PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENYURATI ZHU YUAN ZHANG


__ADS_3

Lebih baik dia segera memasuki kota, mencari orang untuk mengirimkan informasi ke Nan Jing.


Agar bisa segera di kirimkan orang untuk mengambil alih An Hui dan Kai Feng yang sudah dia duduki.


Nan Thian menghampiri Zi Zi dan berkata,


"Zi er kamu baik baik saja ?"


Zi Zi tersenyum dan berkata,


"Mengalahkan nya aku belum bisa, tapi melukai ku dia juga belum ada kemampuan itu.."


"Nan Thian ke ke tenang saja, aku tidak apa-apa.."


Nan Thian tersenyum lega dan berkata,


"Baguslah kalau kamu baik baik saja, aku tadi sempat khawatir melihat kemampuan kalian berimbang."


"Tapi Padri Setan dan kakek itu sangat merepotkan, jadi aku juga sulit pergi membantu mu."


Zi Zi tersenyum manis, dia menggandeng tangan suaminya dan berkata,


"Aku ngerti, bukan masalah.."


"Ayo kita masuk kedalam kota,.."


Nan Thian mengangguk, lalu mereka berdua bergandengan tangan mesra, berjalan masuk kedalam kota.


Sampai di dalam kota, Nan Thian dan Zi Zi saling pandang, melihat situasi di dalam kota yang terlihat begitu sepi.


Tidak ada penduduk kota, yang berani keluar dari dalam rumah mereka.


Nan Thian dan Zi Zi yang memilki pendengaran tajam, mereka tahu dengan jelas.


Kota itu penduduknya sangat padat, mereka hanya bersembunyi di dalam rumah saja.


Tidak ada yang berani keluar dari dalam rumah, di dalam setiap rumah penduduknya masih ada, kota ini tidak benar-benar sedang di kosongkan.


Setelah saling pandang sejenak, mereka berdua melanjutkan langkah mereka berjalan menuju sebuah penginapan dan restoran besar.


Hanya bangunan ini yang daun pintunya di biarkan sedikit terbuka.


Tidak sepenuhnya di tutup, seperti toko ataupun rumah penduduk lainnya.


Penginapan dan restoran ini, sebenarnya bukan nya tidak takut mati.


Mereka tidak bisa menutup pintu penginapan mereka secara total, karena di dalam restoran mereka, masih ada beberapa tamu restoran di dalam sana, yang sedang makan.


Selain itu penginapan mereka juga ada tamu nya, jadi mereka tidak berani sembarang menutup total dan mengisolasi penginapan dan restoran mereka.


Saat Nan Thian dan Zi Zi berjalan masuk kedalam, semua orang menatap curiga ke mereka berdua.


Dalam keadaan kacau, mereka berdua berani berkeluyuran di luar, ini tentu aneh.


Ditambah lagi Zi Zi terlihat begitu cantik, sedangkan Nan Thian justru terlihat begitu tua, bila orang sekilas memperhatikan dari rambutnya saja.

__ADS_1


Bila orang memperhatikan wajah Nan Thian dengan teliti, mereka baru menyadari Nan Thian masih muda dan cukup sepadan dengan Zi Zi.


Nan Thian tidak ambil perduli dengan tatapan heran semua orang.


Nan Thian langsung melangkah menghampiri seorang pelayan muda dan berkata,


"Adik di mana bos kalian ?"


"Aku mau pesan kamar...sekaligus pesan air panas buat mandi kami, dan beberapa macam sayur dan daging andalan dari restoran,, penginapan kalian ini."


"Ohh itu, baik tuan.."


"Harap ditunggu sejenak, aku pergi panggil bos dulu."


Ucap pelayan itu dengan tubuh membungkuk penuh hormat.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Silahkan.."


Nan Thian lalu mengajak Zi Zi mencari tempat duduk, yang tidak begitu jauh dari meja kasir.


Mereka berdua duduk santai di sana, sambil menunggu bos pemilik penginapan keluar menemui mereka.


Beberapa saat kemudian, seorang pria gemuk yang merupakan bos pemilik penginapan dan restoran.


Berjalan menghampiri meja kasir , di ikuti oleh pelayan yang pergi memanggilnya tadi.


