
Koki Zhou menatap kearah Thian Yi sambil meringis menahan rasa nyeri di dada nya.
Dia berkata pelan,
"Syukurlah Paman kakek guru masih selamat..!"
"Semua ini gara gara si bangsat koki Cong, dia bekerja sama dengan sekte pedang langit.."
"meracuni makanan para tetua dan pengurus jajaran atas, sehingga sekte kita di hancurkan.."
"Aku rasa selain aku, tidak ada satupun anggota sekte kita yang tersisa.."
"Selain koki Cong, pelindung Xue juga ikut berbelot bersama beberapa muridnya.."
"Mereka dan Koki Cong lah yang menjadi penunjuk jalan bagi sekte pedang langit untuk bergerak bebas di Ming Yue Shan Cuang, istana gunung cahaya bulan."
Ucap koki Zhou melaporkan situasi yang terjadi di sekte mereka.
Thian Yi menghela nafas panjang, dia kemudian berkata,
"Sudahlah koki Zhou, kamu tenang saja.."
"Sisa nya biar aku yang urus.."
"Saat ini yang terpenting adalah segera merawat luka mu.."
Ucap Thian Yi.
Koki Zhou mengangguk lemah,
tidak banyak berbicara lagi.
Kim Kim terlihat sibuk menaburkan obat luka mengobati koki paruh baya itu.
Sebenarnya jilatan Kim Kim akan sangat efektif dan bisa langsung menyembuhkan luka koki Zhou.
Tapi Kim Kim tentu saja tidak bersedia melakukan nya, bila yang terluka adalah Thian Yi tentu tanpa pikir panjang dia akan melakukan nya.
Tapi koki Zhou, dia tentu saja ogah, bahkan kini setelah dia bersama Thian Yi.
Nan Thian terluka sekalipun dia belum tentu mau melakukan nya, bila tidak seijin Thian Yi pasangannya.
Tapi obat luka Kim Kim cukup berkhasiat, koki Zhou setelah di berikan obat luka.
Tidak terlalu banyak merintih kesakitan lagi.
Setelah membungkus luka pria paruh baya itu hingga tuntas.
Kim Kim menatap kearah Thian Yi dan berkata,
"Yi ke ke apa rencana mu sekarang.."
Dengan sepasang tangan terkepal erat berkata,
"Si keparat Liu Chan, dia memanfaatkan situasi aku terluka parah, sedangkan ketua sekte Chi Ming meninggal.."
",Untuk menyerang dan menghancurkan sekte lautan pedang dengan cara keji dan licik."
"Aku tentu saja harus pergi membuat perhitungan dengan nya.."
"Aku akan membuat dia membayarnya lengkap dengan bunganya.."
__ADS_1
"Dia harus membayar dengan mahal atas perbuatannya ini.."
Kim Kim mengangguk pelan dan berkata,
"Aku akan membantu mu.."
Thian Yi meragu dan berkata,
"Tapi sekte pedang langit ada sarang Naga gua Harimau, aku tidak bisa membahayakan mu dalam masalah ini."
Kim Kim menepuk punggung tangan Thian Yi dengan lembut dan berkata,
"Kamu tenang saja, aku punya kemampuan itu, aku bisa melindungi diri ku sendiri.."
"Mari kita mengunjungi mereka bersama sama."
Thian Yi sekali lagi menatap wajah kekasihnya dengan penuh rasa terimakasih dan terharu.
"Terimakasih adik Kim Kim, kamu baik sekali.."
Kim Kim tersenyum manis dan berkata,
"Di antara kita tidak perlu ada ucapan terimakasih terus.."
"Ayo kita berangkat.."
Thian Yi mengangguk, lalu dia menoleh kearah koki Zhou dan berkata,
"Koki Zhou kamu rawatlah luka mu dengan tenang di sini.."
"Kami pamit permisi dulu.."
Koki Zhou mengangguk pelan dan berkata,
"Terimakasih Paman kakek guru,.."
"Semoga kalian cepat pergi cepat kembali, dan berhasil menyelesaikan semua tugas dengan baik.."
Thian Yi dan Kim Kim mengangguk dan il tersenyum.
Sesaat kemudian kedua muda mudi itu sudah terlihat berada di tepi telaga Tai Hu.
