
"Meski hanya sekedar jadi gundik ataupun pelayan, asalkan dia bisa melayani dan membalas budi baik tuan pada kami ayah dan anak.."
"Aku ...aku... sudah..puas...dan te..te....!"
Sebelum berhasil menyelesaikan kalimat terakhirnya, ataupun Nan Thian sempat menolaknya.
Pria setengah tua yang malang itu, kepalanya sudah terkulai lemah.
Tangannya yang menyatukan telapak tangan putrinya dan Nan Thian, juga ikut terlepas.
Dia telah menghembuskan nafas terakhirnya, setelah berhasil menyampaikan pesan harapan terakhirnya ke Nan Thian .
Dia telah pergi untuk selama lama nya, meninggalkan dunia yang penuh penderitaan ini.
Membawa sisa harapan dan kenangan indahnya, yang tidak akan pernah terulang kembali.
"Ayahhhhh...hu...hu..hu..hu..!"
"Ayah...!"
"Jangan tinggalkan Siao Hung ayah...!"
"Hu...hu...hu..!"
"Ayah..!"
Ratap Siao Hung penuh kesedihan, sambil memeluk erat tubuh ayahnya yang mandi darah.
Tangisan yang sedari dari awal, dia tahan tahan, kini pecah tumpah ruah tak terbendung lagi.
Dia bahkan tidak sanggup berkata apapun, selain terus menguguk sedih di sana.
Menangisi kematian ayahnya.
Siao Hung masih sulit menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi.
Dia benar benar takut kedepannya harus hidup tanpa ayah nya. Sejak kecil hingga besar, dia belum pernah sekalipun berpisah dengan ayahnya.
Selama ini ayahnya lah yang menggantikan semua peran orang tua, sebagai ibu yang penuh perhatian, penuh kasih sayang, sebagai ayah yang mendidik, melatih, menasehati, mencari nafkah membesarkan nya.
Membela dan melindunginya, kini setelah ayahnya pergi, dia menghadapi kebingungan.
Bagaimana dia akan melanjutkan langkah hidupnya yang sebatang kara ini.
Siao Hung yang tidak kuat menahan pukulan batin berat harus kehilangan ayahnya.
Kerabat tunggal yang di milikinya di dunia ini, akhirnya dia pingsan tergeletak di samping mayat ayahnya.
Nan Thian yang tidak tahan melihat kesedihan yang sedang berlangsung.
Tanpa sadar, Nan Thian memejamkan matanya, dan sedikit menengadah keatas.
Agar airmatanya tidak ikut mengalir turun.
Sesaat kemudian setelah perasaan nya mulai tenang.
Nan Thian segera menggendong Siao Hung ketempat yang lebih teduh.
__ADS_1
Dia membaringkan Siao Hung ditempat yang jauh lebih bersih, dan sedikit terlindung dari sinar matahari.
Setelah memastikan Siao Hung dalam keadaan baik baik saja.
Nan Thian segera kembali lagi untuk menggali sebuah lubang besar untuk menguburkan mayat mayat bawahannya yang gugur dalam tugas menjadi satu.
Hanya Liu Cong Kuan dan Sun Jian, yang Nan Thian sengaja buatkan kuburan tersendiri.
Saat Nan Thian menyelesaikan membuat pusara sederhana dengan belahan kayu, untuk ketiga makam di hadapannya.
Siao Hung sudah sadarkan diri, dia berlutut di depan makam ayahnya.
Dengan menggunakan darah dari jari tangan nya, dia memperjelas huruf ukir yang Nan Thian buatkan untuk pusara ayahnya.
Nan Thian tidak mencegahnya ataupun menegurnya.
Dia membiarkan Siao Hung melakukan apa saja yang dia inginkan.
Hingga Kim Kim kembali, membawa beberapa orang perampok, yang kini menjadi pesuruh.
Sengaja di beri tugas untuk mendorong semua harta yang mereka rampas, di kembalikan ketempat asal.
Nan Thian baru menepuk pundak Siao Hung dengan lembut dan berkata,
"Orang yang telah meninggal, tidak mungkin bangkit kembali."
"Relakan dan lepaskan lah biarkan semua berjalan dengan lebih mudah."
"Jangan terlalu berduka.."
"Jaga kesehatan mu, .."
"Terimakasih Tuan, budi baik mu biarlah di kehidupan berikutnya Siao Hung baru melunasinya.."
