kereta mu, ikuti antrian di belakang sana..!"
"Jangan pernah berani memotong barisan..!"
Bentak komandan regu itu,
Sambil menggunakan jari nya menunjuk kearah barisan antrian yang terletak di paling ujung sana.
Nan Thian mencoba untuk bersabar dan berkata dengan se sopan mungkin kearah komandan itu,
"Maaf pak komandan.."
"Di dalam kereta ku ada memuat mayat, juga istri ku dan anak ku yang masih kecil.."
"Kami sedang di buru waktu, harap komandan bisa memberi kami sedikit kelonggaran, agar kami bisa lewat duluan tanpa mengantri.."
"Untuk pengertian itu, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada pak komandan.."
Ucap Nan Thian sambil menyodorkan beberapa keping perak kearah komandan itu.
Komandan itu tertawa sinis, melirik kearah kepingan perak Nan Thian dan berkata,
"Hanya dengan beberapa keping perak ini, kamu ingin menyogok ku.."
"Hei kalian lihat,..! dia mau menghargai ku dengan beberapa keping uang receh ini.."
__ADS_1
"Kalian lihat menurut kalian lucu tidak tingkah badut ini..?"
Anak buahnya di belakang sana langsung tertawa keras, untuk menyenangkan komandan mereka itu.
Komandan regu itu, kembali menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Hei bajingan rambut putih, kamu ini terlalu meremehkan aku,,..!"
"Kamu dengar baik baik, camkan di otak mu, bahkan kamu tawari aku keping emas sekalipun, aku akan masih akan mikir..!"
"Apalagi yang receh ini..!"
"Sekali lagi aku perintahkan kamu segera bawa kereta mu ke barisan belakang mengikuti antrian..!"
"Bila kesabaran ku sampai hilang, kamu akan tahu rasa..!"
Bentak komandan regu itu dengan wajah galak.
Nan Thian sambil tersenyum sabar mengeluarkan sebuah plakat emas untuk di tunjukan kepada komandan regu itu dan berkata,
"Bagaimana bila emas ini saja, ? apa cukup..?"
Begitu melihat plakat tersebut seketika pucat lah wajah komandan regu itu.
Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Nan Thian dengan tubuh gemetaran ketakutan.
"Mohon ampun Ping An Wang,..!"
"Mohon ampuni nyawa ku Ping An Wang..."
Ucap komandan regu itu dengan wajah pucat pasi dengan seluruh tubuh terlihat mengigil ketakutan.
Melihat reaksi komandan regu itu, bawahan nya, di belakang sana ikut terkejut.
Mereka buru buru mengikuti komandan mereka menjatuhkan diri berlutut kearah Nan Thian .
Semuanya menundukkan kepala mereka, tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka keatas.
Dari kejauhan seorang Jendral yang bertanggung jawab atas keamanan di pintu gerbang kota itu.
Jendral itu buru buru maju mendekat, untuk mencari tahu ada permasalahan apa di depan sana.
Sehingga komandan regu dan pasukannya pada berlutut menghadap kearah kereta kuda milik Nan Thian .
Tapi begitu jendral muda itu melihat siapa yang duduk diatas kereta kuda, yang bertindak sebagai kusir kereta itu.
Separuh nyawanya serasa meninggalkan raga, saat melihat pria tampan berambut putih yang sedang duduk tenang di sana.
Dengan lutut gemetaran, dia segera maju kedepan langsung menendang kepala komandan regu itu dan berkata,
"Dasar mata anjing,.. ! melihat Ping An Wang di sini kamu tidak melapor malah berani menghalanginya..!"
__ADS_1
"Lihat setelah ini, bagaimana aku akan menghukum mu..!"
Komandan regu, langsung jatuh terguling keatas lantai tanpa berani bersuara sedikitpun.
Dia sudah tahu salah, setelah terguling dia buru buru bangkit untuk kembali bersujud di hadapan Nan Thian .
Setelah menendang kepala bawahan nya, Jendral muda itu kini buru-buru maju berlutut di hadapan Nan Thian dan berkata,
"Chang Lin memberi hormat kepada Yang Mulia Ping An Wang.."
"Harap maafkan keterlambatan Chang Lin dalam menyambut kedatangan Ping An Wang."
"Sehingga terjadi peristiwa yang membuat Ping An Wang kurang nyaman.."
Chang Lin ini adalah bawahan yang pernah di bawah Zhang Yu Chun, tentu saja dia langsung mengenali Nan Thian .
Reputasi Nan Thian di tubuh militer melebihi siapapun, tidak ada satupun dari pangkat terkecil hingga pangkat terbesar pasukan kerajaan Ming, yang mengikuti perjuangan berdirinya kerajaan Ming yang tidak mengenalinya.
Komandan regu itu tidak mengenali, karena dia tidak ikut berjuang dalam proses berdirinya kerajaan Ming.
Dia baru ikut bergabung dengan militer, setelah kerajaan Ming berdiri, dia adalah hasil rekrutmen baru.
Jabatannya cepat naik, tidak mulai dari bawah karena dia masih terhitung keponakannya gubernur kota Chang An.
Nan Thian mengulapkan tangan nya dan berkata,
"Kalian semua berdirilah tak perlu seperti ini.."
"Ini terlalu mengundang perhatian orang, aku hanya ingin singgah sebentar saja di kota ini.."
"Tidak ada maksud lain.."
"Mohon di bantu agar kami bisa lewat itu sudah cukup..'
Chang Lin segera bangkit berdiri dan memberi kode agar semua mengikutinya berdiri.
Setelah itu dengan penuh hormat dia berkata,
"Mari Yang Mulia,.. biar aku yang membantu membukakan jalan bagi Yang Mulia.."
"Silakan Yang Mulia.."
Ucap Chang Lin segera maju menuntun kuda penarik kereta mengikuti langkahnya, melewati kerumunan antrian panjang di depan pintu gerbang.
Melihat kode dari Chang Lin, komandan regu itu buru buru membawa bawahan nya pergi menghalau, semua pengunjung yang sedang antri di depan pintu gerbang .
Mereka semua di halau oleh pasukan penjaga pintu gerbang, agar mundur menjauhi pintu gerbang.
Agar Chang Lin bisa menuntun kereta kuda Nan Thian memasuki pintu gerbang kota tanpa hambatan.
Setelah melewati pintu gerbang kota yang ramai antrian, Nan Thian turun dari atas kereta kuda nya dan berkata,
__ADS_1
"Jendral Chang cukup di sini saja terima kasih banyak.."