
Saat tubuh mereka ber 8 mendarat di bawah panggung arena.
8 orang itu telah tewas semuanya dengan panca Indra mengeluarkan darah, tidak ada satupun yang keluar dalam keadaan hidup hidup.
Melihat kejadian tersebut, sebagian besar yang sedang bertarung sendiri di atas arena.
Mereka langsung menghentikan pertarungan mereka, mereka segera melompat turun meninggalkan arena.
Dalam sekejab arena yang tadinya hampir penuh dengan orang saling serang tak beraturan.
Kini lantas terlihat agak sepi, dari 4 arena kini hanya tiga arena yang masih berisi.
Sedangkan arena yang di jaga oleh orang yang baru saja membunuh delapan orang dengan satu kibasan tangan.
Kini terlihat kosong melompong, hanya ada sosok berbaju hitam itu sendirian di sana.
Ditiga arena lainnya yang masing masing ada sisa belasan orang.
Mereka dengan gerakan hampir serentak tanpa di komando.
Segera menerjang dengan senjata mereka, menghujani petugas penjaga di sana dari berbagai arah.
Sama seperti yang di lakukan oleh rekannya, hanya cahaya pelindungnya saja yang berbeda beda warna.
Ada yang merah, ada yang biru, dan ada yang hijau.
Tapi pada intinya sama, semua pergerakan serangan senjata mereka tertahan di sana.
Lalu hanya dengan satu kibasan tangan ringan.
Belasan orang pengepung itu, pada melayang keluar dari arena.
Saat tubuh mereka pada jatuh keatas tanah, mereka semua mengalami luka yang sama.
Langsung tewas ditempat, dengan lubang panca Indra mengalirkan darah.
Keadaan ini semakin membuat heboh para peserta di bagian kelas menengah kebawah.
Kini arena langsung sepi, tidak ada lagi yang berani sembarang maju.
Setelah lenggang sejenak petugas di arena tengah segera berkata,
"Apa cuma segitu saja nyali peserta dari dunia persilatan daratan tengah ini..!"
"Ini agak sedikit di luar harapan..!"
"Bagaimana bila saya undang saja langsung, para ketua perguruan sekte partai terkenal, untuk maju mencobanya..!?"
Terlihat 4 orang pemuda gagah langsung melayang ketengah arena.
Pemuda di arena pertama, seorang pemuda berwajah persegi dengan sepasang alias tebal hitam berbentuk golok, menaungi sepasang matanya yang tajam.
Pemuda itu menjura kearah petugas arena pertama dan berkata,
"Tidak perlu merepotkan para ketua yang terhormat dan berkedudukan tinggi. untuk turun tangan.."
__ADS_1
"Aku Tinju sakti tanpa lawan,Kai Sun, sudah cukup untuk menghadapi manusia sombong, yang berani merendahkan dunia persilatan daratan tengah kami. !"
Petugas di arena pertama tertawa dingin di balik topengnya dan berkata,
"Baiklah aku hari ini, akan membantu mu membuka mata siapa itu tanpa lawan.."
"Ayo majulah.."
Ucap petugas arena pertama dengan suara dingin.
Kai Sun terlihat menghimpun kekuatan nya, untuk di kerahkan kesepasang tinjunya, yang mengeluarkan cahaya biru.
Setelah beberapa saat bersilat sendiri seperti sedang olahraga pemanasan, Kai Sun akhirnya melakukan lompatan panjang.
Sambil melayang di udara dan membentak keras Kai Sun langsung melepaskan tinju yang mengeluarkan cahaya biru, berbentuk bayangan tinju biru.
Menerjang cepat kearah lawannya.
Petugas penjaga arena hanya dengan satu pergerakan cepat tubuhnya berubah menjadi satu bayangan melompat kesamping.
Pukulan tersebut pun lewat begitu saja tidak mengenai sasaran.
Hanya menghantam tempat kosong menimbulkan ledakan kuat di arena.
"Blaaarrrr...!"
Terjadi ledakan kuat, tapi arena tetap baik baik saja, karena arena saat terkena serangan.
Dia secara otomatis mengeluarkan cahaya tipis menahan serangan.
