
Dua prajurit yang bertugas mengurus pembebasan murid Empu Ranubhaya, mereka segera memberi hormat, lalu mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Sedangkan sisanya, segera menghampiri YeSe Bu Hua, salah satu diantara mereka berkata dengan sikap hormat.
"Tuan putri maaf kami hanya menjalankan tugas.."
"Silahkan Tuan Putri.."
YeSe Bu Hua mengangguk pelan, dengan sikap tenang. Setelah memberi hormat kearah Kubilai Khan dan beberapa Dewan Agung yang hadir di sana.
Dia berjalan santai meninggalkan ruangan tersebut dengan sikap gagah.
Melihat YeSe Bu Hua pergi, Jendral Yo Ku dan Empu Ranubhaya juga ikut meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah YeSe Bu Hua dan bawahannya pergi, Kubilai Khan menatap kearah Dewan Agung dan berkata,
"Paman sekalian, bagaimana menurut pendapat paman berlima..?"
"Pihak Zhu Yuan Zhang semakin lama semakin kuat, kedatangan Yue Nan Thian Pendekar Api dan Es Surgawi bersama Naga Emas nya.."
"Itu benar benar sangat merepotkan, hadir nya mereka benar benar membuat pertempuran kita menjadi semakin berat.."
"Semua Jendral dan pasukan kita, dengan mudah akan mereka Gilas tanpa sisa.."
"Kita harus secepatnya mendapatkan, bantuan orang sakti, yang bisa menjinakkan mereka .."
Salah satu anggota dewan agung yang paling sepuh, dia adalah kakak, lain ibu nya Temucin, Jenghis Khan.
Sesepuh yang bernama Tenur Khan itu, akhirnya angkat bicara,
"Kubilai cucu ku, kamu jangan lupa saudara mu Hulagu di Persia.."
"Hubungi dia, minta dia bantu Carikan orang sakti untuk membantu mu.."
"Mungkin itu bisa membantu kita keluar dari situasi seperti hari ini.."
Kubilai Khan menghela nafas panjang dan berkata,
"Itu sudah, tapi bantuan yang dia kirimkan, semuanya sudah tewas tak bersisa.."
Tenur Khan mengelak nafas dan berkata, tidak ada salahnya kamu coba lagi.."
"Mungkin saja yang kemarin di kirim bukan yang terkuat, yang terkuat belum bersedia muncul.."
"Coba lagi kamu jelaskan tentang situasi yang kita hadapi di sini.."
Kubilai Khan mengangguk dan berkata,
"Baiklah kakek paman, saya akan mencobanya.."
Kubilai Khan menatap yang lainnya dan berkata,
"Apa ada yang lainnya..?"
Semuanya terdiam, tidak ada yang berkata-kata, selain saling pandang.
Melihat hal itu Tenur Khan pun berkata,
"Tempel lagi sayembara dengan hadiah menarik, agar tokoh tokoh sakti tertarik datang membantu mu ."
__ADS_1
"Hadiahnya harus lebih besar dan sesuai dengan keinginan orang orang dunia persilatan.."
Kubilai Khan mengangguk dan berkata,
"Baik kakek paman, aku akan mencobanya.."
Tenur Khan mengangguk pelan dan berkata,
"Cucu ku, silahkan kamu melanjutkan kesibukan mu.."
"Biarlah kami mohon pamit mengundurkan diri.."
Kubilai Khan mengangguk pelan dan berkata,
"Baiklah paman sekalian, terimakasih atas kunjungan nya.."
"Hati hati di jalan.."
Kelima dewan agung mengangguk dan memberi hormat kearah Kubilai Khan.
Sebelum kemudian mereka berlima melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah mereka pergi, Kubilai Khan segera meminta kepala Kasim nya pergi memanggil beberapa menteri kepercayaannya untuk datang menghadap.
Sambil menunggu mereka datang menghadap, Kubilai Khan terlihat larut dalam pekerjaannya.
Membaca laporan laporan yang masuk ke meja.
Selagi Kubilai Khan sedang larut dalam pekerjaan dan persiapannya mencari orang pintar.
Di tempat lain, di sebuah ruangan bawah tanah yang sumpek gelap dingin dan lembab.
Dia terlihat terbaring dalam posisi telungkup dengan tubuh bagian belakang terlihat hancur lebur menyedihkan.
Darah segar membasahi pakaian putihnya yang terlihat compang camping.
