
Siao Lung mengangguk dan berkata,
"Ya..kamu tenang saja.."
Selesai berkata Siao Lung langsung menghilang dari sana.
Dia langsung muncul di arena pertama.
Kemunculan Siao Lung yang secara tiba tiba segera mengangetkan semua orang yang hadir di sana.
Nan Thian dari tempat duduknya terlihat agak khawatir, tapi selain khawatir dia juga penasaran.
Ingin tahu sejauh apa kemampuan anak luar biasa itu.
Di mana bisa jadi anak itu ada hubungannya dengan dirinya.
Nan Thian terlihat agak tegang, Zi Zi yang bisa merasakan apa yang suami nya rasakan.
Dia menyentuh lembut tangan suaminya dan berbisik,
"Suamiku ada baiknya kamu duduk agak sedikit mendekati arena.."
"Agar bisa memberikan pertolongan, bila dia dalam bahaya.."
Nan Thian menoleh kearah istrinya dan berkata,
"Kalau begitu kita kesana.."
"Aku tidak mau kamu jauh dari ku.."
Zi Zi tersenyum manis dan berkata,
"Baiklah suamiku.."
"Ayo kita kesana sekarang.."
Mereka berdua kemudian sambil bergandengan tangan menyelinap menyelinap di antara keramaian penonton.
Mereka berganti tempat duduk, agar lebih dekat ke arena.
Nan Thian akhirnya ikut duduk berbaur dengan kelompok partai pengemis.
Kedatangan mereka suami istri tidak menarik perhatian, karena semua orang sedang heran melihat keberanian bocah 8 tahun, yang seperti seekor anak sapi tidak mengenal buasnya harimau.
Tapi yang menjadi pertanyaan adalah di mana orang tua anak itu, kenapa bisa Biarkan dia bebas berkeliaran di tempat seperti ini.
Anaknya siapa bocah ini sebenarnya.
Banyak pertanyaan yang menggelayuti benak semua orang, tapi tidak ada orang yang mengenalinya.
Siao Lung yang sudah hadir di arena pertama dia segera berkata,
"Kakak penguji, mari kita main main sejenak jangan sungkan..'
"Karena tujuan aku, kemari adalah untuk mengambil sumberdaya kalian sebanyak mungkin.."
"Karena aku dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan nutrisi sumber daya itu.."
Petugas Arena Pertama sambil tersenyum berkata,
"Boleh saja bila kamu ada kemampuan silahkan saja.."
Tadi kalah dari Ji Lian Chu,.rasa kesalnya belum hilang..
__ADS_1
Kini malah muncul bocah cilik ingin menantang nya.
Petugas Arena Pertama berpikir, dia pasti akan menyiksa dan memberi pelajaran untuk kelancangan anak di hadapannya itu.
Petugas Arena Pertama langsung mengerahkan tapas cahaya kuning nya, bersiap untuk memberikan serangan pembuka ke Siao Lung .
Siao Lung sendirian bersikap tenang, dia hanya diam menunggu.
Menunggu Petugas Arena Pertama lah yang datang menyerangnya.
Petugas Arena Pertama akhirnya melangkah maju dengan gerakan asal asalan dia menampar kearah wajah Siao Lung .
"Wuttt...!"
Bocah cilik yang di tampar nya menghilang.
Kemana bocah itu, batin Petugas Arena Pertama bingung.
Dia terlihat melihat kesana kemari mencari cari, hingga terdengar suara bocah cilik itu.
"Aku di sini paman di bahu mu.."
"Kamu cari kemana..?"
Ucapan Siao Lung segera mengangetkan Petugas Arena Pertama .
Petugas Arena Pertama dengan gerakan cepat menyerang dengan pukulan nya kearah atas kepala dan pundak.
"Wuttttttt..!"
Tapi serangan nya kembali meleset, tidak mengenai sasaran.
Karena kini Siao Lung sudah berpindah kearah pinggang nya, menempel di bagian tersebut.
Karena Siao Lung benar benar sangat merepotkan dirinya.
Kemanapun dia menyerang dia selalu gagal menyerang Siao Lung.
Secepat apapun dia menyerang, menarget Siao Lung tapi dia selalu gagal menemui sasaran nya..
Dia seperti sedang menyerang bayangan nya sendiri.
