PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
NASIB TRAGIS THIAN YI


__ADS_3

Thian Yi melesat kedepan dan berteriak,


"Hutang nyawa bayar dengan nyawa..!"


Nan Thian juga melesat kedepan menyambut kedatangan Thian Yi sambil berkata,


"Berani bertarung, berani terima konsekwensinya..!"


"Singggg...!"


"Singggg..!"


"Trangggg...!"


Masing masing melepaskan sebuah tebasan dahsyat kedepan.


Cahaya kuning terang dari Thian Yi kembali berbenturan dengan cahaya panca warna yang di lepaskan oleh Nan Thian .


"Blaaarrrr..! Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"


"Blaaarrrr..! Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"


"Blaaarrrr..! Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"


Terjadi ledakan dahsyat di sekitarnya, saat kedua energi bertemu, di susul dengan benturan keras kedua pedang bertemu di udara.


Masing masing saling mendorong dan bertahan, hingga wajah mereka saling mendekat.


"Cringggg...!"


Terdengar suara bergemericing, saat pedang Ming Yue Cien dan Pedang Panca Warna saling bergesek.


Bunga api berpijar, saat kedua senjata pusaka saling bergesek.


Begitu mereka berdua berselisih jalan, masing masing dengan cepat sudah membalik saling melepaskan tebasan pedang yang mencapai puluhan kali.


"Boooommm..,!"


"Boooommm..,!"


"Boooommm..,!"


Kembali terjadi ledakan di sekitar arena pertarungan saat serangan mereka masing masing tidak menemui sasaran.


Pergerakan mereka berdua sama cepat sama kuat, dalam waktu singkat sulit di bedakan siapa menang siapa kalah.


Setelah puluhan kali benturan,dalam satu kesempatan,Thian Yi datang dengan pedang nya yang mengeluarkan suara berdengung.


Menusuk kearah kening Nan Thian , dalam suatu lompatan melayang indah di udara, seperti penari balet.


Nan Thian yang dalam posisi setengah duduk, segera menjejakkan kaki nya, keatas tanah.


Sehingga tubuhnya bergeser mudur kebelakang, dengan posisi tubuh masih tetap dalam posisi kuda kuda siaga, menghadap kearah Thian Yi.


Thian Yi yang tidak mau melepaskan sasarannya, tangan kirinya melakukan gerakan berputar ringan, lalu memukul kebelakang dengan Ming Yue Sen Kung.


Sehingga tubuhnya terus meluncur kedepan mengejar kearah mundur nya Nan Thian l.


Nan Thian sambil bergerak mundur, dia memutar mutar pedang panca warna melilit pedang Ming Yue Cien.


Kemudian membetot nya kedepan, sehingga tubuh Thian Yi ikut tersentak kedepan.

__ADS_1


Nan Thian segera menyarangkan tangan kirinya yang sarat hawa gabungan api es surgawi, kearah dada Thian Yi.


Thian Yi tentunya tidak mau mandah membiarkan dadanya terkena pukulan Nan Thian .


Dia juga ikut mendorongkan lengan kirinya yang sarat energi Ming Yue Sen Kung, menyambut datangnya serangan Nan Thian.


"Plakkkk..!"


"Blaaarrrr...!!!" "Blaaarrrr...!!!"


Blaaarrrr...!!!" "Blaaarrrr...!!!"


Blaaarrrr...!!!" "Blaaarrrr...!!!"


Blaaarrrr...!!!" "Blaaarrrr...!!!"


Terjadi Ledakan dahsyat di sekitar Nan Thian dan Thian Yi, saat sepasang telapak tangan mereka yang sarat kekuatan dahsyat bertemu.


Tapi mereka berdua tidak bergeming masih pada posisi mereka.


Thian Yi menggantung di udara, berusaha menekan kebawah, sedangkan Nan Thian bertahan di bawah, berusaha mendorong keatas.


Saat mereka masing masing memasuki tingkat puncak adu kekuatan.


Terlihat hawa alam semesta bergerak berputaran terus memasuki tubuh Nan Thian .


Sedangkan Thian Yi, bulan di atas sana, terlihat seperti terus tertarik mendekatinya.


Bulan semakin lama, terlihat semakin membesar, cahaya semakin lama semakin terang, membantu menerangi, sekaligus memberikan dukungan sumber kekuatan memenuhi tubuh Thian Yi.


Masing masing terus mengerahkan kekuatan puncak mereka berusaha saling menindih Kekuatan lawan.


Perlahan tapi pasti Thian Yi mulai terdorong mundur, sepasang alisnya yang halus mulai berkerut.


Perlahan-lahan mulai ada yang mengalir turun menuju ujung hidung nya yang mancung.


