PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
PENCAPAIAN BARU LI SUN


__ADS_3

Langit seolah olah merasa kasihan dengan keadaan nasib dan takdir pemuda malang itu.


Sehingga langit memenuhi harapan pemuda yang hampir mati kehausan itu.


Dengan menurunkan hujan mengguyurnya, sehingga dahaga yang hampir merengut nyawa pemuda itu menjadi sirna.


Pemuda itu dalam genangan air, perlahan-lahan dengan bertumpu pada lengan kirinya.


Akhir nya dia berhasil bangkit untuk duduk, pemuda itu membuka mulutnya lebar lebar.


Menampung air hujan lebat, yang masuk deras kedalam mulutnya, membasahi tenggorokan nya yang kering.


Beberapa saat kemudian setelah dahaganya hilang, pemuda itu menatap kearah langit dan berkata dengan suara serak.


"Langit katakan pada ku,..! Ohh angin dan hujan,..! Kalian berdua katakan pada ku..!"


"Apakah aku telah salah..!?"


"Apakah mencintai dan ingin memilki dan mempertahankan istri ku sendiri..aku salah..!"


"Seorang pria yang tidak bisa mempertahankan istrinya sendiri, apakah dia layak di sebut pria..!"


"Katakanlah ..!!"


Teriak pemuda itu dengan suara serak seperti orang kurang waras.


Tentu saja langit hanya mampu menjawabnya dengan kilatan petir dan suara bergemuruh di angkasa sana.


Pemuda itu akhirnya jatuh terduduk lemas di sana, dia menggunakan tangan kiri nya, menghapus wajahnya yang basah oleh airmata bercampur air hujan.


Pemuda itu adalah Li Sun, putra mahkota kerajaan Xi Xia yang sudah lenyap di gilas oleh kerajaan monggolia.


Li Sun tadinya masih menyimpan harapan, dia berusaha menembus batas kemampuan nya.


Mencoba untuk menciptakan jurus ke 11 Tapak Buddha, agar dia kelak punya harapan bisa merebut Zi Zi kembali ke sisinya.


Tapi sayangnya harapan dan cita citanya harus pupus, akibat dia tersesat dalam latihan semua urat nadi utama dan meridian di dalam tubuhnya.


Kini setengahnya pecah, dia menjadi lumpuh setengah badan kebawah.


Bagian atas tubuhnya tinggal satu tangan, bagian bawah tubuhnya lumpuh.


Chi di dalam tubuhnya buyar, tidak bisa lagi di kumpulkan dan kendalikan.


Dia kini hanya menjadi seorang cacat tidak berguna, bagaimana dia bisa mewujudkan harapan dan cita-cita nya.


Makanya saat ini, Li Sun terlihat begitu putus asa dan tidak berdaya.


Dia benar benar merasa sedih dan putus harapan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Li Sun berkata,


"Li Sun kamu sadarlah, tidak cacat bertubuh lengkap, berilmu tinggi.."


"Dia tidak menghendaki mu.."


"Apalagi kini, tangan tinggal satu kaki lumpuh, kesaktian tiada, kamu mau gunakan apa untuk di bandingkan dengan nya.."


"Kamu ada hak apa ?"


"Sekalipun dia mau, bagaimana kamu akan pergi membahagiakan nya.."


"Li Sun oh Li Sun,.. mengapa kamu tidak mencoba merelakan nya, semua serahkan pada takdir dan jodoh.."


"Letakkan semua perasaan benci, dendam, marah, kecewa, tidak puas dan semua hal hal negatif.."


"Kembali ke jalan Buddhis, jauhi cinta fana pria dan wanita.."


"Semua nya adalah kosong, tidak ada gunanya kamu perjuangkan.."


Li Sun terlihat sedang membatin dan merenungkan kembali semua ajaran Buddha yang pernah ke 9 gurunya ajarkan padanya.


Perlahan-lahan satu persatu ajaran dan nasehat yang pernah di ajarkan oleh gurunya.


Mulai bisa di cerna oleh Li Sun sedikit demi sedikit.


Perlahan lahan wajah Li Sun yang kusut dan penuh dengan penderitaan.


Perlahan-lahan aura kegelapan yang menyelimutinya, mulai hilang.