Semakin cepat dia menyerang Siao Lung , Siao Lung semakin cepat pula menghilang nya.
Petugas Arena Pertama mulai menyadari Siao Lung bukan bocah biasa.
Siao Lung adalah bocah ajaib yang memiliki kemampuan yang hebat.
Petugas Arena Pertama tidak lagi berani meremehkan Siao Lung , dia mulai bergerak dengan teratur dan cepat.
Dia mengerahkan seluruh kecepatan dan tenaga pukulan nya yang mengandung hawa intimidasi kuat.
Mengunci Siao Lung agar tidak bisa bergerak bebas, sayangnya usaha Petugas Arena Pertama selalu gagal.
Dia tetap menjadi bulan bulanan, di permainkan oleh Siao Lung .
Hingga Siao Lung merasa bosan dan puas bermain main, dia baru balas menyerang titik darah Petugas Arena Pertama yang terletak di bawah ketiaknya.
Serangan cepat itu di lakukan bertepatan dengan saat Petugas Arena Pertama pertama pukulan tapaknya gagal.
Siao Lung menyelinap di bawah ketiaknya, dan memberikan totokkan cepat di area tersebut.
Sehingga Petugas Arena Pertama langsung di buat berdiri mematung di sana, tidak mampu bergerak.
__ADS_1
Semua penonton di bawah sana sampai melongo, di buat kenyataan yang terjadi di atas arena sana.
Siapapun tidak menyangka, Petugas Arena Pertama yang terkenal Kosen itu.
Dengan begitu mudahnya, di permainkan oleh seorang bocah cilik.
Siao Lung setelah membuat Petugas Arena Pertama mematung dia segera berkata,
"Jika aku ingin mendapatkan lebih banyak hadiah.. bolehkah aku mencoba tiga arena tersisa baru naik ke arena tengah..?"
Tin Siok mengangguk pelan dan berkata,
"Silahkan saja bila kamu mau seperti itu.."
"Bocah cilik,.. siapa nama mu,..? darimana asal mu..? siapa guru mu..?"
Tanya Tin Siok penasaran.
Siao Lung sambil tersenyum berkata,
"Nama ku Siao Lung , bukan bocah cilik..panggil aku Siao Lung .."
"Ingat itu.."
"Mengenai asal ku, itu rahasia.."
"Sedangkan guru ku.. itu juga rahasia.."
"Apa ada aturan peserta harus sebutkan nama dan asal usul..?"
"Aku lihat peserta sebelumnya juga tidak ada, di tanya ini itu.."
"Lagipula kalian sendiri juga tidak banyak yang memperkenalkan diri, benar tidak..?"
Ucap Siao Lung berani.
Tin Siok terpaksa mengangguk dan berkata,
"Tidak apa apa Siao Lung , aku hanya penasaran saja.."
"Bila kamu tidak bersedia, aku juga tidak akan memaksa.."
"Silahkan kamu bebas pilih arena mana yang kamu suka.."
"Kami akan selalu siap melayani siapa pun yang ingin mencobanya.."
Ucap Tin Siok tegas dan lantang.
Siao Lung mengangguk puas, dia langsung melayang pindah ke arena kedua.
Di sini Siao Lung begitu tiba langsung di sambut dengan serangan pedang cahaya merah tanpa banyak basa-basi.
Siao Lung lagi lagi bergerak aneh menghilang kesana kemari, membuat Petugas Arena Kedua seperti menyerang bayangan dirinya sendiri.
Pedang cahaya merah sudah berubah menjadi gulungan sinar mengelilingi seluruh arena.
Tapi Siao Lung tetap saja sulit di jangkau oleh nya, dalam satu kesempatan saat pedangnya melakukan Tebasan cepat kearah Siao Lung .
Siao Lung yang menghilang dari hadapannya, tahu tahu sudah muncul di sampingnya, memberikan satu totokkan di bagian lehernya.
Begitu bagian tersebut tersentuh, segeralah Petugas Arena Kedua mengalami nasib sama seperti petugas Arena Pertama.
Dia berubah menjadi sebuah patung yang tidak bisa bergerak, hanya bisa berdiri diam di tempat.
__ADS_1
Tepuk tangan sorak Sorai dari bangku penonton segera memenuhi seluruh tempat itu.