PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
KEMBALI BERKUMPUL


__ADS_3

Sambil mengeraskan hati dan menahan airmata yang hampir runtuh bocah tanggung itu mengigit bibirnya sendiri erat erat.


Dia lalu tanpa berkata-kata, langsung melepaskan pegangan tangan Ying Ying .


Lalu dengan kepala tertunduk, dia segera bergerak mengejar kearah perginya Siao Hung .


"Kakak bibi...apa Ying Ying telah berbuat salah dan nakal..!?"


"Sehingga kalian tidak menghendaki Ying Ying lagi..!?"


"Bila ya, maafkanlah Ying Ying ,..kakak bibi jangan pergi..!"


Teriak Ying Ying sambil menangis sedih, dia berusaha mengejar kearah kepergian Siao Hung dan putranya.


Siao Hung tersenyum sedih dan berkata,


"Ying Ying, bukan seperti itu.."


"Jaga diri mu.."


"Bila ada jodoh kita akan bertemu kembali.."


"Sampai jumpa..!"


Selesai ucapan nya, Siao Hung langsung menarik lengan putranya.


Mereka berdua langsung terbang ke angkasa, lalu menghilang dari sana.


"Siao Hung tunggu..!"


Teriak Nan Thian saat melihat Siao Hung sudah melesat pergi.


Dia seperti baru tersadarkan dari suasana hati dan pikiran nya yang kacau balau.


Dia segera teringat dan ingin bertanya tentang jati diri Siao Lung , apakah anak itu adalah putra kandungnya, hasil hubungan tidak sengaja mereka dulu.


Atau itu adalah putra Siao Hung dengan suami barunya.


Sayangnya saat dia sadar, Siao Hung sudah menghilang dari sana.


Siao Hung sebenarnya mendengar suara panggilan Nan Thian, tapi gadis itu bukannya berhenti.


Dia malah semakin menancap gas lari nya, karena dia juga sadar apa yang ingin Nan Thian tanyakan.


Sampai kapanpun Siao Hung tidak akan bersedia melepaskan putra, yang dia kandung dan lahirkan dengan susah payah, dan dia merawat nya dengan susah payah seorang diri.


Dia tidak akan rela, putranya di ambil begitu saja oleh ayahnya yang bajingan dan tidak bertanggung jawab itu.


Setelah Siao Hung dan Siao Lung pergi, dengan airmata bercucuran Ying Ying sambil berkacak pinggang menghadap kearah ayahnya.


Bocah itu dengan berani dan suara nya yang terdengar nyaring, dia berkata,


"Ayah sebenarnya apa yang terjadi..!?"


"Apa yang ayah lakukan pada bibi..!?"

__ADS_1


"Sehingga bibi bisa begitu membenci dan tidak menyukai ayah ..!?"


"Bibi itu sangat cantik dan baik, mengapa ayah tega menyakitinya..!?'


"Apa ayah orangnya yang menindas bibi, hingga dia sering malam malam menangis sedih seorang diri..!?"


Teriak Ying Ying bertanya ke Nan Thian .


Ucapan polos putrinya, bagaikan sembilu yang mengiris jantung dan hati Nan Thian yang berdarah darah.


Hatinya begitu sedih menyesal dan merasa bersalah, hingga dia tidak mampu menjawabnya.


Nan Thian akhirnya berjongkok ke bawah, lalu dia memeluk putrinya erat erat.


Beberapa saat kemudian dia baru berkata,


"Benar nak,..ayah memang sangat berdosa dengan bibi mu..'


"Maafkan ayah,.. nak.."


Ucap Nan Thian dengan suara terharu


Zi Zi yang berdiri di samping mereka juga terlihat bercucuran air mata.


Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa, sehingga dia hanya bisa menutupi mulutnya sendiri.


Berusaha menahan suara Isak tangisnya sendiri.


"Ayah minta maaf nya jangan ke Ying Ying, tapi ke bibi saja langsung.."


"Ayah harus kesana membantu nya, sekalian meminta maaf.."


"Kita tidak boleh biarkan bibi dan kakak berjuang sendiri.."


"Ying Ying ingin kesana, ayo ayah,.. kita harus kesana memberikan bantuan.."


Rengek Ying Ying ke ayahnya.


Nan Thian menghela nafas panjang, dia tidak berani ambil keputusan untuk satu hal ini.