Menggantung mengumpul sejenak di sana, sebelum kemudian menetes jatuh ke bawah.


Butiran keringat itu menitik kearah wajah Nan Thian di bawah sana.


Tapi sebelum mengenai wajah Nan Thian keringat itu langsung di buat menguap oleh hawa yang terpancar dari seluruh tubuh Nan Thian .


Berikutnya keringat di kening Thian Yi mulai menetes turun berkumpul di alis halusnya, kemudian mengalir turun kearah mata.


Kejadian ini sangat menganggu, sehingga Thian Yi harus berulang kali mengerjapkan matanya yang perih kemasukan cairan keringatnya sendiri yang asin.


Kesempatan ini tidak Nan Thian sia sia kan, saat Thian Yi mengerjapkan matanya.


Pedang panca warna di tangan Nan Thian bergerak cepat menebas kearah Thian Yi.


Cahaya kemilau pedang, yang tertimpa cahaya rembulan, sinarnya memasuki mata Thian Yi yang sedang terpejam sejenak.


Sehingga Thian Yi tahu Nan Thian sedang menyerang nya dengan pedang.


"Hyaaahhh...!"


Thian Yi berteriak keras, melakukan dorongan kuat, saat Nan Thian sedang menyerangnya dengan pedang.


Di saat bersamaan dia secara membuta, mengikuti insting juga mengelebatkan pedang nya, untuk menyambut datangnya serangan Nan Thian .


"Trangggg..!"

__ADS_1


Benturan keras terjadi, Nan Thian terdorong melesak kedalam tanah, sebatas lutut.


Sedangkan Thian Yi terpental keatas, bersalto beberapa kali di udara.


Lalu dia melakukan beberapa gerakan di udara, sebelum kemudian satu persatu menyatu kedalam diri nya.


Lalu meluncur turun menyatu dengan laksaan pedang cahaya rembulan menerjang ganas kearah Nan Thian di bawah sana.


Menyambut serangan tersebut, Nan Thian membentuk perisai kekuatan alam jagad raya, melindungi diri.


Sekaligus melepaskan tebasan pedang tanpa wujud, tanpa perasaan dan tanpa keinginan.


Dalam tiga tebasan beruntun Nan Thian melepaskan 3 jurus Tebasan Pedang Tanpa Nama kearah Thian Yi.


Satu jurus pun sudah begitu dahsyat dan jarang ada yang sanggup bertahan.


Kini sekaligus dia lepaskan 3 jurus, kekuatannya sungguh mengerikan.


Bukan kapasitas manusia sanggup menerima nya, termasuk Thian Yi, dia juga tidak terkecuali.


Laksaan pedang cahaya rembulan, di patahkan oleh serangan Nan Thian.


Hancur pecah berkeping keping hilang tak berbekas.


Begitupula yang di alami oleh bayangan rembulan raksasa yang menjadi sumber kekuatan Thian Yi.


Bayangan itu bagaikan cermin raksasa yang retak, kemudian ikut hancur pecah berkeping keping.


Seketika langit dan suasana menjadi gelap gulita, hanya ada cahaya panca warna yang bergerak kesana kemari berdesing tajam.


"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


Di sertai dengan suara bunyi kain robek di atas sana.


"Bretttt..! Bretttt..! Bretttt..! "


"Bretttt..! Bretttt..! Bretttt..! "


"Bretttt..! Bretttt..! Bretttt..! "


"Bretttt..! Bretttt..! Bretttt..! "


Tetasan darah jatuh membasahi bumi, bagaikan hujan darah yang turun dari langit.


Tapi Nan Thian di bawah sana tidak terpengaruh sama sekali, tidak ada satu tetes pun yang berhasil menyentuhnya.


Karena ada hawa halus yang terpancar dari tubuhnya, membuat tetesan darah itu langsung menguap, begitu bersentuhan dengan lapisan yang melindungi tubuh nya.


Sesaat kemudian saat rembulan kembali muncul dengan sinarnya, terlihat tubuh Thian Yi yang mengenaskan, dengan pakaian compang camping bersimbah darah, melayang jatuh dari udara kebawah.


"Brukkkk..!"


Tubuh Thian Yi dengan keras membentur tanah.


Dari mulutnya terlihat menyemburkan darah keatas, saat tubuhnya terbanting keras.


Pedang Ming Yue Cien di dalam genggaman tangannya terlepas, tergeletak di sampingnya.

__ADS_1


Thian Yi berulang kali berusaha ingin bangkit kembali, apa daya keinginan dan kekuatan tidak sejalan.


Dia selalu terbanting kembali ke posisi semula.


__ADS_2