
Dia menemukan Kim Kim berdiri di sana, sedang menemani istrinya, yang sedang berlutut di sana. Menangis sedih menghadapi kearah sungai kuning.
"Putri ku,..! maafkan ibu nak..!"
"Ibu yang tidak berguna,.. ibu tidak bisa melindungi mu dengan baik.."
"Sehingga kamu banyak menderita..!"
"Ibu bersalah..ibu bersalah pada mu nak..!"
Teriak Zi Zi sambil menangis sedih.
Melihat hal itu,Nan Thian buru buru maju merangkulnya, berusaha menenangkan istrinya.
Kehadiran Nan Thian membuat tangis Zi Zi pecah semakin keras.
Dia langsung menubruk kedalam pelukan suaminya dan menangis sejadi jadinya.
Hingga akhirnya pingsan di dalam pelukan Nan Thian .
Nan Thian tidak berkata apa-apa, selain duduk termenung di sana dengan wajah sedih.
Dia terus diam memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Beberapa saat kemudian Nan Thian berkata pelan seolah olah ingin memastikan.
"Apa baunya berakhir di sini..?"
Ucap Nan Thian pelan.
Kim Kim mengangguk lesu dan berkata,
"Ya kakak' Thian,..aku hanya menemukan bau nya berakhir di sini saja.."
"Mungkin mereka melanjutkan perjalanan dengan perahu atau kapal sulit di pastikan.."
"Bila bertemu air, penciuman ku memang sedikit melemah dan terganggu.."
"Maaf kak Thian.."
Ucap Kim Kim apa adanya..
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu sudah maksimal.."
"Demi urusan ku, kamu sampai tinggalkan suami dan anak, aku sungguh merasa tidak enak hati."
"Seharusnya aku lah, yang pantas minta maaf dari mu.."
Kim Kim tersenyum dan berkata,
"Tak perlu seperti itu, kita kenal juga bukan satu dua hari.."
"Bila tidak terpaksa, kamu juga tidak akan meminta aku datang.."
"Kami semua mengerti tenang saja.."
"Setelah ini apa rencana kakak' Thian..?"
Tanya Kim Kim sambil menatap Nan Thian .
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu pasti harus mencari putri ku kemana.."
"Dengan kematian kedua orang ini, jejak terputus.."
"Siapa yang membawa Ying Ying kini jejaknya benar benar putus.."
"Apa dia musuh atau kawan ? apa Ying Ying baik baik saja atau tidak ?"
"Aku benar-benar tidak bisa menebaknya.."
"Mungkin setelah Zi Zi bangun kami akan melanjutkan pencarian pelan pelan lewat jalur sungai kuning ini.."
Kim Kim mengangguk pelan dan berkata,
"Bagaimana bila, aku antar kakak Thian terbang menelusuri sungai ini.."
"Ini akan lebih cepat dan memangkas waktu pencarian..?"
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Kim Kim, sudah cukup aku merepotkan mu, tidak boleh terus merepotkan mu lagi.."
"Mengenai pencarian dengan terbang, aku kini sendiri pun bisa.."
"Hanya saja cara itu terlalu cepat kurang teliti dan agak mencolok menarik perhatian.."
"Takutnya cara seperti itu, hanya seperti memukul rumput mengejutkan ular.."
"Tidak akan efektif.."
"Jadi menurutku lebih baik kamu segera kembali ke sisi suami dan anak mu.."
"Dengan begitu hati ku bisa jauh lebih tenang dan tidak terlalu merasa bersalah..'
Kim Kim menghela nafas panjang dan berkata,
"Kepentingan sendiri selalu ingin menanggungnya sendiri, itu sangat merugikan kakak..'
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak Kim Kim, aku sangat bersyukur ada kamu yang selalu memperhatikan ku.."
"Tapi dalam hal ini aku sedikitpun tidak merugikan diri sendiri.."
"Percayalah semua akan baik baik saja, kamu kembalilah ke Ming Yue Shan, disana ada yang lebih membutuhkan..'
"Terimakasih banyak ya Kim Kim.."