Dia menoleh dulu kearah istrinya, meminta pendapat.


Zi Zi menatap suaminya sambil tersenyum lembut, dia menganggukkan kepalanya, dan berkata,


"Baik secara pribadi, maupun secara kepentingan bersama, memang sudah semestinya kita ikut membantu.."


"Kita tidak boleh biarkan partai yang penuh dengan niat angkara murka itu berbuat sesuka hati.."


Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,


"Baiklah kalau begitu, kita akan berangkat menyusulnya sekarang.."


Nan Thian menggendong putrinya dengan tangan kanan, merangkul pinggang istrinya dengan tangan kiri.


Sesaat kemudian mereka bertiga, segera melesat keangkasa, dengan ilmu menunggang Mega, Nan Thian bergerak cepat menuju puncak Mo Kui Shan.

__ADS_1


Ketika sampai di Mo Kui Shan, Nan Thian melihat di puncak gunung tersebut, selain sedikit tertutup kabut hitam gelap.


Dari angkasa tidak ada apapun yang bisa terlihat jelas .


Setelah beberapa saat berputaran di angkasa melakukan pengamatan tanpa ada hasil.


Nan Thian akhirnya memutuskan untuk melayang turun kebawah, menembus kegelapan kabut hitam, yang menyelimuti seluruh wilayah puncak gunung tersebut.


Setelah melewati beberapa lapis kabut hitam, yang menghalangi pemandangan.


Nan Thian akhirnya menemukan sebuah kompleks bangunan yang cukup besar dan luas di bawah sana.


Tapi komplek yang mirip komplek bangunan istana itu, terlihat di lindungi oleh energi pelindung tidak kasat mata, yang mirip kubah perisai energi pelindung.


Nan Thian tidak bisa memaksa masuk, jadi dia terpaksa terbang mencari tempat pendaratan di area lain .


Setelah beberapa waktu berputaran di udara, Nan Thian akhirnya menemukan juga tempat pendaratan.


Tempat di mana Nan Thian bisa mendarat adalah halaman depan bangunan istana partai Diatas Langit Masih Ada Langit.


Halaman depan tersebut sudah di bangun sedemikian rupa, dengan bagian tengah adalah arena pertandingan yang di buat ada 4 arena pertarungan lingkaran kecil, mengelilingi sebuah arena lingkaran besar yang terletak di bagian paling tengah.


Sekeliling arena dalam jarak 5 meter, di kelilingi oleh bangku penonton yang di buat melingkar lingkar, di bangun dengan cara berundak, semakin kebelakang, bangku tempat duduk penonton semakin tinggi..


Sekilas bentuk model bangunan tersebut, sedikit mirip dengan bangunan Colosseum yang merupakan arena pertandingan para gladiator, di jaman Romawi kuno.


Di bangunan arena tempat duduk penonton yang masih kosong , baru terlihat Siao Hung dan putranya Siao Lung mengambil satu tempat di sana.


Nan Thian bermaksud ingin bergabung kesana, tapi telinga nya menangkap bisikan pelan suara Siao Hung ,


"Yue Nan Thian, demi kebaikan bersama.."


"Lebih baik kita menjaga jarak.."


"Bila Ying Ying ingin kemari biarlah.."


"Tapi kalian lebih baik ambil tempat lain.."


"Acara masih 3 hari lagi, baru di mulai.."


"Masih ada waktu untuk mengumpulkan energi, sebelum lawan sebenarnya tiba.."


Ucapan Siao Hung dingin.


Nan Thian akhirnya menuruti keinginan gadis itu, tanpa banyak membantah.


Nan Thian mengajak Zi Zi mencari posisi lain, yang tidak terlalu mendekati posisi ibu dan anak itu.


Ying Ying yang paling gembira, dia segera berlari mendekati Siao Lung .


Dia lalu memilih duduk di sebelah Siao Lung .


Siao Lung yang tadinya konsentrasi dengan meditasi nya.


Dia kini menghentikan kegiatannya untuk menemani Ying Ying, mengobrol, bercanda, dan bermain dengan cara sederhana, layaknya anak anak pada umumnya.

__ADS_1


Siao Hung sendiri tetap dengan meditasi nya, tidak terlihat ada niat sedikitpun dari dia, ingin menegur atau mencegah kedua bocah itu menjalani kesenangan mereka sebagai anak anak.


__ADS_2