PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
EMPU JAYABAYA


__ADS_3

Tapi Hulagu Khan berjalan menuju mimbar, sambil tetap menggandeng tangan kakek tua ompong yang terlihat terus cengar cengir, seperti monyet habis cium bau terasi itu, dengan penuh hormat.


Sehingga Kubilai Khan meski heran dan bertanya tanya akan sikap adik nya.


Dia tidak mau banyak bertanya, dia segera memberi kode, agar segera di sediakan kursi lainnya.


Karena Hulagu Khan dengan sikap penuh hormat, dia tidak mengambil tempat duduk yang di siapkan oleh kakaknya.


Melainkan dia lebih memprioritaskan agar kakek itu duduk di sana, menggantikan dirinya.


Baru setelah kursi lain di datangkan, dia baru bersedia duduk di sana.


Kubilai Khan sendiri meski tahu, kakek itu, adalah tokoh sakti undangan adiknya.


Tapi dia benar benar tidak menyangka, adik nya akan menghormati nya hingga sedemikian rupa.


Tapi Kubilai Khan adalah seorang raja yang cerdas, tentu saja dia hanya menyimpan semua rasa heran dan penasaran nya, di dalam hati saja.


Tanpa berbicara apapun menyinggung hal itu, dia segera membuka sidang istana, membahas berbagai perkembangan dan laporan dari seluruh menterinya yang hadir di sana.


Hingga semua laporan selesai di bahas, Kubilai Khan baru menoleh kearah adiknya dan berkata,


"Hulagu sekarang saatnya, kamu perkenalkan ke publik, siapa jagoan senior yang berhasil kamu undang kemari..?"


Hulagu Khan bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang, "Beliau ini adalah tokoh undangan kami yang tinggal mengasingkan diri, di tepi hulu sungai Nil.."


"Dia aslinya bukan penduduk di sekitar tepi sungai Nil, dia hanya seorang perantau dari ujung laut selatan.


Di mana pulau pulau di sana terdiri dari rangkaian gugusan pulau gunung berapi.


Salah satu gugusan pulau yang terdapat di sana, bernama pulau Jawa, dari sanalah beliau berasal ."


"Nama tokoh undangan kami adalah Empu Jayabaya bila di negeri asalnya.."


"Bila di tanah pengasingannya beliau di panggil Syekh Malik Abdul Karim..."


Empu Ranubhaya yang hadir di bawah mimbar sana, di belakang YeSe Bu Hua.


Dari awal kehadiran kakek ompong itu, dia sudah terlihat gelisah.


Kini begitu nama kakek itu di perkenalkan, seketika raut wajah empu Ranubhaya menjadi pucat pasi.


Dia jadi berdiri diam membeku di sana.


YeSe Bu Hua yang melihat perubahan sikap dari guru secara tidak langsung nya.


Dia segera berkata, dengan suara bisikan pelan,

__ADS_1


"Empu kamu kenapa ?"


Empu Ranubhaya tersenyum kecut dan berkata,


"Sebentar lagi kamu juga akan tahu.."


Tiba tiba kakek yang dari tadi duduk diatas mimbar, bersikap cuek dan selalu cengar cengir.


Seolah-olah langit runtuh sekalipun dia tidak perduli, kini wajah nya tiba tiba berubah menjadi serius.


Saat dia menatap kearah YeSe Bu Hua, yang di belakangnya berdiri Empu Ranubhaya.


Empu Jayabaya tanpa memperdulikan semua yang hadir di sana.


Termasuk Kubilai Khan dan Hulagu Khan, dia mengabaikan nya begitu saja.


Dia langsung bangkit berdiri, kemudian melayang ringan turun dari mimbar dan berkata,


"Adik aku sungguh sungguh sulit mencari mu, kamu seperti tenggelam kedalam bumi.."


"Tidak di sangka hari ini, kita malah bertemu di sini.."


"Ha..ha...ha..ha...!"


"Akhirnya takdir mempertemukan kita kembali.."


Empu Ranubhaya sadar dia tidak bisa menghindar lagi dari kakak seperguruannya.


YeSe Bu Hua yang cerdas segera menangkap maksud kata kata kedua orang itu, yang sepertinya hubungan mereka tidak sedang baik baik saja.