Kim Kim menghela nafas panjang, dua tahu sifat keras kakaknya ini, bila sudah ambil keputusan jangan harap ada yang bisa merubahnya.
Kim Kim akhirnya mengangguk, dia menepuk lembut pundak Nan Thian dan berkata,
"Baiklah jaga diri kakak, kapanpun membutuhkan bantu kami.."
"Jangan pernah sungkan, kabari saja.."
"Kami pasti datang ."
Ucap Kim Kim serius.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Terimakasih Kim Kim, kakak akan ingat itu di hati.."
__ADS_1
Kim Kim menghela nafas panjang, sebelum dia melesat meninggalkan tempat itu.
Kini di sana hanya tersisa Nan Thian dan Zi Zi di dalam pelukannya yang belum sadarkan diri.
Melihat tempat itu sejenak, Nan Thian akhirnya melesat meninggalkan tempat itu sambil menggendong Zi Zi.
Beberapa saat kemudian Nan Thian terlihat sudah menyewa sebuah perahu, mulai menyusuri sungai kuning.
Setiap bertemu dengan desa ataupun kota di tepi sungai, Nan Thian pasti akan meminta tukang perahunya mampir.
Dia dan Zi Zi tanpa putus asa akan bertanya dengan memberikan sebuah gambar sketsa wajah putrinya yang Nan Thian lukis sendiri, kesemua orang yang mereka temui.
Mereka juga terus menggambarkan bentuk tubuh dan tinggi badan putri mereka.
Sudah puluhan desa dan kota, juga banyak perahu yang berpapasan mereka bertanya tanya.
Tapi sampai saat ini, mereka tetap tidak menemukan hasilnya.
Saat perahu melanjutkan perjalanan melewati tempat sepi.
Kedua suami istri itu duduk di anjungan perahu saling berangkulan saling menghibur hati dan perasaan mereka yang lelah dan sedang kacau balau.
Hanya beberapa hari, Nan Thian dan Zi Zi kehilangan permata hati mereka., tapi mereka berdua sudah terlihat jauh lebih kurus daripada sebelumnya.
Beban pikiran yang paling cepat, telah menggerus tubuh mereka berdua tanpa ampun.
Sulit makan sulit tidur, selalu terbayang dengan keadaan putri mereka, menjadi faktor penyumbang terbesar keadaan mereka saat ini.
Nan Thian yang sedang duduk merangkul istrinya, sepasang mata nya yang jauh lebih tajam.
Melihat ada sebuah gubug reyot di tengah hutan, tapi ada asap putih mengebul di sana.
Nan Thian segera berkata,
"Paman Akiu,..tolong pinggirkan perahu kesana.."
"Aku mau lihat lihat kesana sebentar.."
Tukang perahu yang di panggil Akiu itu tanpa banyak protes, dia segera pinggirkan perahu kearah yang Nan Thian tunjuk.
Nan Thian sangat royal dalam pembayaran, tidak hitung hitungan, sikapnya juga sangat baik dan sopan.
Hal ini membuat tukang perahu itu, sangat sungkan dengan nya.
Apapun permintaan Nan Thian dia akan menurutinya.
Kecuali daerah daerah berbahaya, dia akan mengingatkan Nan Thian .
Jadi mereka akan mencari pendaratan yang lebih jauh tapi aman.
Sejauh ini tidak masalah, Nan Thian tidak pernah merasa berkeberatan dan cerewet, bila di turunkan di tempat yang agak jauh dari tempat yang di tuju .
Nan Thian akan menempuh perjalanan darat tanpa banyak komplain.
Sesuai permintaan Nan Thian , perahu terus bergerak merapat, hingga ada di bagian tepi sungai.
Tapi terbentur dengan banyak nya akar pohon menonjol di tepi sana.
Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat.
Ditambah dengan adanya erosi, dan air sedang surut, posisi perahu mereka menjadi lebih rendah dari tepian sungai.
"Tuan aku maksimal hanya bisa sampai di sini.."
__ADS_1
"Bagaimana tuan dan nyonya akan naik keatas sana....?"
Tanya Akiu heran.