
Liu Cong Kuan segera maju kedepan menjura kearah para penghadang di depan sana dan berkata,
"Harap saudara sekalian mau memberi muka kepada Putra Langit dan Naga Emas, agar kami sebagai pesuruh ini, bisa numpang lewat di jalan ini dengan aman.."
"Memberi muka kata mu, justru yang kami tuju, adalah khusus mencoreng mukanya.."
"Mau itu cacing tanah, atau putra gembel, siapa yang perduli."
Ucap salah satu penghadang dengan logat bicaranya yang seperti datang dari daerah barat, diluar tembok besar..
Tubuhnya yang tinggi besar, juga jelas memperlihatkan, dia kemungkinan bukan orang Han.
Sun Jian dan Siao Hung yang keluar dari kereta yang mereka tumpangi.
Segera maju kedepan menghampiri Liu Cong Kuan.
Saat mendengar cara bicara penghadang yang ada didepan sana.
Siao Hung dan kakeknya saling pandang, mereka kemudian kembali menoleh kearah orang yang berbicara dengan tatapan mata curiga.
Soalnya ciri ciri orang ini, terlalu mirip dengan pemuda sombong, yang di hajar oleh Siao Hung beberapa hari lalu, di tepi telaga buatan di kota An Hui.
Melihat kemunculan Sun Jian dan Siao Hung di samping Liu Cong Kuan.
Penghadang, yang barusan berbicara itu langsung tertawa keras.
"Di cari kemana mana, ternyata si kuda binal ini ada di sini.."
"Paman Zul sekali ini kamu harus bantu aku tangkap kuda binal ini untuk ku ."
"Setelah aku bosan, terserah paman deh, mau di jadikan budak atau mau di jual.."
Penghadang lainnya yang bertubuh lebih kecil, langsung mengangguk anggukan kepala nya.
Seolah olah menyetujui ucapan rekan di sebelah nya.
Liu Cong Kuan sadar kelompok ini datang justru sengaja ingin cari ribut dengan tuan nya.
Jadi tiada guna banyak bicara, mumpung mereka belum begitu jauh dari kota An Hui.
Melepaskan tanda bahaya adalah satu satunya cara, siapa tahu ada yang melihatnya.
Sehingga tuannya bisa cepat kemari.
Orang orang ini berani datang tentunya mereka punya kemampuan untuk itu.
Berpikir seperti itu, Liu Cong Kuan segera melepaskan tanda bahaya keudara .
"Singgg...!"
"Pyaaarrr...!"
Kembang api melesat keatas mengeluarkan suara berdesing nyaring, sebelum kemudian meledak di atas ketinggian sana.
Begitu melihat Liu Cong Kuan melepaskan sinyal bahaya keudara.
Tanpa di perintah para pengepung segera mencabut senjata mereka, lalu merangsek maju menyerang Liu Cong Kuan dan rombongannya.
Sun Jian menghadapi pria yang tadi diajak bicara oleh rekannya itu.
Sedangkan Siao Hung di kepung lima orang penghadang.
Siao Hung segera mencabut pedang lentur yang dililitkan di pinggangnya memainkan Ilmu pedang Thai Chi Cien Fa, dari partai Wu Tang.
Untuk melayani kepungan serangan golok yang datang bertubi tubi menyerangnya dari berbagai arah.
Liu Cong Kuan sendiri di keroyok lima penghadang, di dalamnya termasuk penghadang yang berbicara paling awal tadi.
__ADS_1
Liu Cong Kuan juga terlihat sibuk, dan harus mati matian mempertahankan diri dari serangan berbahaya para pengeroyoknya itu.
Sedangkan anak buah yang di bawa Liu Cong Kuan, mereka lebih repot lagi, mereka satu orang harus menghadapi keroyokan 2 sampai 3 penghadang.
Dalam waktu singkat mereka sudah tertekan di bawah angin.
Korban terlihat mulai berjatuhan dengan cepat.
Di posisi lain Sun Jian yang memainkan Thai Chi Quan dengan kedua tangan nya.
Dengan langkah langkah kaki yang di geser pelan tapi kokoh kuat dan lentur.
Dia menghadapi lawan yang.nemilki.tenaga dalam yang sangat kuat.
Setiap serangan dan perubahan jurus nya, selalu mendatangkan angin menderu deru yang sangat kuat.
Perubahan jurusnya juga sangat unik dan sulit di tebak.