YeSe Bu Hua sedikit merasa bersalah, bila dia tadi tidak memanggil Empu ke Ranubhaya.


Tentu Empu Jayabaya tidak akan mendengarnya, tokoh sakti itu pendengarannya terlalu tajam.


Jadi bisikan YeSe Bu Hua, bagi orang lain mustahil bisa mendengarnya.


Tapi bagi Empu Jayabaya itu suatu perkecualian, dia bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Dia bisa memisahkan dengan jelas suara yang dia ingin dengar dan tidak ingin dia dengar.


Bagi empu Jayabaya, tidak ada yang bisa membuatnya tertarik, selain beradu ilmu dengan orang sakti.


Atau, dia mendapatkan informasi keberadaan adik seperguruannya, yang memegang kitab Pancasona warisan gurunya.


Di mana sejak muda dia sudah sangat mengidam idamkan ilmu tersebut.


Tapi gurunya Empu Gandring menangkap ada sifat iblis ambisius dan licik di dalam diri empu Jayabaya.

__ADS_1


Jadi dia sengaja tidak mewariskan ilmu itu ke murid muridnya.


Dia lebih memilih membawa ilmu yang sangat kuat, tiada tandingannya itu, ikut mati bersamanya.


Agar tidak menimbulkan kekacauan di tanah Jawa.


Kelebihan dari ilmu itu adalah,


Ilmu itu bisa membuat orang yang menguasainya akan hidup abadi,


Selama alam masih ada, orang yang menguasai ilmu ini, tidak akan bisa di lukai ataupun di bunuh oleh siapapun.


Alam yang akan terus memulihkan lukanya, alam yang akan membuatnya hidup kembali


Tapi di akhir hayatnya, empu Gandring sebelum mulai membuat keris pusaka kutukan buat Ken Arok.


Dia berubah pikiran, karena dia telah menemukan sepotong batu Panca Warna yang jatuh dari langit.


Batu itu berhasil dia tempa menjadi sebilah keris, keris itu mampu membuyarkan Ilmu simpanannya Pancasona menjadi kehilangan fungsi.


Terluka oleh keris itu, lukanya tidak bisa di pulihkan oleh kekuatan alam.


Oleh karena itu dia dengan hati tenang sengaja membuat suatu salinan, yang berisi ilmu andalan nya itu, dalam sebuah kitab yang di beri nama kitab Pancasona.


Kitab ini sengaja dia sembunyikan di suatu tempat rahasia, hanya orang berjodoh, berhati lurus dan baik, yang akan menemukan tempat tersebut dan mewarisi seluruh ilmu yang di milikinya.


Bila pun ilmu ini tercecer jatuh ketangan orang berhati tidak lurus, dia juga tidak khawatir lagi.


Karena keris barunya itu mampu menjadi penangkal ilmu itu.


Tapi sepintar pintarnya manusia berhitung, lebih pintar lagi hitungan dari yang maha kuasa.


Empu Gandring tidak akan pernah menyangka, dia akan tewas di keris barunya itu.


Sedangkan kitabnya justru terjatuh ketangan Empu Ranubhaya yang kurang berbakat.


Sehingga dia tidak mampu menguasai inti ilmu itu, dia hanya memahami kulitnya saja.


Makanya saat melawan Yue Nan Thian dia menjadi kelabakan, apalagi di tubuh Yue Nan Thian mengalir energi batu panca warna .


Energi yang menjadi kutukan bagi ilmu kitab Pancasona itu sendiri.


Hal inilah yang membuat Empu Ranubhaya tidak sanggup menandingi Yue Nan Thian Pendekar Api dan Es Surgawi yang berdiri di pihak yang berlawanan dengan nya.


Empu Ranubhaya dari kitab warisan gurunya empu Gandring, dia ada mendapat peringatan akan keris pusaka pancawarna yang harus dia hindari.


Dan bila ilmu Pancasona belum dia kuasai dengan sempurna, empu Jayabaya kakak seperguruan murid utama gurunya ini, juga merupakan orang yang harus dia hindari.

__ADS_1


Dia sebisa mungkin tidak boleh membiarkan kitab itu jatuh ketangan kakak seperguruan nya itu.


.


__ADS_2