Pria gemuk itu sambil tersenyum lebar berkata,


Nan Thian bangkit berdiri, lalu berjalan menghampiri meja kasir dan berkata,


"Aku perlu sebuah kamar bagus, yang ada kamar mandi dalam juga ada air hangat buat mandi..'


"Juga sekalian tolong di siapkan Beberapa macam masakan andalan restoran kalian, untuk di antarkan ke kamar kami.."


"Apa bisa..?'


Tanya Nan Thian sambil meletakkan sekeping uang emas di atas meja.


Melihat uang emas itu, pemilik restoran sepasang matanya langsung berbinar binar.


Dia segera mengangguk cepat dan berkata,


"Tentu tuan..kami akan menyiapkan yang terbaik untuk tuan.."


Nan Thian mengangguk pelan.


Pria gemuk itu segera menyerahkan sebuah kunci ke pelayanan nya dan berkata,


"Tolong antarkan tamu ke kamar, layani dengan baik, jangan sampai ada kesalahan.."


Pelayan muda itu mengangguk cepat, sambil menerima kunci dari bosnya.


Setelah itu dia segera menjadi penunjuk jalan, mengantar Nan Thian dan Zi Zi ke kamar khusus, kamar terbaik yang mereka punya.

__ADS_1


Setelah tiba di depan kamar yang dituju, pelayan muda itu dengan gerakan cepat segera membuka kunci pintu kamar.


Setelah itu dia mendorong pintu kamar terbuka.lebar lebar dan berkata,


"Silahkan Tuan,.. Nona,.. silahkan di lihat kedalam, apa ada yang kurang..?"


Nan Thian dan Zi Zi masuk kedalam kamar melihat lihat sejenak keadaan kamar.


Sejenak Nan Thian menatap kearah Zi Zi meminta pendapat istrinya.


Begitu mendapatkan anggukan persetujuan istrinya, Nan Thian baru menoleh kearah pelayan muda itu dan berkata,


"Baiklah kamar ini saja, jangan lupa siapkan air panas dan pesanan makan kami.."


Pelayan itu mengangguk dan berkata,


"Baik tuan, hamba akan segera pergi menyiapkan nya.."


"Apa ada hal lainnya tuan..?"


Tanya pelayan itu sopan.


Nan Thian segera berkata


"Oh ya,.. apa boleh pinjam kertas dan alat tulis..?"


"Ohh itu, itu ada di meja sebelah sana tuan gunakan saja bebas.."


Ucap pelayan muda itu, sambil menunjuk kearah meja tulis, yang terlihat lengkap dengan kursi dan segala peralatan dan perlengkapan menulis. Meja tersebut terletak di samping pintu jendela kamar ..


"Terimakasih.."


Jawab Nan Thian singkat.


Dia langsung pergi menuju meja itu, untuk mencoba menulis sepucuk surat.


Zi Zi segera mendampinginya, dengan membantu mengasah tinta buat suaminya.


Sedangkan pelayan muda dia sudah keluar dari dalam kamar, menutup daun pintu dengan hati hati.


Lalu dia segera pergi menyiapkan pesanan masakan dan air panas yang Nan Thian butuhkan.


Sebenarnya bagi Nan Thian pribadi air dingin air panas bukan masalah.


Dia memesan itu, bukan buat dirinya, tapi lebih karena untuk bidadari kecilnya, yang dari dulu lebih suka mandi air panas.


Sejak kecil Zi Zi sudah mengikutinya, jadi tabiat istri kecil nya itu, Nan Thian tentu sangat hapal.


Tidak lama kemudian selesailah surat yang Nan Thian tulis untuk di tujukan ke Zhu Yuan Zhang.


Mereka sudah cukup lama berpisah, Nan Thian juga tidak tahu, apa Kim Kim dan Thian Yi sudah berhasil membantu Zhu Yuan Zhang merebut Su Zhou menahlukkan Zhang Shizheng.


Surat tersebut Nan Thian keringkan sejenak dengan di tiup pelan.


Setelah itu, baru dia lipat dan masukkan kedalam sebuah sampul surat yang memang tersedia di sana.

__ADS_1


__ADS_2