
Fei Yang menghela nafas panjang, menatap kedua istrinya sejenak.
dan berkata,
"Istriku kelihatannya ketenangan kita di sini akan segera berakhir.."
"Fei Hsia tugas mu adalah jaga Xue Lian, apapun kondisinya tidak boleh tinggalkan Xue Lian ."
"Kamu mengertikan maksud ku.."
"Fei Hsia mengangguk cepat.."
Xue Lian menatap kearah Fei Yang dan berkata,
"Suami ku biarlah Fei Hsia membantu di sisi mu.."
"Biar aku bersembunyi di Goa sana itu sudah cukup.."
"Aku tidak mau menjadi beban.."
Ucap Xue Lian serius.
Fei Yang menepuk lembut punggung tangan Xue Lian dan berkata,
"Tidak sayang, sekali ini keputusan ku sudah bulat.."
"Biarlah Fei Hsia menjaga mu.."
"Dalam hal ini tidak ada beban ataupun siapapun menjadi beban.."
"Aku hanya ingin semuanya selamat.."
Ucap Fei Yang tegas.
Melihat ketegasan di mata Fei Yang yang sangat tidak biasa membantahnya.
Xue Lian dengan sangat terpaksa, akhirnya memilih untuk mengalah.
Dia mengangguk pelan, tidak berbantah lagi dengan suaminya.
Fei Yang menatap kearah Li Sun Nan Thian dan kedua putranya sambil tersenyum pahit dia berkata,
"Ayo kita kedepan untuk menyambut kedatangan mereka.."
Nan Thian dan Li Sun mengangguk cepat.
Si kembar juga mengangguk penuh semangat.
Fei Yang sebelum pergi dia berkata,
"Zi Zi. bawalah putri mu, ikut bersama ibu mu.."
"Kalian sebaiknya jangan pernah ikut campur.."
Zi Zi mengangguk, lalu dia segera pergi memanggil Ying Ying agar selalu ikut di sisi nya.
Fei Yang berjalan paling depan dengan pedang Xuan Yuan di tangan.
Di ikuti oleh Nan Thian, Li Sun, Fei Yung , dan Fei Lung.
__ADS_1
Mereka semua terbang cepat keluar dari dalam hutan kecil siap menyambut musuh yang sudah hadir di halaman rumput luas.
Saat Fei Yang dan rombongannya tiba di sana, mereka melihat pintu portal dimensi cahaya telah dirusak paksa hingga berlubang.
Sejumlah orang dunia persilatan telah memenuhi tempat itu.
Di lapangan sana sudah terlihat dua korban mati tergeletak tak bergerak .
Kedua orang itu, adalah Hon Bu ketua genk Naga Hijau, dia tewas dengan leher patah.
Sedangkan orang kedua yang tewas adalah Di Hu,.dia tewas dengan sekujur tubuh penuh dengan bekas luka cakar, terakhir adalah dada kirinya berlubang, jantungnya lenyap tanpa bekas.
Sedangkan di tengah lapangan kini terlihat Siao Huo, sedang bertanding seru melawan seorang lawan yang di katakan pria bukan perempuan juga bukan.
Dia lah ketua sekte air langit, Sui Sian.
Sui Sian meski terdesak oleh Siao Huo, tapi Siao Huo juga tidak mudah ingin mengalahkan nya.
Butiran air ajaib di tangannya bila di gunakan untuk menyerang Siao Huo, bila terpercik setetes air yang di kibaskan dengan setangkai daun Yang Liu.
Memberikan satu efek hebat yang mampu memadamkan api yang menyelimuti tubuh Siao Huo.
Selain itu juga menimbulkan luka koreng di tubuh Siao Huo.
Jadi Siao Huo harus extra hati hati mewaspadai percikan tetesan air dari pot kecil, yang terisi air langit dan setangkai daun Yang Liu, yang bisa di gunakan untuk mengibaskan air menyerang lawan.
Karena Siao Huo mewaspadai air langit tersebut, Sui Sian jadi masih mampu bertahan hingga sejauh ini.
Melihat hal itu Nan Thian segera berbisik ke Fei Yang,
"Ayah mereka semuanya keracunan, mereka bertindak di bawah kendali orang.."