Kai Sun tidak cukup satu kali memberikan serangan tinju cahaya biru, mengejar petugas arena pertama itu.
Tapi petugas tersebut, dengan santai, dia bergerak seperti bayangan menghindar kesana kemari.
Lalu tahu tahu, dia sudah berada di hadapan Kai Sun, memberikan satu tebasan kuat dari atas kebawah.
Sebelum Kai Sun sempat menangkis ataupun menghindar, tubuhnya telah terbelah jadi dua bagian.
Dengan satu kibasan lengan baju, tubuh Kai Sun yang terbelah dua, langsung melayang keluar dari arena jatuh tergeletak bagaikan onggok kan daging tak berguna.
Kematian Kai Sun yang jelas jelas memilki Kekuatan yang tidak rendah.
Segera membuat suasana di sekitar arena menjadi berisik,.sebelum kemudian menjadi sepi.
Karena kini pertarungan di arena kedua akan segera di mulai.
Pemuda yang melompat keatas arena.
Dia menjura kearah petugas dan berkata lantang,
"Aku si tapak sakti, Lie San, memohon pengajaran..."
Selesai berkata, Lie San tanpa main main, langsung bergerak dengan tapaknya yang mengeluarkan bayangan tapak cahaya putih.
Mencoba menyerang lawannya .
__ADS_1
Bayangan tapak putih berseliweran meledak di mana mana.
Tapi kembali serangan Lie San hanya menemui tempat kosong.
Petugas arena kedua yang seperti bisa menghilang berseliweran kesana kemari.
Suatu ketika dia tahu tahu berada di balik punggung Lie San.
Lie San yang bisa merasakan musuh hadir di belakang punggungnya.
Dia buru buru membalik, sambil memberikan tebasan dengan telapak tangannya, yang menimbulkan bayangan cahaya putih dengan suara bercuitan.
Tapi petugas arena kedua, dengan merindukan tubuhnya kebawah.
Serangan tersebut lewat begitu saja di atas nya.
Belum sempat Lie San memperbaiki posisinya, dadanya tiba tiba terasa perih.
Saat dia menundukkan kepalanya kebawah.
Lie San menemukan dada kirinya berlubang.
Jantungnya tidak lagi berada di sana.
Selagi Lie San sedang kaget dengan kondisinya.
Sebuah tendangan dari petugas arena kedua tepat mengenai dagu nya .
"Desss...!"
Lie San langsung terpental keluar dari lapangan, jatuh tergeletak di atas tanah dengan sepasang.mata melotot penuh ketakutan .
Seiring dengan kematian Lie San suasana di sekitar arena kembali heboh.
Di saat suasana sedang heboh di arena ketiga maju pemuda lain memberi hormat dan berkata,
"Aku bangau merah Lai Fu,.. mohon pengajaran .!"
Selesai berkata, Lai Fu langsung bergerak beterbangan cepat melayang kesana kemari, terkadang menggunakan sepasang kaki nya melakukan tendangan dari udara.
Terkadang dia menggunakan sepasang tangannya, yang membentuk paruh burung bangau, untuk menotok beberapa tempat berbahaya di bagian kepala dan lubang telinga Lai Fu.
Tapi secepat apapun Lai Fu bergerak mengelilingi petugas arena ketiga, tetap saja dia tidak berhasil menyusul petugas arena ketiga, yang seolah olah berubah menjadi bayangan Lai Fu, terus mengikutinya.
Kemanapun Lai Fu bergerak menyerangnya, dia pasti akan selalu berada di belakang Lao Fu.
Setelah beberapa waktu berlalu, tiba tiba petugas arena ketiga yang dari tadi terus menghindar dari serangan Lai Fu.
Kini dia tidak menghindar melainkan menyambut dengan lembut, sekaligus mengunci pergelangan tangan Lai Fu.
Bagaimana Lai Fu bergerak ingin melepaskan diri dari cengkraman tersebut dengan pergerakan cepat lengannya berusaha mencoba melepaskan diri.
Tetap saja pergelangan tangannya terkunci, dengan satu kali remasan kuat.
Tangan petugas arena ketiga langsung mengunci sekaligus meremukkan pergelangan tangan Lai Fu.
__ADS_1