Mereka segera menggunakan perahu yang ada di sana, untuk menyusuri telaga tersebut.
Thian Yi sendiri yang mengendalikan arah laju perahu tersebut.
Karena seluruh anggota sekte yang bekerja sebagai tukang perahu pun, sudah di bantai habis oleh sekte pedang langit.
Thian Yi membawa perahu nya bergerak menuju Lin Wu Shan, yang juga masih terletak di pulau yang sama dengan lokasi sekte nya.
Puncak Lin Wu Shan adalah markas pusat aliran sekte Pedang Langit.
Saat ini tempat itulah yang akan di tuju oleh Thian Yi dan Kim Kim.
Tidak perlu waktu lama, Thian Yi dan perahunya, sudah mulai memasuki batas wilayah perairan sekte Pedang langit.
Kedatangan nya, segera di hadang oleh beberapa perahu yang berisikan anggota sekte pedang langit.
Mereka kebetulan sedang melakukan tugas patroli di tempat tersebut.
Begitu melihat beberapa perahu muncul menghadang perjalanan nya.
__ADS_1
Thian Yi segera melayang ringan berdiri di anjungan perahu nya, sambil menggendong kedua tangannya di depan dada, sambil menggenggam pedang Ming Yue Cien yang masih tersarung rapi.
Thian Yi pun berkata dengan suara lantang,
"Siapa yang datang, segera laporkan diri..!?"
"Bila tidak berkepentingan segera menyingkirlah, atau jangan salahkan aku bertindak kasar..!"
Dari salah satu perahu, terlihat seorang pria berkumis dan berjenggot tebal berkata dengan suara tidak kalah keras.
"Kami dari sekte pedang langit sedang melakukan tugas patroli..!"
"Sekte kami sedang tidak menerima kunjungan tamu..!"
"Silahkan mencari tempat lain , bila kalian ingin memadu.kasih..!"
Ucap si kumis tebal, yang segera di sambut gelak tawa tekan rekannya.
Setelah tahu mereka adalah dari sekte pedang langit, Thian Yi sudah tidak bersungkan lagi.
Tanpa banyak bicara, dia langsung menebaskan pedang yang masing di dalam sarungnya, sebanyak enam kali mengarah ke 6 perahu yang menghadang perjalanan nya.
"Singgg...! Singgg...! Singgg...!"
"Singgg...! Singgg...! Singgg...!"
6 berkas cahaya kuning terang melesat membelah telaga, langsung tertuju kearah 6 perahu yang menghadang di depan sana.
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
Enam perahu yang menghadang di depan langsung meledak pecah terbelah dua.
Begitu pula dengan tubuh para anggota sekte pedang langit, yang berada di atas masing masing perahu.
Mereka semua tewas dengan tubuh terbelah dan jatuh mengambang diatas telaga.
Sebelum kemudian semuanya tenggelam kedalam dasar telaga, meninggalkan bekas di air telaga yang tadinya biru kehijauan jernih, kini berubah menjadi merah semuanya.
Thian Yi tidak menghiraukan keadaan yang terjadi di depan dan sekitarnya.
Dia sudah melayang mundur, kembali ke posisi di ujung belakang perahu.
Melanjutkan mendayung dan mengendalikan arah laju perahu, perlahan-lahan meninggalkan tempat tersebut.
Kim Kim lebih tidak ambil peduli, dengan kejadian yang sedang berlangsung tadi.
Dia malah terlihat sedang sibuk membakar udang ikan dan menanak nasi di bagian tengah perahu.
"Sayang nasi, ikan dan udang sudah matang, kemarilah, kita isi perut dulu yang kenyang.."
"Baru melanjutkan perjalanan lagi.."
Ucap Kim Kim santai.
Seakan akan situasi di sekitarnya yang banjir darah, dengan bangkai perahu berserakan di sekitar, bukan masalah buatnya.
Thian Yi tersenyum dan berkata,
"Tunggulah sebentar sayang, setelah menjauhi tempat yang kotor ini, kita baru makan bersama.."
__ADS_1
Kim Kim mengangguk pelan, lalu dia terlihat menyibukkan dirinya, dengan mengambil nasi, dan membantu mengupaskan kulit udang buat Thian Yi.