"Biar aku yang maju menghadapi mereka semua, aku punya penawar nya.."
Bisik Nan Thian pelan.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Biar Fei Yung dan Fei Lung yang mengurus mereka, aku rasa cukup."
"Serahkan saja penawar mu ke mereka.."
"Bila mereka kuwalahan kamu baru maju gantikan mereka.."
Ucap Fei Yang yang ingin menyimpan tenaga Nan Thian .
Karena dia melihat musuh musuh sakti masih cukup banyak.
Lagipula dengan majunya Fei Yung dan Fei Lung, kedua putra kembarnya bisa mendapatkan pengalaman bertarung.
Nan Thian mengangguk, lalu dia segera mendekati Fei Yung dan Fei Lung.
Nan Thian berpesan serius ke mereka berdua, terutama Fei Lung.
"Mereka keracunan, jangan bunuh mereka.."
"Ini penawar racun nya, cukup lumpuhkan dan berikan penawar ini ke mereka.."
"Paham..?"
__ADS_1
Fei Yung dan Fei Lung mengangguk cepat, mereka berdua terlihat bersemangat.
Masing masing menerima beberapa biji obat penawar racun dari Nan Thian, mereka segera menyimpan nya dengan baik.
Nan Thian menatap mereka berdua secara bergantian dan melanjutkan berkata,
"Siapa yang mau maju duluan.."
"Aku saja,.."
Jawab Fei Lung bersemangat.
Nan Thian menoleh kearah Fei Yung ingin tahu pendapat nya.
Fei Yung mengangguk setuju, dia sendiri juga sangat inginkan hal itu.
Tapi dia masih bisa menahan diri, dia bisa menahan keinginannya. Agar tidak berebutan maju duluan dengan adiknya yang tidak sabaran.
Fei Yung dua memilih mengalah, Nan Thian bisa lihat hal itu.
Meski tidak berkata-kata, tapi Nan Thian diam diam kagum dengan sifat Fei Yung yang tenang dan penyabar.
Nan Thian balik menatap kearah Fei Lung dan berkata,
"Baiklah, kalau begitu Fei Lung kamu bersiaplah, tunggu instruksi dari ayah, kamu baru maju.."
Fei Lung mengangguk cepat.
Nan Thian kembali kesisi Fei Yang dan berkata,
"Ayah Fei Lung sudah siap, mereka hanya tinggal menunggu instruksi dari ayah.."
Fei Yang mengangguk pelan, dia lalu menempelkan jari melingkar di depan bibirnya, dia meniupnya dengan pengerahan Chi.
Seketika terdengar suara siulan keras yang menggetarkan jantung, bagi orang orang yang kurang tinggi Chi nya.
Mereka segera jatuh terguling tidak sadarkan diri, seperti ketua kelompok Beruang hitam, ketua kelompok ular hijau, ketua kelompok Lima Racun dan ketua kelompok pasir hitam.
Mereka berempat langsung tergeletak tidak sadarkan diri.
Sebaliknya Siao Huo langsung memberikan semburan api menyerang Sui Sian.
Memaksa Sui Sian terbang mundur sambil berjumplitan di udara, untuk menghindari serangan api ganas dari Siao Huo.
Siao Huo sendiri setelah berhasil memaksa Sui Sian mundur, dia juga segera terbang mundur menjauh.
Kemudian dia mendarat di sisi tuan nya, mendekam diam di sana, siap mendengarkan instruksi lebih lanjut dari tuannya.
Fei Yang memberi kode ke Fei Lung agar maju menggantikan posisi Siao Huo.
Fei Lung mengerti kode dari ayah'nya, dia segera terbang ketengah lapang menghadang di depan Sui Sian.
Sambil tersenyum penuh semangat, Fei Lung berkata.
"Hei kamu, ke la min ganda kemarilah, aku akan bantu kamu buang satu..!"
Mendengar ucapan Fei Lung yang sangat kurang ajar, marahlah Sui Sian.
Dia segera balas menunjuk kearah Fei Lung dan berkata,
__ADS_1
"Kamu bocah bau popok, berani omong besar di sini.."
"Segera bersujud,..aku akan mengampuni mu untuk kembali menyusu ke ibu mu.."