PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
TEPI SUNGAI BUATAN


__ADS_3

Sehingga mereka berdua menjadi, semakin kehilangan tempat di kerajaan Yuan.


Pihak kerajaan Yuan sendiri, juga tidak mencegahnya, karena mereka banyak stok orang sakti yang tiada habisnya.


Hasil invasi nya ke berbagai kerajaan di belahan dunia yang jauh.


Membuat mereka berhasil menambah banyak rekrutan orang sakti dari berbagai penjuru negeri.


Diantaranya Tibet, Persia, Thailand hingga tanah Jawa, dari sana mereka mendapatkan tambahan stok orang sakti.


Di tempat lain, Nan Thian dan Kim Kim, yang kini menjadi raja dan putri di kota An Hui.


Mereka berdua tinggal di sebuah istana mewah, bekas istana kerajaan Mongolia.


Kota tersebut, dulu nya bernama Chang An, kemudian di ubah jadi Da Du, dan kota tesebut sempat menjadi pusat ibukota kerajaan Mongolia.


Sebelum kemudian oleh Kubilai Khan ibukotanya di pindahkan ke Bei Jing, kita yang di tinggalkan itu jatuh ketangan Chen You Liang, kemudian dia ganti namanya jadi kora An Hui.


Kubilai Khan sengaja memindahkan ibukota nya, pertama, untuk menjauhi pemberontak di wilayah selatan.


Kedua agar dekat dengan wilayah asal mereka di Utara sana.


Nan Thian dan Kim Kim di kota An Hui mereka seperti simbol saja, hampir tidak punya kegiatan berarti.


Segala urusan sudah ada gubernur dan cendekiawan yang menangani.


Mereka berdua hanya akan mendapatkan laporan hasil akhirnya saja.


Bila ada gangguan dari pihak kerajaan Yuan, mereka berdua baru di hubungi oleh jendral keamanan kota tersebut.


Berkali kali pihak kerajaan Yuan mengirim bala tentara datang menyerang.


Tapi mereka selalu berhasil di pukul mundur, ketika pimpinan pasukan mereka tewas di tangan Nan Thian .


Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, pihak kerajaan Yuan tidak lagi datang menganggu.


Pihak kerajaan Yuan tidak datang menyerang, kota An Hui menjadi aman.


Hidup rakyat tentram dan damai, hasil pangan melimpah perdagangan lancar, ekonomi berkembang pesat.


Karena kota ini adalah jalur lalu lintas pusat perdagangan, wilayah Utara barat dan selatan .


Begitu keadaan kota ini aman dan damai, pendapatan kota ini sangat besar.


Secara rutin seminggu sekali, selalu ada pengiriman hasil perolehan pendapatan daerah untuk di kirimkan ke Chang An.


Pengiriman yang awalnya sempat mengalami perampokan, tapi setelah Kim Kim turun tangan, tiga markas rampok terbesar dia bakar rata dengan tanah.

__ADS_1


Seluruh anggota rampok tidak ada satupun yang di biarkan hidup .


Selanjutnya begitu kereta pengiriman lewat, cukup membawa bendera bergambar Naga Emas.


Tidak ada lagi rampok yang berani mencoba menganggu nya.


Pengiriman selalu berjalan dengan aman hingga sampai tujuan.


Di ibukota Zhu Yuan Zhang sangat puas.


Sedangkan di daerah, Nan Thian dan Kim Kim hampir tidak punya kerjaan selain makan tidur berlatih.


Hidup serba mewah bergelimang harta, Nan Thian tidak terlalu menikmati.


Dia bersikap biasa saja, adalah Kim Kim dia justru sangat menikmati makan enak, tidur nyenyak, dan selalu ada pelayan yang melayani semua kebutuhan nya.


Dia sangat betah dan nyaman, tinggal di kota An Hui, yang kini di bawah wewenang nya.


Seperti pagi ini, dia dan Nan Thian hanya hanya jalan jalan melihat lihat keramaian kota.


Lalu mampir di salah satu restoran terbesar di kota itu, untuk menikmati sarapan pagi.


Begitu memasuki restoran, pemilik restoran langsung muncul bersama beberapa pelayan nya.


Pemilik restoran sendiri yang turun tangan melayani dan mengantar Nan Thian dan Kim Kim kesebuah ruangan khusus di lantai dua.