Nan Thian membantu Siao Hung berdiri dan berkata,
"Kamu jangan bicara begitu, kedepannya jangan panggil aku tuan.."
"Ikut seperti Kim Kim saja, panggil aku kakak, itu sudah cukup."
Siao Hung menatap Nan Thian sejenak dengan tatapan penuh terimakasih.
Kemudian dia mengangguk pelan, dan berkata,
"Terimakasih Thian ke ke."
Nan Thian mengangguk, lalu berkata,
"Kamu sudah memanggil ku kakak, biarlah aku panggil kamu adik Hung saja.."
"Bagaimana..?"
Siao Hung mengangguk dengan kepala tertunduk dan berkata,
"Siao Hung mengikuti saja pengaturan Thian ke ke."
Nan Thian tersenyum lembut,
__ADS_1
"Adik Hung, setelah ada kejadian seperti ini, kami terpaksa harus turun tangan antar barang ini ke Nan Jing,"
"Apa kamu sudah punya rencana sendiri kedepannya,? bila belum, bagaimana bila kamu ikut dengan kami saja..?"
Siao Hung dengan kepala masih tertunduk menjawab pelan,
"Bila Thian ke ke tidak berkeberatan dan merasa Siao Hung sebagai beban."
"Berilah Siao Hung kesempatan, ikut di samping Thian ke ke dan kakak Kim Kim ."
"Siao Hung siap melakukan apapun untuk melayani kakak berdua.."
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Kalau melayani itu tidak perlu, tapi bila ingin ikut marilah kita berpetualang bersama.."
"Dengan begini setidaknya aku bisa sedikit memenuhi harapan senior Sun.."
Siao Hung langsung mengangkat wajahnya, menatap kearah Nan Thian sambil tersenyum manis.
Nan Thian mengangguk pelan sambil tersenyum berkata,
"Ayo kita jalan, sebelum dia mengomeli kita.."
Siao Hung mengangguk gembira, lalu dia dengan bersemangat segera berlari menghampiri Kim Kim.
Dengan mengikuti Nan Thian dan Kim Kim, Siao Hung tidak perlu takut kesepian lagi.
Apalagi bisa selalu berada di sisi Nan Thian , hatinya tentu sangat gembira.
Sehingga dia perlahan-lahan mulai bisa melupakan kesedihan kehilangan ayah nya.
Nan Thian dan Kim Kim memanfaatkan perampok yang sudah menyerah, memaksa mereka untuk mengawal barang upeti ke Nan Jing.
Di bawah pengawalan Nan Thian dan Kim Kim, mereka tidak berkutik, selain menuruti kemauan Nan Thian dan Kim Kim.
Tanpa kesulitan berarti akhirnya rombongan Nan Thian tiba di Nan Jing.
Dari kejauhan di salah satu bukit sebelah barat kota Nan Jing.
Nan Thian dan rombongannya sudah bisa melihat kemegahan tembok pertahanan kota Nan Jing yang kini semakin terlihat kokoh dan megah.
Tapi yang mengherankan adalah kota itu terlihat begitu sepi, pintu gerbang tertutup rapat.
Padahal saat itu waktu tidaklah pagi, matahari sudah naik tinggi, harusnya saat itu adalah waktunya penduduk beraktivitas.
Sehingga seharusnya pintu gerbang akan sangat ramai orang berlalu lalang .
Seharusnya ada antrian panjang di pintu gerbang, tidak mungkin terlihat sepi seperti saat ini.
Di mana tidak terlihat ada antrian penduduk, baik yang ingin berkunjung, ataupun yang keluar dari kota tersebut.
Suasana kota terlihat mencekam, penjagaan di atas tembok benteng juga terlihat jauh lebih ketat.
Nan Thian di dalam hati jadi bertanya tanya, ada masalah apa yang di hadapi pusat ibukota Nan Jing.
Apa Zhang Shizheng kembali menyeberangi sungai Wu Jiang melakukan serangan ke Nan Jing. batin Nan Thian didalam pikirannya, tanpa jawaban pasti.
__ADS_1
Segera semua pertanyaan di dalam batin Nan Thian terjawab, setelah terdengar suara tambur perang di tabuh secara bertalu talu dari arah Utara.
Sesaat kemudian juga terdengar suara tiupan terompet perang berkumandang.