Seluruh kulit tubuh bagian belakangnya yang dulu putih mulus, kini terlihat sudah berantakan.
Rambutnya yang biasanya rapi kini terlihat awut awutan menutupi sebagian wajahnya yang cantik.
YeSe Bu Hua berusaha menahan rasa nyeri luar biasa, yang datang dari luka lukanya.
Bahkan sekedar bernafas pun YeSe Bu Hua, harus merasakan rasa sakit yang luar biasa, menyerangnya.
Tapi dia yang memilki hati keras dan teguh, mengatupkan bibirnya rapat rapat.
Dia pantang mengeluarkan keluhan sedikitpun.
Paling hebat dia hanya berdesis pelan saat menggerakkan sedikit badannya, bila posisi terasa kurang nyaman.
Beberapa saat kemudian seorang gadis cantik berusia 18 tahun berpakaian serba putih, terlihat memasuki ruangan tersebut dengan langkah anggun.
Kedua tangan nya, terlihat membawa sebuah nampan berisi obat-obat luka luar.
YeSe Bu Hua yang mendengar suara pintu penjara di buka, dan ada langkah kaki menghampirinya.
Dia dengan gerakan pelan, sambil berusaha menahan rasa nyeri menderanya .
Dia menoleh kebelakang, untuk melihat siapa yang datang mengunjunginya di tempat seperti ini.
__ADS_1
"Ehh adik Sin.. kenapa kamu masih di sini..?"
"Bukankah kamu seharusnya bersama suami mu, seharusnya segera meninggalkan kerajaan Yuan..?"
Gadis yang sangat cantik dan berwajah lembut itu, sambil tersenyum dia berkata,
"Kami belum berangkat kak, guru meminta ku merawat luka luka kakak sampai sembuh baru boleh berangkat.."
"Biarlah aku yang membantu merawat luka kakak.."
YeSe Bu Hua menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Luka ku akan sembuh dengan sendirinya, ucapkan saja rasa terimakasih ku ke Empu.."
"Obatnya kamu tinggalkan saja, nanti aku bisa mengurusnya sendiri.."
"Kerajaan ini bukan tempat kalian untuk bertahan berlama lama,.."
"Segeralah tinggalkan tempat ini.."
Ucap YeSe Bu Hua sambil berusaha menahan rasa sakitnya.
Gadis cantik itu menghela nafas panjang, dia kemudian meletakkan obat obatan yang di bawanya di samping YeSe Bu Hua dan berkata,
"Baiklah kak, guru juga memang sudah menebak akan hal ini.."
"Menurut guru,.. Kakak tidak mungkin akan membiarkan orang lain, melihat keadaan kakak yang seperti ini.."
"Adik akan pergi, tapi kitab Pancasona ini, kakak harus menerimanya.."
"Ini adalah pesan guru, adik tidak berani melanggarnya.."
"Harap kakak bisa menerimanya dengan baik, baru adik bisa pergi dengan hati tenang.."
Ucap gadis cantik itu menjelaskannya dengan suara nya, yang teramat sangat lembut, halus tutur katanya dan sangat enak di dengar.
YeSe Bu Hua memaksakan diri nya untuk tersenyum dan berkata,
"Baiklah adik Sin, kakak akan menerimanya.."
"Tolong sampaikan rasa hormat dan terimakasih kakak ke empu.."
"Baik kak, adik akan menyampaikan nya.."
"Kakak terimalah ucapan terimakasih kami suami istri, atas kebaikan dan pengorbanan kakak.."
"Budi baik kakak, biar kelak kami membalasnya di kehidupan berikutnya.."
Selesai berkata dengan airmata haru bercucuran, gadis cantik itu berlutut, lalu dia bersujud di hadapan YeSe Bu Hua sebanyak 3 kali.
YeSe Bu Hua ingin mencegahnya, tapi dia tidak leluasa untuk bangun.
Bergerak sedikit saja rasa sakit itu langsung membuat dia sulit berbicara, dan kehilangan tenaga untuk bangkit dan mencegah murid wanita Empu Ranubhaya, melakukan hal itu.
Akhirnya YeSe Bu Hua hanya bisa mendesis pelan, dan membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dia mau.
Selesai bersujud, gadis itu sambil menutupi mulutnya sendiri.
Berusaha menahan suara tangisannya.
__ADS_1
Dia segera meninggalkan ruangan tersebut.