PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MEMASUKI ARENA TENGAH


__ADS_3

Tanpa memperhatikan respon dari penonton, Siao Lung kini sudah berpindah ke arena ketiga .


Begitu mendarat tanpa banyak basa basi Petugas Arena Ketiga langsung menyerangnya habis habisan dengan seluruh kemampuan terbaiknya.


Golok cahaya merah yang super panas segera membuat udara di atas arena berubah menjadi neraka.


Api bahkan sering muncul dalam setiap tebasan golok, yang di mainkan oleh Petugas Arena Ketiga .


Tapi Siao Lung terlihat tidak terpengaruh, dia masih tetap bisa bergerak dengan sangat cepat menghilang kesana kemari.


Tubuhnya yang terbungkus oleh cahaya hijau terang, membuat api yang menyambar nyambar tidak bisa menyentuhnya.


Jangankan menyentuh Siao Lung , menyentuh ujung rambut ataupun ujung baju Siao Lung pun tidak bisa.


Dalam satu kesempatan saat golok berkelebat lewat di depan wajah Siao Lung yang hampir rebah terlentang di atas tanah.


Di mana punggungnya hanya berjarak 15 cm dari atas tanah, sedangkan Golok merah lewat dua Cun di depan wajahnya.


Siao Lung dengan gerakan cepat, berhasil menotok nadi dipergelangan tangan Petugas Arena Ketiga yang memegang gagang golok.


Nadi pergelangan tertotok, seketika membuat genggaman pada golok terlepas.


Karena telapak tangan nya kehilangan tenaga sama sekali.


Petugas Arena Ketiga merasa telapak tangan nya kebas kesemutan.


Sedetik kemudian golok di genggaman telapak tangannya terlepas dengan sendirinya.


Terbang begitu saja keluar dari arena, seperti dia buang begitu saja, tanpa bisa dia mengontrol nya.


Sedetik kemudian sebuah tendangan keras dari Siao Lung tepat mendarat di ulu hati Petugas Arena Ketiga .


"Dukkk...!"


"Ngekk..!"


Petugas Arena Ketiga langsung jatuh berlutut di atas tanah tidak mampu bangkit.


Dia meringkuk di sana menyembah kearah Siao Lung .


Bukan dia ingin seperti itu, tapi hal itu lebih karena dia mengalami kesulitan untuk bernafas, akibat ulu hatinya tertendang oleh Siao Lung .


Siao Lung sambil tersenyum berkata,


"Waduh jangan seperti ini, nanti aku pendek umur.."


"Kamu lebih tua mana boleh begini.."


Selesai berkata sambil tertawa jenaka Siao Lung sudah berpindah ke arena keempat.


Gelak tawa dan sorakan dukungan dari bangku penonton semakin membahana, saat Siao Lung melepaskan candaannya, setelah dengan gerakan cantik dia merobohkan Petugas Arena Ketiga .


Siao Lung sendiri begitu mendarat ringan di arena keempat, dia langsung di sambut oleh pukulan cahaya emas yang mengunci pergerakan nya.


Cahaya Emas membentuk kubah cahaya mengurung Siao Lung , sebelum dua berkas cahaya telapak tangan emas meluncur masuk kedalam kubah mengincar Siao Lung .

__ADS_1


Siao Lung dengan tenang menghentakkan energi cahaya hijaunya meledakkan kubah emas yang mengurungnya.


Bayangan hijau kemudian membentuk bayangan cangkang kura kura hijau raksasa, sebagai perisai untuk menyambut serangan tapak dari Petugas Arena Keempat.


"Blaaarrrr...!"


Tapak cahaya emas sirna rak berbekas setelah tertahan oleh perisai energi bayangan cangkang kura kura hijau .


Begitu tapak emas sirna, di mana Petugas Arena Keempat sedang terdorong mundur oleh ledakan benturan energi'nya dengan data tolak dari perisai energi cangkang kura-kura hijau dari Siao Lung .


Tiba tiba dia bergerak aneh dengan tubuh tersentak kesana kemari, seperti di tusuk oleh pedang tidak kasat mata.


Darah muncrat dari kedua pangkal bahu, kedua lengan dan kedua paha nya.


Nan Thian di tempat duduknya sambil bangkit berdiri dari posisinya.


Dia menatap tak percaya kearah adegan tersebut.