Tergantikan oleh cahaya kemilau keemasan menyelubungi seluruh tubuh Li Sun.


Dengan munculnya cahaya menyelubungi tubuh Li Sun, kesepuluh senjata Buddha yang ada terhubung dengan dirinya.


Juga mulai memancarkan cahaya nya, kemudian satu persatu melesat menyatu kedalam tubuh Li Sun.


Tubuh Li Sun yang tadinya duduk diam tak berdaya, perlahan lahan mulai bisa bergerak terbang ke atas.


Sepasang kakinya mulai bisa dia gerakkan kembali, untuk membentuk posisi duduk bersila bunga teratai.


Pedang Sarira di dalam tubuh Li Sun, yang membantu proses pemulihan syaraf Meridian dan nadi utama Li Sun yang rusak.


Semuanya di perbaiki, termasuk Chi, Li Sun yang yang buyar.


Pedang Sarira yang membantu mengumpulkan semua Chi, untuk di satukan, sebelum di simpan kedalam tubuh Li Sun.


Setelah beberapa waktu berlatih, Li Sun yang merasa tubuhnya sudah kembali segar dan normal.


Dia menghentikan latihannya, Perlahan-lahan tubuhnya melayang turun kebawah, bersama bayangan bunga teratai yang menjadi alas duduk nya.

__ADS_1


Setelah Li Sun menurunkan kedua kakinya yang tidak beralas menapak tanah.


Bayangan bunga teratai pun lenyap dengan sendirinya.


Li Sun berjalan santai menghampiri deretan pohon buah, yang tumbuh tidak jauh Pohon Bodhi Tua tempat di mana dirinya selalu bertapa selama 7 tahun ini.


Saat berada di bawah pohon buah, Li Sun hanya mengulurkan tangannya ke atas.


Pohon itu, buahnya langsung berjatuhan dengan sendiri nya, kedalam telapak tangan Li Sun.


Li Sun tidak ambil banyak, dia hanya ambil tiga buah untuk di makan.


Sambil makan buah yang ada di tangan nya, Li Sun menaiki sebuah awan yang mengeluarkan cahaya emas.


Membawanya terbang tinggi keatas, hingga tiba di puncak tebing.


Di puncak tebing yang belum pernah Li Sun kunjungi selama ini.


Ternyata ada sebuah kolam yang tidak begitu besar, tapi airnya sangat jernih.


Di tempat tersebut Li Sun melepaskan seluruh pakaiannya, yang masih melekat di tubuh nya .


Setelah melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, Li Sun langsung melayang ke tengah kolam.


Perlahan-lahan tubuhnya masuk kedalam kolam yang airnya sangat jernih itu.


Li Sun perlahan lahan menenggelamkan diri di bagian tengah tengah kolam berair jernih tersebut.


Li Sun benar benar tenggelam hingga kedasar kolam, di dasar kolam yang beralaskan batu giok putih.


Li Sun duduk bersila posisi bunga teratai, dengan sepasang mata tertutup.


Satu persatu kenangan masa lalu muncul dalam pikiran Li Sun, seperti ditayangkan kembali.


Setiap tayangan kembali selesai, akan muncul kabut asap hitam, terkadang merah, terkadang putih.


Semuanya satu persatu keluar dari kepala Li Sun.


Setiap asap itu keluar apapun warnanya, air kolam akan berubah warnanya mengikuti kabut asap itu.


Kejadian tersebut berlangsung sampai ada kabut asap lain muncul, baru air kolam kembali ke warna asal.


Setelah itu baru perlahan lahan kembali berubah mengikuti warna kabut asap yang muncul berikut nya.


Warna kabut di tentukan oleh bayangan tayangan ulang jalan pikiran Li Sun.


Bila dia sedang merasa marah berduka, maka akan muncul kabut merah, bila dia sedang merasa penuh dendam dan kebencian, maka akan muncul asap hitam.


Bila dia sedang merasa bahagia dan gembira, maka akan muncul asap putih.

__ADS_1


Silih berganti kabut asap warna warni itu, terus keluar dari kepala Li Sun.


Setiap ada bayangan kabut asap yang keluar dari kepala Li Sun, wajah Li Sun akan berubah menjadi lebih cerah.


__ADS_2