Ruangan tersebut sengaja dibuat terpisah dari ruangan umum.


Sebuah meja besar terlihat penuh dengan berbagai macam penganan sarapan.


Semua jenis penganan sarapan, terlihat tersedia lengkap di sana.


Bila pintu jendela sebelah depan di buka, Nan Thian dan Kim Kim akan di suguhkan pemandangan Jalan raya kota An Hui yang ramai.


Sebaliknya bila pintu jendela belakang di buka, Nan Thian dan Kim Kim akan di suguhkan pemandangan telaga dan sungai buatan, lengkap dengan perahu perahu yang di sewakan ke pelancong.


Perahu perahu para pelancong terlihat hilir mudik di sepanjang aliran sungai, untuk menyaksikan keramaian deretan pertokoan dan pemandangan taman indah, yang sengaja dibuat ditepi kanan kiri sungai buatan itu.


Nan Thian lebih memilih berdiri di tepi jendela bagian belakang, yang menghadap kearah sungai buatan.


Di sana sambil menikmati semangkok pangsit rebus, sepasang mata Nan Thian tiada henti menatap kearah keramaian di sungai sana.


Sedangkan Kim Kim dia memilih duduk menghadap meja besar, di sana dia makan dengan sangat lahap tanpa saingan, juga tidak ada yang memperhatikan cara makannya yang tidak normal.


Hampir sebagian besar, makan di meja sana, dia lah yang menghabiskan nya.


"Kakak apa sih yang kamu lihat,?"

__ADS_1


"Dari tadi aku lihat, hanya semangkok pangsit saja, kamu tidak juga habis makan nya."


"Kasihan pangsitnya kak, udah dingin semua.."


Komentar Kim Kim menatap kearah Nan Thian, sambil menahan senyum.


Nan Thian hanya melihat sekilas kearah Kim Kim, tidak berkomentar apapun.


Hanya menggunakan sepasang sumpitnya mengambil sepotong pangsit, lalu dengan gerakan santai dia masukkan kedalam mulutnya.


Mengunyah pelan, sambil kembali menatap kearah pemandangan keramaian di bawah sana.


"Dasar batu.."


Omel Kim Kim.


Dia lalu bangkit berdiri menghampiri Nan Thian dan berkata,


"Apa bagusnya sih di bawah sana, apa yang sedang kamu lihat sih, dari tadi..?"


Tapi segera setelah Kim Kim ikut melihat, dia juga ikutan berdiri melihat ke bawah sana, dengan sepasang mata tidak berkedip.


Rupanya dibawah sana di tepi sungai, terlihat seorang pria setengah tua, berusia 50 an.


Dia sedang memukul gembrengan di tangannya sambil berjalan mengelilingi kerumunan orang, yang berdiri di hadapannya, membentuk lingkaran besar.


Sedangkan di bagian tengah tengah sana, terlihat seorang gadis muda cantik dengan pakaian ringkas berwarna merah.


Rambutnya di kepang dua, gadis itu sedang menunjukkan atraksi kemahiran berakrobat.


Dia menggunakan sebatang tongkat kecil, untuk menahan sebuah piring yang berputar putar cepat di ujung tongkat tersebut


Dari satu tongkat yang berada di tangan kanan nya, lalu berubah menjadi dua tongkat di kanan kiri tangan nya.


Terakhir berubah menjadi tiga, di mana tongkat ketiga di gigit dan ditahan dengan giginya, yang putih kecil berderet rapi, didalam rongga mulut nya.


Pergerakan ini segera mendapatkan tepuk tangan meriah dan sorakan dari para penonton.


Si kakek sambil berjalan berkeliling, memukul gembrengan.


Dia mulai menyodorkan sebuah wadah ke hadapan para penonton , dan berkata


"Para hadirin yang terhormat dan semua hadir di tempat ini, mohon sudi kiranya untuk memberikan sedikit bantuan."


"Sebagai bekal ongkos perjalanan kami mengembara.."


"Kami ayah dan anak kebetulan sedang kehabisan uang, sehingga terpaksa menjual sedikit kejelekan kami, untuk di tukar dengan sedikit ongkos perjalanan..'

__ADS_1


"Terimakasih... terimakasih.."


Ucap pria setengah tua itu, sambil menerima sumbangan berkerencengan, yang masuk ke dalam wadah, yang di pegang di tangan nya.


__ADS_2