Di mana dia seperti melihat Siao Lung sedang menyerang lawannya dengan tebasan pedang tanpa wujud.


Tapi bila di perhatikan lagi, itu bukan jurus simpanannya, efeknya sama, cuma cara penggunaan nya berbeda.


Lebih cepat dan lebih praktis, Nan Thian seolah olah sedang menyaksikan dengan ilmu inilah kedua penculik Ying Ying dulu tewas.


Nan Thian akhirnya kembali duduk, diam diam Nan Thian menoleh kearah Siao Hung yang masih duduk diam dalam posisi bersila dengan sepasang mata terpejam.


"Apa gerangan yang terjadi, sehebat apakah ilmu Siao Hung saat ini..?"


Batin Nan Thian di dalam hati.


Di arena sana, pertandingan sudah berhenti, seiring dengan tumbangnya Petugas Arena Keempat .


Kini Siao Lung dengan sikap tenang sudah berdiri di hadapan Tin Siok.


"Paman akhirnya kita berjumpa.."


"Boleh aku lihat sebentar pilihan senjata yang akan anda tawarkan bila aku memang nanti..?"


Ucap Siao Lung berani.


Seolah olah dia sudah pasti akan menang, Tin Siok bukanlah halangan baginya.


Tin Siok tersenyum sabar, mengangguk dan berkata,


"Silahkan anak muda.."


"Ini kamu boleh lihat dengan puas.."


Tin Siok segera memunculkan beberapa macam senjata mengambang di hadapan Siao Lung .


Ada pedang golok busur dan anak panah, tombak, Toya , kapak, terakhir adalah sebuah benda giok putih yang berbentuk bulat panjang, agak mirip dengan senjata Vajra Buddha.


Tapi benda itu jelas bukan Vajra Buddha, karena tidak ada ukiran seperti Vajra.


Benda itu lebih mirip tongkat giok mini, dengan deretan rune menghiasinya.

__ADS_1


Siao Lung yang penasaran dengan benda itu, dia segera berkata,


"Paman itu senjata apa yang terletak paling ujung kanan itu..?"


Tin Siok menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu Siao Lung , benda itu sudah ada dalam kumpulan senjata pusaka sekte kami.."


"Apa fungsi nya, kami jelas tidak tahu. "


Siao Lung mengangguk, dia melihat Tin Siok memang bicara jujur apa adanya.


Tidak ada usaha untuk menutup nutupi sesuatu darinya.


Tin Siok menyimpan kembali deretan senjata di hadapan Siao Lung .


Kemudian dia berkata,


"Aku rasa cukup kamu melihatnya.."


"Sekarang saatnya kamu buktikan bahwa kamu.layak.memilkinya.."


"Majulah kalahkan aku, maka kamu boleh memilki satu dari tujuh senjata itu.."


Siao Lung mengangguk dan berkata,


"Tentu saja paman, aku memang kemari dengan tujuan itu.."


"Mari kita mulai saja.."


Tin Siok mengangguk dan berkata,


"Baiklah kalau begitu aku akan memulainya."


Tin Siok terlihat menghimpun energi emas bergerak melingkari tubuh'nya .


Sebelum kemudian dengan satu bentakan keras, Tin Siok melesat cepat menyerang Siao Lung dengan sepasang telapak tangan nya yang mengeluarkan bola cahaya emas.


Siao Lung segera bergerak cepat menghindari serangan Tin Siok.


Tapi berbeda dengan lawan lawannya sebelumnya.


Tin Siok mampu bergerak cepat mengimbangi kecepatan pergerakan Siao Lung .


Kemanapun Siao Lung menghindar, Tin Siok akan muncul menghadang langkahnya.


Memaksa Siao Lung untuk menyambut serangan nya.


Tapi Siao Lung yang bertubuh kecil sangat lincah, dua selalu berhasil menyelinap kesana kemari.


Meski langkahnya terhadang oleh Tin Siok, dia masih tetap bisa lolos.


Beberapa kali dia juga memberikan totokkan ancaman, yang membuat Tin Siok mau tidak mau harus menarik kembali dan membatalkan serangan nya.


Setelah beberapa waktu berlalu, mereka masih terus saling kejar kejaran.

__ADS_1


Akhirnya Tin Siok mengeluarkan ilmu simpanannya, dia langsung berubah menjadi 8 orang.


Mengepung dan menyerang Siao Lung dari 8 penjuru.


__ADS_2