Untungnya jurus Thai Chi Quan adalah jurus lemah gemulai, tapi sangat kuat.
Dia bisa meminjam tenaga serangan lawan, untuk menjatuhkan lawannya sendiri.
Jadi sejauh ini mereka berdua masih cukup berimbang.
Belum terlihat ada yang lebih unggul.
Penghadang yang menjadi lawan Sun Jian, lebih agresif dalam menyerang.
Sedangkan Sun Jian lebih fokus bertahan dan meretur kembali serangan lawan nya yang datang.
Lawan Sun Jian mulai meningkatkan permainan tapaknya, yang memunculkan bayangan tapak yang berjumlah banyak mengurung Sun Jian.
Setelah beberapa saat berlalu, Sun Jian mulai terlihat main mundur.
Dia mulai terdesak oleh serangan tapak lawannya yang sangat banyak.
Bayangan dua tapak lainnya muncul dari arah lain.
Tanpa bisa di cegah dua bayangan tapak dari arah lain berhasil bersarang telak di dada Sun Jian.
"Dessss..! Dessss..!"
Su Jian terdorong mundur dengan langkah terhuyung-huyung kebelakang.
Di saat bersamaan dari arah punggung Sun Jian, muncul puluhan tapak tangan bersarang di punggung Su Jian.
Sun Jian langsung jatuh roboh terguling kedepan.
Lawannya segera merendahkan tubuhnya dalam posisi setengah berjongkok dia melepaskan dua dorongan tapak berkekuatan dahsyat menghantam dada Sun Jian.
Sun Jian berusaha menyambut dengan kedua tangannya, kemudian serangan itu dia arah kan ketempat lain.
"Blaaarrrr...!"
Serangan itu oleh Sun Jian diarahkan ke 5 penyerang yang sedang mengurung Siao Hung.
Sehingga Siao Hung dan kelima pengepungnya terpental oleh ledakan serangan tersebut.
Sun Jian sudah mencabut pedang lentur dari pinggang nya.
Lalu dia melompat kearah lima penyerang Siao Hung yang sedang terpental.
"Sraaat...!" "Sraaat...!" "Sraaat...!"
"Sraaat...!" "Sraaat...!"
"Arggggghhh...!'
__ADS_1
Kelima orang itu berteriak kesakitan saat tangan mereka yang memegang golok terpapas putus oleh Sin Jian.
"Siao Hung cepat lari,..!"
"Tinggalkan tempat ini cepat..!"
teriak Sun Jian ke putrinya.
"Tapi ayah..!"
Ucap Siao Hung yang sudah mendarat sempurna di tempat agak jauh meragu.
"Cepat lari,..tiada waktu membantah .!"
Teriak Sun Jian sekali lagi, sambil membagi konsentrasi.
Siao Hung mengigit bibirnya sendiri mengeraskan hati, dengan airmata bercucuran dia menatap bayangan punggung ayahnya sekali lagi.
Setelah itu dia segera melompat menjauh mencoba melarikan diri dari celah sempit tersebut.
Beberapa penghadang yang coba menghadang langkah Siao Hung.
Mereka bukan lawan Siao Hung.
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Tringgg...,!"
"Brettt..!"
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Tringgg...,!"
"Brettt..!"
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Tringgg...,!"
"Brettt..!"
Terdengar suara benturan senjata sebelum.mereka satu persatu roboh di tangan Siao Hung yang sedang berusaha meloloskan diri dari tempat tersebut.
Akhirnya Siao Hung berhasil menerobos kepungan dan melarikan diri dari celah sempit.
Berbeda dengan Siao Hung, kejadian sebaliknya terjadi pada Sun Jian.
Akibat pengalihan perhatian,.saat menghadapi lawan berat.
Dari serangan sebuah tongkat akar tanaman yang berubah menjadi puluhan bayangan tongkat datang menyerangnya.
Sun Jian hanya berhasil menangkis beberapa saja,. sisanya berhasil mendarat telak di sekujur tubuhnya.
"Bak.! Bik.! Buk..! Bak..! Bik.! Buk..!
"Bak.! Bik.! Buk..! Bak..! Bik.! Buk..!
"Bak.! Bik.! Buk..! Bak..! Bik.! Buk..!
Tubuh Sun Jian terpental menabrak tumpukan peti di belakangnya.
__ADS_1
"Brakkkk..!"